ログイン“Uh!”
Aku membekap mulutku sendiri, berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhku, ketika kedua telinga ini mendengar suara rintihan saling bersahutan di atas ranjang tempat persembunyianku. “Gila! Ini terlalu gila! Dua kali aku memergoki Pak Gio berbuat seperti itu!” batinku. “Kamu suka?” tanya Pak Gio. “Yeah! Aku suka, Gio. Lakukan apa saja yang kamu mau. Aku milikmu,” jawab wanita itu. Suaranya terselip sebuah godaan. “Em … oh ya? Apa pun itu?” tanya Pak Gio. “He’em! Apa pun itu!” jawab wanita itu. Terdengar sangat murahan dan menjijikan yang kudengar. Kudengar suara tawa kecil dari mulut Pak Gio. “Bagaimana kalau begini?” Tiba-tiba ranjang ini bergetar dengan sangat kencang. Tidak kudengar lagi suara wanita itu meracau. Aku tidak tahu apa yang terjadi di atas sana. Aku hanya bisa diam dalam ketakutan yang luar biasa di bawah sini. Lagi! Kudengar suara tawa kecil dari Pak Gio setelah ranjang ini berhenti bergerak. Sungguh menakutkan majikanku ini. Namun, tidak berselang lama, dia terisak. Gila! Dia benar-benar sudah gila. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Ingin rasanya aku keluar, memergoki apa yang dia lakukan. Namun, itu hanya sebatas keinginan. Nyatanya nyaliku tidak sampai di situ. Bisa-bisa Pak Gio marah padaku, dan melakukan apa saja yang membuatku celaka di rumah ini. Tidak! Tidak akan! Aku tidak mau gegabah, di sini aku hanya memiliki satu tujuan, bekerja untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. “Murahan!” kata Pak Gio. Sama halnya seperti anggapanku ketika mendengar racauan wanita itu. Kulihat sepasang kaki putih sedikit berbulu turun dari ranjang. Dia berjalan pelan mendekati laci meja yang tak jauh dari ranjang ini. “Terkadang terlalu murah itu tidak baik,” gumam Pak Gio, dia kembali tertawa kecil. Sungguh, ucapannya membuatku merinding. Bahkan suara tawanya yang kecil, seperti sebuah ancaman yang mematikan. Pak Gio lantas memasuki kamar mandi. Di dalam sana, samar bisa kudengar suara siulan dan gemericik air dari shower. Inilah kesempatan bagus untukku memastikan keadaan wanita itu. Aku merangkak keluar dari bawah ranjang. Di saat aku berdiri menatap ke arah ranjang, kulihat wanita yang baru saja bersama Pak Gio tengah terbaring berbalut selimut. Kudekati dirinya, kuulurkan tanganku untuk memastikan keadaannya. Mati! Aku terkesiap, untuk kedua kalinya aku melihat dua wanita mati di kamar ini. Entah sudah berapa banyak korban yang berjatuhan sebelum kedua wanita yang kulihat mati di sini. Aku tidak tahu kenapa Pak Gio sampai melakukan hal seperti ini pada mereka. Aku cepat-cepat keluar dari kamar Pak Gio. Ini terlalu mengerikan jika terus kulihat. Namun, ketika aku keluar dari kamar ini, aku terjatuh, tubuhku ambruk ke lantai setelah tak sengaja menabrak Pak Toro yang berdiri di ujung tangga. “Pak Toro, maafkan saya. Saya–” “Ada apa?” tanyanya. Beberapa kali aku menoleh ke arah kamar Pak Gio. “Ti-tidak apa-apa, saya permisi!” pamitku. Aku segera turun dari lantai atas. Aku kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaanku, berpura-pura tidak tahu soal pembunuhan itu. Kuseka keringat dingin yang mengalir di dahiku. Apa yang kulihat tadi, bukan urusanku. Jika aku melaporkan kejadian itu kepada polisi, tidak-tidak, aku bukan lawan yang sepadan bagi Pak Gio. Lagi pula aku tidak sempat memfoto mayat wanita itu, aku tidak memiliki bukti atas pembunuhan itu, besar kemungkinan, aku sendiri yang akan terjebak ke dalam masalah besar. Aku mengiris sayur mayur