Share

Pagi Yang Terusik

Penulis: Jannah Zein
last update Tanggal publikasi: 2026-08-10 19:29:36

BAB 68: Pagi yang Terusik

​Keheningan malam di kamar utama itu terasa begitu sakral. Pijar lampu tidur yang temaram memantulkan bayangan dua tubuh yang saling menempel erat tanpa jarak. Dinding kamar menjadi saksi bisu bagaimana rasa cinta, kerinduan, dan kepasrahan meluap tanpa lagi dihalangi oleh tembok canggung atau rasa takut akan masa lalu.

​Jemari tegap Andika menyusup lembut di antara sela-sela jemari Bilqis, menguncinya di atas bantal empuk. Napas pria itu memburu pelan, beradu dengan h
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Di Antara Kepasrahan dan Pelukan Malam

    ​BAB 90: Di Antara Kepasrahan dan Pelukan Malam​Langkah kaki Bilqis menyusuri lorong RSIA Kiera Medika Utama sore itu terasa lunglai tak berdaya. Kata-kata Novia serta gertakan terselubung Albert, yang ia dengar dari cerita Andika terus berputar-putar di dalam benaknya, bagaikan kaset rusak yang memutar rekaman ketakutan tanpa henti.​Di mata keluarga besar Zaidan—dan bahkan di mata keluarganya sendiri, Andika sebenarnya tak lebih dari sekadar instrumen penting. Seorang dokter spesialis senior berprestasi yang keahlian medisnya dimanfaatkan untuk memuluskan ekspansi bisnis kesehatan keluarga yang terus menggurita. Posisi Andika memang tampak terhormat di permukaan, namun di balik itu, Andika adalah bidak yang tidak boleh melenceng dari skenario besar yang sudah dirancang oleh orang-orang berkuasa di sekelilingnya.Posisi Andika tidak sekuat seperti yang orang pikirkan. Andika mungkin bisa menekan manajemen RSUD Ibnu Hajar, karena ia adalah dokter bintang di sana, tetapi tidak berar

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Keraguan Yang Merayap

    BAB 89: Keraguan yang Merayap​Kata-kata Novia bagaikan racun yang menjalar pelan namun mematikan di dalam benak Bilqis. Begitu pintu ruang kerja Andika tertutup rapat setelah Novia dan Roy melangkah pergi, keheningan yang menyisakan kehampaan luar biasa langsung menyergap wanita muda itu.​Bilqis melangkah gontai menuju sofa, lalu meluruhkan tubuhnya di sana. Pandangannya kosong menatap lantai marmer yang mengilap. Suara tajam Novia terus bergaung tanpa ampun di dalam kepalanya: “Apa kamu tega melihat pria yang kamu cintai kehilangan gelar, karier, dan harga dirinya hanya karena mempertahankan pernikahan siri ini?”​"Mas Andika..." bisik Bilqis dengan suara serak, tercekik oleh rasa bersalah yang teramat dalam.​Pria itu telah memberikan segalanya untuk melindungi hubungan mereka. Kecupan hangat di keningnya tadi di hadapan orang tuanya adalah bukti betapa beraninya Andika berdiri memasang badan. Namun, justru keberanian tanpa pamrih itulah yang kini menusuk dada Bilqis. Andika terla

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Tolong Gunakan Akal Sehatmu

    BAB 88: Tolong Gunakan Akal Sehatmu​Ketegangan di dalam ruang kerja Andika mencapai puncaknya. Udara terasa begitu berat, seolah setiap hembusan napas dipenuhi oleh tekanan emosi yang siap meledak. Pernyataan tegas Andika yang menolak mentah-mentah ide perceraian menggantung di udara, menantang dominasi Roy dan kecemasan mendalam Novia.​Novia menatap anak kandungnya dengan mata yang berkaca-kaca, tak percaya dengan keteguhan hati Andika yang rela mempertaruhkan seluruh reputasi dan kariernya demi Bilqis. Sementara itu, Roy berdiri mengepal jemari, rahangnya mengeras menahan gusar atas sikap anak tirinya yang dinilai terbuai oleh perasaan.Namun di tengah keheningan yang mencekam dan saling melempar tatapan tajam itu, tiba-tiba suara ketukan pintu tiga kali memecah suasana.​Tok! Tok! Tok!​Pintu ruang kerja didorong perlahan dari luar. Sisil, asisten medis Andika, muncul dari balik celah pintu dengan memegang map checklist jadwal tindakan medis. Ekspresi wajah Sisil mendadak agak c

