Share

Bab 2 Pelayan

last update publish date: 2026-06-19 15:47:50

Lelaki yang sedari tadi mengikutiku akhirnya berhasil menyusul, menyalip motorku yang kehabisan bensin.

“Ma-mau apa? Jangan macam-macam sama saya atau saya akan teriak!” ancamku.

Lelaki yang tidak kukenal itu turun dari motornya, berdiri di hadapanku.

“Apa? Mau teriak? Teriak saja, Mbak. Paling ujung-ujungnya kamu juga yang malu!” sahutnya.

Aku tidak paham dengan ucapannya. Dia yang jahat, kenapa aku yang harus menanggung malu?

“Maksudnya?” tanyaku.

“Mbak belum bayar air minum di warung ibu saya. Enak saja main pergi-pergi saja!” jawabnya.

“Oh! Em ….” Aku tersenyum kikuk.

Aku baru ingat, aku memang belum membayar air minumku. Betapa malunya aku, sudah menuduh lelaki itu sebagai penjahat.

“Maaf, Mas. Saya lupa! Ini uangnya. Kembaliannya ambil saja!” ucapku tak enak hati.

Lelaki itu menerima uang tersebut.

“Kembalian apanya, Mbak? Uang pas begini!”

Untuk kedua kalinya aku mempermalukan diri sendiri. Aku merasa tidak punya muka di hadapan orang ini.

“Iya, maaf, Mas saya tidak tahu!”

Setelah lelaki itu pergi, aku mendorong motor ini sambil mencari pom bensin terdekat.

“Akh … perutku lapar sekali. Aku belum makan dari pagi!” gumamku. Sesekali aku meringis.

Tanganku sampai gemetar, mataku pun perlahan terasa berkunang-kunang. Hari sudah semakin sore, aku masih terus mendorong motorku.

Tempat tinggalku masih jauh, sedangkan aku belum menemukan penjual bensin sama sekali selama aku berjalan.

“Aku sudah tidak kuat!”

Aku pun berhenti, berjongkok di pinggir jalan sambil memegangi perutku. Tubuhku semakin lemas, tenagaku perlahan lenyap hingga akhirnya kegelapan telah menguasai diri.

Kurasakan titik-titik dingin menerpa kulit wajah. Semakin lama titik itu terasa seperti guyuran. Aku terbangun, ternyata aku baru sadar dari pingsan dan mendapati diri ini terbaring di pinggir jalan tanpa ada seorang pun yang menolongku.

“Hujan!” gumamku.

Aku bangkit, hendak meneruskan perjalanan pulang.

“A-apa? Ke mana motorku? Kenapa motorku tidak ada di sini?”

Aku mengedarkan pandangan menyapu area sekitar. Namun, sejauh mata memandang, aku tidak menemukan motorku sama sekali.

“Ya Tuhan, ke mana motorku?”

Aku berjalan limbung di tengah derasnya hujan. Tidak kupedulikan lagi basah dan dinginnya tubuhku. Aku hanya ingin motorku kembali. Namun, kenyataannya nihil, motorku tidak ada.

Aku tertawa getir, menertawakan kebodohanku, kesialanku. Dunia seolah tidak ingin membuatku bernapas dengan tenang walau sebentar saja.

Terpaksa aku pulang membawa kabar buruk. Aku berjalan gontai dengan perut lapar dan kedinginan.

“Ah iya, aku masih ada sedikit uang bensin. Sebaiknya aku membeli makanan dulu daripada aku pingsan lagi!” gumamku.

Kukeluarkan uang dari kantong celanaku. Aku tersenyum kecil walau sebenarnya hati ini masih sakit atas kehilangan motorku. Namun, entah, aku tidak ingat berapa banyak perbuatan buruk yang pernah aku lakukan, sehingga kemalangan kembali terjadi padaku.

Uang terakhir yang kumiliki akhirnya raib disambar orang yang mengendarai motor. Aku tidak sanggup mengejar, motor itu melesat secepat kilat.

“Aaaargh! Kenapa? Apakah masih kurang penderitaanku? Mau tambah lagi? Ayo! Mumpung aku masih hidup, ayo tambah saja lagi!” Aku berteriak kesetanan seperti orang gila.

