Share

Bab 6

Author: Myafa
last update publish date: 2026-07-18 16:26:42

“Sedang memikirkan apa kamu?”

Axel seolah dapat melihat perubahan wajah Nasya yang panik setelah tahu akan ke apartemen bersamanya.

Walaupun sedikit ragu-ragu, tapi akhirnya Nasya memberanikan diri bertanya. “Kita mau apa di apartemen, Pak?”

“Ada banyak yang harus kita bahas.” Suara Axel terdengar enteng.

“Kenapa harus di apartemen?” Nasya sampai memiringkan tubuhnya untuk dapat menatap lurus ke arah Axel.

“Agar lebih leluasa.”

Nasya hanya bisa menelan salivanya. Ia memikirkan leluasa seperti apa yang dimaksud oleh Axel dan harus dilakukan di apartemen.

Kemarin saja ada kakaknya, Axel berani menciumnya. Bagaimana nanti jika di apartemen hanya ada mereka berdua? Bisa-bisa akan ada hal yang tak tertuga terjadi.

Ingin rasanya Nasya menolak, tapi ia tidak punya keberanian untuk itu. Bukankah Axel sudah bilang untuk mengikuti semua perintahnya selama jadi pacar pura-pura Axel.

Dengan jantung berdebar-debar, Nasya duduk manis di mobil yang mengantarkannya ke apartemen Axel.

Ini adalah kali pertama Nasya ke apartemen Axel. Ia belum pernah diminta Axel untuk sekadar datang atau untuk bekerja di apartemen.

Apartemen Axel berada di kawasan elit. Jelas harga satu unit apartemen sangatlah fantastis. Apalagi fasilitas yang didapat sangat lengkap.

Sesampainya di apartemen, Nasya dibuat tercengang dengan isi di dalam apartemen. Semua dekorasinya sangat estetik dan mewah.

Di sana juga terdapat kaca besar yang menghadap keluar. Menampilkan pemandangan kota dari ketinggian.

Beginilah hidup orang kaya. Tinggal di tempat mewah, fasilitas lengkap, dan pemandangan indah.

Berbeda dengannya yang hanya tinggal di kamar kecil bekas gudang.

Ironi sekali melihat perbedaan itu.

“Duduklah.”

Mendengar itu Nasya segera duduk di sofa yang berada di ruang keluarga. Sofa itu nyaman, tapi tidak membuat Nasya nyaman karena jantungnya berdegup terus.

“Karena akhir pekan kamu akan bertemu dengan kakakku, maka kita harus menyamakan jawaban.” Axel tampak serius bicara.

Walaupun sama-sama serius dalam bicara, tapi Nasya merasakan aura yang berbeda dengan saat Axel bicara serius di kantor.

“Jadi jika kakakku nanti tanya sejak kapan kita berpacaran. Kamu harus jawab jika kita sudah satu tahun pacaran.” Axel kembali melanjutkan penjelasannya.

Setahun?

Skenario yang dibuat Axel benar-benar luar biasa. Tidak tanggung-tanggung dengan membuat mereka sudah pacaran lama.

“Pak, tapi jika setahun, sepertinya sedikit janggal.” Suara Nasya terdengar ragu.

“Kenapa janggal?” Dahi Axel berkerut dalam.

“Jika kita sudah setahun menjalin hubungan, saya sudah sangat mengenal Pak Axel?”

Axel tampak memikirkan apa yang dikatakan Nasya.

“Saya saja tidak tahu apa yang Pak Axel suka dan tidak suka.”

“Nanti aku tinggal buatkan daftar apa yang biasa aku suka dan tidak suka.”

Nasya hanya bisa pasrah mengikuti semua perintah Axel. Pria itu adalah pemegang kendali. Jadi ia harus menurut.

“Satu lagi, jika kakakku tanya, di mana saja kita berkencan, bilang saja jika kita selalu berkencan di apartemen ini.” Axel kembali bersuara.

Kencan di apartemen?

Apa yang dikira-kira dipikirkan kakak Axel jika tahu adiknya kencan di apartemen. Membayangkan pikiran negatif kakak Axel, rasanya Nasya tidak sanggup.

Di apartemen, Axel membuat skenario hubungan mereka. Ia meminta Nasya untuk mengingat semuanya. Jangan sampai ada yang salah dan membuat keluarganya curiga.

“Menurutmu apa yang kurang sebagai pasangan yang sedang pacaran?” Axel menatap Nasya. Wajahnya tampak masih belum puas dengan yang sudah direncanakannya.

Pandangan pacaran versi Nasya pastinya berbeda dengan Axel. Jadi ia ragu mengatakannya.

“Kamu pacaran ‘kan sebelumnya. Jadi coba kamu jelaskan kira-kira apa yang kurang untuk sandiwara kita?”

