MasukMeski hatinya terasa pedih karena setiap umpatan sang suami, Aura tetap berlari mengejar Arman. Dia tidak ingin ditinggalkan begitu saja—tidak seperti ini.
Namun langkahnya terhenti saat menyadari ia masih mengenakan gaun "haram" itu—gaun yang sejak awal Arman tentang. Napasnya memburu. Dada sesak. Tapi ia mencoba menenangkan diri.
Dengan tangan gemetar, Aura meraih ponsel dari atas meja dan segera mencoba menghubungi Arman. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak diangkat. Napasnya makin tak beraturan, tapi ia terus mencoba. Baru pada panggilan kelima, suara itu terdengar.
“Mas Arman... maaf,” ucap Aura lirih, nadanya memelas. “Tolong jangan marah...”
Ia berharap Arman melunak, berharap suaminya kembali ke kamar hotel yang telah mereka pesan bersama—bukan begini akhir malam mereka.
Tapi suara Arman dingin. Bahkan lebih dingin dari AC kamar yang tak ia rasakan lagi sejak tadi.
“Aku sudah di perjalanan pulang. Kalau kamu masih mau pulang, pesan taksi atau ojek online!”
“Mas...”
Tapi panggilan itu langsung terputus. Arman memutus sambungan tanpa ragu. Aura menunduk, matanya memburam oleh air mata yang tak bisa ditahan lagi.
Sampai kapan suaminya akan begini?
Perih di hatinya bahkan menutupi rasa sakit di hidungnya, yang tadi terbentur tembok akibat dorongan kasar Arman. Baru saat ia menyentuh wajahnya, ia sadar. Darah mengalir dari lubang hidungnya. Mimisan.
Dia meringis. Kejam sekali pria itu padanya.
Aura panik. Dengan buru-buru, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkannya. Namun, lampu tiba-tiba padam.
Semua gelap.
Aura menjerit. Tangannya meraba-raba dalam gelap, mencari pegangan. Tapi pintu kamar mandi… tak bisa dibuka. Ia menarik, mendorong, bahkan menggedor-gedor, tapi tetap tertutup rapat. Napasnya makin tersengal.
Ketakutan mulai menguasai.
Untungnya, saat masuk tadi, ia membawa ponselnya. Dalam kegelapan, tangannya yang gemetar meraba permukaan meja wastafel, hingga menemukan benda tipis itu. Cepat-cepat ia menyalakan senter dan mencoba menghubungi Arman.
Namun seperti yang ia duga, panggilannya tak dijawab. Berkali-kali dicoba, hasilnya nihil. Suaminya memilih pergi... bahkan di saat ia ketakutan begini.
“Siapa... siapa yang harus kuhubungi?” isaknya di tengah gelap.
Telunjuknya bergerak tak tentu di layar ponsel. Lalu berhenti di satu nama: Om Pras.
Pria itu… tadi ada di hotel ini juga. Satu-satunya orang yang dia kenal di tempat ini.
Meski awalnya ragu, Aura tetap menekan tombol panggil. Tak ada waktu untuk gengsi. Ia butuh pertolongan.
Tak disangka, panggilannya langsung tersambung.
“Ada apa, Ra?” Suara Pras terdengar tenang di seberang. Aura langsung merasa sedikit lega.
“Om... tolong aku. Aku terjebak di kamar mandi hotel. Listrik padam, aku enggak bisa buka pintunya. Gelap semua... aku takut,” ucap Aura cepat dan gugup, tangisnya tak bisa ia tahan lagi.
“Oke. Jangan takut. Tadi pihak hotel sudah konfirmasi—ada kesalahan teknis, semua lampu padam. Kamu... bersama suamimu?”
Pertanyaan itu membuat Aura diam sejenak. Tapi ia tak bisa berbohong dalam kondisi seperti ini.
“Enggak, Om... Mas Arman udah pulang. Dia... marah sama aku,” jawabnya jujur.
Suara napas berat terdengar dari seberang. Lalu, suara Pras yang dalam kembali berbicara, tenang namun tegas.
“Baik. Tenanglah. Aku akan ke kamarmu sekarang.”
Aura menunggu dalam ketegangan. Ia mencoba sekali lagi membuka pintu, menyalakan senter, berteriak—semuanya sia-sia. Waktu terasa berjalan lambat.
Kegelapan membuat pikirannya mulai liar. Bayangan hantu, rambut panjang, sosok yang mengintai dari pojokan ruangan mulai memenuhi pikirannya. Kenapa kamar mandi selalu terasa jadi tempat paling menyeramkan dalam film horor?
Tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu.
“Aura?!”
“Aaaaah!”
Jeritan Aura lepas begitu saja. Barusan ia membayangkan hantu, dan kini suara Pras datang begitu mengejutkan.
