Masuk“Maaf untuk yang tadi, Om…” ucap Aura pelan, menunduk. Wajahnya masih menyisakan rona malu. Perilakunya barusan, memeluk pria ini dalam keadaan berpakaian minim, sungguh tak pantas. Pria ini adalah paman suaminya. Tapi tadi Aura bertingkah seolah kehilangan akal sehat.
Pras hanya tersenyum. Ia menyodorkan segelas air. “Tak apa. Kau tadi ketakutan.”
Hanya jawaban sederhana. Tapi terasa menenangkan.
Mereka sempat berbincang sebentar tentang malam perpisahan yang berakhir kacau karena Arman meninggalkannya. Pras, yang jelas-jelas kesal pada Arman, bahkan sempat menghubungi keponakannya itu.
“Kalau kau tidak bisa menjemput istrimu sendiri, biar aku yang antar!” ucapnya tadi, tegas. Aura bisa merasakan nada marah di balik suara tenangnya.
Kini, di perjalanan pulang, mobil terasa senyap. Aura duduk di kursi penumpang dengan tubuh kaku, pikirannya berkecamuk. Kejadian tadi—tak sengaja memeluk Pras dengan tubuh setengah telanjang, lalu melihat ekspresi paman suaminya itu saat lampu menyala—semuanya terputar ulang dalam benaknya. Setiap detailnya terasa panas, membuat pipinya kembali memerah.
Ia melirik Pras diam-diam. Lelaki itu tenang, fokus menyetir, seolah tidak terjadi apa-apa. Kedewasaan dan ketenangan yang justru membuatnya makin misterius.
Pras memang berbeda. Tampan, jangkung, penampilannya rapi dan bersih. Usianya mungkin sudah kepala empat, tapi jelas belum tua. Matang. Penuh wibawa.
Aura ingat, Pras adalah pilar keluarga sejak ayah Arman meninggal. Dialah yang menjaga rumah besar keluarga Eliyas tetap utuh—menjaga bisnis, menjaga kehormatan, menjaga mereka semua agar tak runtuh.
Selama ini Aura jarang berbicara langsung dengan Pras. Kalaupun bertemu, hanya sapaan basa-basi. Tapi malam ini, mereka tiba-tiba seperti sekutu yang diam-diam memahami luka masing-masing.
“Aku minta maaf atas sikap Arman,” ucap Pras, memecah keheningan. “Dia kehilangan ibunya sejak bayi, dan ayahnya waktu remaja. Mama terlalu memanjakannya… dia tumbuh jadi anak yang sulit diarahkan.”
Aura hanya mengangguk. Ia tahu cerita itu. Bahkan Oma-nya Arman pernah berkata: “Kalau Arman marah, lebih baik diam saja. Jangan buat dia makin emosi.”
Aura menurut. Karena ia bukan siapa-siapa saat masuk ke keluarga ini. Ia hanya gadis dari keluarga miskin yang “diangkat” untuk menikah dengan Arman—lalu perlahan dibentuk menjadi wanita ideal versi keluarga Eliyas.
Tapi akhir-akhir ini, semuanya mulai goyah. Lelahnya menjadi "wanita ideal" mulai terasa menyesakkan.
“Dia sering begini padamu?” tanya Pras lagi, lembut tapi tajam.
Aura buru-buru menggeleng. “Oh… t-tidak, Om. Mas Arman mungkin hanya stres karena besok harus berangkat ke Oxford.” Tidak mungkin Aura membongkar aib rumah tangganya pada sang paman.
Pras tampak terkejut. “Oxford? Dia belum bilang apa-apa padaku.”
Aura tersenyum kaku. “Kami besok akan mampir ke rumah Oma. Mungkin sekalian berpamitan sama Om Pras juga.”
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Pras keluar lebih dulu, lalu dengan santun membuka pintu untuk Aura. Sikap kecil—tapi sangat berarti. Sentuhan gentleman yang belum pernah Arman lakukan padanya.
“Terima kasih, Om,” ujar Aura, tersentuh.
“Hati-hati. Malam begini rawan masuk angin,” kata Pras.
Aura tersenyum dan hendak berjalan masuk. Tapi langkahnya tertahan saat lengan Pras tiba-tiba menarik pinggangnya. Sekejap tubuhnya masuk ke dalam pelukan pria itu.
“Hati-hati, kau hampir menginjak selokan,” suaranya tenang, tangan cepat-cepat dilepaskan setelah mengatakannya.
“I-iya, Om… makasih,” jawab Aura gugup. Ia langsung melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Tapi pikirannya tak ikut masuk—masih tertinggal di pelukan singkat tadi. Jantungnya berdebar, merasakan kehangatan yang asing dan terlarang.
Di balik jendela, ia diam, memandangi mobil Pras yang mulai menjauh. Lalu suara dari dalam rumah membuatnya tersentak.
“Syukurlah kau sudah pulang.”
Itu suara Arman. Pria yang sudah dengan kejam meninggalkannya tadi.
