Mag-log inAku terkesiap, aku merinding melihat benda tajam tersebut. Apalagi tatapan yang dilempar pria tua itu terasa menghunus.
“Cari siapa?” tanyanya. “Sa-saya … saya lagi mencari pemilik rumah ini. Saya dapat info, kalau di sini sedang membutuhkan seorang pelayan. Apakah benar? Jika benar, saya bermaksud ingin melamar pekerjaan itu!” Pria itu mengangguk-angguk kecil. “Baiklah! Ikut saya sekarang!” ajaknya. Pria itu membalikan badan, lantas mulai melangkah pelan dengan tubuh yang sedikit membungkuk ke depan. Tiba-tiba pria itu menoleh ke arahku, mengernyitkan dahinya ketika melihatku masih berdiri di ambang pintu. Jujur, aku masih ragu untuk mengambil pekerjaan ini. “Kenapa diam? Ikut saya!” ucapnya yang kedua kali. Dengan langkah ragu, akhirnya aku mengikuti pria itu masuk ke rumah tersebut. Rumah dengan ukuran yang sangat besar dan luas. Mewah dengan desain interior yang cerah. Namun, sejauh yang kulihat, rumah ini terlalu sepi. Pria itu berhenti di depan sebuah pintu. Aku menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Pria itu mengetuk pintu itu, dan berdiri menunggu seseorang membukanya untuk kami. “Masuk!” Samar kudengar suara orang menyahut dari dalam ruangan itu. “Kita masuk!” ucap pria itu, lantas membuka pintu tersebut. Ruangan yang begitu luas. Dengan laptop yang terbuka serta banyak map yang tertumpuk di atas meja. Aku kembali mengikuti langkah pria tua itu masuk ke ruangan tersebut. Seseorang tengah duduk membelakangi, tampak kepulan asap membumbung tinggi yang berasal dari pembakaran rokok. “Mas Gio, ada orang yang mau melamar pekerjaan sebagai pelayan di sini. Saya sudah membawanya ke sini!” ucap pria itu. Seseorang di balik sandaran kursi itu lantas mengibaskan tangannya. “Baik, Mas Gio. Saya permisi!” pamit pria tua itu. Kini di ruangan ini hanya tersisa kami berdua. Aku dan calon majikanku. Kuperhatikan terus lelaki yang belum bisa kulihat wajahnya. Tak berselang lama, dia memutar kursinya menghadapku. “Gantengnya!” batinku tanpa sadar. Namun, cepat-cepat aku mengenyahkan pikiran ini. Bagaimanapun, tujuanku hanyalah kerja dan mendapat uang yang banyak. “Bisa saya lihat kartu identitasmu?” “Ah iya, bisa!” Aku mengeluarkan kartu identitasku, dan memperlihatkannya pada calon majikanku itu. “Moza Shara Atmaja!” katanya. “Iya, Pak. Itu nama saya. Apakah saya diterima bekerja di sini?” tanyaku. Lelaki yang disapa Gio itu tidak buru-buru menjawab. Dia terus memperhatikan kartu identitasku. “Baik! Kamu diterima. Mulai hari ini lakukan pekerjaanmu,” jawabnya. Akhirnya setelah berjuang mengarungi perjalanan jauh, kini membuahkan hasil. Kuhempaskan keraguan dalam diriku demi gaji besar sesuai yang disebutkan Ayah. Pak Gio lantas menghubungi seseorang, tak berselang lama pintu terbuka dari luar. Pria tua itu kembali dengan arit yang masih setia menggantung di sebelah tangannya. “Pak Toro, arahkan apa yang harus dia lakukan. Sebelum itu, tunjukkan kamar yang akan dia tempati!” titah Pak Gio. “Baik, Mas. Laksanakan!” sahut pria tua yang disapa Pak Toro itu. Aku kembali mengikuti langkah Pak Toro. “Oh iya, kenalkan saya Moza. Salam kenal Pak Toro. Em … apakah Pak Toro juga kerja