Share

Bab 4

Author: Naga
Pintu elektronik ruang pertemuan menutup di belakangnya, sementara suara manajer humas terdengar melalu earphone.

“Siaran langsung akan segera dimulai. Semua orang, keluar dari jangkauan kamera.”

Para staf segera mundur dan keluar dari balik pintu kaca.

Lampu indicator merah pada kamera menyala.

Tak lama kemudian, jumlah penonton yang sedang online sudah menembus angka ratusan ribu.

Pernyataan yang tertera di teleprompter mulai bergulir.

Namun, aku tak membacanya persis seperti yang tertulis.

“Halo semuanya, Aku Bella Grahadi.”

“Mengenai insiden di acara pertunangan, aku hanya akan menyampaikan fakta yang aku alami sendiri.”

Wajah manajer humas di balik pintu kaca seketika berubah.

Aku menatap lurus ke arah kamera.

“Reza mengambil jarum suntik darurat milikku.”

“Lalu memasukkannya ke dalam lemari terkunci dan mengunciku di ruang istirahat.”

Dalam sekejap, kolom komentar dibanjiri berbagai tanggapan.

[Ternyata memang bukan salah paham!]

[Bukannya Keluarga Darmawan sebelumnya bilang rekaman CCTV itu sengaja diedit?]

[Kenapa wajahnya pucat sekali?]

[Biarkan dia istirahat dulu!]

Manajer humas mengetuk kaca dengan keras.

“Non Bella! Tolong baca sesuai teleprompter.”

Aku tak menghiraukannya.

“Aku muncul di sini hari ini karena Reza ....”

Tenggorokanku tiba-tiba tercekat.

Kalimat berikutnya tertahan di tenggorokan.

Aku menunduk dan melihat ruam merah mulai bermunculan dengan cepat di lenganku.

Peringatan dokter tentang reaksi alergi kedua benar-benar terjadi.

Aku menekan dada sambil terhuyung-huyung menuju pintu kaca.

“Dokter!”

“Cepat panggil dokter!”

Manajer humas sempat tertegun.

“Non Bella, mohon selesaikan pernyataan Anda terlebih dulu.”

Aku memukul pintu sekuat tenaga.

“Alergiku kambuh.”

“Jarum suntikku!”

Barulah manajer humas tersadar.

Dia segera berlari menuju pintu sambil membawa jarum suntikan darurat.

Namun, sistem akses pintu sudah terkunci.

Dia menggesek kartunya dua kali, tapi lampu merah tetap tak berubah menjadi hijau.

“Pak, kode aksesnya sudah diubah Pak Reza!”

Begitu dokter keluarga melihat ruam merah yang memenuhi lenganku, wajahnya seketika berubah.

“Cepat buka pintunya!”

“Kemungkinan dia mengalami reaksi alergi bifasik!”

Manajer humas panik.

“Tapi Pak Reza bilang, setiap kali dia gugup, tubuhnya akan menunjukkan gejala fisik.”

“Dia punya riwayat syok anafilaksis akibat alergi parah!”

Dokter itu langsung merebut kartu akses dari tangannya.

“Dalam situasi seperti ini, siapa yang mengizinkan kalian memutuskan apakah dia berpura-pura atau tidak?”

Dengan tangan gemetar, manajer humas menghubungi Reza.

Suara Reza terdengar dingin dari seberang telepon.

“Dokter Alvin, Anda juga sudah melihat hasil pemeriksaannya kemarin.”

“Reaksi tubuh bisa dipengaruhi oleh emosi. Semakin tegang dia, semakin jelas gejalanya.”

“Ini alergi, bukan masalah emosi!”

“Jarumnya ada di tangan Anda. Kalau dia benar-benar dalam bahaya, baru gunakan.”

“Kalau menunggu sampai dia mengalami syok, semuanya sudah terlambat!”

“Dia sekarang belum mengalami syok.”

Reza mengucapkan setiap kata dengan tegas.

“Suruh dia menyelesaikan pernyataannya terlebih dulu.”

“Kalau hari ini dia kembali menjadikan rasa nggak nyaman sebagai alasan untuk menghindar, nanti setiap kali menghadapi sesuatu yang nggak ingin dia hadapi, dia akan menggunakan cara yang sama.”

Aku bersandar pada pintu kaca.

Perlahan-lahan, tubuhku merosot hingga akhirnya terduduk di lantai.

Kolom komentar di layar langsung heboh.

[Dia nggak pura-pura!]

[Cepat buka pintunya!]

[Suntikan daruratnya jelas ada di luar!]

[Siapa yang kunci pintunya?]

[Ini siaran langsung pembunuhan?]

[Aku sudah lapor polisi!]

Dokter menghantam pintu akses dengan tabung pemadam kebakaran.

Pintu kaca bergetar, tapi tetap tak pecah.

Manajer humas akhirnya menyadari bahwa situasi telah benar-benar lepas kendali. Dia buru-buru menghubungi sekuriti untuk mencabut akses pintu tersebut.