yang kusimpan di atas meja. Gerakan tangan yang sedikit bergetar membuat pisau yang kugunakan beberapa kali melenceng dari sayur yang hendak kupotong. Pikiran ini terus menerus tertuju pada wanita itu. Entah apa yang sedang Pak Gio lakukan sekarang pada mayat tersebut. Yang jelas, aku merasa terjebak di rumah ini. “Ayah, Ibu, seandainya kalian tahu aku ketakutan setengah mati di sini. Apakah kalian masih akan terus memaksa aku untuk tetap bekerja di sini?” batinku. Aku terus merutuki desakan keluargaku. Namun, aku bisa apa? Pikiran yang tidak fokus, membuat pisau yang digunakan akhirnya meleset mengenai jariku. Darah seketika keluar, mengalir begitu banyak, aku meringis kesakitan. “Sssh aw!” Kupegangi jari ini, terasa perih. “Jarimu terluka!” Aku tersentak, aku membalikan badan, tepat di hadapanku, Pa Gio berdiri tanpa kusadari kehadirannya. Tanpa sungkan, dia meraih tanganku, dan menghisap darah yang keluar dari jari telunjukku. “Keningmu berkeringat, tanganmu dingin dan bergetar, apakah kamu sedang ketakutan?”Aku berlari mendekati Caca, tanpa pikir panjang kuhalangi langkahnya. Kurentangkan kedua tanganku.Tepat di ujung anak tangga bagian bawah, Caca berhenti, dia terkejut melihatku berdiri di hadapannya.“Mbak Moza, kenapa … belum tidur? Lagi ngapain malam-malam begini di sini?” tanyanya. Dia berusaha menutupi tubuhnya. Mungkin malu ketika aku melihatnya berpakaian seperti itu.“Tidak penting kamu tahu kenapa saya ada di sini. Saya hanya ingin memastikan, kamu jangan pernah menemui Gio!” jawabku.Caca mengernyitkan dahinya, beberapa saat kemudian, dia terkekeh.“Apa? Mbak Moza melarangku menemui Gio? Ah iya, Mbak Moza belum tahu, kan? Mulai hari ini, Gio adalah kekasihku!” katanya dengan bangga.Sebelah tanganku berkacak pinggang, sebelah tangannya lagi mengusap wajahku dengan gerakan kasar. Aku bingung harus memulainya dari mana. Jika aku membeberkan tentang siapa Gio, apakah Caca akan percaya?“Ikut saya!”Kutarik tangan Caca menuju kamar tamu yang berada di lantai bawah.“Ish! Mbak Mo
Caca! Wanita itu tiba-tiba muncul di belakangku. Dia yang awal masuk ke rumah ini sangat bersahaja. Namun, kini berubah drastis bak bukan dirinya.Caca terlihat sangat berbeda, dari caranya berpenampilan, riasan, bahkan kulihat dia begitu glamour dengan satu set perhiasan yang dia pakai. Kedua tangannya menenteng banyak paper bag. “Mbak Moza! Kok malah bengong?” Aku tersadar dari keterdiamanku.“Apa?” tanyaku.Caca tampak menghela napas dalam, lantas dia kembali mengulang ucapannya. “Buatkan makanan buat saya juga! Saya lapar!” titahnya.Bahkan dari caranya bersikap, Caca sudah berani memerintahku. Padahal yang bekerja sebagai pelayan saat ini adalah dirinya, bukan aku.“Oh, oke! Kamu habis dari mana emangnya, Ca?” tanyaku.Caca tersenyum sambil menatap semua yang dia pakai dan dibawa.“Saya habis belanja dari mall,” jawab Caca.“Dari mall?” tanyaku, Caca mengangguk.“Sama siapa?” Mungkin aku terkesan terlalu banyak bertanya. Namun, aku terlalu penasaran. Apa mungkin apa yang kupik