Nasya tampak berpikir. Hubungannya dengan mantan kekasihnya tidak seperti pasangan pada umumnya. Mereka justru jarang berkencan karena harus sibuk bekerja.

Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Kita harus punya foto, Pak.”

Mata Axel langsung berbinar. “Kamu benar, kita harus punya foto.” Ia langsung berdiri dan berpindah ke samping Nasya.

Apa yang dilakukan Axel membuat Nasya mengernyit.

“Pak Axel mau apa?” tanyanya.

“Kita harus punya foto.” Axel mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. Kemudian mengarahkan ponsel ke arahnya dan Nasya.

Nasya langsung refleks tersenyum saat kamera membidik ke arahnya.

Satu foto akhirnya didapat.

Axel melihat ke layar ponselnya. Nasya pun juga ikut melihat ke ponsel Axel. Gambar tidak terlalu buruk. Senyum mereka sempurna.

“Ini masih aneh, coba kamu mendekat,” pinta Axel. Ia kembali mengarahkan kamera ke arahnya.

Nasya perlahan mengikis jarak di antara mereka. Kini mereka benar-benar sangat dekat.

“Lebih dekat lagi.”

Mata Nasya membulat sempurna. Ia terlalu terkejut. Padahal ia sudah sangat dekat.

Karena Nasya yang terlalu lama, akhirnya Axel menarik wanita itu dan membawanya ke dalam pelukan.

“Senyum,” ucap Axel.

Alih-alih tersenyum, Nasya justru memandangi Axel penuh keterkejutan. Bagaimana bisa Axel menyuruhnya tersenyum di saat berada dalam situasi intim seperti ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (8)
goodnovel comment avatar
Margaretha Indrayani
.....................dasar axel memang seenaknya sendiri
goodnovel comment avatar
Anna Waliana
jangan" Axel ini suka benaran sama Nasya.
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Axel ini anaknya Helena dan Alex bukan kak ??
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 131

    Mata Nasya langsung membulat sempurna mendengar hal itu. Ia tampak bingung dengan yang baru saja diucapkan Axel“Kamu punya teman tidur? Siapa?” tanya Nasya penasaran.“Kamu.” Axel tersenyum. “Aku?” Nasya menunjuk ke dirinya sendiri. Wajahnya masih tampak bingung sendiri. “Iya, sebentar lagi aku akan membuat kamu jadi teman tidurku. Jadi tidak perlu Moly.” Senyum Axel merekah di wajah tampannya. Pipi Nasya langsung merona mendengar apa yang baru saja dikatakan Axel. Kalimat itu artinya memang Axel akan menjadikannya istri. Namun, senyum itu seketika langsung pudar. Nasya langsung teringat jika Mama Helena tidak suka dengannya. “Kenapa?” tanya Axel.“Bu Helena pasti tidak setuju.” Wajah Nasya tampak begitu sedih. Ia merasa hubungannya akan sia-sia tanpa restu orang tuanya. “Tenanglah, aku akan mendapatkan restu mama.” Axel meraih tangan Nasya. Walaupun Nasya tidak yakin, ia tetap mengganggu. “Meow.” Suara Moly pun menghentikan pembicaraan Nasya dan Axel. Nasya langsung beralih

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 130

    Wanita itu pun tertawa mendengar apa yang dikatakan Nasya. Seolah ucapannya itu hanya lelucon. “Semua orang juga tahu kalau Pak Axel punya kekasih dan itu bukan kamu. Jadi jangan mengaku seperti itu.” Nasya mengembuskan napasnya kesal. Ia sudah menjelaskan, tapi justru tidak dipercaya. “Siapa yang mengaku kekasihku?” Tiba-tiba saja suara terdengar. Semua langsung mengalihkan pandangan pada sumber suara tersebut. Mereka melihat Axel berjalan ke arah Nasya dan teman-temannya. Semua karyawan takut, tetapi tidak dengan wanita yang sedari tadi merundung Nasya. Ia berani menatap Axel dan mulai bersuara. “Ini, Pak. Nasya mengaku jika dia kekasih Pak Axel.” Axel menatap wanita tersebut. Kemudian menatap Nasya. Wanita itu merasa puas sekali bisa membuat Axel marah pada Nasya. “Dia memang kekasihku.” Axel menatap lekat wajah Nasya yang begitu cantik. Semua orang langsung membulatkan matanya. Mereka begitu terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Termasuk wanita yang sejak tad

