LOGINPada hari jadi hubungan kami yang ke-empat, Joshua Ardara mengajakku dan sahabatku, Jenny Javir, makan daging panggang. Pegawai resto mengenali mereka, lalu bertanya sambil tersenyum, "Masih pakai aturan lama kalian berdua?" Joshua mengangguk. Tempat duduk dua orang di dekat jendela, Jenny duduk di bagian dalam. Daging bagian perut dipanggang sampai pinggirannya agak gosong, bumbu cocolannya tidak pakai daun bawang. Potongan pertama diberikan ke Jenny, potongan terakhir juga diberikan ke Jenny. Aku ditempatkan di kursi tambahan dekat jalan lewat, bahkan tidak ada piring bumbu cocol di depanku. Saat membayar, pegawai resto melihat catatan keanggotaan, lalu mengingatkan sambil tersenyum, "Pak Joshua dan Nona Jenny malam ini sudah yang ke-100 kali datang ke resto, kalian bisa bawa pulang loyang panggang khusus milik kalian." Bagian belakang loyang panggang itu diukir sebaris kalimat. [Joshua dan Jenny, tidak akan pernah berpisah.] Tanggalnya tiga tahun yang lalu. Aku baru teringat, hari itu Joshua berjanji untuk menemaniku merayakan ulang tahun. Ternyata dua jam saat dia pergi di tengah acara, bukannya pergi ke kantor untuk rapat. Jenny mengelus ukiran tulisan itu, lalu bertanya kepadanya sambil tersenyum, "Nanti kalau kamu udah nikah sama Adel, kumpul bulanan kita masih berlaku nggak?" Joshua membenarkan syal Jenny, lalu berbalik menatapku.
View MoreSebelum pameran keliling berakhir, aku akhirnya menemui Joshua sekali lagi. Dia duduk di dalam resto daging panggang yang sudah tutup itu.Tempat duduk dua orang di dekat jendela masih ada. Kursi tambahan di sebelah jalan lewat juga tidak disingkirkan. Di atas meja tertata tiga set alat makan. Cuma di tempat dudukku, tetap tidak ada piring bumbu cocol.Joshua mendadak berdiri begitu melihatku.Setahun tidak bertemu, dia tampak jauh lebih kurus. Kemeja yang dulunya selalu rapi kini berkerut, di pergelangan tangannya masih memakai jam tua pemberianku."Duduklah."Dia menarikkan kursi di dekat jendela untukku. Tempat itu dulunya kursi milik Jenny.Aku tidak duduk."Jam sakunya udah kuterima, makasih.""Bukan aku yang perbaiki." Suara Joshua sangat pelan."Bapak ahli pembuat jam itu nyari suku cadangnya setahun penuh. Aku cuma kembaliin itu ke tangan kamu."Dia menyalakan loyang panggang.Pinggiran daging bagian perut perlahan menggulung, minyaknya menetes ke atas arang, menimbulkan suara
Setahun kemudian, aku membawa karya-karyaku pulang ke tanah air untuk mengikuti pameran keliling.Hari saat mendarat, Jenny menghadangku di luar bandara.Dia sangat kurusan, rambut panjang yang dulu paling disayanginya kini dipotong sebatas telinga, di pergelangan tangan kanannya menyisakan bekas luka pudar."Adel, aku cuma mau minta waktu kamu lima menit."Dia menyodorkan loyang panggang peringatan 100 kali itu padaku.Ukiran tulisan di bagian belakang sudah tergerus habis, hanya menyisakan guratan goresan yang buruk rupa."Joshua nggak pernah temui aku lagi.""Kata sandi rumah itu juga udah diganti. Resto daging panggang yang dulu sering kita datangi, langsung ditutup setelah dibeli sama dia."Aku tidak mengambil loyang panggang itu."Semua ini nggak ada hubungannya sama aku."Air mata Jenny menetes keluar."Aku tahu.""Dulu aku selalu merasa, kamulah yang merebut dia dariku. Tapi belakangan aku baru paham, kalau dia beneran cinta sama aku, harusnya dari sepuluh tahun lalu dia udah m
Joshua tidak meninggalkan Lundaria.Dia menyewa sebuah apartemen di dekat akademi, lalu setiap pagi mengirimkan segelas susu kedelai tanpa gula.Hari pertama, aku minta penjaga gerbang membuangnya.Hari kedua, aku mengembalikannya utuh tanpa disentuh.Belakangan, dia tidak lagi mencantumkan nama, hanya meletakkan botol termos itu di depan pintu. Aku tetap tidak meminumnya.Saat musim dingin tiba, pihak akademi mengadakan pameran karya tahunan.Aku menyatukan kembali karya yang sudah patah menjadi tiga bagian itu, menyisakan semua bekas retakannya.Di tengah-tengah karya, tertanam jam saku peninggalan ayah yang sudah mati.Aku memberinya judul [Tinggal Kenangan].Dewan juri bertanya padaku, kenapa retakannya tidak disembunyikan saja.Aku mengelus bekas patahan yang tajam di permukaannya."Karena ada beberapa hal yang kalau sudah hancur, ya tetap hancur.""Memaksakan untuk menutupinya, bukan berarti nggak pernah terluka."[Tinggal Kenangan] meraih penghargaan tertinggi pada tahun itu.Ha
Tiba di Lundaria, Joshua menunggu di depan gerbang akademi seharian penuh.Sore harinya, hujan gerimis mulai turun.Aku memeluk karya yang sudah diperbaiki keluar dari gedung pengajaran, lalu seketika melihat keberadaannya.Dia tidak memakai payung.Mantel hitamnya basah kuyup terkena hujan, tapi tangannya menjaga erat sebuah kotak kayu tua.Itu adalah sketsa dari studio ayah yang sempat basah terkena hujan."Adel." Dia berjalan mendekatiku, suaranya serak parah.Aku menghentikan langkah. "Kenapa kamu ke sini?" Nada bicaraku sangat tenang sampai aku sendiri merasa heran.Dulu, asal beberapa jam tidak bisa menghubungi dirinya, aku pasti cemas sampai tidak bisa tidur semalaman.Sekarang dia melintasi separuh dunia berdiri di depanku, hatiku malah tidak menyisakan gelombang apa pun.Joshua menyodorkan kotak kayu itu padaku. "Sketsa yang masih bisa dibetulin, semuanya udah aku minta orang buat urus.""Rekaman CCTV Jenny yang sengaja jatuhin jam saku juga udah ketemu. Kasus tabrakan udah d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.