Namun, tepat pada saat itu, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari ujung lorong.

Reza berjalan cepat sambil melindungi Naya.

Wajah Naya tampak pucat. Tangannya mencengkeram erat lengan kemeja pria itu.

Begitu melihat tabung pemadam kebakaran di tangan dokter, wajah Reza seketika menggelap.

“Siapa yang suruh kalian mendobrak pintu?”

Dokter keluarga menunjuk ke dalam ruangan.

“Nona Bella sedang mengalami reaksi alergi parah! Buka pintunya!”

Reza berjalan mendekati pintu kaca.

Saat melihatku tergeletak di lantai, langkahnya sempat terhenti.

Aku sudah tak mampu berkata-kata.

Aku hanya bisa mengangkat tangan dengan sekuat tenaga, menunjuk jarum suntik darurat yang berada di tangan manajer humas.

Reza menatapku.

Sorot matanya hanya menunjukkan satu hal yang membuatku muak.

Dia ingin aku melanjutkan pernyataan itu.

Dokter keluarga langsung mendorongnya menjauh.

“Dia sudah nggak bisa bicara lagi!”

Namun, Reza justru mencengkeram pergelangan tangan dokter.

“Padahal tadi dia masih mengatakan begitu banyak hal di depan kamera.”

“Kenapa begitu diminta membaca pernyataan, dia langsung nggak bisa bicara?”

“Itu pembengkakan laring!”

“Dia sedang melawan rasa takutnya dengan tekad yang miliki.”

“Kalau terus ditunda, dia akan mati!”

Reza menatapku tajam.

“Terakhir kali, semua orang menuruti kemauannya. Itu sebabnya dia mengira, selama dia pingsan, dia bisa menghindari masalah.”

“Pernyataannya tinggal tiga kalimat lagi.”

“Tunggu dua menit lagi.”

Detik berikutnya, seluruh tenagaku seakan lenyap.

Dahiku membentur kaca dengan keras.

Alat pemantau portabel yang terhubung ke patch pemantau di tubuhku langsung mengeluarkan alarm nyaring.

Lampu indikator merah pada kamera masih menyala.

Di hadapan lebih dari seratus ribu penonton, kurva detak jantungku dengan cepat menukik turun.

Wajah dokter keluarga seketika memucat.

“Dia sudah nggak bernapas!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 10

    Berita tentang pencurian bros dan pemalsuan barang bukti muncul secara bersamaan.Naya memang mengembalikan barang aslinya, tapi dia tetap harus mempertanggungjawabkan pencurian serta upayanya menjebak orang lain.Reza pun sedang diperiksa karena terlibat dalam rencana pencurian palsu dan menghalangi pertolongan medis.Keluarga Darmawan berusaha membingkai semua itu sebagai sekadar konflik hubungan pribadi.Namun, Reza justru mengambil inisiatif untuk menyerahkan seluruh catatan ujian yang pernah dia berikan padaku.Di dalam catatan itu, ada sesuatu yang membuatku terdiam.Waktu di Lite, pengawal ternyata sudah lebih dulu menyadari bahwa ada dua pria mabuk yang membuntutiku.[Perlu ikut campur?]Reza membalas,[Untuk sementara nggak perlu. Biarkan dia mengatasinya sendiri.]Saat aku sedang demam tinggi dan harus menjamu kerabat, dokter keluarga memeriksa suhu tubuhku yang mencapai empat puluh koma satu derajat.[Sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit.]Namun tanggapan Reza,[Jamuan kel

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 9

    Naya menghapus senyum dari wajahnya, lalu tiba-tiba berkata, “Lihat, ‘kan? Sampai sekarang dia masih merasa nggak ada yang salah dengan rencananya.”Reza langsung menoleh.“Itu bukan alasan untukmu mencuri.”“Lalu, apa alasanmu menjebaknya?” Naya menunjuk ke arahku.“Aku melakukannya agar dia bisa berkembang.”Naya tertawa. Seluruh tubuhnya bahkan sampai gemetar.“Apa pun yang kamu lakukan untuknya, selalu demi kebaikannya.”“Tapi apa pun yang kulakukan, semuanya selalu salah.”Reza mengernyitkan kening.“Dari awal aku nggak pernah memaksamu,” sahut Reza.“Karena di matamu, aku sama sekali nggak pantas untuk kamu didik!”Air mata Naya seketika mengalir deras.“Jariku tersayat, kamu langsung membawakan dokter untuk menemuiku.”“Aku bilang aku takut, kamu langsung meninggalkan semua orang untuk menemaniku.”“Semua orang mengira kamu yang paling mencintaiku.”“Tapi pernahkah kamu berpikir untuk menikah denganku?”Ekspresi Reza seketika berubah dingin.“Aku hanya menganggapmu sebagai adikk

