ログインSetelah bertunangan, kami berenam sepakat melakukan perjalanan terakhir bersama sebelum pernikahan. Malam harinya, sahabatku, Kaitlyn, mengusulkan permainan ‘Tukar Pasangan 24 Jam’. Siapa pun yang mendapatkan kartu dengan gambar yang sama harus menghabiskan satu hari bersama layaknya pasangan kekasih. Sedangkan orang yang mendapatkan kartu kosong, hanya boleh bertugas memotret dan membawakan barang-barang milik yang lain. Pada putaran pertama, aku mendapatkan kartu kosong. Tunangan-ku, Matthew, dan Kaitlyn mendapatkan kartu bergambar bulan. Mereka bergandengan tangan sambil menyaksikan matahari terbit, sementara aku berjalan di belakang sambil membawa tas milik mereka bertiga. Pada putaran kedua, aku kembali mendapatkan kartu kosong. Mereka mendapatkan kartu bergambar mawar. Hukumannya adalah berpelukan selama satu menit. Semua orang mengelilingi mereka sambil bersorak dan menggoda, sementara aku berdiri di samping untuk menghitung waktunya. Putaran ketiga, keempat .... Tujuh kali berturut-turut. Dan setiap kali, akulah orang yang menjadi pihak ketiga yang tak dibutuhkan. Akulah orang yang selalu tidak diperlukan.
もっと見るDulu, aku sudah terlalu lama menunggu kalimat itu.Kalau saja dia mengatakannya lebih awal, saat pertama kali aku ditinggalkan.Saat pertama kali aku melihat mereka berlima berfoto bersama.Saat pertama kali aku menyadari bahwa ulang tahunku sendiri ternyata tidak sepenting air mata Kaitlyn.Mungkin saat itu aku masih akan kembali.Namun sekarang, aku hanya berkata dengan tenang, “Aku nggak perlu kamu berubah lagi.”“Mulai sekarang, siapa yang kamu cintai, siapa yang kamu pilih, dan dengan siapa kamu berdiri, semuanya sudah nggak ada hubungannya denganku.”Matthew menggenggam cincin itu erat-erat hingga lingkarannya menekan telapak tangannya.Sama seperti dulu, saat cincin itu melukai tanganku.“Kamu benar-benar sudah nggak mencintaiku lagi?”Aku terdiam sejenak.“Pernah.”Matanya sedikit berbinar.Namun detik berikutnya, aku menambahkan, “Tapi semua itu sudah terkikis oleh tujuh kartu kosong itu.”“Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya habis.”Matthew tidak langsung pergi. Dia tinggal
Tiga bulan kemudian, Matthew akhirnya mendapat kabar tentangku.Aku pergi ke sebuah kota kecil di pesisir yang terletak di tepi laut.Aku bergabung dengan sebuah tim dokumenter dan bertugas merekam para perajin perempuan di daerah terpencil.Dia langsung bergegas ke sana malam itu juga, hingga akhirnya menemukanku di dekat sebuah dermaga tua.Aku mengenakan jaket tahan dingin, dengan rambut yang berantakan diterpa angin laut.Saat itu aku sedang memegang kamera dan merekam seorang lansia yang sedang menenun jaring.Matthew berdiri dari kejauhan dan memandangiku cukup lama.Untuk pertama kalinya, dia melihat diriku saat kamera tidak sedang diarahkan kepada mereka berlima.Aku sedang tersenyum.Bukan untuk menyenangkan siapa pun, juga bukan karena ada seseorang yang menyuruhku untuk tidak merusak suasana.Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah melihat senyum selepas itu dariku.Setelah selesai merekam, aku berbalik dan melihatnya. Senyum di wajahku perlahan memudar.“Kenapa kamu datang?”
Selama seminggu berikutnya, Matthew mencari ke semua tempat yang mungkin kudatangi.Namun, tidak ada yang tahu ke mana aku pergi.Pesan-pesan yang dikirimkannya kepadaku pun berubah, dari perintah menjadi penjelasan.[Reine, pulanglah.][Soal permainan itu, aku bisa minta maaf.][Pernikahannya bisa kita adakan lagi.][Cincin itu bukan aku berikan ke Kaitlyn.][Aku sudah suruh dia mengembalikannya.][Asalkan kamu pulang, mulai sekarang kamu akan selalu ikut dalam setiap pertemuan.]Dia menatap kalimat terakhir itu cukup lama, lalu tiba-tiba merasa semuanya terdengar begitu menggelikan.Padahal, selama ini aku selalu ada.Merekalah yang tidak pernah benar-benar membiarkanku menjadi bagian dari mereka.Sekarang setelah aku pergi, dia baru bersedia memberiku satu tempat.Semua pesannya tetap tidak mendapat balasan.Pada hari kedelapan, Kaitlyn datang. Dia meletakkan cincin itu di atas meja, dengan mata yang merah dan bengkak.“Matthew, bukannya kita yang seharusnya bersama?”“Sebelum Reine
Setelah pesawat mendarat, Matthew tidak pulang ke rumah, melainkan langsung menuju apartemenku.Kode pintunya sudah tidak berlaku.Dia mengetuk pintu cukup lama sebelum pemilik apartemen akhirnya naik dari bawah.“Cari Nona Reine? Dia sudah mengakhiri masa sewanya dari kemarin.”Wajah Matthew seketika membeku.“Dia pindah ke mana?”“Itu saya nggak tahu.”Pemilik apartemen itu menyerahkan sebuah kardus kepadanya.“Dia bilang, kalau kamu datang, kasih kardus ini.”Matthew segera menerimanya. Kardus itu terasa sangat ringan.Di dalamnya tersimpan semua barang yang selama ini pernah dia berikan kepadaku.Sebuah jam tangan yang sudah tidak lagi diproduksi, beberapa buku, dan sebuah sweter lama.Kamera yang pernah dia hadiahkan kepadaku juga ada di dalamnya.Kamera itu dibelinya pada tahun kedua hubungan kami. Saat itu, dia berkata, “Foto-fotomu bagus. Mulai sekarang, semua foto kami berlima serahkan saja ke kamu.”Saat itu, aku tidak menangkap ada yang aneh. Padahal, jumlah kami jelas enam
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.