Aku kembali berjalan dengan sangat pelan. Tubuhku menggigil kedinginan. Kulit tanganku sudah sangat pucat dan keriput akibat terlalu kedinginan. Cahaya siang sudah mulai lenyap dimakan kegelapan. Setelah berjuang dengan susah payah, akhirnya aku telah sampai di depan rumahku.

“Bu, aku pulang!” ucapku tergagap.

Pintu rumah ini terbuka lebar, Ibu, Ayah dan kedua adikku telah menyambutku di ruang tamu.

“Mana motormu?” tanya Ayah.

Kuusap air hujan yang membasahi wajahku.

“Aku belum mendapat pekerjaan. Motorku hilang, tadi aku pingsan di jalan. Uangku juga dicuri orang. Aku lapar, aku juga kedinginan!” jawabku.

Tubuhku sudah sangat menggigil.

“Kamu ini kenapa, sih, Moza? Seharusnya kamu lebih berhati-hati. Kenapa bisa sampai hilang? Kalau sudah begini bagaimana coba? Kenapa kamu nggak cari dulu? Rumah kita sudah dalam ancaman, malah ditambah motor hilang. Kamu ini maunya apa, Moza?!” tegur Ibu.

Sakit sekali saat mendengar Ibu menyalahkanku. Memang, aku ceroboh. Namun, setidaknya saat mendengar penjelasanku, penderitaanku, mereka merasa iba walau hanya sedikit.

“Sudah-sudah, masuk! Ganti baju dan buruan makan. Ada yang ingin Ayah bicarakan sama kamu. Ini penting.”

Aku menurut, aku segera mengganti baju dan makan. Malam ini, kami berkumpul di ruang keluarga.

“Ayah mau bicara apa?” tanyaku.

Ayah menaruh cangkir kopi yang baru saja ia teguk ke atas meja.

“Ayah iseng buka-buka internet mencari lowongan pekerjaan. Kebetulan sekali, Ayah menemukan pekerjaan yang cocok buatmu. Gajinya besar, bisa mengalahkan gaji karyawan pabrik. Ayah mau kamu ambil pekerjaan itu,” jawab Ayah.

“Kerja apa memangnya, Yah? Apakah di kantor? Tapi kan aku bukan lulusan sarjana?”

“Lagi pula siapa yang bilang pekerjaan itu di kantor? Kamu hanya perlu menjadi pelayan saja di sebuah rumah milik seorang pengusaha,” jawabnya.

Aku terdiam sejenak, berpikir apakah gaji yang ditawarkan masuk akal, sedangkan rata-rata gaji seorang pelayan tidak sampai mengalahkan gaji karyawan pabrik?

“Ayah yakin? Kok aku tidak, ya? Aku sedikit ragu. Takutnya–”

“Sudahlah, Moza. Kamu tidak usah banyak protes. Ini kesempatan bagus buatmu. Jangan sia-siakan! Besok pagi kamu berangkat ke alamat itu. Nanti Ibu akan siapkan uang untuk ongkosmu. Malam ini kamu persiapkan baju-baju ganti untuk kamu bawa. Ingat, kerja yang sungguh-sungguh, kamu harus membayar hutang kita!” potong Ibu.

Ini bukan lagi tentang permintaan. Namun, ini desakan, tuntutan yang mengharuskanku menanggung beban yang sebenarnya tidak kuminta.

“Baiklah!”

“Kak, gajian nanti beliin aku ponsel baru, ya! Yang ini sudah eror!” pinta Mitha.

“Enak saja! Aku dulu, dong! Motorku sudah ketinggalan zaman. Jadi Kak Moza harus mentingin aku dulu!” timpal Mondi.

Mereka meributkan sesuatu yang belum jelas. Kutinggalkan mereka yang tengah berdebat kecil. Kepalaku terasa pusing mendengar ocehan mereka.

Dengan berbekal uang seratus ribu, pagi ini aku nekat pergi ke alamat yang Ayah berikan.

Perjalanan cukup memakan waktu, perjalanan ini sangat jauh. Beberapa kali aku nyaris tersesat. Namun, akhirnya aku sampai di tempat tujuan.

Rumah besar yang terletak di ujung komplek yang masih sepi. Hanya ada beberapa penghuni yang mengisi rumah di komplek ini. Kemungkinan komplek ini belum lama berdiri. Bisa kulihat dari keadaan bangunan dan beberapa kendaraan yang terparkir di depan rumah-rumah warga.

