LOGINLelaki yang sedari tadi mengikutiku akhirnya berhasil menyusul, menyalip motorku yang kehabisan bensin.
“Ma-mau apa? Jangan macam-macam sama saya atau saya akan teriak!” ancamku. Lelaki yang tidak kukenal itu turun dari motornya, berdiri di hadapanku. “Apa? Mau teriak? Teriak saja, Mbak. Paling ujung-ujungnya kamu juga yang malu!” sahutnya. Aku tidak paham dengan ucapannya. Dia yang jahat, kenapa aku yang harus menanggung malu? “Maksudnya?” tanyaku. “Mbak belum bayar air minum di warung ibu saya. Enak saja main pergi-pergi saja!” jawabnya. “Oh! Em ….” Aku tersenyum kikuk. Aku baru ingat, aku memang belum membayar air minumku. Betapa malunya aku, sudah menuduh lelaki itu sebagai penjahat. “Maaf, Mas. Saya lupa! Ini uangnya. Kembaliannya ambil saja!” ucapku tak enak hati. Lelaki itu menerima uang tersebut. “Kembalian apanya, Mbak? Uang pas begini!” Untuk kedua kalinya aku mempermalukan diri sendiri. Aku merasa tidak punya muka di hadapan orang ini. “Iya, maaf, Mas saya tidak tahu!” Setelah lelaki itu pergi, aku mendorong motor ini sambil mencari pom bensin terdekat. “Akh … perutku lapar sekali. Aku belum makan dari pagi!” gumamku. Sesekali aku meringis. Tanganku sampai gemetar, mataku pun perlahan terasa berkunang-kunang. Hari sudah semakin sore, aku masih terus mendorong motorku. Tempat tinggalku masih jauh, sedangkan aku belum menemukan penjual bensin sama sekali selama aku berjalan. “Aku sudah tidak kuat!” Aku pun berhenti, berjongkok di pinggir jalan sambil memegangi perutku. Tubuhku semakin lemas, tenagaku perlahan lenyap hingga akhirnya kegelapan telah menguasai diri. Kurasakan titik-titik dingin menerpa kulit wajah. Semakin lama titik itu terasa seperti guyuran. Aku terbangun, ternyata aku baru sadar dari pingsan dan mendapati diri ini terbaring di pinggir jalan tanpa ada seorang pun yang menolongku. “Hujan!” gumamku. Aku bangkit, hendak meneruskan perjalanan pulang. “A-apa? Ke mana motorku? Kenapa motorku tidak ada di sini?” Aku mengedarkan pandangan menyapu area sekitar. Namun, sejauh mata memandang, aku tidak menemukan motorku sama sekali. “Ya Tuhan, ke mana motorku?” Aku berjalan limbung di tengah derasnya hujan. Tidak kupedulikan lagi basah dan dinginnya tubuhku. Aku hanya ingin motorku kembali. Namun, kenyataannya nihil, motorku tidak ada. Aku tertawa getir, menertawakan kebodohanku, kesialanku. Dunia seolah tidak ingin membuatku bernapas dengan tenang walau sebentar saja. Terpaksa aku pulang membawa kabar buruk. Aku berjalan gontai dengan perut lapar dan kedinginan. “Ah iya, aku masih ada sedikit uang bensin. Sebaiknya aku membeli makanan dulu daripada aku pingsan lagi!” gumamku. Kukeluarkan uang dari kantong celanaku. Aku tersenyum kecil walau sebenarnya hati ini masih sakit atas kehilangan motorku. Namun, entah, aku tidak ingat berapa banyak perbuatan buruk yang pernah aku lakukan, sehingga kemalangan kembali terjadi padaku. Uang terakhir yang kumiliki akhirnya raib disambar orang yang mengendarai motor. Aku tidak sanggup mengejar, motor itu melesat secepat kilat. “Aaaargh! Kenapa? Apakah masih kurang penderitaanku? Mau tambah lagi? Ayo! Mumpung aku masih hidup, ayo tambah saja lagi!” Aku berteriak kesetanan seperti orang gila. Aku kembali berjalan dengan sangat pelan. Tubuhku menggigil kedinginan. Kulit tanganku sudah