“Siapa yang menaruh surat ini?” gumamku.Aku menatap lurus ke arah pintu. Apa mungkin ada seseorang diam-diam masuk ke kamarku?Tanpa gosok gigi, tanpa cuci muka apalagi mandi, aku keluar dari kamarku dengan tubuh yang masih terbalut piyama. Penampilan yang masih kacau. Namun, aku tidak peduli. Aku terlalu penasaran tentang perintah yang tertulis ini.Aku berjalan keluar sesuai isi surat.Kertas surat yang kugenggam seketika terlepas dari tanganku. Aku berdiri mematung di ambang pintu. Aku seperti mimpi. Namun, perasaanku semakin tidak enak. Aku merasa jebakan ini sudah terlalu dalam. Akan sulit untuk kembali naik ke permukaan. Nyawaku seolah berada di ambang.“Kenapa diam di situ? Selamat ulang tahun, Sayang!” ucap Gio.Gio mendekatiku lantas menuntunku ke arah mobil mewah berwarna merah yang berhiaskan pita.“Kamu tahu hari ini ulang tahunku? Dari mana?” tanyaku. Tatapanku tidak bisa lepas dari mobil baru itu.“Tentu! Isi dari kartu identitasmu telah kucatat di dalam kepala.” Gio me
Isi chat tersebut tertulis bahwa Ibu meminta nomor Gio. Yang paling membuatku bingung, kenapa aku membalas dengan memberikan nomor Gio pada Ibu? Padahal aku baru saja melihat isi chat tersebut.Kulihat waktu Ibu mengirim chat tersebut. Tadi malam. Aku mengingat-ingat apa yang aku lakukan semalam.“Gio!” gumamku.“Apakah dia pelakunya?” Pasalnya semalam Gio memasuki kamarku. Bisa jadi dia diam-diam mengambil ponselku dan membalas chat Ibu. Ah sial! Mau apa Ibu meminta nomor Gio, dan untuk apa Gio memberikan nomornya pada Ibu?“Kita pulang!” kata Gio, setelah dia selesai meeting bersama klien.“Iya!”Aku dan Gio memasuki mobil. Beberapa kali kulirik lelaki itu yang tengah sibuk mengemudikan mobilnya.“Ada apa?” tanyanya, dia menyadari aku memperhatikannya.Aku menghela napas dalam, sebelum kutanyakan perihal chat tersebut.“Apakah kamu yang memberikan nomormu pada ibuku?” tanyaku.“Ya! Kenapa?” sahutnya. Aku kira dia tidak akan mengakuinya.Aku berdecak, tidak seharusnya dia melakukan
Pandanganku tidak bisa lepas dari wanita itu. Dia memiliki wajah yang manis yang membuat siapa pun tidak bosan melihatnya, tubuh proporsional, mungkin dia lebih muda dari usiaku. Penampilannya sederhana dengan rambut panjang yang diikat satu.“Bagus! Pak Toro boleh kembali mengerjakan tugasmu!” kata Gio.Pak Toro pun tidak terlihat lagi dari pandanganku.“Boleh saya lihat kartu identitasmu?” pinta Gio, tanpa menatap lama ke arah wanita itu.“Boleh, Pak! Ini!”Gio memperhatikan kartu identitas wanita itu. Sementara aku hanya diam tanpa berkomentar.Aku tidak tahu apa maksud Gio membawa wanita lain ke rumah ini. Apa mungkin, wanita itu akan dipekerjakan di rumah ini sama sepertiku?“Caca Marica!” kata Gio membaca nama di kartu tersebut.“Iya, Pak, itu nama saya!”Gio lantas mengembalikan kartu identitas itu kepada wanita yang bernama Caca itu.“Baiklah! Kamu saya terima bekerja di sini. Taruh tasmu ke kamar di sebelah sana, setelah itu, kamu bereskan piring-piring kotor ini dan lakukan
“Gio!” gumamku.Aku berdiri membeku di ambang pintu. Tertegun, terpaku, aku sampai kesulitan untuk mengontrol diri. Kulihat lelaki itu mendekati tempat tidurku lalu duduk di sana.“Kamu tidak mendengar ucapanku!” katanya tanpa ekspresi. Melihatnya seperti itu, membuatku tidak berani untuk sekedar masuk ke dalam kamar ini.“Aku … aku kesulitan tidur, jadi aku berjalan-jalan sebentar di halaman. Ada apa kamu ke sini?” jawabku berdalih.Pandangan Gio tidak lepas dariku. Begitu dalam, menusuk, seolah tengah mengulitiku.“Duduk di sini!” titahnya. Gio menepuk ranjang di sebelahnya duduk.Aku tidak buru-buru masuk memenuhi perintahnya, aku masih ragu untuk sekedar berada di dekatnya. Mengingat pembicaraanku dengan Pak Toro barusan, membuatku semakin waspada. Apalagi yang aku ketahui dari Pak Toro, bahwa aku adalah target selanjutnya.Menatap Gio, aku seolah menatap malaikat maut yang kapan saja siap untuk mencabut nyawaku.“Kenapa diam? Kamu memikirkan sesuatu?” tanyanya.Lelaki itu tidak