di sini?” tanyaku. Walaupun takut. Namun, aku memberanikan diri untuk menyapa. “Iya, saya tukang kebun di sini. Jika perlu sesuatu, jangan segan kasih tahu saya. Ini dia kamarmu. Di sini tugas kamu seperti asisten rumah tangga pada umumnya. Kamar Mas Gio ada di lantai atas dekat dengan tangga. Kamu paham?” tuturnya. Kini aku paham, arit yang sedari tadi dia bawa, semata hanya perkakas kebun saja. “Iya, Pak, saya paham. Kalau begitu saya masuk kamar dulu, mau membereskan baju-baju saya!” sahutku. Pak Toro pun berlalu dari hadapanku. Sejenak aku merebahkan diri terlebih dulu sebelum memulai pekerjaan. Tubuhku terasa pegal setelah lama duduk di angkot. Mungkin aku harus mengumpulkan tenaga dulu sebelum memulai pekerjaanku. “Nyaman sekali! Andai pekerjaanku dimulai besok. Uhhh!” Kurebahkan tubuh ini, menatap langit-langit dengan hembusan napas panjang. Aku terbuai dengan suasana kamar ini, terlalu nyaman dengan posisi berbaring seperti ini, rasa kantuk tiba-tiba datang tanpa diminta. Beberapa kali aku menahan rasa kantuk ini, aku tidak ingin mengecewakan majikanku di hari pertamaku bekerja. Namun, tubuhku mengkhianati otakku. Akhirnya aku tertidur hingga dering ponsel berhasil mengembalikan kesadaranku. “Halo, Bu, ada apa?” tanyaku dengan suara serak. Mataku masih terasa berat untuk kupaksa dibuka. “Halo, Za. Kamu sudah sampai di tempat kerjamu? Bagaimana, kamu betah kerja di sana?” tanya Ibu di seberang telepon. “Sudah nyampe, Bu. Belum juga satu hari, Ibu sudah nanyain aku betah atau belum,” jawabku. Aku berguling mengubah posisiku. “Iya maaf, Ibu cuma mau bilang, tolong kamu bilang sama majikan kamu, pinjam uang dulu buat kebutuhan kami di sini. Ibu mau bayar arisan tapi Ibu tidak pegang uang sama sekali. Bisa, ya!” pinta Ibu. Aku membeliak, permintaan Ibu berhasil membuat kantukku lenyap seketika. “Bu, ih … apa-apaan, sih? Nggak-nggak ya, Bu! Aku malu, kerja aja belum masa sudah minta pinjam uang saja. Nanti saja kalau aku sudah gajian, aku pasti kasih uangnya buat Ibu. Tapi jangan sekarang, ya!” tolakku. “Kamu ini, mau membantah permintaan Ibu? Kamu harusnya sadar, Moza, apa penyebab Ibu tidak memegang uang seperti ini? Itu semua gara-gara kamu, Za. Uang Ibu dan Ayah ludes karena mengadakan pesta buatmu. Tapi apa? Semuanya batal!” Aku hanya bisa meremas baju bagian atasku. Mencoba bersabar atas ucapan Ibu yang cukup membuatku sakit hati. Sebagai anak sulung, aku merasa mereka terlalu menekanku. Ya Tuhan … sekali saja, aku ingin bernapas dengan tenang. Telepon pun kuakhiri sebelah pihak, terpaksa aku mematikan ponsel ini. Namun, sebelum melakukannya, mataku tiba-tiba membulat sempurna. “Ya Tuhan! Ini sudah malam?” Celaka! Aku bisa dipecat karena kecerobohanku. Bisa-bisanya aku tidur terlalu lama. Cepat-cepat aku mencuci muka. Bergegas kuayunkan kedua kaki ini menuju dapur. “Em … Pak Gio mau dimasakin apa, ya? Aku bingung!” Aku mematung di depan kompor. Aku tidak tahu apa yang mesti aku lakukan sekarang. “Aku tanyakan dulu kali, ya!” gumamku. Bergegas aku mencari Pak Gio di kamarnya sesuai petunjuk dari Pak Toro. Kunaiki satu persatu anak tangga hingga kaki ini telah berhenti di depan sebuah kamar dengan pintu yang sedikit terbuka. Kuulurkan sebelah tanganku untuk mengetuk pintu kamar Pak Gio. Namun, aku mengurungkan hal itu. