Short
Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku

Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku

作家:  Ali完了
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10チャプター
1ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Cinta Toxic

Pilih Kasih/Egois

Pelakor

Cowok Brengsek

Mengejar Istri

Setelah bertunangan, kami berenam sepakat melakukan perjalanan terakhir bersama sebelum pernikahan. Malam harinya, sahabatku, Kaitlyn, mengusulkan permainan ‘Tukar Pasangan 24 Jam’. Siapa pun yang mendapatkan kartu dengan gambar yang sama harus menghabiskan satu hari bersama layaknya pasangan kekasih. Sedangkan orang yang mendapatkan kartu kosong, hanya boleh bertugas memotret dan membawakan barang-barang milik yang lain. Pada putaran pertama, aku mendapatkan kartu kosong. Tunangan-ku, Matthew, dan Kaitlyn mendapatkan kartu bergambar bulan. Mereka bergandengan tangan sambil menyaksikan matahari terbit, sementara aku berjalan di belakang sambil membawa tas milik mereka bertiga. Pada putaran kedua, aku kembali mendapatkan kartu kosong. Mereka mendapatkan kartu bergambar mawar. Hukumannya adalah berpelukan selama satu menit. Semua orang mengelilingi mereka sambil bersorak dan menggoda, sementara aku berdiri di samping untuk menghitung waktunya. Putaran ketiga, keempat .... Tujuh kali berturut-turut. Dan setiap kali, akulah orang yang menjadi pihak ketiga yang tak dibutuhkan. Akulah orang yang selalu tidak diperlukan.

もっと見る

第1話

Bab 1

Kaitlyn bersandar dalam pelukan Matthew sambil tersenyum, seolah menghiburku.

“Kami cuma lagi main-main. Kamu nggak akan cemburu, kan?”

Matthew juga mengusap rambut Kaitlyn.

“Sudahlah, nggak usah pedulikan dia, dari kecil dia memang nggak bisa diajak bercanda.”

Pada malam terakhir, mereka mendapatkan kartu gaun pengantin yang sama.

Aturannya, kedua orang itu harus mengadakan pernikahan dadakan.

Kaitlyn mengenakan gaun pengantin yang kubawa.

Matthew melepas cincin pertunanganku, lalu memasangkannya ke jari manis Kaitlyn.

Semua teman kami mengelilingi mereka sambil berseru,

“Cium, dong!”

Detik berikutnya, Matthew benar-benar menunduk dan menciumnya.

Saat semua orang sedang merayakan, aku membuka kotak misteri yang berisi kartu-kartu itu.

Kotak yang menjadi bagianku berisi kartu-kartu kosong.

Sementara kotak milik Matthew dan Kaitlyn dipenuhi kartu bergambar bulan, mawar, dan gaun pengantin yang sama.

Ternyata, bukan karena aku yang kurang beruntung.

Permainan ini memang sejak awal disiapkan khusus untuk mereka berdua.

Aku tersenyum, lalu menghapus semua undangan pernikahan digital yang telah kusiapkan sebelumnya.

Karena dalam perjalanan kami berenam saja, sejak awal tak pernah ada tempat untukku, maka dalam sisa hidupku kelak, aku juga tak perlu lagi menyisakan tempat untuk mereka.

Saat aku menghapus undangan pernikahan digital itu, tiba-tiba terdengar sorak sorai dari belakangku.

Setelah mencium Kaitlyn, Matthew melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu.

Pipi Kaitlyn memerah, tetapi jemarinya masih bertumpu di bahu Matthew.

Seseorang yang masih belum puas berseru,

“Cium sekali lagi!”

Matthew tersenyum sambil memaki,

“Pergi sana.”

Namun, dia tetap tidak langsung menjauhkan Kaitlyn darinya.

Hingga setelah Kaitlyn melihatku, dia seolah baru teringat sesuatu.

Dia menundukkan kepala dan menyentuh cincin di jari manisnya.

“Reine, cincinnya tersangkut. Aku nggak bisa melepasnya.”

