FAZER LOGINAku berlari mendekati Caca, tanpa pikir panjang kuhalangi langkahnya. Kurentangkan kedua tanganku.Tepat di ujung anak tangga bagian bawah, Caca berhenti, dia terkejut melihatku berdiri di hadapannya.“Mbak Moza, kenapa … belum tidur? Lagi ngapain malam-malam begini di sini?” tanyanya. Dia berusaha menutupi tubuhnya. Mungkin malu ketika aku melihatnya berpakaian seperti itu.“Tidak penting kamu tahu kenapa saya ada di sini. Saya hanya ingin memastikan, kamu jangan pernah menemui Gio!” jawabku.Caca mengernyitkan dahinya, beberapa saat kemudian, dia terkekeh.“Apa? Mbak Moza melarangku menemui Gio? Ah iya, Mbak Moza belum tahu, kan? Mulai hari ini, Gio adalah kekasihku!” katanya dengan bangga.Sebelah tanganku berkacak pinggang, sebelah tangannya lagi mengusap wajahku dengan gerakan kasar. Aku bingung harus memulainya dari mana. Jika aku membeberkan tentang siapa Gio, apakah Caca akan percaya?“Ikut saya!”Kutarik tangan Caca menuju kamar tamu yang berada di lantai bawah.“Ish! Mbak Mo
Caca! Wanita itu tiba-tiba muncul di belakangku. Dia yang awal masuk ke rumah ini sangat bersahaja. Namun, kini berubah drastis bak bukan dirinya.Caca terlihat sangat berbeda, dari caranya berpenampilan, riasan, bahkan kulihat dia begitu glamour dengan satu set perhiasan yang dia pakai. Kedua tangannya menenteng banyak paper bag. “Mbak Moza! Kok malah bengong?” Aku tersadar dari keterdiamanku.“Apa?” tanyaku.Caca tampak menghela napas dalam, lantas dia kembali mengulang ucapannya. “Buatkan makanan buat saya juga! Saya lapar!” titahnya.Bahkan dari caranya bersikap, Caca sudah berani memerintahku. Padahal yang bekerja sebagai pelayan saat ini adalah dirinya, bukan aku.“Oh, oke! Kamu habis dari mana emangnya, Ca?” tanyaku.Caca tersenyum sambil menatap semua yang dia pakai dan dibawa.“Saya habis belanja dari mall,” jawab Caca.“Dari mall?” tanyaku, Caca mengangguk.“Sama siapa?” Mungkin aku terkesan terlalu banyak bertanya. Namun, aku terlalu penasaran. Apa mungkin apa yang kupik
“Siapa yang menaruh surat ini?” gumamku.Aku menatap lurus ke arah pintu. Apa mungkin ada seseorang diam-diam masuk ke kamarku?Tanpa gosok gigi, tanpa cuci muka apalagi mandi, aku keluar dari kamarku dengan tubuh yang masih terbalut piyama. Penampilan yang masih kacau. Namun, aku tidak peduli. Aku terlalu penasaran tentang perintah yang tertulis ini.Aku berjalan keluar sesuai isi surat.Kertas surat yang kugenggam seketika terlepas dari tanganku. Aku berdiri mematung di ambang pintu. Aku seperti mimpi. Namun, perasaanku semakin tidak enak. Aku merasa jebakan ini sudah terlalu dalam. Akan sulit untuk kembali naik ke permukaan. Nyawaku seolah berada di ambang.“Kenapa diam di situ? Selamat ulang tahun, Sayang!” ucap Gio.Gio mendekatiku lantas menuntunku ke arah mobil mewah berwarna merah yang berhiaskan pita.“Kamu tahu hari ini ulang tahunku? Dari mana?” tanyaku. Tatapanku tidak bisa lepas dari mobil baru itu.“Tentu! Isi dari kartu identitasmu telah kucatat di dalam kepala.” Gio me