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 129

    Nasya hanya bisa pasrah ikut Axel. Ia tidak tahu ke mana Axel akan membawanya. Namun, ia takut jika Axel membawanya ke apartemen lagi. Mengingat kejadian waktu itu. Ia takut menimbulkan masalah lagi. Namun, saat dalam perjalanan, ia melihat jika Axel tidak membawanya ke apartemennya. Mobil terus melaju menuju ke tempat lain yang Nasya tidak tahu. Mobil berhenti di sebuah apartemen mewah. Nasya hanya pasrah ikut Axel. Sampai akhirnya, mereka sampai di satu unit apartemen. Di depan pintu, Axel menekan bel dan menunggu pintu dibuka bersama Nasya. Sesaat kemudian pintu terbuka. Tampak Aletha di dalam sana. Wajahnya tampak terkejut melihat kedatangan Axel dan Nasya. “Ada apa kalian ke sini?” tanyanya. “Aku mau menitipkan Nasya dulu padamu, Kak.” Axel menatap lekat wajah kakaknya. Aletha melihat Nasya yang masih memakai baju kerja dengan wajah yang pucat dan make up yang sudah luntur akibat menangis. Ia yakin terjadi sesuatu dengan Nasya. “Ayo masuk dulu.” Aletha melebarkan pintu.

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 128

    Tangan Andre semakin keras memegangi pergelangan tangan Nasya. Seolah tidak melepaskan Nasya sama sekali. “Lepaskan aku.” Nasya terus menarik tangannya. Berusaha melepaskan diri. “Kamu ini jual mahal sekali. Apa kamu mau dengan CEO yang lebih kaya, makanya menolakku?” Andrea menarik tangan Nasya. Membuat tubuh Nasya masuk ke dalam pelukan Andre. Tangan Andre langsung mengunci pergerakan Nasya. Hingga wanita itu tidak bisa lepas. “Lepaskan aku!” Nasya berusaha mendorong tubuh Andrea sekuat tenaga. Sayangnya, tenaga Andre lebih kuat, hingga membuat Nasya kesulitan. “Ayolah. Jangan jual mahal. Jika kamu baik-baik, maka aku akan bersikap baik. Aku bisa berikan lebih dari yang Pak Axel berikan.” Andre mengeratkan pelukannya. “Lepaskan saya.” Nasya terus berontak. Sayangnya, Andre semakin mengencangkan pelukannya. Akhirnya Nasya memilih cara lain. Ia menendang kejantanan Andrea agar bisa melepaskan diri. Benar saja, lutut Nasya mengenai kejantanan Andre, seketika pelukan itu terle

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 127

    Akhirnya lift bisa kembali beroperasi dengan normal. Tepat saat itu juga Axel datang. Semua karyawan membiarkan Axel masuk lebih dulu. Nasya dan Andrea masuk setelahnya. Andre dan Nasya berdiri di depan Axel dan bersebelahan. “Kamu sudah coba restoran di apartemen kita belum?” Tiba-tiba Andre menatap Nasya. Mengajak wanita itu bicara. Nasya sebenarnya tidak enak diajak mengobrol Andre, apalagi ada Axel di belakangnya. Namun, tidak mungkin“Belum, Pak.” Ia menggeleng. “Wah … kamu harus coba. Di sana makanannya enak sekali.” Nasya memaksakan senyumnya. “Iya, saya akan coba, Pak.” Mendengar obrolan Nasya dan Adrea itu, Axel sedikit kesal. “Nasya, mundurlah. Berikan ruang buat mereka yang keluar lebih dulu.” Suara Axel terdengar. Mendengar itu, Nasya langsung mengangguk. “Baik, Pak.” Ia segera mundur.Pintu lift terbuka, satu per satu karyawan keluar dari dalam lift. Semua karyawan keluar, sampai tersisa hanya Axel dan Nasya saja di dalam. “Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat den

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 126

    Mendapati pertanyaan itu Axel diam. Ia tampak memikirkan hal itu. Namun, sesaat kemudian ia membelai lembut rambut Nasya. Berusaha menenangkan kekasihnya itu. “Aku akan membujuk mama. Jangan khawatir.” Walaupun Axel berusaha untuk menenangkannya, tetap saja Nasya tidak bisa tenang. Ia masih kepikiran dengan orang tua Axel yang tidak menyukainya. Jika dulu, Nasya tenang dan tidak memikirkan hal itu karena yakin kelak hubungannya dengan Axel akan berakhir. Berbeda dengan sekarang, ia benar-benar kekasih Axel. Tidak lagi bisa menghindar dari kebencian dari Mama Helena. Karena sudah larut malam, akhirnya Axel pamit untuk pulang. Ia tidak mau membuat Nasya tidak nyaman dengan berada di apartemen terlalu lama. “Nanti aku akan hubungi.” Axel mendaratkan kecupan sebelum pulang. Nasya mengangguk. Melepaskan kekasihnya itu untuk pulang.Namun, baru beberapa saat Axel keluar, tiba-tiba suara ponsel Nasya berdering. Saat Nasya mengecek ternyata itu adalah Axel. Pria itu melakukan panggilan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status