แชร์

Dokter Gila!

ผู้เขียน: Jannah Zein
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-23 21:29:05

BAB 109: Dokter Gila!

​Lampu neon lorong Gedung Bedah Sentral RSUD Setia Budi berpendar terang membelah keheningan dini hari. Langkah kaki Andika terdengar tegas dan tergesa, beradu dengan ubin rumah sakit saat ia melangkah menuju area scrub station. Dia segera membasuh kedua tangan dan lengannya hingga siku dengan larutan antiseptik, mengikuti setiap prosedur sterilisasi baku dengan ketelitian seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan senior.

​Di dalam Kamar Operasi Nomor 3, suasana ter
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Kagum Dalam Keheningan

    BAB 116: Kagum dalam Keheningan​Pintu kayu ruang kerja Andika kembali tertutup rapat setelah Suster Rini berpamitan keluar. Bilqis mengulas senyum tipis, lalu meraih potongan buah apel segar yang disajikan dengan rapi di atas nampan. Rasa manis dan renyah apel itu seketika memanjakan lidahnya, mengusir sisa-sisa rasa mual yang sempat mengintai. Di layar televisi, tayangan berita tentang dinamika bisnis dan politik terus bergulir, namun hati Bilqis sudah berada di tempat yang jauh lebih tenang, di dalam perlindungan hangat sang suami.​Sementara itu, di balik meja pendaftaran Poliklinik Kebidanan dan Kandungan yang padat oleh antrean pasien, Suster Rini berjalan kembali dengan langkah yang perlahan melambat. Nampan kosong di genggamannya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.​Perawat muda itu menarik kursi kerjanya, lalu mendudukkan diri di depan layar komputer pendaftaran. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu ruang kerja Dokter Andika yang tertutup rapat, lalu beralih menyapu

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Dokter Khusus di Rumah Sendiri

    ​BAB 115: Dokter Khusus di Rumah Sendiri​Suasana rumah dinas terasa jauh lebih lapang dan hangat setelah kepulangan Naina ke Jakarta. Tidak ada lagi ketegangan yang menggantung di udara, tidak ada lagi rasa cemas, yang tersisa di rumah nan sederhana itu hanyalah kedamaian yang telah lama dinantikan oleh Andika dan Bilqis.​Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya yang hangat dari balik pepohonan. Di dalam dapur, aroma harum teh chamomile yang diseduh hangat menguar pelan, membaur dengan aroma roti panggang.​Bilqis berdiri di dekat kompor, bersiap untuk menggoreng telur mata sapi untuk sarapan mereka. Namun, baru saja ia menyalakan kompor dan menuang sedikit minyak ke atas wajan, sebuah lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang.​"Eits, mau buat apa, Sayang?" bisik suara bernada rendah yang sangat familiar tepat di samping telinganya.​Bilqis mengecap bibirnya pelan, menoleh sedikit seraya tersenyum manis. Andika sudah tampil segar dengan kemeja kasualnya,

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Sambutan Hangat

    BAB 114: Sambutan Hangat ​Suara deru pendingin udara di ruang kerja Andika terasa begitu sejuk, menenangkan gemuruh kebahagiaan yang masih menyelimuti dada Bilqis. Ponsel di genggamannya perlahan ia letakkan di atas meja. Ucapan selamat dan isak haru dari Queen, saudara sesusunya di Australia masih bergema hangat di ingatannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Bilqis merasakan kebebasan mutlak atas jalan hidup yang ia pilih sendiri.​Jemari lentiknya bergerak lembut mengusap permukaan perutnya yang masih datar. Ada sesungging senyum tulus yang terukir di bibirnya. Di dalam sana, benih cinta yang ia rajut bersama Andika tengah tumbuh, menjadi jangkar yang mengikat mereka dalam ikatan yang tak tergoyahkan oleh ambisi atau keangkuhan siapa pun.​Klek.​Pintu penghubung antara ruang kerja dan ruang periksa utama terbuka pelan. Andika melangkah masuk dengan senyum hangat yang langsung terpancar begitu tatapan mata mereka beradu. Pria itu melepas stetoskop yang melingkar di lehe

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Sukacita di Rumah Sakit

    BAB 113: Sukacita di Rumah Sakit​Di dalam ruang periksa Poliklinik Kebidanan dan Kandungan RSUD Setia Budi, keheningan hangat yang sempat tercipta paska pemeriksaan USG perlahan mencair. Andika mengusap lembut sisa gel ultrasound di perut halus istrinya dengan tisu steril, lalu membantunya bangkit dan duduk di tepi tempat tidur pemeriksaan. Bilqis merapikan pakaiannya dengan jemari yang masih sedikit gemetar karena rasa haru yang membuncah di dalam dada.​Setelah mematikan layar monitor USG, Andika melangkah menuju pintu dan memutar kunci dari dalam. Suster Rini, perawat senior yang sejak pagi berjaga di area pendaftaran poliklinik, berdiri di dekat meja administrasi dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.​"Bagaimana hasilnya, Dokter Dika?" tanya Suster Rini ramah, matanya melirik sekilas ke arah Bilqis yang sedang melangkah pelan mendekati meja kerja Andika.​Andika menyunggingkan senyum paling lebar yang belum pernah dilihat oleh para staf medis di RSUD it

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Pasrah

    BAB 112: Pasrah​Keheningan di ambang pintu kamar mandi terasa begitu menekan. Naina berdiri mematung, mendengarkan percakapan singkat antara putri sulungnya dan Andika. Binar kebahagiaan yang mendadak terpancar di mata dokter yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu bagaikan petir yang menghantam sisa-sisa harapan Naina.​Harapan yang semalaman ia susun rapi, jika memang benar Andika sudah menikahi Bilqis, rencana untuk memohon, menuntut, atau bahkan memaksa Andika melepaskan Bilqis demi meredam murka keluarga Jason Tan, seketika hancur berkeping-keping menjadi debu tak berharga.​Naina menyandarkan bahunya pada kusen pintu, menatap Bilqis yang masih bersandar lemas di dada bidang suaminya. Tatapan mata Andika yang begitu protektif dan penuh kasih saat mengusap dahi Bilqis menguatkan kenyataan pahit yang harus ia terima, Bilqis bukan lagi gadis remaja polos yang bisa ia atur arah hidupnya. Bilqis kini adalah seorang istri, dan lebih dari itu, ada benih kehidupan baru yang tenga

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Tanda Kehidupan Baru

    BAB 111: Tanda Kehidupan Baru​Keheningan kembali melingkupi ruangan di rumah dinas itu. Jawaban atas pertanyaan Naina tak kunjung terucap, menyisakan helaan napas berat dari Andika yang masih menggenggam erat jemari istrinya. Sorot mata Naina memancar kebencian yang bercampur keputusasaan, memandang dokter spesialis kandungan di hadapannya dengan tatapan penuh kekecewaan mendalam.​"Kenapa kamu mengkhianati kepercayaan Tante, Andika?!" gugat Naina dengan suara yang memburu dan bergetar hebat. "Tante mempercayakan Bilqis kepadamu karena Tante pikir kamu bisa menjadi sosok kakak yang melindungi dan membimbingnya! Bukan malah memanfaatkan kepolosannya dan mengambilnya sebagai istri secara diam-diam!"​Perempuan mundur perlahan, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap, namun akhirnya ia mendaratkan tubuhnya kembali di sofa. Kenangan masa lalu berputar cepat di kepalanya, saat-saat ia dengan hangat menyambut Andika di rumahnya, menyuguhkan teh, bahkan berulang kali menasihati dan men

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status