sangat pucat dan keriput akibat terlalu kedinginan. Cahaya siang sudah mulai lenyap dimakan kegelapan. Setelah berjuang dengan susah payah, akhirnya aku telah sampai di depan rumahku. “Bu, aku pulang!” ucapku tergagap. Pintu rumah ini terbuka lebar, Ibu, Ayah dan kedua adikku telah menyambutku di ruang tamu. “Mana motormu?” tanya Ayah. Kuusap air hujan yang membasahi wajahku. “Aku belum mendapat pekerjaan. Motorku hilang, tadi aku pingsan di jalan. Uangku juga dicuri orang. Aku lapar, aku juga kedinginan!” jawabku. Tubuhku sudah sangat menggigil. “Kamu ini kenapa, sih, Moza? Seharusnya kamu lebih berhati-hati. Kenapa bisa sampai hilang? Kalau sudah begini bagaimana coba? Kenapa kamu nggak cari dulu? Rumah kita sudah dalam ancaman, malah ditambah motor hilang. Kamu ini maunya apa, Moza?!” tegur Ibu. Sakit sekali saat mendengar Ibu menyalahkanku. Memang, aku ceroboh. Namun, setidaknya saat mendengar penjelasanku, penderitaanku, mereka merasa iba walau hanya sedikit. “Sudah-sudah, masuk! Ganti baju dan buruan makan. Ada yang ingin Ayah bicarakan sama kamu. Ini penting.” Aku menurut, aku segera mengganti baju dan makan. Malam ini, kami berkumpul di ruang keluarga. “Ayah mau bicara apa?” tanyaku. Ayah menaruh cangkir kopi yang baru saja ia teguk ke atas meja. “Ayah iseng buka-buka internet mencari lowongan pekerjaan. Kebetulan sekali, Ayah menemukan pekerjaan yang cocok buatmu. Gajinya besar, bisa mengalahkan gaji karyawan pabrik. Ayah mau kamu ambil pekerjaan itu,” jawab Ayah. “Kerja apa memangnya, Yah? Apakah di kantor? Tapi kan aku bukan lulusan sarjana?” “Lagi pula siapa yang bilang pekerjaan itu di kantor? Kamu hanya perlu menjadi pelayan saja di sebuah rumah milik seorang pengusaha,” jawabnya. Aku terdiam sejenak, berpikir apakah gaji yang ditawarkan masuk akal, sedangkan rata-rata gaji seorang pelayan tidak sampai mengalahkan gaji karyawan pabrik? “Ayah yakin? Kok aku tidak, ya? Aku sedikit ragu. Takutnya–” “Sudahlah, Moza. Kamu tidak usah banyak protes. Ini kesempatan bagus buatmu. Jangan sia-siakan! Besok pagi kamu berangkat ke alamat itu. Nanti Ibu akan siapkan uang untuk ongkosmu. Malam ini kamu persiapkan baju-baju ganti untuk kamu bawa. Ingat, kerja yang sungguh-sungguh, kamu harus membayar hutang kita!” potong Ibu. Ini bukan lagi tentang permintaan. Namun, ini desakan, tuntutan yang mengharuskanku menanggung beban yang sebenarnya tidak kuminta. “Baiklah!” “Kak, gajian nanti beliin aku ponsel baru, ya! Yang ini sudah eror!” pinta Mitha. “Enak saja! Aku dulu, dong! Motorku sudah ketinggalan zaman. Jadi Kak Moza harus mentingin aku dulu!” timpal Mondi. Mereka meributkan sesuatu yang belum jelas. Kutinggalkan mereka yang tengah berdebat kecil. Kepalaku terasa pusing mendengar ocehan mereka. Dengan berbekal uang seratus ribu, pagi ini aku nekat pergi ke alamat yang Ayah berikan. Perjalanan cukup memakan waktu, perjalanan ini sangat jauh. Beberapa kali aku nyaris tersesat. Namun, akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Rumah besar yang terletak di ujung komplek yang masih sepi. Hanya ada beberapa penghuni yang mengisi rumah di komplek ini. Kemungkinan komplek ini belum lama berdiri. Bisa kulihat dari keadaan bangunan dan beberapa kendaraan yang terparkir di depan rumah-rumah warga. Tidak ada penjagaan, rumah yang kutuju