“Ini aku. Pras,” suara itu meyakinkan.
“Om Pras! Tolong aku!” jerit Aura sambil menggedor pintu.
“Oke, jangan berdiri di dekat pintu. Aku akan buka paksa.”
Aura segera mundur, berdiri menepi, dan tak lama kemudian terdengar suara dorongan keras dari luar.
BRUK!
Pintu terbuka.
Tanpa pikir panjang, Aura langsung berlari dan memeluk Pras erat. Ketakutannya masih begitu nyata. Tubuhnya gemetar, dan pelukannya penuh kecemasan.
Pras terkejut. Tubuh wanita muda itu menempel di dadanya. Lembut, hangat, dan penuh ketakutan. Tangannya secara refleks membalas pelukan itu, mengelus punggung Aura yang ternyata... tak terlindungi.
Hanya kulit dan gaun tipis itu yang menyentuh tangannya.
“It’s okay… jangan takut,” ucap Pras pelan.
Dan seketika...
CETAK!
Lampu kamar kembali menyala.
Aura dan Pras masih dalam pelukan. Namun begitu cahaya terang menyapu seluruh ruangan, mereka berdua membeku. Mata mereka saling bertemu—dan kesadaran itu datang bersamaan.
“Ohh...” Aura spontan mendorong tubuh Pras, wajahnya merah padam. Kedua lengannya menyilang menutupi dada dan bagian bawahnya. Ia lupa... ia masih mengenakan gaun yang nyaris tembus pandang itu.
Di depan paman suaminya.
Bukan hanya Aura yang salah tingkah. Pras juga tampak canggung. Namun ia segera bertindak, menarik selimut dari atas tempat tidur dan menyampirkannya ke tubuh Aura.
“Maaf,” ucap Aura pelan, nyaris tak terdengar.
Pras tak berkata apa-apa. Hanya menatapnya, sejenak. Wajahnya serius, namun ada sesuatu dalam tatapan itu yang sulit dijelaskan. Bukan hanya kasihan—tapi mungkin... lebih dari itu.
.
.
.
<Next>
Pras langsung menoleh, matanya berbinar dengan senyum nakal yang melebar. “Kenapa tidak? Ini yang aku tunggu-tunggu, Sayang!” Ia tertawa senang, persis seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan impiannya.“Semangat sekali, Pak?” Aura mencubit lengan Pras gemas.“Harus semangat, dong! Sejak tahu kau hamil, kita jarang 'heboh'.” ujarnya, lalu membelai pipi Aura dan menambahi, “Karena dokter bilang kondisimu sangat baik, jadi sekarang saatnya kita puas-puasin, ya?”Aura hanya mengangguk. Memberikan persetujuan. Dia juga kembali merindukan kegiatan membara mereka. Yang tadi pagi kurang heboh. Aura ingin lebih dari hal itu.Pras langsung memacu mobilnya menuju hotel langganannya. Ia bahkan sudah meminta Riko, asistennya, untuk mengurus check-in agar mereka bisa langsung masuk.“Mas? Kenapa minta Riko yang urus sih? Mas bisa sendiri, kan? Malu tahu!” gerutu Aura saat mereka memasuki kamar hotel yang mewah dengan sprei putih bersih.“Itu sudah tugas asisten, Ra,” jawab Pras santai se
Pras sudah mengerahkan seluruh rayuannya malam itu. Ia membisikkan kata-kata manis, janji setia, hingga permintaan maaf yang tulus agar Aura tidak termakan oleh racun yang disebarkan Veny.Namun, ego wanita yang sedang terluka sulit ditembus. Aura tetap memilih tidur memunggungi Pras, membiarkan keheningan malam menjadi pembatas di antara mereka.Pras hanya bisa menghela napas panjang, mencoba bersabar. Ia tahu, Aura tidak pernah bisa marah terlalu lama. Besok pagi, badai ini pasti berlalu.Benar saja, saat fajar menyingsing, jam biologis dan ikatan batin tak bisa berbohong. Dalam remang fajar, tangan kekar Pras secara tidak sadar merengkuh pinggang ramping istrinya, menarik tubuh Aura agar merapat dalam kuasanya.Aura yang masih setengah mengantuk tak menolak. Kehangatan itu meluluhkan sisa-sisa kekesalan semalam. "Permainan" pagi itu berjalan seperti biasanya—penuh desah dan lenguhan kenikmatan yang membuktikan bahwa raga mereka selalu menemukan jalan untuk bersatu.Pada akhirnya, m
