Se connecterBAB 103: Rindu Seorang AdikKertas-kertas laporan keuangan kuartalan berserakan di atas meja kerja mahoni yang megah. Albert menatap nanar angka-angka merah yang tercetak di lembar paling atas dengan raut wajah bergetar menahan amarah. Dia benar-benar gusar setengah mati.Baru satu bulan berlalu sejak pengunduran diri dr. Andika Rahardian Hardi Kusuma, Sp.OG secara permanen, dampak finansial yang dialami RSIA Kiera Medika Utama sudah begitu dahsyat. Laporan bulanan yang diserahkan oleh tim audit menunjukkan penurunan omzet secara drastis hingga mencapai angka lebih dari empat puluh persen.Kehilangan dokter spesialis bintang dengan reputasi cemerlang, basis pasien yang loyal, serta jaringan klinis yang kuat, terbukti melumpuhkan daya tarik rumah sakit swasta tersebut. Pasien-pasien eksklusif yang selama ini menjadi penyumbang pendapatan terbesar lebih memilih memindahkan jadwal kontrol dan penanganan medis mereka ke rumah sakit lain. Belum lagi beberapa dokter spesialis junior yan
BAB 102: Lembaran Baru di Kota KecilSuasana pagi di kota provinsi itu terasa sangat berbeda dari hiruk-pikuk Jakarta, Banjarmasin, maupun ketenangan dingin Sydney. Udara sejuk beraroma tanah basah menyapa saat Bilqis membuka jendela kayu berukir di ruang tengah rumah dinas mereka. Dedaunan hijau di pekarangan rumah berdesir pelan tertiup angin pagi, membiaskan sinar matahari hangat yang menerobos masuk, menerangi lantai semen poles yang bersih dan rapi.Sudah tiga hari berlalu sejak kepindahan mereka. Rumah dinas berarsitektur tropis itu kini terasa makin hidup. Di dapur sederhana, suara denting spatula dan aroma harum tumisan rempah mulai memenuhi ruangan.Bilqis tersenyum kecil seraya membalikkan adonan dadar gulung isi sayuran di atas wajan. Dia mengenakan gaun santai rumahan berwarna abu-abu muda dengan rambut terikat rapi ke belakang. Tidak ada lagi rasa cemas yang menghimpit dada, tidak ada lagi ketakutan akan langkah kaki orang asing yang diperintah Albert untuk mengawasin
BAB 101: PamitSinar matahari pagi di kawasan ini membiaskan cahaya hangat di atas meja makan apartemen Queen, meski aura musim dingin tetap terasa. Di sana, empat cangkir teh hangat dan hidangan sarapan sederhana menjadi saksi momen perpisahan yang tenang. Tidak ada ketegangan atau keraguan lagi di mata Bilqis maupun Andika, yang tersisa hanyalah tekad bulat untuk memulai kehidupan mereka dengan lebih tenang tanpa hingar-bingar kekuasaan dan trik bisnis.Terkadang Bilqis iri pada Queen yang sepertinya lebih beruntung darinya.Queen bisa menikah dengan Liam, pria yang ia cintai tanpa hambatan restu. Queen punya otonomi terhadap dirinya sendiri apalagi ibu kandungnya juga tidak begitu peduli pada kehidupannya. Sementara Albert?Tidak mungkin Albert tidak tahu soal pernikahan Queen dengan Liam. Jika hubungan mereka selama ini berlangsung mulus, berarti memang ada pembiaran dari pihak Albert. Lagi pula pria itu merasa sudah menunaikan perannya sebagai orang tua, dengan memberikan Quee
BAB 100: Bertaut EratLangkah kaki Andika dan Bilqis yang saling bertaut erat membawa mereka tiba di lorong lantai atas kompleks apartemen mewah kawasan Darling Harbour. Setelah momen emosional di tepi dermaga, rasa lelah akibat penerbangan panjang yang sempat menghimpit Andika seolah menguap, digantikan oleh kehangatan jemari Bilqis yang berada dalam genggamannya.Bilqis menempelkan kartu akses pada pintu unit apartemen, lalu mendorongnya pelan. "Queen, aku pulang..." panggil Bilqis seraya melangkah masuk, disusul Andika di belakangnya.Di ruang tengah yang hangat, Queen sedang berdiri di dekat meja makan, sementara Liam baru saja keluar dari dapur membawakan segelas jus segar. Begitu mendengar suara pintu dibuka, keduanya serentak menoleh.Mata Queen membelalak sempurna saat melihat sosok pria tegap bersetelan mantel hitam yang berdiri tepat di samping Bilqis. "Kak... Andika?" gumam Queen tak percaya.Andika menghentikan langkahnya. Tatapan matanya yang tajam seketika tertuju
BAB 99: PertemuanUdara sore di kawasan Darling Harbour bertiup cukup kencang, membawa hawa dingin khas pertengahan musim dingin Sydney yang menusuk hingga ke tulang. Di sepanjang area pejalan kaki tepi pelabuhan, hilir mudik orang-orang yang mengenakan mantel tebal membelah jalur dengan terburu-buru. Namun, di salah satu sudut dermaga, Bilqis memilih untuk menghentikan langkahnya.Wanita muda itu berdiri bersandar pada pagar besi pelabuhan, mengenakan mantel rajut panjang berwarna abu-abu dan syal yang melilit lehernya. Matanya yang bening menatap kosong ke arah riak air laut yang memantulkan pendar jingga matahari terbenam.Sudah hampir seminggu ia berada di Sydney. Berkat bantuan Queen dan Liam, proses adaptasinya berjalan sangat lancar. Pagi tadi, ia bahkan baru saja menyelesaikan wawancara singkat untuk posisi staf administrasi medis di sebuah klinik swasta kawasan Newtown. Namun, sebanyak apa pun kegiatan yang ia jalankan untuk menyibukkan diri, bayangan Andika tak pernah se
BAB 98: Rencana Andika Keheningan kamar tamu yang temaram perlahan meluruh bersamaan dengan bergantinya malam menuju fajar. Di atas lantai peraduan, Andika menyapu sisa air matanya. Isak tangis yang sempat membendung semalam kini telah berganti menjadi ketenangan dingin yang amat tajam. Rasa sakit karena ditinggalkan Bilqis tidak membuatnya panik atau bertindak gegabah, sebaliknya, itu menjadi bahan bakar untuk menyusun strategi balasan yang teratur dan tak terhentikan.Andika bangkit berdiri, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Pancuran air dingin yang membasahi tubuhnya mengikis sisa-sisa kelelahan fisik. Begitu keluar dengan pakaian kasual namun rapi, ia melangkah menuju ruang kerjanya di rumah, membuka laptop, dan membeberkan beberapa dokumen penting di atas meja.Matanya menatap layar gawai dengan fokus penuh. Langkah pertamanya adalah mengurus visa kunjungan (Tourist Visa) ke Australia. Sebagai seorang dokter spesialis senior dengan rekam jejak keuangan ya







