Short
Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara

Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara

By:  NagaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Reza pernah berkata, kalau aku ingin menikah dengannya dan menjadi bagian dari Keluarga Darmawan, aku harus melewati serangkaian ujian terlebih dahulu. Dia menyita kartu bankku, lalu meninggalkanku sendirian di kota asing itu dan menyuruhku mencari cara sendiri untuk pulang. Bahkan ketika demamku mencapai empat puluh derajat, dia tetap tak mengizinkan dokter keluarga datang menanganiku. Sebaliknya, dia memaksaku menjamu puluhan kerabat Keluarga Darmawan dalam kondisi sakit. Setiap kali aku tak sanggup bertahan dan meminta bantuannya, dia selalu menatapku dengan penuh kekecewaan. “Masalah sekecil ini saja nggak bisa kamu selesaikan dengan baik. Gimana nanti kamu bisa menjadi nyonya muda Keluarga Darmawan?” Namun, ketika kaki Naya Pramesti, teman masa kecilnya, lecet karena sepatu, Reza justru menggendongnya pergi di depan umum. Tengah malam, saat Naya mengeluh sakit kepala, Reza bahkan meninggalkanku yang sedang dirawat di rumah sakit dan membawa dokter untuk menemaninya. “Atas dasar apa?” tanyaku. Dia mengerutkan kening. “Tubuh Naya lemah. Lagi pula, dia juga nggak perlu menikah dan masuk ke Keluarga Darmawan.” Di pesta pertunangan, aku tak sengaja memakan kacang dan mengalami reaksi alergi parah hingga kesulitan bernapas. Namun, Reza justru merebut suntikan darurat dari tanganku, lalu mengunciku di ruang istirahat. “Ini ujian terakhir. Kalau kamu ingin menikah denganku, kamu harus bisa bertahan.” Saat itu, Naya menelepon dan mengatakan jarinya tergores kertas. Reza segera pergi bersama dokter, hanya meninggalkan satu kalimat kepadaku. “Kamu tahan dulu sepuluh menit.” Namun, entah sudah berapa lama waktu berlalu, sebelum kesadaranku benar-benar tenggelam dalam kegelapan, samar-samar kulihat Reza kembali. Dia melindungi Naya, yang jarinya hanya dibalut plester. Dalam keadaan setengah sadar, aku mendengar suara Reza yang dipenuhi kekecewaan. “Naya sampai berdarah saja nggak menangis, tapi kamu malah berpura-pura mati?” “Ujian untuk menjadi menantu Keluarga Darmawan … kamu gagal.”

View More

Chapter 1

Bab 1

Saat membuka mata lagi, Reza sedang duduk di samping ranjang rumah sakit.

Dia masih mengenakan jas yang dipakainya saat pesta pertunangan. Kemejanya tampak sangat kusut, matanya dipenuhi urat merah, sementara punggung tangan kanannya terbalut kain kasa.

Begitu melihatku terbangun, bahunya yang sejak tadi tegang akhirnya mengendur.

Namun, dia tak memelukku.

Dia hanya membungkuk dan menyentuh keningku, lalu bertanya dengan wajah serius.

“Sekarang baru tahu takut, ‘kan?”

Masker oksigen menekan pipiku hingga terasa sakit.

Aku menggerakkan bibir. Suaraku terdengar lirih.

“Di mana suntikan daruratku?”

“Polisi membawanya untuk diperiksa.”

“Kenapa kamu merebutnya?”

Reza menatapku.

Sedikit rasa takut yang masih tersisa di matanya perlahan berubah menjadi kekecewaan yang paling kukenal.

“Aku juga ingin menanyakan sesuatu kepadamu, Bella.”

“Kenapa setiap kali menjalani ujian, kamu selalu berakhir di rumah sakit?”

“Kamu tahu kalau alergi kacang. Kenapa nggak cek dulu kandungan kue itu?”

“Begitu sadar kamu kesulitan bernapas, selain meminta suntikan dariku, apa lagi yang kamu lakukan?”

“Di ruang istirahat ada telepon, tombol alarm di dinding dan jendelanya menghadap langsung ke halaman tengah hotel.”

“Ada begitu banyak cara untuk meminta pertolongan. Kenapa kamu malah cuma duduk di lantai sambil menangis?”

Hanya satu kalimat itu sudah cukup membuat air mataku seketika mengalir.

“Semakin berbahaya situasinya, semakin kita harus tetap tenang.”

Dia mengerutkan kening.

“Bella, aku bukan menyalahkanmu karena merasa takut.”

“Tapi kalau aku nggak ada di sisimu, apa kamu akan tetap berbaring di lantai dan menunggu mati?”

“Kamu yang ambil suntikanku.”

Aku menatapnya.

“Kamu juga yang mengunci pintunya.”

Reza terdiam sejenak, lalu menggenggam tanganku.

Telapak tangannya terasa hangat, tapi nada bicaranya terdengar seperti sedang memarahi seorang anak yang tak kunjung berubah meski sudah berulang kali dinasihati.

“Aku akui, mengunci pintu memang salahku.”

“Tapi aku cuma ingin kamu tenang selama sepuluh menit. Jangan setiap kali merasa nggak nyaman langsung memanggil semua orang.”

“Bella … aku bisa menyelamatkanmu sekali, dua kali, tapi aku nggak mungkin terus berada di sisimu dan menjagamu seumur hidup.”

“Aku mengatur semua ujian ini karena takut suatu hari nanti aku nggak sempat menyelamatkanmu.”

“Memang … kemarin aku juga ada salah.”

“Tapi kalau kamu hanya menyalahkanku, berarti semua penderitaan yang kamu alami kali ini sia-sia.”

Aku menarik kembali tanganku, lalu membalikkan badan.

Air mata mengalir menyusuri pipiku dan perlahan membasahi bantal.

Selama lima tahun terakhir, Reza selalu seperti ini.

Dia lebih dulu mendorongku ke dalam jurang, lalu mengulurkan tangan saat aku berhasil memanjat keluar dan mengatakan bahwa semua rasa sakit itu hanya untuk membuatku tumbuh.

Kali ini, bahkan nyawaku harus dipertaruhkan.

Aku sudah lelah.

“Reza.”

“Kita putus.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status