مشاركة

Bab 4 Mengintip

مؤلف: Yuni Masrifah
last update تاريخ النشر: 2026-06-19 15:51:24

“Akh!”

Bahkan bisa kudengar jelas suara intim dari kamar tersebut.

Aku ingin pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatnya. Namun, sekali lagi, tubuhku mengkhianati otakku. Bukannya menjauh, aku malah kembali mendekati pintu.

Kedua netra ini kembali mengintip ke dalam kamar. Kusaksikan secara langsung adegan yang membuat tubuhku terasa aneh. Merinding. Namun, tidak sadar aku menikmatinya.

Tidak munafik, hal semacam ini bukan yang pertama yang aku saksikan, dulu tidak sengaja aku pernah memergoki adikku, Mondi, menonton video semacam itu di ponselnya. Saat itu aku diam-diam mengintip di balik celah pintu kamar yang tidak dia kunci. Namun, kali ini bukan video yang kulihat, melainkan adegan secara langsung tanpa sensor.

“Gio, aku sangat mencintaimu. Tolong jangan berhenti!”

Aku mual mendengar kalimat wanita itu. Ucapannya seperti seseorang yang tengah mengemis.

“Ah sial! Kenapa aku malah menikmati di setiap inci adegan ini?” batinku. Aku merutuki diriku sendiri.

Kurasakan tubuh bagian bawahku basah. Dalam hati aku terus mencaci diri. Jika terus berdiam seperti ini, bisa-bisa setan di dalam diriku terus menghasut, supaya aku berbuat lebih daripada ini. Tidak, tidak akan aku biarkan.

Aku membalikan tubuhku, berniat kembali ke dapur. Mungkin aku akan memasak apa saja yang aku bisa, daripada mengganggu aktivitas panas majikanku.

“Gio, ampun! Jangan! Jangan lakukan ini kumohon!”

Mataku membeliak tajam, wanita itu bukan lagi bersuara merintih, mendesah. Namun, terdengar seperti permohonan dalam kesakitan.

Kuurungkan niatku untuk kembali ke dapur. Lagi, kuintip dari celah pintu. Seketika mataku membeliak, aku membekap mulutku sendiri. Napasku terasa pendek, terasa sesak ketika melihat pemandangan tak biasa.

Di dalam kamar itu, kulihat Pak Gio tengah tersenyum lebar. Bukan itu yang membuatku takut setengah mati. Namun, darah yang terciprat di wajahnya, di mulutnya, serta tidak kudengar lagi suara wanita itu. Dia mati, berdarah, dan aku menyaksikannya secara langsung pembunuhan di dalam kamar majikanku.

“Tidak, tidak mungkin!” gumamku.

Pak Gio menoleh ke ambang pintu. Namun, lekas aku bersembunyi, lalu buru-buru berlari menjauh dari kamar Pak Gio. Aku berharap Pak Gio tidak sampai melihatku di depan kamarnya.

Aku mengunci diri di dalam kamarku. Kusandarkan punggung ini pada daun pintu. Tubuhku merosot perlahan terduduk di lantai yang dingin ini.

Jantungku seolah nyaris berhenti berdetak saat ini juga. Aku ketakutan, gemetar, bahkan untuk menelan ludah pun rasanya sangat sulit.

“Ya Tuhan, apa yang baru saja kulihat? Apakah yang kulihat hanya mimpi? Tapi adegan itu terasa sangat nyata!” gumamku.

Beberapa kali aku menepuk kecil pipi ini. Memang bukan mimpi, yang baru saja kulihat adalah nyata.

“Siapa wanita itu? Kenapa Pak Gio membunuhnya setelah mereka bercinta? Bahkan aku tidak mendengar mereka bertengkar!”

Kulihat tanganku memucat, keringat dingin pun muncul membasahi keningku.

Kuraih ponselku dari atas nakas, lantas aku kembali mengaktifkan benda tersebut.

Begitu ponsel ini menyala, banyak pesan berbondong-bondong masuk. Kubiarkan sampai notifikasi pesan ini berhenti masuk, hingga suara berhenti di hitungan kedua puluh kali, akhirnya pesan ini berhenti kudengar.