terlihat sangat sepi. Sangat kontras dengan keadaan rumahku yang ramai dan berisik. Tidak ada yang bisa kusapa ketika kaki ini menginjak pelataran rumah. Kini aku telah berdiri di depan pintu, mengetuknya dengan harapan besar yang menggantung di dalam diri. Cukup lama aku melakukan ini dengan berulang kali. Akhirnya seseorang membukakan pintu untukku. Dia seorang pria tua dengan perawakan kurus kering. Dia berdiri di ambang pintu, wajahnya membuatku takut dengan beberapa luka sayatan dan luka bakar. Serta matanya yang cekung menatapku lama. Yang membuatku semakin takut, dia menenteng sebuah arit di sebelah tangannya.Aku membeliak tajam, Pak Gio bisa membaca ketakutanku?“I-iya, saya sedang ketakutan. Saya pikir tadi saya melihat hantu gelantungan di gudang, ternyata bukan, itu hanya kain yang tidak terpakai!” jawabku berdalih.Pak Gio tiba-tiba menuntunku ke ruang tengah. Lantas lelaki itu mengambil sebuah kotak yang berisi obat-obatan.Aku hanya diam memperhatikan. Bukan berarti aku tenang berada dekat dengannya. Jujur aku takut. Namun, aku tahan, berpura-pura tidak tahu kelakuannya.“Oh ya? Bukan karena yang lain?” tanyanya. Pertanyaan yang ambigu. Apakah dia tahu jika aku mengintipnya?“Yang lain? Tidak! Saya memang phobia sama yang namanya hantu. Tapi ternyata ketakutan itu diciptakan oleh diriku sendiri. Sampai-sampai kain yang menggantung saja terlihat menyeramkan. Em … tidak usah repot-repot, Pak, biar saya obati sendiri lukanya!” tolakku, ketika Pak Gio hendak mengobati jariku.Pak Gio bergeming, dia memegangi tanganku cukup kuat, sehingga aku tidak bisa leluasa bergerak.Tangan dan bibi
“Uh!”Aku membekap mulutku sendiri, berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun.Keringat dingin mulai membanjiri tubuhku, ketika kedua telinga ini mendengar suara rintihan saling bersahutan di atas ranjang tempat persembunyianku.“Gila! Ini terlalu gila! Dua kali aku memergoki Pak Gio berbuat seperti itu!” batinku.“Kamu suka?” tanya Pak Gio.“Yeah! Aku suka, Gio. Lakukan apa saja yang kamu mau. Aku milikmu,” jawab wanita itu. Suaranya terselip sebuah godaan.“Em … oh ya? Apa pun itu?” tanya Pak Gio.“He’em! Apa pun itu!” jawab wanita itu. Terdengar sangat murahan dan menjijikan yang kudengar.Kudengar suara tawa kecil dari mulut Pak Gio.“Bagaimana kalau begini?” Tiba-tiba ranjang ini bergetar dengan sangat kencang. Tidak kudengar lagi suara wanita itu meracau. Aku tidak tahu apa yang terjadi di atas sana. Aku hanya bisa diam dalam ketakutan yang luar biasa di bawah sini.Lagi! Kudengar suara tawa kecil dari Pak Gio setelah ranjang ini berhenti bergerak. Sungguh menakutkan ma
“A-apa?!”Tubuhku terasa membeku, ruang gerakku terasa sempit. Aku seolah terkepung oleh sesuatu yang menjelma menjadi sebuah kata yaitu takut.Tiba-tiba Pak Gio menarik tanganku. Aku yang tidak memiliki persiapan apa pun, akhirnya keseimbanganku goyah, aku terduduk di pangkuan Pak Gio.“Ma-mau apa?” tanyaku tergugup.Pak Gio tersenyum simpul, di balik tatapannya yang dingin, tersimpan sesuatu yang lebih mengerikan dari yang aku kira.“Bukankah kamu membutuhkan uang?” tanyanya. Sebelah tangannya meraih anak rambutku, dan menyelipkannya ke belakang telingaku.Aku mengangguk pelan. “Iya, saya memang butuh uang. Ta-tapi Pak Gio mau apa?”Aku berusaha lepas dari cengkeraman lelaki ini. Namun, tenaga Pak Gio jauh lebih besar daripada tenagaku.“Saya bisa memberikan uang itu tanpa harus kamu kembalikan,” katanya. Dia lantas menghirup aroma tubuhku.“Saya juga bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Asalkan temani saya malam ini!” imbuhnya lirih.Aku terkesiap, tubuhku terhentak dan bergerak
