Share

Bab 3

Author: Naga
“Bella!”

Reza tiba-tiba bangkit berdiri.

Naya tampak mundur selangkah karena terkejut.

Reza segera menahan emosinya. Dia memejamkan mata sejenak, lalu kembali duduk di sampingku.

“Bella, aku bukan sedang memaksamu.”

“Aku cuma ingin mengajarimu bagaimana menghadapi masalah.”

“Kalau besok kamu bersedia muncul dan menjelaskan semuanya, pernikahan kita masih bisa tetap dilangsungkan seperti biasa.”

“Kalau kamu terus bersembunyi di kamar rumah sakit, semua orang hanya akan berpikir kalau aku, Reza Darmawan, sudah salah memilih istri.”

Dia membungkuk dan menatapku.

Kekecewaan kembali memenuhi matanya. Jelas sekali dia kesal karena aku tak kunjung menjadi seperti yang diharapkannya.

“Demi kamu … aku sudah melawan Keluarga Darmawan selama dua tahun.”

“Bisa nggak kamu sekali saja membuktikan kalau pilihanku nggak salah?”

Aku tiba-tiba merasa semua ini begitu konyol.

Ternyata, menikahiku pun tak lebih dari sebuah investasi baginya.

Aku harus cukup kuat, cukup patuh dan cukup pantas. Hanya dengan begitu, aku bisa membuktikan bahwa pilihannya terhadapku tak salah.

“Pilihanmu benar atau salah, itu bukan urusanku.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak akan datang ke konferensi pers itu.”

Namun, keesokan sorenya, Reza tetap memaksaku meninggalkan rumah sakit.

Dokter yang merawatku bahkan mengejar kami sampai ke depan lift. Wajahnya tampak muram.

“Pak Reza, Bu Bella baru saja melewati masa kritis tadi malam.”

“Reaksi alergi parah masih mungkin kambuh dalam dua puluh empat hingga tujuh puluh dua jam. Saat ini, dia harus tetap dirawat di rumah sakit untuk menjalani pemantauan dan nggak boleh menghadiri kegiatan publik apa pun.”

Reza menghentikan langkahnya.

“Konferensi persnya cuma butuh waktu sepuluh menit. Tim medis Keluarga Darmawan akan mendampinginya selama acara berlangsung.”

Para pengawal Keluarga Darmawan langsung menghalangi dokter dan mendorongku masuk ke dalam lift.

Peralatan siaran langsung sudah dipindahkan ke ruang rapat keluarga pasien di lantai paling atas rumah sakit.

Reza sendiri yang menyampirkan mantel ke tubuhku, lalu merapikan rambutku.

Di cermin, kami masih terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.

“Asalkan pernyataan itu sudah dibacakan, masalah kemarin akan selesai.”

Aku menatapnya melalui pantulan cermin.

“Kalau aku nggak mau?”

Gerakannya langsung terhenti.

“Bella, jangan terus membuatku kecewa.”

“Aku sudah menurunkan tuntutanku serendah mungkin.”

“Kamu cuma perlu duduk di sini dan bicara beberapa patah kata. Kamu masih ingin aku mengalah sampai sejauh apa lagi?”

Tepat saat itu, suara hitung mundur siaran langsung terdengar.

Bersamaan dengan itu, ponsel Reza ikut bergetar.

Telepon dari Naya.

Dia sedang dihadang wartawan di parkiran rumah sakit dan menangis sampai kesulitan bernapas.

Raut wajah Reza seketika berubah.

Dia langsung berbalik hendak pergi.

Tanpa sadar, aku meraih ujung lengan kemejanya.

“Suruh asistenmu meninggalkan suntikan itu.”

Dia menoleh ke arahku.

“Cuma baca sedikit pernyataan saja, ‘kan?”

“Tenggorokanku agak gatal.”

“Dokter baru saja memeriksamu.”

“Semua hasil pemeriksaanmu normal.”

“Karena alerginya baru saja mereda. Sebelum kambuh untuk kedua kalinya, hasil pemeriksaan bisa saja terlihat normal.”

Kecemasan di mata Reza perlahan berubah menjadi kekecewaan.

“Lagi-lagi begini.”

“Setiap kali aku benar-benar membutuhkanmu untuk bertanggung jawab, kamu selalu tiba-tiba merasa nggak enak badan.”

“Kemarin alergi, hari ini tenggorokan gatal.”