“Veny lagi sibuk di dunia seni peran. Aku pernah lihat kok di TV,” ujar Vanesha.Aura mungkin jarang mengikuti acara hiburan. Hidupnya lebih banyak diisi urusan rumah, anak, dan pekerjaan Pras. Berbeda dengan Vanesha, yang sempat patah hati dan menghabiskan hari-harinya dengan menonton televisi. Dari sanalah ia tahu kabar tentang Veny.Aura menoleh. “Seni peran?”“Iya,” angguk Vanesha. “Katanya dapat peran kecil di sinetron stripping. Awalnya cuma muncul sebentar, figuran. Tapi sekarang mulai sering. Kabarnya…” Vanesha berhenti sejenak, menurunkan suara, “…dia dekat sama sutradaranya.”“Dekat bagaimana?” Aura masih terdengar polos.“Ya masa kamu enggak paham, Ra?” Vanesha menatapnya heran.Aura mendengus kesal. “Kebiasaan lama memang. Pasti dapat sesuatu dengan menggoda pria.” Nada muaknya tak bisa disembunyikan.Vanesha tak membantah. Ia mulai memahami tabiat Veny. Kabar perselingkuhan wanita itu dulu pun masih sering jadi bahan gunjingan sampai sekarang. Hanya saja, Vanesha belum tah
Mikayla tampak tak nyaman. Perdebatan terakhir mereka masih membekas dalam-dalam di relung hatinya. Kata-kata Veny—mamanya sendiri—terlalu kejam untuk dilupakan. Wanita itu mengutuknya, menyebutnya anak durhaka. Bahkan sempat mengatakan sesuatu yang membuat jiwa Mikayla remuk berkeping-keping: bahwa ia menyesal tidak membunuh janin di dalam rahimnya dulu.Lebih dari sekadar kemarahan, Mikayla akhirnya memahami satu hal yang paling menyakitkan. Selama ini, Veny hanya memperalatnya. Berpura-pura menjadi ibu yang peduli, padahal yang dipikirkan hanyalah bagaimana memanfaatkan putrinya demi kepentingan pribadi. Demi apa pun yang ingin ia capai.Buktinya jelas. Saat Mikayla terpuruk dan harus menjalani rehabilitasi, Veny bukannya memberi dukungan. Wanita itu justru kesal. Marah. Menganggap kehadiran Mikayla di panti rehabilitasi sebagai beban yang merepotkan hidupnya.“Mika?” sapa Veny, menatap putrinya yang hanya diam, tak menyambut. “Kau tak mau memeluk mamamu ini?”Mikayla melirik Pras
Hari ini ada kabar baik dari tempat rehabilitasi Mikayla. Anak itu dinyatakan sudah boleh keluar. Konselornya sudah menghubungi Pras selaku wali, menyampaikan bahwa perkembangan mental Mikayla menunjukkan kemajuan yang signifikan.Saat Pras menyampaikan kabar itu pada Aura, tentu saja wanita itu langsung tersenyum lega. Apalagi komunikasi antara dirinya dan Mikayla belakangan mulai membaik.Sesekali Aura mengirim pesan pada petugas rehabilitasi, sekadar menanyakan kabar. Dan yang membuat hatinya semakin hangat, Mikayla kini kerap membalas sendiri. Mengatakan bahwa kondisinya sudah jauh lebih baik. Bahwa dia sering merindukan rumah. Merindukan beruang besar di kamarnya. Juga merindukan Oma Eliyas dan semua orang.Karena itulah Aura mengusulkan membuat pesta kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan anak itu.“Tidak apa ya, Sayang?” ucap Aura pada Pras. “Kita harus menunjukkan ke Mikayla kalau dia tidak sendiri. Ingat kata konselornya. Dia masih dalam taraf pascarehabilitasi. Masih butuh
“Kenapa sih, Mas?” Aura menoleh, menatap suaminya yang sejak tadi setia mengintil di belakangnya.Pras justru membalasnya dengan senyum-senyum aneh, seolah menyembunyikan sesuatu. Tatapan itu membuat Aura heran sekaligus penasaran.“Tidak apa, Sayang,” tutur Pras lembut. Tangannya terulur, mengambil kresek berisi mangga dari genggaman Aura. “Sudah beli mangganya? Mau beli yang lain?” tanyanya ringan.“Sudah, Sayang.” Aura berjalan berdampingan dengannya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. “Nanti Mas kesiangan ke kantor. Bukannya tadi bilang hari ini banyak dokumen yang harus ditandatangani?” ingatnya.“Tidak apa. Kalau kamu masih mau ke mana gitu, aku antar, kok.” Pras tetap menawarkan, suaranya sabar.“Enggak, Sayangku. Aku tidak mau Mas terlalu sering menelantarkan pekerjaan karena urusanku,” tolak Aura halus.Pras tak lagi mendesaknya. Ia tahu betul, di kantor sana para asisten dan sekretaris sudah menunggunya sejak pagi. Setumpuk dokumen menanti untuk dipelajari dan di