“Ma-maksud Pak Gio apa? A-ku melihat apa?” tanyaku. Ingin sekali aku bersikap biasa saja. Namun, aku tidak mampu mengendalikan ketakutanku. “Kamu gugup?” tanyanya. Fix! Dari caranya bertanya, aku yakin aku ketahuan. Pak Gio tahu aku telah mengintip apa yang dia lakukan bersama wanita itu. Namun, di mana wanita itu sekarang? Apakah Pak Gio sudah mengubur mayatnya, atau bisa jadi Pak Gio telah membuangnya? Yang jadi pertanyaan, siapa wanita itu? Apakah dia pacar Pak Gio, atau justru istrinya? Cepat-cepat aku menunduk, seperti padi yang ditebak angin, tubuhku tidak bisa diam, tubuhku bergerak ke sana kemari. Aku memejamkan mataku beberapa saat sebelum aku berkata jujur. Sudah tertangkap basah, berpura-pura pun rasanya akan sangat percuma. “Aku minta maaf, iya aku melihatnya. Aku tidak sengaja, aku tidak bermaksud melakukannya!” ucapku. Telapak tanganku semakin basah oleh keringat. “Baguslah kalau kamu mengaku salah. Jangan diulangi lagi, karena saya tidak bisa telat makan,” sahut
“Akh!” Bahkan bisa kudengar jelas suara intim dari kamar tersebut. Aku ingin pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatnya. Namun, sekali lagi, tubuhku mengkhianati otakku. Bukannya menjauh, aku malah kembali mendekati pintu. Kedua netra ini kembali mengintip ke dalam kamar. Kusaksikan secara langsung adegan yang membuat tubuhku terasa aneh. Merinding. Namun, tidak sadar aku menikmatinya. Tidak munafik, hal semacam ini bukan yang pertama yang aku saksikan, dulu tidak sengaja aku pernah memergoki adikku, Mondi, menonton video semacam itu di ponselnya. Saat itu aku diam-diam mengintip di balik celah pintu kamar yang tidak dia kunci. Namun, kali ini bukan video yang kulihat, melainkan adegan secara langsung tanpa sensor. “Gio, aku sangat mencintaimu. Tolong jangan berhenti!” Aku mual mendengar kalimat wanita itu. Ucapannya seperti seseorang yang tengah mengemis. “Ah sial! Kenapa aku malah menikmati di setiap inci adegan ini?” batinku. Aku merutuki diriku sendiri. Kurasakan tubuh ba
Aku terkesiap, aku merinding melihat benda tajam tersebut. Apalagi tatapan yang dilempar pria tua itu terasa menghunus. “Cari siapa?” tanyanya. “Sa-saya … saya lagi mencari pemilik rumah ini. Saya dapat info, kalau di sini sedang membutuhkan seorang pelayan. Apakah benar? Jika benar, saya bermaksud ingin melamar pekerjaan itu!” Pria itu mengangguk-angguk kecil. “Baiklah! Ikut saya sekarang!” ajaknya. Pria itu membalikan badan, lantas mulai melangkah pelan dengan tubuh yang sedikit membungkuk ke depan. Tiba-tiba pria itu menoleh ke arahku, mengernyitkan dahinya ketika melihatku masih berdiri di ambang pintu. Jujur, aku masih ragu untuk mengambil pekerjaan ini. “Kenapa diam? Ikut saya!” ucapnya yang kedua kali. Dengan langkah ragu, akhirnya aku mengikuti pria itu masuk ke rumah tersebut. Rumah dengan ukuran yang sangat besar dan luas. Mewah dengan desain interior yang cerah. Namun, sejauh yang kulihat, rumah ini terlalu sepi. Pria itu berhenti di depan sebuah pintu.