Dia mengangkat tangannya ke arahku, memperlihatkan cincin itu dengan nada polos dan tak berdosa.

“Semalaman ini aku pakai dulu, boleh?”

Cincin pertunangan itu diberikan Matthew kepadaku pada hari ulang tahunku.

Dia mengatakan bahwa cincin itu dibuat khusus sesuai ukuran jariku.

Namun sekarang, saat dikenakan Kaitlyn, cincin itu justru pas di jarinya.

Aku tidak membongkar itu, hanya mengangguk.

“Baiklah.”

Matthew melirikku.

Dia seperti tidak menyangka aku akan menyetujuinya semudah itu.

Dia mengernyit.

“Reine, jangan pasang wajah seolah-olah kamu yang paling tersakiti.”

“Mereka sudah sengaja meluangkan waktu buat ikut liburan bareng kita. Jangan cuma gara-gara permainan begini, kamu malah merusak suasana.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak merusak suasana.”

“Kalau begitu, senyum, dong.”

Alvino sudah mengangkat ponselnya.

“Ayo, pengantin dadakan, lihat ke kamera.”

Yang lain segera berdesakan di sisi Matthew dan Kaitlyn.

Lima orang berdiri berjajar. Posisi mereka pas sekali.

Alvino menyerahkan ponselnya kepadaku.

“Reine, kamu paling jago memotret. Ambil beberapa foto lagi, ya.”

Aku menerima ponsel itu.

Mereka berdiri sangat berdekatan. Matthew berada tepat di tengah.

Kaitlyn mengenakan gaun pengantinku sambil menggandeng lengan Matthew.

Tiga orang lainnya berdiri mengelilingi mereka.

Seolah sedang berfoto bersama dalam sebuah pernikahan sungguhan.

“Reine.”

Matthew mendesakku dengan tidak sabar.

“Kenapa bengong?”

Aku tersadar, lalu mengambil foto mereka.

Satu, dua, belasan foto.

Tidak satu pun di antaranya ada aku.

Saat kami kembali ke hotel, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

Awalnya, aku sudah memesan tiga kamar suite untuk dua orang.

Empat orang lainnya menempati dua kamar, sementara aku dan Matthew menempati satu kamar.

Namun, saat mengambil kartu kamar, Declan tiba-tiba mengumumkan sesuatu sambil tersenyum.

“Permainan tukar pasangan ini masih sisa dua belas jam.”

“Sesuai aturan permainan, Matthew harus menginap bersama Kaitlyn malam ini.”

Tanganku yang memegang kartu kamar seketika membeku.

“Sekamar juga aturan mainnya?”

Kaitlyn langsung menjelaskan seolah itu hal yang wajar.

“Kami cuma tidur di kamar yang sama, kok. Kamar suite juga ada dua tempat tidur.”

“Kami juga nggak akan melakukan apa-apa.”

Wajah Matthew langsung berubah muram.

“Di depan semua orang seperti ini, apa yang sebenarnya kamu takutkan?”

Aku menatapnya. “Terus aku tidur di mana?”

Mereka saling berpandangan.

Alvino menunjuk ke arah ujung koridor.

“Kamar Matthew dan Kaitlyn itu suite keluarga.”

“Di ruang tamu ada sofa yang bisa dipakai untuk tidur. Kamu tidur di situ saja, beres, kan?”

Dengan kata lain, aku harus tidur di luar kamar tunanganku dan sahabatku sendiri.

Mendengarkan suara pintu yang mereka tutup dan menunggu permainan dua puluh empat jam itu berakhir.

Tiba-tiba, aku merasa semua ini begitu menggelikan.

“Aku akan pesan kamar lain.”

Declan langsung mencegahku.

“Eh, jangan.”

“Harga semalam di sini sampai belasan juta rupiah. Buat apa buang-buang uang sebanyak itu?”

“Lagipula, kita semua tumbuh bersama sejak kecil. Kita semua sudah saling kenal satu sama lain, kan?”

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
10 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status