Meski begitu, Aura tidak bisa mengabaikannya.
“Iya, Mas… Mas belum tidur?” Aura mencoba tersenyum, menyembunyikan sisa trauma dan debaran jantung. “Padahal besok pagi kita ke rumah Oma, kan?”
Seperti biasa, Arman dengan cepat berubah sikap. Pria itu memeluk Aura. Sikapnya yang labil ini membuatnya frustrasi, tapi tak pernah bisa ia tunjukkan.
“Maaf, Sayang… Maafkan aku, ya,” ujar Arman.
Aura menahan napas. Lelah. Tapi ia tetap membalas pelukan itu. “Iya, Mas… Aura juga minta maaf. Tadi terlalu bawel…”
Arman meletakkan telunjuknya di bibir Aura, lalu mencium bibir istrinya dengan intens. Tanpa berkata banyak, ia mengangkat tubuh Aura dan membawanya ke kamar.
Aura menatapnya heran, namun dia tahu suaminya ingin bercinta. Sebenarnya sudah malas melayaninya. Namun tak sengaja melirik nakas, Aura jadi tahu, suaminya ini baru saja meminum obat kuat.
Hatinya jadi sedih. Pasti tadi Arman sangat sebal pada dirinya sendiri karena tak bisa menyenangkannya padahal besok mereka sudah berpisah.
Meski lelah, Aura kembali berusaha membantu suaminya menemukan ritme bercinta mereka. Dia tak segan melakukan blow job lalu lebih agresif, mempertahankan suasana romantis yang mulai memanas.
Aura merindukan saat begini. Aura haus dengan kegiatan yang menggelora bersama sang suami yang jarang sekali bisa mereka lakukan. Terkadang, sebagai wanita, dia mengalami lonjakan hormon yang membuat keinginan bercinta menjadi bergolak, meminta kompensasi untuk dipenuhi. Tak jarang dia bersikap seperti wanita jalang di depan suaminya.
Desahan Aura mulai terdengar nyaring. Arman pun mengerang. Namun tiba-tiba gerakan Arman mendesak di saat Aura baru menikmati permainan mereka.
“Ahhh… Sudah keluar, Sayang,” ucap Arman, nyaris tanpa ekspresi. Sebuah akhir yang cepat dan egois, meninggalkan Aura dalam kekecewaan yang sudah terlampau sering ia rasakan.
.
.
.
<Next>
Pras langsung menoleh, matanya berbinar dengan senyum nakal yang melebar. “Kenapa tidak? Ini yang aku tunggu-tunggu, Sayang!” Ia tertawa senang, persis seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan impiannya.“Semangat sekali, Pak?” Aura mencubit lengan Pras gemas.“Harus semangat, dong! Sejak tahu kau hamil, kita jarang 'heboh'.” ujarnya, lalu membelai pipi Aura dan menambahi, “Karena dokter bilang kondisimu sangat baik, jadi sekarang saatnya kita puas-puasin, ya?”Aura hanya mengangguk. Memberikan persetujuan. Dia juga kembali merindukan kegiatan membara mereka. Yang tadi pagi kurang heboh. Aura ingin lebih dari hal itu.Pras langsung memacu mobilnya menuju hotel langganannya. Ia bahkan sudah meminta Riko, asistennya, untuk mengurus check-in agar mereka bisa langsung masuk.“Mas? Kenapa minta Riko yang urus sih? Mas bisa sendiri, kan? Malu tahu!” gerutu Aura saat mereka memasuki kamar hotel yang mewah dengan sprei putih bersih.“Itu sudah tugas asisten, Ra,” jawab Pras santai se
Pras sudah mengerahkan seluruh rayuannya malam itu. Ia membisikkan kata-kata manis, janji setia, hingga permintaan maaf yang tulus agar Aura tidak termakan oleh racun yang disebarkan Veny.Namun, ego wanita yang sedang terluka sulit ditembus. Aura tetap memilih tidur memunggungi Pras, membiarkan keheningan malam menjadi pembatas di antara mereka.Pras hanya bisa menghela napas panjang, mencoba bersabar. Ia tahu, Aura tidak pernah bisa marah terlalu lama. Besok pagi, badai ini pasti berlalu.Benar saja, saat fajar menyingsing, jam biologis dan ikatan batin tak bisa berbohong. Dalam remang fajar, tangan kekar Pras secara tidak sadar merengkuh pinggang ramping istrinya, menarik tubuh Aura agar merapat dalam kuasanya.Aura yang masih setengah mengantuk tak menolak. Kehangatan itu meluluhkan sisa-sisa kekesalan semalam. "Permainan" pagi itu berjalan seperti biasanya—penuh desah dan lenguhan kenikmatan yang membuktikan bahwa raga mereka selalu menemukan jalan untuk bersatu.Pada akhirnya, m