“Apa aku harus tetap di sini membujukmu, baru kamu bisa merasa lebih baik?”

Aku melepaskan ujung lengan kemejanya.

“Aku nggak butuh kamu membujukku.”

“Suruh dokter masuk dan kembalikan suntikan itu padaku.”

“Dokternya cuma beberapa langkah dari sini. Memangnya apa yang akan kamu lewatkan?”

“Tapi kamu membawa obatnya pergi.”

“Karena aku ingin kamu belajar menilai sendiri, bukan terus membiarkan rasa takut mengendalikanmu!”

Nada suaranya tiba-tiba meninggi.

“Bella, sampai kapan kamu baru bisa mengerti?”

“Aku bukan sedang menyakitimu.”

“Aku cuma takut, kalau suatu hari kamu meninggalkanku, kamu nggak akan bisa melakukan apa-apa.”

Aku menatapnya.

Tiba-tiba saja hatiku menjadi begitu tenang.

“Reza.”

“Kalau aku benar-benar meninggalkanmu, hidupku justru akan lebih baik daripada sekarang.”

Wajahnya seketika muram.

Dari sisi lain tempat parkir, tangisan Naya kembali terdengar.

Pada akhirnya, Reza tak mengatakan apa pun.

Dia berbalik dan buru-buru pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 10

    Berita tentang pencurian bros dan pemalsuan barang bukti muncul secara bersamaan.Naya memang mengembalikan barang aslinya, tapi dia tetap harus mempertanggungjawabkan pencurian serta upayanya menjebak orang lain.Reza pun sedang diperiksa karena terlibat dalam rencana pencurian palsu dan menghalangi pertolongan medis.Keluarga Darmawan berusaha membingkai semua itu sebagai sekadar konflik hubungan pribadi.Namun, Reza justru mengambil inisiatif untuk menyerahkan seluruh catatan ujian yang pernah dia berikan padaku.Di dalam catatan itu, ada sesuatu yang membuatku terdiam.Waktu di Lite, pengawal ternyata sudah lebih dulu menyadari bahwa ada dua pria mabuk yang membuntutiku.[Perlu ikut campur?]Reza membalas,[Untuk sementara nggak perlu. Biarkan dia mengatasinya sendiri.]Saat aku sedang demam tinggi dan harus menjamu kerabat, dokter keluarga memeriksa suhu tubuhku yang mencapai empat puluh koma satu derajat.[Sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit.]Namun tanggapan Reza,[Jamuan kel

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 9

    Naya menghapus senyum dari wajahnya, lalu tiba-tiba berkata, “Lihat, ‘kan? Sampai sekarang dia masih merasa nggak ada yang salah dengan rencananya.”Reza langsung menoleh.“Itu bukan alasan untukmu mencuri.”“Lalu, apa alasanmu menjebaknya?” Naya menunjuk ke arahku.“Aku melakukannya agar dia bisa berkembang.”Naya tertawa. Seluruh tubuhnya bahkan sampai gemetar.“Apa pun yang kamu lakukan untuknya, selalu demi kebaikannya.”“Tapi apa pun yang kulakukan, semuanya selalu salah.”Reza mengernyitkan kening.“Dari awal aku nggak pernah memaksamu,” sahut Reza.“Karena di matamu, aku sama sekali nggak pantas untuk kamu didik!”Air mata Naya seketika mengalir deras.“Jariku tersayat, kamu langsung membawakan dokter untuk menemuiku.”“Aku bilang aku takut, kamu langsung meninggalkan semua orang untuk menemaniku.”“Semua orang mengira kamu yang paling mencintaiku.”“Tapi pernahkah kamu berpikir untuk menikah denganku?”Ekspresi Reza seketika berubah dingin.“Aku hanya menganggapmu sebagai adikk

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 8

    Aku terpaku menatapnya.Kupikir setelah pertunangan dibatalkan, semua ujian akhirnya berakhir.Ternyata, belum.Selama aku masih berada di tempat yang bisa dilihatnya, setiap kejadian tak terduga dalam hidupku mungkin saja merupakan ujian yang telah dia siapkan.“Jadi, sebenarnya kamu sudah tahu kalau aku nggak bersalah.”“Tapi barusan … kamu masih bertanya apa aku mencuri bros itu untuk membalas dendam pada Keluarga Darmawan?”Ekspresi Reza sedikit menegang.“Bros yang asli sudah hilang. Semuanya sudah di luar rencana.”“Aku harus mempertimbangkan semua kemungkinan.”“Termasuk mencurigaiku?” tanyaku tajam.“Kalau kamu memang nggak melakukannya, penyelidikan akan membuktikan kamu nggak bersalah.”Kalimat itu membuatku benar-benar tertawa.Reza tahu betul bahwa dirinyalah yang telah menjebakku.Namun, dia masih memintaku memahami sikapnya yang katanya rasional dan adil.Polisi segera menyela percakapan kami.“Di mana bros yang asli awalnya disimpan?”Reza meminta asistennya mengambil br