Kubuka satu persatu pesan yang terkirim ke nomorku. Ibu, Mondi dan Mitha, mereka kompak mengirimku pesan.

(Kenapa nggak aktif?).

(Cepat kamu pinjam uang sama majikan kamu. Ibu tidak mau tahu.)

Aku mengusap wajahku dengan kasar. Andai Ibu tahu tentang apa yang kusaksikan barusan. Apakah dia masih akan terus menuntutku untuk meminjam uang pada Pak Gio?

Lantas kubuka pesan dari adik bungsuku, Mitha.

(Kak, kirim uang, dong! Aku malu, aku belum bayar SPP. Satu lagi, sebentar lagi ada acara tour, Ibu dan Ayah nggak ada uang, aku tidak mungkin tidak ikut).

Lagi, aku ditekan dalam berbagai masalah. Entah apa lagi yang akan dikatakan Mondi di dalam pesan, segera aku membacanya.

(Sabar ya, Kak. Aku tahu perjuangan Kakak berat. Aku hanya bisa mendoakan supaya majikan Kakak baik. Itu saja sih yang mau aku sampaikan. Aku mau ke bengkel dulu, motorku mogok lagi, doain, ya, semoga Abang bengkelnya mau aku hutangin, aku nggak ada uang untuk bayar).

Senyuman haru dari wajahku di saat membaca pesan dari Mondi, perlahan berubah masam di akhir kalimat. Aku pikir dia berbeda, tidak menekan. Namun, nyatanya pesan yang dia kirimkan merupakan sarkas yang ditujukan untukku.

“Mondi sialan! Kupikir anak itu kasihan padaku. Ternyata sama saja seperti yang lain!” gerutuku di tengah-tengah ketakutan.

Dan bukan hanya itu, masih ada banyak lagi pesan dari Ibu. Isinya masih sama, dia memaksaku untuk mendapatkan pinjaman dengan cepat.

Dalam situasi ini aku malah berpikir, apakah aku bukan anak kandung Ibu dan Ayah? Apakah aku hanya seorang anak yang kebetulan mereka angkat?

Cukup lama aku berdiam di dalam kamar, mengunci diri. Aku belum berani keluar. Padahal aku belum mengerjakan apa pun di rumah ini. Aku terlalu takut untuk melakukan apa pun.

“Apa yang harus aku lakukan, ya Tuhan? Apa aku kabur saja dari sini? Tapi bagaimana caranya? Aku tidak punya uang lagi untuk ongkos. Uangku telah habis, dan tempat tinggalku sangat jauh dari sini,” gumamku.

Tok! Tok! Tok!

Aku terkesiap, jantungku nyaris melompat dari tempatnya. Dalam ketegangan ini, tiba-tiba dari luar kamar, terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Em … i-iya sebentar!” sahutku.

Aku bangkit, berdiri gentar bukan lagi tegap. Ketegangan seolah mengepung dari segala arah. Nyaliku terhimpit, tercekik, bahkan aku merasa diintai oleh ingatan tentang pembunuhan di depan mata.

Tok! Tok! Tok!

Lagi, pintu ini diketuk. Tanganku menggantung ragu di handle pintu.

Aku menarik napas panjang, mungkin berpura-pura tidak tahu adalah solusi terbaik. Bersikap biasa saja, menurut, dengan begitu, aku akan aman.

Kuhempaskan keraguan di dalam diri ini, hingga akhirnya aku memberanikan diri membuka pintu kamarku.

Ceklek!

Darahku terasa berhenti mengalir, ketika kulihat yang berdiri di hadapanku bukanlah Pak Toro, melainkan lelaki yang pernah kuintip.

“Ma-maaf, tadi saya kecapekan setelah perjalanan jauh, jadi saya ketiduran cukup lama.” Aku menunduk.

Aku siap apa yang akan Pak Gio lakukan selanjutnya. Apakah dia akan memecatku di hari pertamaku bekerja? Aku pasrah, aku siap, mungkin ini jalan terbaik untukku, menjauh dari pembunuh seperti Pak Gio.

Tidak kudengar respon yang ditunjukkan Pak Gio. Aku bingung, apakah dia marah atau justru memaklumi keadaanku?

Perlahan kuangkat wajahku, memastikan reaksi Pak Gio.