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, kedua mata ini tak sengaja menangkap sesuatu yang membuatku terkesiap dan menahan napas. Aku mundur beberapa langkah.Selepas pemeriksaan, Gio membawaku pulang. “Apakah kamu tidak merasa jijik padaku?” tanyaku, ketika kami telah keluar dari perkiraan rumah sakit.“Jijik?” Gio tersenyum miring. Sementara aku menunduk.Tiba-tiba Gio mendekatkan wajahnya ke arahku, tak segan dia mengecup pipiku. Aku membeliak terkejut.“Kamu?” Aku menyentuh pipiku.“Ya! Tidak harus aku jelaskan, kamu tahu hal apa yang membuatku merasa jijik!” Tentu! Aku tahu itu. Gio benci wanita murahan, dia merasa jijik pada semua itu. Aku tersenyum kecil, bersyukur dalam keadaan seperti ini pun, Gio tetap mampu membuatku tersenyum.Gio menuntunku turun dari mobil, setelah kami sampai di depan rumah.Tanpa mengulur waktu, Gio langsung memanggil Diana. Di sinilah, aku akan membuktikan bahwa kecurigaanku benar adanya.“Ada apa, Kak?” tanya Diana. Gio menolehku.“Ikut aku!” ajakku.Diana mengernyitkan dahinya. Awalnya dia hanya diam, akan tetapi Gio menuntunnya masuk ke kamarku, mengekor di belakang tubuhku.“Ada apa ini? Kenapa aku ha
Kulitku tiba-tiba terasa gatal, semakin digaruk, rasa gatal itu semakin menjalar ke seluruh tubuh hingga wajah. Bahkan sensasi perih pun begitu kurasakan.“Kenapa ini?”Kedua tanganku semakin tidak bisa diam. Rasa gatal ini cukup menyiksaku. Bahkan kulit yang kugaruk pun perlahan berubah memerah. Ini sangat perih.“Ya Tuhan, ini kenapa gatalnya tidak mau hilang?” Aku sampai membuka seluruh pakaianku, demi bisa leluasa menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal tersebut.Aku panik, aku tidak tahu penyebab rasa gatal ini karena apa. Apa mungkin selimut yang kugunakan kotor? Atau mungkin ada ulat bulu yang menyelinap masuk? Tidak! Tidak mungkin. Selimut ini masih baru. Bahkan aku tidak pernah membiarkan kamarku kotor barang sedikit pun.“Gio!” Sambil memanggil nama itu, kedua tanganku semakin membabi buta.Kulit yang kugaruk semakin memerah, menipis. Bahkan sebagian kulitku mengeluarkan darah.“Gio! Tolong aku!” teriakku. Aku menangis dalam kondisi seperti ini. Bahkan napasku sedikit tidak
“Kamu kenapa?” tanya Gio.Kulihat sangat jelas, wajah Diana memerah, kedua matanya berair. Diana meraih tisu, lantas menyeka wajahnya.“Maaf, aku … aku tidak bermaksud menghina. Tapi ….” Diana menghentikan ucapannya.“Ada apa?” tanya Gio.Diana melirik ke arah Pak Anjas. “Maaf, aku belum terbiasa makan di hadapan Papa!”Ucapan Diana membuat Pak Anjas berhenti sarapan. Pria itu lantas beranjak dari kursi.“Maaf, Papa lupa kondisi Papa. Kalian lanjutkan saja sarapannya,” ucap Pak Anjas, lantas pergi dari ruang makan.Kupandangi pria tua itu hingga tidak terlihat lagi.“Aku rasa tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu, Di,” kataku.Diana melirik sekilas ke arahku.“Orang luar tidak seharusnya mengatur orang dalam. Bukankah begitu?” sarkas Diana.Selera makanku hilang seketika. Diana benar-benar berubah. Dia bukan Diana seperti yang dulu. “Moza benar, kalau kamu tidak mau makan sama Papa, setidaknya cari cara lain supaya tidak menyakiti hatinya,” timpal Gio.Tiba-tiba Diana beranjak,
