MasukWilliam tidak menoleh lagi. Pintu ambulans tertutup, memisahkan kehangatan pelukan Arlan dari dinginnya amarah yang masih berdesir di nadinya. Di dalam ruang medis yang sempit itu, Arlan akhirnya tertidur karena syok dan kelelahan, sementara petugas medis sibuk mengobati luka bakar di telapak tangan William."Tuan, luka Anda cukup dalam," bisik Hendri itu ragu-ragu."Balut saja. Jangan banyak bicara," potong William tanpa mengalihkan pandangan dari wajah putranya.Beberapa jam kemudian, , suasana mencekam masih terasa meski bahaya telah lewat. Sasha berdiri di ambang pintu kamar Arlan, wajahnya sembap. Ia menatap William yang duduk di kursi kayu, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan lampu-lampu kota.“Arlan. Bagaimana kondisinya?”“Dia di rumah sakit bersama Hendri. Kita ke sana sekarang.” Tanpa bertanya lagi, Sasha langsung mengikuti ke mana William membawanya. Begitu sampai di rumah sakit, William baru merasakan perih di tangannya."Dia sudah bangun?" tanya William tanpa
Mobil sport William tidak lagi meluncur, ia terbang rendah. Jarum speedometer menyentuh angka 180 km/jam, meliuk di antara truk-truk kontainer menuju kawasan pelabuhan mati. Di sampingnya, pistol yang ia simpan di laci tersembunyi sudah berada di pinggang."Tuan! Bram masuk ke area pengolahan limbah. Dia memasang barikade! Polisi tertahan karena dia mengancam akan meledakkan tangki gas jika ada yang mendekat!" suara Hendri di telepon terdengar panik oleh deru angin.William tidak mengerem. Ia justru menginjak gas lebih dalam saat melihat gerbang seng gudang di depannya.BRAKKK!Mobil itu menghantam gerbang hingga terpental, menciptakan suara dentuman logam yang memekakkan telinga. William keluar dari mobil sebelum debu sempat turun. Di depannya, di atas platform besi setinggi lima meter, Bram berdiri dengan wajah gila. Arlan diikat di kursi, tepat di bawah pipa uap panas yang meraung. Di tangan Bram, sebuah pemantik api menyala di dekat selang gas yang bocor."Satu langkah lagi, Willi
Dari kejauhan William menonton drama diseretnya Clarissa. Tepat di sisinya, Sasha diminta melihat dengan seksama bagaimana hukum berjalan untuk orang licik seperti Clarissa dan keluarganya.“Kamu kasihan?” tanya William lagi.Sasha hanya menatap tanpa kedip, jemari diletakkan di bawah dagu. Dia tampak melihatnya dengan serius.William mengusap pipi Sasha, membuat Sasha kaget dan langsung menurunkan tangannya. “Tadinya aku ingin menghukumya dengan sesuatu yang lebih pantas, tapi sepertinya tidak perlu. Ada kamu di sini yang harus siap menggantikan hukumannya,” ujar William yang langsung menarik Sasha dalam pangkuan.“A-pa yang kamu lakukan?” tanya Sasha terkejut.“Kamu bukan orang bodoh yang tak tahu bagaimana cara dosenmu ini menghukum muridnya yang licik kan?”William menarik tangan Sasha agar menyentuh dadanya yang bidang. Napas Sasha mendadak memburu, dia tahu maksud William kali ini.“Kita di kantor, Pakl. Apa tidak bisa kita melakukan hanya jika di rumah saja?”Bukannya menjawab
"Pagi semua …”“Pagi, Mbak Clarissa,” balas karyawan yang menatap Clarissa dengan heran pagi ini datang ke kantor.Matahari baru saja melewati puncaknya saat Clarissa melangkah masuk ke lobi utama kantor William dengan dagu terangkat tinggi. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dan kacamata hitam yang menutupi tatapan liciknya.Namun, suasana di lobi terasa berbeda. Para staf yang biasanya menunduk hormat kini saling berbisik, melemparkan pandangan yang sulit diartikan antara kasihan dan cemoohan.Clarissa mengabaikan mereka. Ia menyapa yang masih mau disapa dan melangkah menuju lift eksekutif, namun saat ia menempelkan kartu aksesnya, mesin itu mengeluarkan bunyi merah yang nyaring. Gagal."Sial, kenapa gini ? Apa benda ini rusak," gerutunya. Ia mencoba lagi. Hasilnya sama."Permisi, Ibu Clarissa."Clarissa berbalik dengan cepat, siap menyemprot siapapun yang berani mengganggunya. Di hadapannya berdiri Hendri, asisten tangan kanan William, didampingi oleh dua petugas keamanan bertu