Dia hanya diam, tidak bereaksi apa pun.

“Apakah Pak Gio mau memecat saya?” tanyaku lirih.

Lagi, dia hanya diam. Aneh, aku bingung menghadapi orang seperti ini. Namun, tak berselang lama akhirnya dia bersuara.

“Kamu melihatnya?”

Aku terbelalak, pertanyaan itu berhasil membuatku berkeringat dingin.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 51 Pembuktian

    Selepas pemeriksaan, Gio membawaku pulang. “Apakah kamu tidak merasa jijik padaku?” tanyaku, ketika kami telah keluar dari perkiraan rumah sakit.“Jijik?” Gio tersenyum miring. Sementara aku menunduk.Tiba-tiba Gio mendekatkan wajahnya ke arahku, tak segan dia mengecup pipiku. Aku membeliak terkejut.“Kamu?” Aku menyentuh pipiku.“Ya! Tidak harus aku jelaskan, kamu tahu hal apa yang membuatku merasa jijik!” Tentu! Aku tahu itu. Gio benci wanita murahan, dia merasa jijik pada semua itu. Aku tersenyum kecil, bersyukur dalam keadaan seperti ini pun, Gio tetap mampu membuatku tersenyum.Gio menuntunku turun dari mobil, setelah kami sampai di depan rumah.Tanpa mengulur waktu, Gio langsung memanggil Diana. Di sinilah, aku akan membuktikan bahwa kecurigaanku benar adanya.“Ada apa, Kak?” tanya Diana. Gio menolehku.“Ikut aku!” ajakku.Diana mengernyitkan dahinya. Awalnya dia hanya diam, akan tetapi Gio menuntunnya masuk ke kamarku, mengekor di belakang tubuhku.“Ada apa ini? Kenapa aku ha

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 50 Serbuk Gatal

    Kulitku tiba-tiba terasa gatal, semakin digaruk, rasa gatal itu semakin menjalar ke seluruh tubuh hingga wajah. Bahkan sensasi perih pun begitu kurasakan.“Kenapa ini?”Kedua tanganku semakin tidak bisa diam. Rasa gatal ini cukup menyiksaku. Bahkan kulit yang kugaruk pun perlahan berubah memerah. Ini sangat perih.“Ya Tuhan, ini kenapa gatalnya tidak mau hilang?” Aku sampai membuka seluruh pakaianku, demi bisa leluasa menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal tersebut.Aku panik, aku tidak tahu penyebab rasa gatal ini karena apa. Apa mungkin selimut yang kugunakan kotor? Atau mungkin ada ulat bulu yang menyelinap masuk? Tidak! Tidak mungkin. Selimut ini masih baru. Bahkan aku tidak pernah membiarkan kamarku kotor barang sedikit pun.“Gio!” Sambil memanggil nama itu, kedua tanganku semakin membabi buta.Kulit yang kugaruk semakin memerah, menipis. Bahkan sebagian kulitku mengeluarkan darah.“Gio! Tolong aku!” teriakku. Aku menangis dalam kondisi seperti ini. Bahkan napasku sedikit tidak

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 49 Tidak Ingin Pulang

    “Kamu kenapa?” tanya Gio.Kulihat sangat jelas, wajah Diana memerah, kedua matanya berair. Diana meraih tisu, lantas menyeka wajahnya.“Maaf, aku … aku tidak bermaksud menghina. Tapi ….” Diana menghentikan ucapannya.“Ada apa?” tanya Gio.Diana melirik ke arah Pak Anjas. “Maaf, aku belum terbiasa makan di hadapan Papa!”Ucapan Diana membuat Pak Anjas berhenti sarapan. Pria itu lantas beranjak dari kursi.“Maaf, Papa lupa kondisi Papa. Kalian lanjutkan saja sarapannya,” ucap Pak Anjas, lantas pergi dari ruang makan.Kupandangi pria tua itu hingga tidak terlihat lagi.“Aku rasa tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu, Di,” kataku.Diana melirik sekilas ke arahku.“Orang luar tidak seharusnya mengatur orang dalam. Bukankah begitu?” sarkas Diana.Selera makanku hilang seketika. Diana benar-benar berubah. Dia bukan Diana seperti yang dulu. “Moza benar, kalau kamu tidak mau makan sama Papa, setidaknya cari cara lain supaya tidak menyakiti hatinya,” timpal Gio.Tiba-tiba Diana beranjak,