Tidak ada penjagaan, rumah yang kutuju terlihat sangat sepi. Sangat kontras dengan keadaan rumahku yang ramai dan berisik. Tidak ada yang bisa kusapa ketika kaki ini menginjak pelataran rumah.

Kini aku telah berdiri di depan pintu, mengetuknya dengan harapan besar yang menggantung di dalam diri.

Cukup lama aku melakukan ini dengan berulang kali. Akhirnya seseorang membukakan pintu untukku.

Dia seorang pria tua dengan perawakan kurus kering. Dia berdiri di ambang pintu, wajahnya membuatku takut dengan beberapa luka sayatan dan luka bakar. Serta matanya yang cekung menatapku lama.

Yang membuatku semakin takut, dia menenteng sebuah arit di sebelah tangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 52 Tidak Menginginkanku

    “Kalian bisa lihat? Aku tidak takut, karena aku bukan pelakunya!” kata Diana. Bahkan wanita itu sengaja menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu.Aku menunggu beberapa saat untuk melihat reaksi dari serbuk gatal itu. Namun, aku tidak melihat reaksi Diana yang menunjukkan gatal. Aneh! Padahal semalam aku begitu tersiksa di bawah selimut itu.“Kok–”“Lihat? Kalian lihat sendiri, kan? Aku berani menyelimuti tubuhku dengan selimut yang katanya mengandung serbuk gatal. Tapi aku tidak merasakan apa pun. Kenapa, Za? Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Diana.Aku menggeleng pelan, kulihat Gio menatap lurus ke arahku. Tatapan yang seolah menuntut penjelasan.“Tidak! Kamu harus percaya padaku, Gio. Aku tidak mungkin berbohong padamu. Tadi kamu dengar sendiri apa kata dokter. Ada serbuk gatal yang berhasil merusak kulitku.”Tiba-tiba Diana berhambur ke pelukan Gio. Dia menangis, seolah di sini akulah antagonisnya.“Aku tidak akan menuntut Kak Gio untuk mengusir Moza. Dia wanita pilihanmu, dan a

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 51 Pembuktian

    Selepas pemeriksaan, Gio membawaku pulang. “Apakah kamu tidak merasa jijik padaku?” tanyaku, ketika kami telah keluar dari perkiraan rumah sakit.“Jijik?” Gio tersenyum miring. Sementara aku menunduk.Tiba-tiba Gio mendekatkan wajahnya ke arahku, tak segan dia mengecup pipiku. Aku membeliak terkejut.“Kamu?” Aku menyentuh pipiku.“Ya! Tidak harus aku jelaskan, kamu tahu hal apa yang membuatku merasa jijik!” Tentu! Aku tahu itu. Gio benci wanita murahan, dia merasa jijik pada semua itu. Aku tersenyum kecil, bersyukur dalam keadaan seperti ini pun, Gio tetap mampu membuatku tersenyum.Gio menuntunku turun dari mobil, setelah kami sampai di depan rumah.Tanpa mengulur waktu, Gio langsung memanggil Diana. Di sinilah, aku akan membuktikan bahwa kecurigaanku benar adanya.“Ada apa, Kak?” tanya Diana. Gio menolehku.“Ikut aku!” ajakku.Diana mengernyitkan dahinya. Awalnya dia hanya diam, akan tetapi Gio menuntunnya masuk ke kamarku, mengekor di belakang tubuhku.“Ada apa ini? Kenapa aku ha

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 50 Serbuk Gatal

    Kulitku tiba-tiba terasa gatal, semakin digaruk, rasa gatal itu semakin menjalar ke seluruh tubuh hingga wajah. Bahkan sensasi perih pun begitu kurasakan.“Kenapa ini?”Kedua tanganku semakin tidak bisa diam. Rasa gatal ini cukup menyiksaku. Bahkan kulit yang kugaruk pun perlahan berubah memerah. Ini sangat perih.“Ya Tuhan, ini kenapa gatalnya tidak mau hilang?” Aku sampai membuka seluruh pakaianku, demi bisa leluasa menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal tersebut.Aku panik, aku tidak tahu penyebab rasa gatal ini karena apa. Apa mungkin selimut yang kugunakan kotor? Atau mungkin ada ulat bulu yang menyelinap masuk? Tidak! Tidak mungkin. Selimut ini masih baru. Bahkan aku tidak pernah membiarkan kamarku kotor barang sedikit pun.“Gio!” Sambil memanggil nama itu, kedua tanganku semakin membabi buta.Kulit yang kugaruk semakin memerah, menipis. Bahkan sebagian kulitku mengeluarkan darah.“Gio! Tolong aku!” teriakku. Aku menangis dalam kondisi seperti ini. Bahkan napasku sedikit tidak

