Short
Adaptasi 10 Tahun Mereka, Mematikan 4 Tahun Kami

Adaptasi 10 Tahun Mereka, Mematikan 4 Tahun Kami

By:  HesCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari jadi hubungan kami yang ke-empat, Joshua Ardara mengajakku dan sahabatku, Jenny Javir, makan daging panggang. Pegawai resto mengenali mereka, lalu bertanya sambil tersenyum, "Masih pakai aturan lama kalian berdua?" Joshua mengangguk. Tempat duduk dua orang di dekat jendela, Jenny duduk di bagian dalam. Daging bagian perut dipanggang sampai pinggirannya agak gosong, bumbu cocolannya tidak pakai daun bawang. Potongan pertama diberikan ke Jenny, potongan terakhir juga diberikan ke Jenny. Aku ditempatkan di kursi tambahan dekat jalan lewat, bahkan tidak ada piring bumbu cocol di depanku. Saat membayar, pegawai resto melihat catatan keanggotaan, lalu mengingatkan sambil tersenyum, "Pak Joshua dan Nona Jenny malam ini sudah yang ke-100 kali datang ke resto, kalian bisa bawa pulang loyang panggang khusus milik kalian." Bagian belakang loyang panggang itu diukir sebaris kalimat. [Joshua dan Jenny, tidak akan pernah berpisah.] Tanggalnya tiga tahun yang lalu. Aku baru teringat, hari itu Joshua berjanji untuk menemaniku merayakan ulang tahun. Ternyata dua jam saat dia pergi di tengah acara, bukannya pergi ke kantor untuk rapat. Jenny mengelus ukiran tulisan itu, lalu bertanya kepadanya sambil tersenyum, "Nanti kalau kamu udah nikah sama Adel, kumpul bulanan kita masih berlaku nggak?" Joshua membenarkan syal Jenny, lalu berbalik menatapku.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Tentu aja berlaku. Dia orangnya dewasa kok."

"Lagian, kita udah kenal sepuluh tahun. Kalau dia memang keberatan, harusnya dia yang menyesuaikan diri sama kita."

Dalam perjalanan pulang, aku duduk di kursi belakang.

Jenny menyesuaikan kursi penumpang depan ke sudut yang biasa dia pakai, lalu navigasi mobil mendadak berbunyi secara otomatis.

"Sedang menuju rumah Jenny."

Aku menatap bayangan diriku di kaca jendela mobil, mendadak merasa sangat lelah.

Aku pun menunduk, lalu membeli tiket satu arah ke Kota Lundaria untuk penerbangan tujuh hari lagi.

Sepuluh tahun kalian masih punya masa depan, sedangkan empat tahunku sudah berakhir di sini.

....

Kompleks perumahan tempat tinggal Jenny tidak mengizinkan kendaraan luar menginap.

Namun, Joshua bahkan tidak melihat lembar formulir pendaftaran, lalu dengan mahir memasukkan nomor gedung dan rumah wanita itu.

"Joshua, lampu ruang tamu rumahku kayaknya rusak deh." Jenny tidak turun dari mobil, dia memeluk loyang panggang itu sambil mengeluh dengan suara lembut.

"Orang properti bilang, besok baru bisa datang benerin, aku agak takut kalau sendiri."

Joshua melepas sabuk pengaman.

"Aku coba naik buat periksa."

Saat tangannya memegang pintu mobil, dia baru menyadari keberadaanku dari kaca spion tengah.

"Kamu tunggu di sini ya, paling lama sepuluh menit."

Pemanas di dalam mobil menyala cukup hangat.

Sebelum turun dari mobil, dia tetap melemparkan syalnya ke pangkuanku.

"Jangan buka jendela, nanti kamu sakit kepala kalau kena angin dingin."

Dia selalu seperti ini.

Mengingat setiap kebiasaanku, tapi juga bisa melupakanku di dalam mobil, lalu berbalik pergi merawat wanita lain.