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 48 Mual

    Penasaran apa yang terjadi, aku pun keluar dari kamarku. Kunaiki anak tangga demi mencari tahu alasan Diana berteriak.Di saat yang bersamaan, ketika aku telah berada di ujung tangga bagian atas, pintu kamar Gio terbuka. Reaksinya sama sepertiku, terkejut.“Apa yang terjadi?” tanyaku.Gio mengedikan bahunya. “Aku juga tidak tahu!”Aku dan Gio berlari masuk ke kamar Diana. Di sana, kamar itu berantakan dengan bantal, selimut, serta vas bunga telah berserakan di lantai. “Apa yang terjadi?” tanya Gio.Pak Anjas ada di dalam kamar ini, dahinya terluka.“Kak! Lihat pria jelek itu, dia main masuk ke kamarku. Siapa dia, Kak? Kenapa dia bisa berkeliaran di rumah kita?” tunjuk Diana ke arah Pak Anjas.“Diana! Ini papa kita. Kenapa kamu melukainya?” tanya Gio. “Ck, aku yang salah. Seharusnya tadi aku menemani Papa masuk ke sini.” Gio mengusap kasar wajahnya.“Papa?” Diana membeliak.“Iya, aku adalah papanya Gio, papa kamu juga. Papa ke sini hanya ingin melepas rindu Papa sama kamu. Ternyata k

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 47 Mengemasi Barang

    “Bu, sudah!” cegahku, sebelum Ibu berbicara lebih tentang Diana di hadapan Gio. Bagaimanapun aku tidak enak jika sampai itu terjadi.“Em … pelakor?” tanya Gio.“Iya, dia–”Tiba-tiba Diana memotong jawaban Ibu. “Kak, sebaiknya kita pulang sekarang, yuk! Aku mau ketemu sama Papa!”Ibu mengernyitkan dahi, mungkin bingung mendengar ucapan Diana. Gio mengangkat sebelah tangannya ke udara, menginstruksi Diana supaya diam.“Bisa Tante jelaskan, kenapa Tante bisa menyebut adikku dengan sebutan pelakor?” tanya Gio.Ibu membeliak, sementara Ayah yang tidak paham dan belum mengenal Gio, hanya diam memperhatikan tanpa sedikit pun menyela obrolan kami.“Sehari sebelum Moza menikah, Diana mengaku hamil anak calon suami Moza. Karena dia, kami harus mengalami hal yang memalukan. Undangan sudah disebar, dan biaya pesta pernikahan yang sia-sia karena perbuatan Diana!” jelas Ibu. Kulihat Ibu begitu murka terhadap Diana.Kulihat gerak Diana tidak nyaman. Kubiarkan saja Ibu mengatakan semuanya. Aku tidak

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 46 Empat Mata

    “Apa? Calon istri?!”Diana tampak terkejut mendengar ucapan Gio. “Ya! Kamu kenal, kan, sama Moza? Ibumu saja kenal dengannya,” jawab Gio.Diana menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Rahangnya mengeras seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.“Ya! Dia temanku waktu SMA,” jawab Diana dengan enggan.“Syukurlah kalian sudah saling mengenal. Kak Gio jadi senang kita akan menjadi satu keluarga. Em … Tante, aku mau bicara sesuatu sama Tante. Aku harap Tante tidak akan keberatan,” kata Gio.“Mau bicara apa?” tanya Tante Vivian.Gio merangkul bahu Diana. Tidak ada penolakan sama sekali dari wanita itu. Diana menerima apa yang menjadi takdirnya.“Ini kali pertama aku bertemu dengan adikku. Tante, aku sayang pada adikku, jujur aku tidak ingin jauh darinya. Aku mau meminta izin ingin membawa Diana ke rumahku. Ah bukan, itu rumah Diana juga. Boleh kan, Tante?” Tante Vivian menunduk dalam. “Boleh kan, Bu?” timpal Diana.Hening! Tante Vivian terlihat berat atas permintaan Gio.“Tan, tolon

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status