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Diujung Jurang

    ​BAB 87: Diujung Jurang​Suasana di dalam ruang kerja Andika mendadak berganti menjadi kecemasan yang mencekam. Suara tegang Novia di telepon tadi masih terngiang di udara, meninggalkan gaung ancaman yang membuat Bilqis tak sanggup membendung getar di jemarinya.​Sebagai lulusan Sarjana Kedokteran yang dipercaya menduduki posisi manajemen di RSIA Kiera Medika Utama, Bilqis biasanya tampil penuh percaya diri. Namun, ketakutan akan rahasia pernikahan siri mereka yang berada di ujung tanduk sanggup meruntuhkan seluruh pertahanan mentalnya dalam sekejap.​"Mas... gimana ini?" cicit Bilqis seraya mencengkeram erat lengan jas dokter yang dikenakan Andika. Matanya bergantian menatap pintu kayu yang terkunci dan layar ponselnya yang telah gelap. ​Andika tak langsung menjawab. Pria itu berdiri tegak, merapikan letak kerah jas dokternya dengan gerakan teratur dan tenang. Ketenangan yang ia perlihatkan adalah bentuk kendali diri seorang spesialis senior yang terbiasa menghadapi situasi kritis d

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Gejolak di Balik Pintu Ruang Kerja

    ​BAB 86: Gejolak di Balik Pintu Ruang Kerja​Langkah kaki Andika menyusuri koridor lantai tiga terasa jauh lebih berat dari biasanya. Peringatan dingin dan penuh penekanan dari Albert Haikal Zaidan masih bergema jelas di telinganya. Kata-kata sang investor utama—yang menyinggung soal 'karpet merah', 'pendamping yang sepadan', hingga peringatan agar tidak memanfaatkan kebaikan putri biologisnya—seperti jarum-jarum halus yang menusuk harga diri dan ketenangannya.​Begitu pintu ruang kerjanya tertutup rapat, Andika langsung bersandar pada daun pintu kayu yang tebal. Dia memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk meredakan gejolak amarah dan kecemasan yang berkecamuk di dalam dada. Di mata dunia, ia adalah Dokter Andika, spesialis OBGYN brilian yang dihormati. Namun di mata Albert Zaidan, ia hanyalah seorang dokter senior yang tak lebih dari sekadar perantara untuk memuluskan jalan karier Bilqis.​“Setara dari kalangan yang sepadan…” Andika terkekeh sinis dalam hati. Betapa iro

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Kemunculan Albert di RSIA Kiera Medika Utama

    BAB 85: Kemunculan Albert di RSIA Kiera Medika Utama ​Aroma khas antiseptik dan hawa dingin berpendingin udara menyambut kedatangan Andika begitu ia menginjakkan kaki di lantai tiga gedung RSIA Kiera Medika Utama. Langkah kakinya yang tegap bergaung teratur di sepanjang koridor, berpadu dengan ketenangan profesional yang selalu ia tunjukkan sebagai seorang dokter spesialis OBGYN senior.​Meskipun semalam emosinya dipicu oleh konfrontasi dengan Mami Novia dan kecemasan Bilqis, serta gertakan tajam dari Papi Roy subuh tadi, ekspresi wajah Andika begitu tenang tak tertebak. Pria berumur tiga puluh sembilan tahun itu membawa aura kepemimpinan yang dingin namun protektif.​"Selamat pagi, Dokter Andika," sapa beberapa perawat di nurse station dengan nada penuh hormat.​Andika mengangguk tipis seraya mengumbar senyum profesional yang irit. "Pagi, Suster. Bagaimana kondisi pasien pasca operasi solusio plasenta subuh tadi?"​"Tanda vital pasien stabil, Dok. Tekanan darah 110/70, transfusi dar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status