MasukBAB 79: Pelukan di Tengah BadaiSuara mesin mobil SUV hitam milik Andika terdengar membelah heningnya pelataran rumah. Lampu sorot kendaraan itu menembus kegelapan malam sebelum akhirnya padam sepenuhnya. Di dalam kabin, Andika masih terdiam sejenak. Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan erat, meresapi rasa panas di pipi kanannya yang mulai menyurut, berganti menjadi denyut nyeri yang menyayat di dalam dada.Langkah kaki Andika yang teratur menyusuri teras rumah terasa jauh lebih berat dari biasanya. Ketika pintu utama terbuka, suasana dalam rumah terasa begitu hening, namun hangat oleh pijar lampu ruang tengah.Di sofa ruang tamu, Bilqis duduk tegak dengan jemari saling bertaut erat di pangkuan. Sejak keberangkatan Andika tadi sore, detik demi detik terasa seperti siksaan bagi gadis itu. Begitu mendengar derit pintu terbuka, Bilqis seketika bangkit berdiri. Matanya yang sembap dan penuh kecemasan langsung terkunci pada sosok suaminya."Mas Dika..." bisik Bilqis dengan suara
BAB 78: Istri...?!Keheningan di ruang kerja berhias kayu jati itu pecah seketika, digantikan oleh hantaman emosi yang membuncah. Pengakuan lugas tanpa ragu dari bibir anak tunggalnya membuat tubuh Mama Novia gemetar hebat. Wajah anggun yang biasa memancarkan kehangatan itu kini memerah padam, diliputi kombinasi syok, amarah, dan rasa kekecewaan yang tak tertahankan."Istri...?!" Suara Novia melengking tinggi, membelah kesunyian malam. Matanya membelalak, menatap Andika seolah tak percaya pria matang berumur tiga puluh sembilan tahun di hadapannya adalah anak yang ia besarkan dengan segala kebanggaan. "Kamu bilang dia istri kamu, Dika?! Kamu gila?!"Andika tidak berkedip. Ia tetap berdiri tegak dengan bahu tegap, menerima tatapan tajam ibunya tanpa niat untuk mundur selangkah pun. "Andika tidak gila, Ma. Kami sudah menikah secara sah secara agama. Bilqis adalah istri sah Andika."PLAK!Suara tamparan keras bergaung di seluruh sudut ruangan. Tamparan tangan Novia mendarat telak di
BAB 77: Sejak Kapan Kamu Menikahinya?Tatapan mata Andika menyiratkan ketegangan yang amat dalam, meski sepasang tangannya bergerak cepat meraih kedua bahu Bilqis untuk menyalurkan rasa aman. Pria itu menatap lurus manik mata istrinya, berusaha mengikis kepanikan yang mulai menguasai aura wajah cantik di hadapannya."Mama minta Mas datang ke rumah malam ini," tutur Andika pelan, mengatur intonasi suaranya agar tetap terdengar tenang. "Mama ingin bicara di ruang kerja Papi Roy jam tujuh malam."Raut wajah Bilqis seketika memucat. Jemari halusnya yang memegang kemeja Andika gemetar pelan. "Malam ini, Mas? Tante Novia... Tante Novia bicara dengan nada marah?""Nada suaranya sangat dingin, Sayang," aku Andika jujur, tak ingin membohongi situasi. "Tapi kamu tidak perlu panik. Mas yang akan menghadapi Mama nanti malam. Apapun yang terjadi, Mas tidak akan pernah membiarkan Mama atau siapapun menyudutkan kamu."Bilqis menggeleng pelan, napasnya terdengar agak memburu. Ketakutan terbesar
BAB 76: Pintu yang TerkunciNapas Novia tertahan di tenggorokan. Udara di koridor lantai dua yang berpendingin ruangan itu mendadak terasa begitu memekakkan dada. Kata 'Istriku' yang diucapkan anak tunggalnya dengan begitu alami dan penuh kehangatan terus bergema di telinganya, menghantam seluruh pertahanan dan akal sehatnya hingga berkeping-keping.Dua insan di balik pintu kayu tebal itu jelas bukan sekadar pasangan kakak-adik angkat yang saling menyayangi, bukan pula rekan kerja yang tengah berdiskusi profesional soal manajemen rumah sakit. Suara terkekeh renyah Bilqis dan bisikan manja yang menyertainya adalah bukti tak terbantahkan dari sebuah hubungan asmara yang sangat jauh meretas batas.Jemari Novia yang mencengkeram gagang tas mewahnya gemetar hebat. Persendian jarinya memutih, menahan gejolak emosi yang membakar seluruh isi dadanya. Syok, amarah, kekecewaan, dan rasa takut akan kehancuran nama baik keluarganya membuncah menjadi satu adonan emosi yang mengerikan."Istri.
BAB 75: Di Bawah Bayang-Bayang BadaiPelukan hangat Andika di dalam ruang kerja manajemen eksekutif itu terasa begitu protektif, namun sekaligus sarat akan beban kecemasan yang tersembunyi. Bilqis bisa merasakan detak jantung suaminya yang berpacu sedikit lebih cepat dari biasanya. Di balik ketenangan, ketegasan, dan wibawa Andika sebagai dokter spesialis senior sekaligus pemilik rumah sakit, pria itu menyimpan ketakutan terbesar: kehilangan wanita yang amat dicintainya.Bilqis melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap Andika. Dia menyandarkan pipinya di dada bidang sang suami, mendengarkan deru napas Andika yang menghangat di ceruk lehernya."Mas..." bisik Bilqis dengan suara halus namun tegas, menyalurkan seluruh keberanian yang ia miliki. "Kalau nanti saat itu tiba, aku tidak akan pernah melepas genggaman tangan Mas. Apa pun keputusan Papa Albert nanti, aku sudah memilih Mas Dika sebagai suami dan pelindungku."Andika mengurai pelukannya sedikit, merangkup kedua pipi halu
BAB 74: Jarak yang Tak TerlihatDi seberang telepon, terdengar jeda sejenak sebelum Naina terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang terdengar biasa, namun di telinga Novia terasa sedikit hampa."Aduh, Mbak Novia... kalau soal itu saya malah tidak tahu apa-apa," jawab Naina polos tanpa beban. "Jujur saja, saya itu jarang sekali menghubungi Bilqis kalau tidak ada urusan penting. Bilqis juga tipe anak yang pendiam dan tidak pernah cerita apa-apa kalau tidak ditanya."Alis Novia bertaut halus. Pegangannya pada cangkir porselen sedikit mengetat. "Sama sekali tidak pernah cerita, Na? Maksudku, cerita santai soal kesibukannya di RSIA Kiera, atau sekadar mengeluh capek? Kamu kan ibunya.""Ya bagaimana ya, Mbak... Bilqis dari dulu kan memang mandiri. Apalagi sejak fokus memegang manajemen rumah sakit, dia makin sibuk. Saya juga segan kalau mau mengganggu," sahut Naina santai, lalu mengalihkan pembicaraan ke topik masakan rumah. "Mbak Novia sendiri bagaimana? Sudah coba resep resep kue yang ke