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 8

    Aku terpaku menatapnya.Kupikir setelah pertunangan dibatalkan, semua ujian akhirnya berakhir.Ternyata, belum.Selama aku masih berada di tempat yang bisa dilihatnya, setiap kejadian tak terduga dalam hidupku mungkin saja merupakan ujian yang telah dia siapkan.“Jadi, sebenarnya kamu sudah tahu kalau aku nggak bersalah.”“Tapi barusan … kamu masih bertanya apa aku mencuri bros itu untuk membalas dendam pada Keluarga Darmawan?”Ekspresi Reza sedikit menegang.“Bros yang asli sudah hilang. Semuanya sudah di luar rencana.”“Aku harus mempertimbangkan semua kemungkinan.”“Termasuk mencurigaiku?” tanyaku tajam.“Kalau kamu memang nggak melakukannya, penyelidikan akan membuktikan kamu nggak bersalah.”Kalimat itu membuatku benar-benar tertawa.Reza tahu betul bahwa dirinyalah yang telah menjebakku.Namun, dia masih memintaku memahami sikapnya yang katanya rasional dan adil.Polisi segera menyela percakapan kami.“Di mana bros yang asli awalnya disimpan?”Reza meminta asistennya mengambil br

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 7

    Aku tak langsung menyetujuinya.Sebaliknya, aku terlebih dahulu meminta pengacara memeriksa kembali setiap klausul, kemudian mengonfirmasi tanggung jawabnya kepada perusahaan asuransi.Setelah memastikan semuanya tak bermasalah, barulah aku mengenakan sarung tangan dan menerima bros itu.Ekspresi Reza tampak sedikit rumit.Mungkin, akhirnya dia menyadari bahwa aku masih akan meminta pendapat orang lain.Hanya saja, orang itu bukan lagi dirinya.Setelah direstorasi, bros tersebut untuk sementara waktu dipamerkan dalam pameran “Kilasan Cahaya”.Dua jam kemudian, petugas membuka lemari pajangan dan bersiap mengembalikannya ke dalam brankas.Namun, di dalam kotak beludru itu ternyata tak ada apa pun.Kosong.Dari rekaman CCTV, terlihat akulah orang terakhir yang menyentuh bros itu.Ibu Reza langsung memerintahkan ruang pameran ditutup.“Geledah barang-barangnya!”Alisa segera menghadang para sekuriti.“Tanpa surat penggeledahan, nggak ada yang boleh menyentuh barangnya.”Namun, Reza justru

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 6

    Rekaman siaran langsung itu dengan cepat menyebar ke seluruh internet.Harga saham Keluarga Darmawan pun ikut terdampak.Malam harinya, Reza kembali datang ke rumah sakit.“Hapus pernyataan itu.”“Keluarga Darmawan bisa memaklumi sikapmu yang gegabah. Tapi jangan bawa-bawa masalah pribadi ke hadapan publik.”Aku menggeleng.Dia menahan amarahnya.“Mulai dari studio, jalur distribusi, sampai bahan baku, semuanya selama ini dipertahankan Keluarga Darmawan untukmu.”“Kamu pikir dengan melepas cincin itu, kamu bisa menanggung semua akibatnya sendirian?”Aku mengetik sesuatu di ponsel.[Boleh dicoba.]Reza menatap balasan singkatku. Wajahnya seketika berubah dingin.“Oke!”“Kalau kamu menganggap semua yang kulakukan untukmu sebagai bentuk kendali, baiklah. Akan kutarik kembali semuanya.”“Bukan hukuman.”“Aku cuma ingin kamu benar-benar mandiri kali ini.”Dia berjalan sampai ke pintu, tapi kembali menghentikan langkahnya.“Kalau nanti kamu nggak sanggup bertahan, kembalilah padaku.”“Aku ng

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 5

    Suara Reza terhenti.Dari balik kaca, aku melihat kekecewaan yang begitu kukenal di wajahnya akhirnya runtuh.Namun, tangannya masih menggenggam erat kunci pintu.Dokter keluarga langsung merebut kunci dari tangannya.Begitu pintu terbuka, suntikan darurat segera menancap di pahaku.Dokter berlutut di lantai dan mulai melakukan kompresi pada dadaku.Satu kali.Dua kali.Tiga kali.Aku tetap tak menunjukkan reaksi apa pun.Reza akhirnya panik.Dia menerobos masuk dan hendak menyentuh wajahku.Namun, perawat langsung mendorongnya menjauh.“Jangan menghalangi proses penyelamatan!”“Tadi dia masih bisa bicara.”Reza menatapku lekat-lekat.“Kenapa tiba-tiba dia nggak bernapas?”Dokter membentaknya dengan kesal.“Syok anafilaksis nggak akan menunggu sampai Anda selesai mengambil keputusan!”Dosis adrenalin kedua kembali disuntikkan ke dalam tubuhku.Monitor jantung masih mengeluarkan bunyi panjang yang nyaring.Reza tiba-tiba mencengkeram kerah manajer humas.“Kenapa kamu nggak membuka pintu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status