"Hendri, masuk ke ruanganku. Sekarang," perintah William singkat.Hanya dalam hitungan detik, Hendri sudah berdiri di ambang pintu. Ia sempat melirik sekilas ke arah Sasha yang tampak sedikit berantakan, lalu dengan cepat menundukkan kepala, menjaga profesionalitasnya."Ya, Pak William?"William menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah Hendri dengan binar yang dingin.“Ada kabar terbaru tentang benalu itu?”“Sejauh ini, mereka belum ada pergerakan serius.”"Baiklah, tapi aku tidak akan diam saja. Aku tidak ingin melihat ada duri dalam daging lagi di perusahaan ini. Clarissa. Urus surat pemecatannya hari ini juga. Aku ingin dia keluar dari gedung ini sebelum jam kantor berakhir," ujar William tanpa basa-basi.Sasha kaget dan sedikit terkejut. “Apa perlu dinotice lebih dulu?”"Tidak usah,” potong William tajam. "Putuskan semua aksesnya ke sistem perusahaan. Aku tidak peduli. Keberadaannya di sini hanya akan menjadi polusi. Dan satu lagi..."William menjeda kalimatnya,
"Tolonglah, Pak! Tolong izinkan saya ketemu anak saya. Saya yakin, dia memaafkan saya dan bisa membantu saya membujuk William.”Bram tidak pulang ke rumah beberapa hari ini, dia memilih terus membujuk Hendri agar mau memaafkannya. Ditambah, keberadaan Lastri yang sudah pindah dari kampung membuat Bram tak ada pilihan lagi. Kembali mengemis iba pada William.“Sudah saya katakan, Pak William gak akan mengubah keputusan yang dia ambil. Apalagi pada seorang penipu seperti mu!”Hendri memilih pergi dari sana. Bram bukanlah orang penting yang harus dia temui. William mengatakan padanya jika Bram datang maka jangan pernah memberinya maaf karena saat ini, Bram tengah dihukum atas semua kebohongan nya. Hendri menemui William di jam makan siang. Dia mengetuk pintu perlahan dan William pun memintanya masuk. Di sana, ruangan tampak senyap. Tak ada Sasha seperti yang seharusnya dilihat Hendri.“Kenapa?” tanya William tanpa menoleh.“Dia ke sini lagi. Meminta maaf dan memohon izin bertemu Sasha. A
William tidak langsung menjawab. Ia justru meraih sebuah kotak beludru hitam dari meja rias, membukanya, dan mengeluarkan seuntai kalung berlian dengan mata zamrud yang berkilau tajam di bawah lampu kristal. Dengan gerakan posesif, ia melingkarkan perhiasan dingin itu di leher Sasha."Termasuk itu,
“Alasan bodoh! Apa yang kau lihat di sana, Sasha? Kelemahan? Atau masa depan yang tidak sanggup kau tolak?”Suara William merambat di tengkuk Sasha, berat dan bergetar, saat jemarinya mulai mendaki perlahan dari lutut menuju paha Sasha.Sasha tersentak, mencoba menggeser duduknya, namun tangan Will
"Jalan jalan dong, Sayang.” William menggendong dan menciumnya penuh kasih.“Mama ikut?”William menengok pada Sasha,” menurut Arlan, ikut nggak?”“Kalau mama ikut, Arlan mau. Kalau enggak, Arlan gak mau.”“Kenapa?”“Kasihan mama, selama ini mama sudah ngerawat Arlan sendirian, Papa. Ikut ya mama A
"Pak?” Sasha yang berpikir William sudah pergi."Kau pikir dengan mandi air panas selama itu, kau bisa menghapus jejakku dari kulitmu?"Suara berat William memecah kecanggunhan, tepat saat Sasha melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih dibalut jubah mandi putih tebal. William tida