“Veny lagi sibuk di dunia seni peran. Aku pernah lihat kok di TV,” ujar Vanesha.Aura mungkin jarang mengikuti acara hiburan. Hidupnya lebih banyak diisi urusan rumah, anak, dan pekerjaan Pras. Berbeda dengan Vanesha, yang sempat patah hati dan menghabiskan hari-harinya dengan menonton televisi. Dari sanalah ia tahu kabar tentang Veny.Aura menoleh. “Seni peran?”“Iya,” angguk Vanesha. “Katanya dapat peran kecil di sinetron stripping. Awalnya cuma muncul sebentar, figuran. Tapi sekarang mulai sering. Kabarnya…” Vanesha berhenti sejenak, menurunkan suara, “…dia dekat sama sutradaranya.”“Dekat bagaimana?” Aura masih terdengar polos.“Ya masa kamu enggak paham, Ra?” Vanesha menatapnya heran.Aura mendengus kesal. “Kebiasaan lama memang. Pasti dapat sesuatu dengan menggoda pria.” Nada muaknya tak bisa disembunyikan.Vanesha tak membantah. Ia mulai memahami tabiat Veny. Kabar perselingkuhan wanita itu dulu pun masih sering jadi bahan gunjingan sampai sekarang. Hanya saja, Vanesha belum tah
Mikayla tampak tak nyaman. Perdebatan terakhir mereka masih membekas dalam-dalam di relung hatinya. Kata-kata Veny—mamanya sendiri—terlalu kejam untuk dilupakan. Wanita itu mengutuknya, menyebutnya anak durhaka. Bahkan sempat mengatakan sesuatu yang membuat jiwa Mikayla remuk berkeping-keping: bahwa ia menyesal tidak membunuh janin di dalam rahimnya dulu.Lebih dari sekadar kemarahan, Mikayla akhirnya memahami satu hal yang paling menyakitkan. Selama ini, Veny hanya memperalatnya. Berpura-pura menjadi ibu yang peduli, padahal yang dipikirkan hanyalah bagaimana memanfaatkan putrinya demi kepentingan pribadi. Demi apa pun yang ingin ia capai.Buktinya jelas. Saat Mikayla terpuruk dan harus menjalani rehabilitasi, Veny bukannya memberi dukungan. Wanita itu justru kesal. Marah. Menganggap kehadiran Mikayla di panti rehabilitasi sebagai beban yang merepotkan hidupnya.“Mika?” sapa Veny, menatap putrinya yang hanya diam, tak menyambut. “Kau tak mau memeluk mamamu ini?”Mikayla melirik Pras
Hari ini ada kabar baik dari tempat rehabilitasi Mikayla. Anak itu dinyatakan sudah boleh keluar. Konselornya sudah menghubungi Pras selaku wali, menyampaikan bahwa perkembangan mental Mikayla menunjukkan kemajuan yang signifikan.Saat Pras menyampaikan kabar itu pada Aura, tentu saja wanita itu langsung tersenyum lega. Apalagi komunikasi antara dirinya dan Mikayla belakangan mulai membaik.Sesekali Aura mengirim pesan pada petugas rehabilitasi, sekadar menanyakan kabar. Dan yang membuat hatinya semakin hangat, Mikayla kini kerap membalas sendiri. Mengatakan bahwa kondisinya sudah jauh lebih baik. Bahwa dia sering merindukan rumah. Merindukan beruang besar di kamarnya. Juga merindukan Oma Eliyas dan semua orang.Karena itulah Aura mengusulkan membuat pesta kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan anak itu.“Tidak apa ya, Sayang?” ucap Aura pada Pras. “Kita harus menunjukkan ke Mikayla kalau dia tidak sendiri. Ingat kata konselornya. Dia masih dalam taraf pascarehabilitasi. Masih butuh
“Kenapa sih, Mas?” Aura menoleh, menatap suaminya yang sejak tadi setia mengintil di belakangnya.Pras justru membalasnya dengan senyum-senyum aneh, seolah menyembunyikan sesuatu. Tatapan itu membuat Aura heran sekaligus penasaran.“Tidak apa, Sayang,” tutur Pras lembut. Tangannya terulur, mengambil kresek berisi mangga dari genggaman Aura. “Sudah beli mangganya? Mau beli yang lain?” tanyanya ringan.“Sudah, Sayang.” Aura berjalan berdampingan dengannya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. “Nanti Mas kesiangan ke kantor. Bukannya tadi bilang hari ini banyak dokumen yang harus ditandatangani?” ingatnya.“Tidak apa. Kalau kamu masih mau ke mana gitu, aku antar, kok.” Pras tetap menawarkan, suaranya sabar.“Enggak, Sayangku. Aku tidak mau Mas terlalu sering menelantarkan pekerjaan karena urusanku,” tolak Aura halus.Pras tak lagi mendesaknya. Ia tahu betul, di kantor sana para asisten dan sekretaris sudah menunggunya sejak pagi. Setumpuk dokumen menanti untuk dipelajari dan di