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 49 Tidak Ingin Pulang

    “Kamu kenapa?” tanya Gio.Kulihat sangat jelas, wajah Diana memerah, kedua matanya berair. Diana meraih tisu, lantas menyeka wajahnya.“Maaf, aku … aku tidak bermaksud menghina. Tapi ….” Diana menghentikan ucapannya.“Ada apa?” tanya Gio.Diana melirik ke arah Pak Anjas. “Maaf, aku belum terbiasa makan di hadapan Papa!”Ucapan Diana membuat Pak Anjas berhenti sarapan. Pria itu lantas beranjak dari kursi.“Maaf, Papa lupa kondisi Papa. Kalian lanjutkan saja sarapannya,” ucap Pak Anjas, lantas pergi dari ruang makan.Kupandangi pria tua itu hingga tidak terlihat lagi.“Aku rasa tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu, Di,” kataku.Diana melirik sekilas ke arahku.“Orang luar tidak seharusnya mengatur orang dalam. Bukankah begitu?” sarkas Diana.Selera makanku hilang seketika. Diana benar-benar berubah. Dia bukan Diana seperti yang dulu. “Moza benar, kalau kamu tidak mau makan sama Papa, setidaknya cari cara lain supaya tidak menyakiti hatinya,” timpal Gio.Tiba-tiba Diana beranjak,

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 48 Mual

    Penasaran apa yang terjadi, aku pun keluar dari kamarku. Kunaiki anak tangga demi mencari tahu alasan Diana berteriak.Di saat yang bersamaan, ketika aku telah berada di ujung tangga bagian atas, pintu kamar Gio terbuka. Reaksinya sama sepertiku, terkejut.“Apa yang terjadi?” tanyaku.Gio mengedikan bahunya. “Aku juga tidak tahu!”Aku dan Gio berlari masuk ke kamar Diana. Di sana, kamar itu berantakan dengan bantal, selimut, serta vas bunga telah berserakan di lantai. “Apa yang terjadi?” tanya Gio.Pak Anjas ada di dalam kamar ini, dahinya terluka.“Kak! Lihat pria jelek itu, dia main masuk ke kamarku. Siapa dia, Kak? Kenapa dia bisa berkeliaran di rumah kita?” tunjuk Diana ke arah Pak Anjas.“Diana! Ini papa kita. Kenapa kamu melukainya?” tanya Gio. “Ck, aku yang salah. Seharusnya tadi aku menemani Papa masuk ke sini.” Gio mengusap kasar wajahnya.“Papa?” Diana membeliak.“Iya, aku adalah papanya Gio, papa kamu juga. Papa ke sini hanya ingin melepas rindu Papa sama kamu. Ternyata k

  • Dalam Dekapan Majikan Kejam    Bab 47 Mengemasi Barang

    “Bu, sudah!” cegahku, sebelum Ibu berbicara lebih tentang Diana di hadapan Gio. Bagaimanapun aku tidak enak jika sampai itu terjadi.“Em … pelakor?” tanya Gio.“Iya, dia–”Tiba-tiba Diana memotong jawaban Ibu. “Kak, sebaiknya kita pulang sekarang, yuk! Aku mau ketemu sama Papa!”Ibu mengernyitkan dahi, mungkin bingung mendengar ucapan Diana. Gio mengangkat sebelah tangannya ke udara, menginstruksi Diana supaya diam.“Bisa Tante jelaskan, kenapa Tante bisa menyebut adikku dengan sebutan pelakor?” tanya Gio.Ibu membeliak, sementara Ayah yang tidak paham dan belum mengenal Gio, hanya diam memperhatikan tanpa sedikit pun menyela obrolan kami.“Sehari sebelum Moza menikah, Diana mengaku hamil anak calon suami Moza. Karena dia, kami harus mengalami hal yang memalukan. Undangan sudah disebar, dan biaya pesta pernikahan yang sia-sia karena perbuatan Diana!” jelas Ibu. Kulihat Ibu begitu murka terhadap Diana.Kulihat gerak Diana tidak nyaman. Kubiarkan saja Ibu mengatakan semuanya. Aku tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status