Penasaran apa yang terjadi, aku pun keluar dari kamarku. Kunaiki anak tangga demi mencari tahu alasan Diana berteriak.Di saat yang bersamaan, ketika aku telah berada di ujung tangga bagian atas, pintu kamar Gio terbuka. Reaksinya sama sepertiku, terkejut.“Apa yang terjadi?” tanyaku.Gio mengedikan bahunya. “Aku juga tidak tahu!”Aku dan Gio berlari masuk ke kamar Diana. Di sana, kamar itu berantakan dengan bantal, selimut, serta vas bunga telah berserakan di lantai. “Apa yang terjadi?” tanya Gio.Pak Anjas ada di dalam kamar ini, dahinya terluka.“Kak! Lihat pria jelek itu, dia main masuk ke kamarku. Siapa dia, Kak? Kenapa dia bisa berkeliaran di rumah kita?” tunjuk Diana ke arah Pak Anjas.“Diana! Ini papa kita. Kenapa kamu melukainya?” tanya Gio. “Ck, aku yang salah. Seharusnya tadi aku menemani Papa masuk ke sini.” Gio mengusap kasar wajahnya.“Papa?” Diana membeliak.“Iya, aku adalah papanya Gio, papa kamu juga. Papa ke sini hanya ingin melepas rindu Papa sama kamu. Ternyata k
“Bu, sudah!” cegahku, sebelum Ibu berbicara lebih tentang Diana di hadapan Gio. Bagaimanapun aku tidak enak jika sampai itu terjadi.“Em … pelakor?” tanya Gio.“Iya, dia–”Tiba-tiba Diana memotong jawaban Ibu. “Kak, sebaiknya kita pulang sekarang, yuk! Aku mau ketemu sama Papa!”Ibu mengernyitkan dahi, mungkin bingung mendengar ucapan Diana. Gio mengangkat sebelah tangannya ke udara, menginstruksi Diana supaya diam.“Bisa Tante jelaskan, kenapa Tante bisa menyebut adikku dengan sebutan pelakor?” tanya Gio.Ibu membeliak, sementara Ayah yang tidak paham dan belum mengenal Gio, hanya diam memperhatikan tanpa sedikit pun menyela obrolan kami.“Sehari sebelum Moza menikah, Diana mengaku hamil anak calon suami Moza. Karena dia, kami harus mengalami hal yang memalukan. Undangan sudah disebar, dan biaya pesta pernikahan yang sia-sia karena perbuatan Diana!” jelas Ibu. Kulihat Ibu begitu murka terhadap Diana.Kulihat gerak Diana tidak nyaman. Kubiarkan saja Ibu mengatakan semuanya. Aku tidak
“Apa? Calon istri?!”Diana tampak terkejut mendengar ucapan Gio. “Ya! Kamu kenal, kan, sama Moza? Ibumu saja kenal dengannya,” jawab Gio.Diana menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Rahangnya mengeras seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.“Ya! Dia temanku waktu SMA,” jawab Diana dengan enggan.“Syukurlah kalian sudah saling mengenal. Kak Gio jadi senang kita akan menjadi satu keluarga. Em … Tante, aku mau bicara sesuatu sama Tante. Aku harap Tante tidak akan keberatan,” kata Gio.“Mau bicara apa?” tanya Tante Vivian.Gio merangkul bahu Diana. Tidak ada penolakan sama sekali dari wanita itu. Diana menerima apa yang menjadi takdirnya.“Ini kali pertama aku bertemu dengan adikku. Tante, aku sayang pada adikku, jujur aku tidak ingin jauh darinya. Aku mau meminta izin ingin membawa Diana ke rumahku. Ah bukan, itu rumah Diana juga. Boleh kan, Tante?” Tante Vivian menunduk dalam. “Boleh kan, Bu?” timpal Diana.Hening! Tante Vivian terlihat berat atas permintaan Gio.“Tan, tolon