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 7

    Aku tak langsung menyetujuinya.Sebaliknya, aku terlebih dahulu meminta pengacara memeriksa kembali setiap klausul, kemudian mengonfirmasi tanggung jawabnya kepada perusahaan asuransi.Setelah memastikan semuanya tak bermasalah, barulah aku mengenakan sarung tangan dan menerima bros itu.Ekspresi Reza tampak sedikit rumit.Mungkin, akhirnya dia menyadari bahwa aku masih akan meminta pendapat orang lain.Hanya saja, orang itu bukan lagi dirinya.Setelah direstorasi, bros tersebut untuk sementara waktu dipamerkan dalam pameran “Kilasan Cahaya”.Dua jam kemudian, petugas membuka lemari pajangan dan bersiap mengembalikannya ke dalam brankas.Namun, di dalam kotak beludru itu ternyata tak ada apa pun.Kosong.Dari rekaman CCTV, terlihat akulah orang terakhir yang menyentuh bros itu.Ibu Reza langsung memerintahkan ruang pameran ditutup.“Geledah barang-barangnya!”Alisa segera menghadang para sekuriti.“Tanpa surat penggeledahan, nggak ada yang boleh menyentuh barangnya.”Namun, Reza justru

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 6

    Rekaman siaran langsung itu dengan cepat menyebar ke seluruh internet.Harga saham Keluarga Darmawan pun ikut terdampak.Malam harinya, Reza kembali datang ke rumah sakit.“Hapus pernyataan itu.”“Keluarga Darmawan bisa memaklumi sikapmu yang gegabah. Tapi jangan bawa-bawa masalah pribadi ke hadapan publik.”Aku menggeleng.Dia menahan amarahnya.“Mulai dari studio, jalur distribusi, sampai bahan baku, semuanya selama ini dipertahankan Keluarga Darmawan untukmu.”“Kamu pikir dengan melepas cincin itu, kamu bisa menanggung semua akibatnya sendirian?”Aku mengetik sesuatu di ponsel.[Boleh dicoba.]Reza menatap balasan singkatku. Wajahnya seketika berubah dingin.“Oke!”“Kalau kamu menganggap semua yang kulakukan untukmu sebagai bentuk kendali, baiklah. Akan kutarik kembali semuanya.”“Bukan hukuman.”“Aku cuma ingin kamu benar-benar mandiri kali ini.”Dia berjalan sampai ke pintu, tapi kembali menghentikan langkahnya.“Kalau nanti kamu nggak sanggup bertahan, kembalilah padaku.”“Aku ng

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 5

    Suara Reza terhenti.Dari balik kaca, aku melihat kekecewaan yang begitu kukenal di wajahnya akhirnya runtuh.Namun, tangannya masih menggenggam erat kunci pintu.Dokter keluarga langsung merebut kunci dari tangannya.Begitu pintu terbuka, suntikan darurat segera menancap di pahaku.Dokter berlutut di lantai dan mulai melakukan kompresi pada dadaku.Satu kali.Dua kali.Tiga kali.Aku tetap tak menunjukkan reaksi apa pun.Reza akhirnya panik.Dia menerobos masuk dan hendak menyentuh wajahku.Namun, perawat langsung mendorongnya menjauh.“Jangan menghalangi proses penyelamatan!”“Tadi dia masih bisa bicara.”Reza menatapku lekat-lekat.“Kenapa tiba-tiba dia nggak bernapas?”Dokter membentaknya dengan kesal.“Syok anafilaksis nggak akan menunggu sampai Anda selesai mengambil keputusan!”Dosis adrenalin kedua kembali disuntikkan ke dalam tubuhku.Monitor jantung masih mengeluarkan bunyi panjang yang nyaring.Reza tiba-tiba mencengkeram kerah manajer humas.“Kenapa kamu nggak membuka pintu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status