Isi chat tersebut tertulis bahwa Ibu meminta nomor Gio. Yang paling membuatku bingung, kenapa aku membalas dengan memberikan nomor Gio pada Ibu? Padahal aku baru saja melihat isi chat tersebut.Kulihat waktu Ibu mengirim chat tersebut. Tadi malam. Aku mengingat-ingat apa yang aku lakukan semalam.“Gio!” gumamku.“Apakah dia pelakunya?” Pasalnya semalam Gio memasuki kamarku. Bisa jadi dia diam-diam mengambil ponselku dan membalas chat Ibu. Ah sial! Mau apa Ibu meminta nomor Gio, dan untuk apa Gio memberikan nomornya pada Ibu?“Kita pulang!” kata Gio, setelah dia selesai meeting bersama klien.“Iya!”Aku dan Gio memasuki mobil. Beberapa kali kulirik lelaki itu yang tengah sibuk mengemudikan mobilnya.“Ada apa?” tanyanya, dia menyadari aku memperhatikannya.Aku menghela napas dalam, sebelum kutanyakan perihal chat tersebut.“Apakah kamu yang memberikan nomormu pada ibuku?” tanyaku.“Ya! Kenapa?” sahutnya. Aku kira dia tidak akan mengakuinya.Aku berdecak, tidak seharusnya dia melakukan
Pandanganku tidak bisa lepas dari wanita itu. Dia memiliki wajah yang manis yang membuat siapa pun tidak bosan melihatnya, tubuh proporsional, mungkin dia lebih muda dari usiaku. Penampilannya sederhana dengan rambut panjang yang diikat satu.“Bagus! Pak Toro boleh kembali mengerjakan tugasmu!” kata Gio.Pak Toro pun tidak terlihat lagi dari pandanganku.“Boleh saya lihat kartu identitasmu?” pinta Gio, tanpa menatap lama ke arah wanita itu.“Boleh, Pak! Ini!”Gio memperhatikan kartu identitas wanita itu. Sementara aku hanya diam tanpa berkomentar.Aku tidak tahu apa maksud Gio membawa wanita lain ke rumah ini. Apa mungkin, wanita itu akan dipekerjakan di rumah ini sama sepertiku?“Caca Marica!” kata Gio membaca nama di kartu tersebut.“Iya, Pak, itu nama saya!”Gio lantas mengembalikan kartu identitas itu kepada wanita yang bernama Caca itu.“Baiklah! Kamu saya terima bekerja di sini. Taruh tasmu ke kamar di sebelah sana, setelah itu, kamu bereskan piring-piring kotor ini dan lakukan
“Gio!” gumamku.Aku berdiri membeku di ambang pintu. Tertegun, terpaku, aku sampai kesulitan untuk mengontrol diri. Kulihat lelaki itu mendekati tempat tidurku lalu duduk di sana.“Kamu tidak mendengar ucapanku!” katanya tanpa ekspresi. Melihatnya seperti itu, membuatku tidak berani untuk sekedar masuk ke dalam kamar ini.“Aku … aku kesulitan tidur, jadi aku berjalan-jalan sebentar di halaman. Ada apa kamu ke sini?” jawabku berdalih.Pandangan Gio tidak lepas dariku. Begitu dalam, menusuk, seolah tengah mengulitiku.“Duduk di sini!” titahnya. Gio menepuk ranjang di sebelahnya duduk.Aku tidak buru-buru masuk memenuhi perintahnya, aku masih ragu untuk sekedar berada di dekatnya. Mengingat pembicaraanku dengan Pak Toro barusan, membuatku semakin waspada. Apalagi yang aku ketahui dari Pak Toro, bahwa aku adalah target selanjutnya.Menatap Gio, aku seolah menatap malaikat maut yang kapan saja siap untuk mencabut nyawaku.“Kenapa diam? Kamu memikirkan sesuatu?” tanyanya.Lelaki itu tidak







