登入BAB 111: Tanda Kehidupan BaruKeheningan kembali melingkupi ruangan di rumah dinas itu. Jawaban atas pertanyaan Naina tak kunjung terucap, menyisakan helaan napas berat dari Andika yang masih menggenggam erat jemari istrinya. Sorot mata Naina memancar kebencian yang bercampur keputusasaan, memandang dokter spesialis kandungan di hadapannya dengan tatapan penuh kekecewaan mendalam."Kenapa kamu mengkhianati kepercayaan Tante, Andika?!" gugat Naina dengan suara yang memburu dan bergetar hebat. "Tante mempercayakan Bilqis kepadamu karena Tante pikir kamu bisa menjadi sosok kakak yang melindungi dan membimbingnya! Bukan malah memanfaatkan kepolosannya dan mengambilnya sebagai istri secara diam-diam!"Perempuan mundur perlahan, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap, namun akhirnya ia mendaratkan tubuhnya kembali di sofa. Kenangan masa lalu berputar cepat di kepalanya, saat-saat ia dengan hangat menyambut Andika di rumahnya, menyuguhkan teh, bahkan berulang kali menasihati dan men
BAB 110: Luka, tapi Tak Berdarah Udara pagi yang bersiap menyapa kota kecil itu mendadak terasa membeku di dalam ruang tengah rumah dinas. Pendar sinar matahari yang menerobos lewat celah tirai seolah tak mampu mencairkan ketegangan yang merayap di antara Andika dan Naina.Naina menyunggingkan senyum tipis, namun terpancar sirat kecemasan dan kepedihan yang teramat dalam di balik manik matanya. Posisinya berdiri anggun, memegangi cangkir porselen hangat yang baru saja disuguhkan untuknya.Dia berusaha untuk kuat, menata hati dan pikiran. Nyaris semalaman ia tidak bisa tidur, sampai akhirnya ia meminta sang suami untuk memberangkatkannya ke kota ini, dengan menggunakan jet pribadi milik keluarga mereka. Naina ingin melihat langsung, apa yang sebenarnya terjadi diantara putrinya dengan Andika.Sejauh ini ia berusaha untuk berpikir, jika kebersamaan Andika dengan putrinya hanya sekedar pelampiasan, hanya ingin menarik perhatiannya saja. Akhir-akhir ini dia memang jarang menghubungi B
BAB 109: Dokter Gila!Lampu neon lorong Gedung Bedah Sentral RSUD Setia Budi berpendar terang membelah keheningan dini hari. Langkah kaki Andika terdengar tegas dan tergesa, beradu dengan ubin rumah sakit saat ia melangkah menuju area scrub station. Dia segera membasuh kedua tangan dan lengannya hingga siku dengan larutan antiseptik, mengikuti setiap prosedur sterilisasi baku dengan ketelitian seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan senior.Di dalam Kamar Operasi Nomor 3, suasana terasa begitu tegang. Petugas anestesi tengah berjuang menjaga kestabilan tanda-tanda vital pasien, sementara para perawat bedah telah menyiapkan instrumen laparotomi di atas meja steril. Papan monitor hemodinamik menampilkan grafik yang naik-turun tak menentu, tekanan darah pasien masih berada di angka mengkhawatirkan, 85/55 mmHg."Gown dan gloves, Dok," panggil perawat instrumen seraya membantunya mengenakan jubah operasi steril dan sarung tangan medis.Andika melangkah cepat mendekati meja ope
BAB 108: Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!Malam beranjak semakin dingin di kota kecil itu, auranya menutupi rumah dinas sederhana yang kini terasa jauh lebih hangat dan damai. Gelapnya malam membawa ketenangan yang telah lama hilang dari hidup Bilqis. Di dalam kamar utama yang beraroma terapi lavender lembut, hanya ada pendar cahaya lampu tidur yang temaram, memantulkan bayangan dua insan yang kini duduk bersisian di tepi ranjang.Bilqis menatap map kulit hitam yang kini terbaring terbuka di atas meja rias. Lembar Akta Nikah bertinta emas itu seakan menjadi benteng kokoh yang melindungi seluruh harga diri dan hidupnya dari intaian orang tuanya. Air mata haru menggenang di sudut mata cantiknya, memantulkan pendar kebahagiaan yang begitu tulus."Mas..." panggil Bilqis lirih, suaranya bergetar lembut.Andika, yang baru saja selesai mengganti kemeja kerjanya dengan kaus santai, menoleh. Pria itu menyunggingkan senyum hangat, senyuman yang selalu menjadi penawar paling ampuh untuk seg
BAB 107: Puing-Puing KesombonganLangkah kaki Albert terasa begitu berat dan tidak berdaya saat ia melangkah keluar dari teras rumah dinas sederhana itu. Udara sejuk ibukota provinsi yang semula terasa menyegarkan kini mendadak menghimpit dada, mencekik napasnya hingga sesak. Pria paruh baya yang selalu dipuja di lingkaran bisnis papan atas itu berjalan lunglai menuju mobil MPV hitam yang terparkir di tepi jalan."Papa? Kok wajah Papa pucat sekali?" tanya Evan polos begitu menyusul dari pekarangan belakang, melambaikan tangan ceria ke arah Bilqis yang berdiri diam di pintu rumah dengan mata sembap.Albert hanya mampu memaksakan sebuah ukiran senyum tipis yang tampak begitu getir. "Tidak apa-apa, Evan. Ayo masuk mobil... Kita... kita harus segera kembali ke Jakarta."Di balik kemudi, jemari Albert yang biasanya kokoh mencengkeram erat roda setir kini bergetar hebat. Bayangan lembar demi lembar buku nikah bertinta emas, kalimat menohok dari Andika, serta nama almarhum Revan Arham Pr
BAB 106: Kebenaran yang Meruntuhkan KeangkuhanNapas Albert memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar hingga ke ubun-ubun. Bekas tamparan di pipi kiri Andika menyisakan kemerahan, namun sedikit pun tak ada pendar ketakutan di wajah tampan itu. Andika berdiri tetap tegap, menegakkan dagunya dengan tatapan mata yang begitu dingin dan menembus langsung ke relung jiwa Albert."Bagaimana mungkin kamu berani menikahi Bilqis tanpa restu dari saya sebagai ayah kandungnya?!" bentak Albert dengan nada suara yang bergetar hebat. "Pernikahan itu tidak sah! Kamu menculik dan memanfaatkan putri saya!"Andika mengusap sudut bibirnya yang terasa sedikit perih dengan punggung tangan. Sebuah senyuman tipis, sangat tipis, namun penuh dengan nada sindiran, terukir di paras tampannya."Restu Anda, Om Albert?" tanya Andika tenang, suaranya mengalun rendah namun bergema di setiap sudut ruang tengah yang mendadak terasa mencekam. "Sejak kapan seorang pria butuh restu dari Anda untuk menik