Setiap kali aku berpikir bahwa aku tersimpan di dalam hatinya, Jenny selalu mengingatkanku, perhatian sedetail ini bukan cuma milikku seorang.

Sepuluh menit berlalu, lampu di lantai atas tidak menyala, Joshua juga tidak kunjung turun.

Saat aku menunduk untuk melanjutkan konfirmasi penerbangan ke Lundaria, pintu pengemudi mendadak terbuka.

Dia tidak menjelaskan alasan keterlambatannya, hanya menyodorkan segelas susu kedelai hangat ke telapak tanganku.

"Beli di lantai bawah, nggak pakai gula."

Sedotan sudah dia tusukkan untukku, dan suhunya juga hangat sedang yang paling kusukai.

Aku menatap halaman pembelian tiket di ponselku, tapi tidak mengulurkan tangan.

Susu kedelai itu menggantung di udara.

Joshua menunggu beberapa detik, lalu menoleh menatapku.

"Lagi ngapain, kok serius banget?"

Aku baru tersadar, lalu buru-buru mematikan layar dan menerima gelas itu.

"Nggak ada apa-apa, cuma email kerjaan."

Joshua menyipitkan mata sedikit, lalu pandangannya tertuju pada tangan kananku yang menggenggam erat ponsel.

"Bohong."

Satu kata itu diucapkan dengan sangat pelan, tapi sanggup membuat suasana mobil mendadak hening.

Joshua mengulurkan tangan ke belakang dengan telapak tangan menghadap ke atas.

"Kasih ponselnya ke aku."

Dialah yang paling mengenalku.

Setiap kali gugup, tangan kananku secara tidak sadar akan mengusap tepi ponsel.

Melihatku diam, dia hendak membungkuk mendekat, tapi pintu depan mendadak terbuka.

Jenny kembali masuk dan duduk, ujung hidungnya kemerahan karena dingin.

"Joshua, listrik rumahku mati total, obat di kulkas nggak boleh sampai panas."

Setelah itu, dia baru menoleh padaku.

"Adel, aku boleh numpang tidur semalam di rumah kalian nggak?"

Jenny mengulurkan tangan, mengaitkan kelingkingnya ke kelingkingku.

Zaman kuliah dulu, tiap kali mau menginap di rumahku, dia selalu menggoyangkan tanganku seperti ini sampai aku mengangguk.

Namun kali ini, sebelum aku sempat bersuara, Joshua sudah menyalakan pemanas kursinya.

"Cuma satu kamar aja, nggak usah tanya dia."

Genggamanku pada gelas susu kedelai mengencang hingga wadahnya penyok.

Rupanya di rumah kami sendiri, akulah orang luar yang tak berhak menentukan apa pun.

Dia baru berpaling menatapku.

"Kamar tamu sebelah kamar utama kasih ke Jenny aja. Dia gampang terbangun, malam ini kamu jangan pakai pengering rambut."

"Kamar itu nggak boleh."

Waktu baru pindah ke rumah pernikahan kami, Joshua sendiri yang mengganti gembok kamar tamu.

Barang peninggalan ayah disimpan di sana semua.

Saat itu dia menyerahkan satu-satunya kunci padaku, berpesan tidak boleh ada yang masuk.

Namun detik ini, alis Joshua menajam dan raut wajahnya mendadak dingin seketika.

Melihat respons itu, Jenny menunduk dengan mata berkaca-kaca, lalu berbisik pelan, "Ya udah deh, aku tidur di hotel aja. Adel nggak suka barang Om Rendi tersentuh orang lain, aku ngerti kok."

Makin dia bersikap mengalah, aku makin kelihatan tidak punya tenggang rasa.

Joshua mendengkus dingin lalu menyalakan mesin mobil.

"Jenny bukan orang lain."

Setelah jeda dua detik, dia menatapku tajam dari kaca spion.

"Adelina, jangan pancing emosiku buat bertengkar di hari jadi kita."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status