Share

6. Mengantar Suami Berangkat

Penulis: Kafkaika
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-23 00:18:54

Aura dan Arman tiba di rumah Oma Eliyas pagi itu. Sang Nyonya Besar sudah menunggu mereka di ruang makan, dengan sarapan yang tersaji rapi. Wajahnya berseri melihat pasangan muda itu datang.

“Wah, kau tambah cantik saja, Aura. Berapa lama kita tak bertemu? Oma sampai pangling,” ucapnya hangat.

Aura tersenyum malu. “Ah, Oma bisa saja...”

Arman memandang istrinya penuh kebanggaan. Aura memang berdandan lebih cantik pagi ini. Ia ingin tampil sempurna, agar suaminya membawa kenangan yang indah sebelum berangkat ke Oxford.

“Dukung semua langkah suamimu, Ra,” ucap Oma kemudian, serius namun lembut. “Dia sedang meniti masa depannya.”

“Iya, Oma. Aura pasti dukung Mas Arman sepenuhnya.”

Nyonya Eliyas mengelus lembut lengan Aura, isyarat kasih yang tak banyak kata. Ia memang sangat menyayangi cucunya, dan kini berusaha juga menyayangi menantunya seperti anak sendiri.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar. Pras muncul dari arah lorong, hanya mengenakan kaus abu-abu yang melekat pas di tubuhnya. Meski santai, kharismanya tetap tak luntur. Ia duduk di kursi kosong, tepat di samping Aura.

Aura menunduk sopan. “Selamat pagi, Om.”

“Pagi, Aura,” jawab Pras singkat, dengan senyum tipis dan suara bariton khasnya. “Lanjutkan sarapanmu.”

Sejak kehadiran Pras, Aura jadi lebih diam. Ia tidak bisa seleluasa tadi saat mengobrol dengan sang Oma. Lagi pula Aura juga masih malu atas kejadian semalam. Dia hampir telanjang di depan pria ini. Jadi, bertemu Pras, ada rasa canggung yang tak bisa dijelaskan. Perasaan bersalah itu seperti jarum, menusuk perlahan setiap kali ia berhadapan dengan Pras.

Arman, seolah tak menyadari kecanggungan itu, justru bertingkah iseng. Ia merangkul Aura sambil menoleh ke pamannya.

“Om, Oma tadi memuji istriku cantik. Menurut Om, gimana? Aura cantik, nggak?”

“Mas, apa-apaan sih...” Aura menyikut pelan suaminya.

Oma tertawa geli melihat keisengan cucunya. Pras hanya mengangkat wajah, menatap Aura sejenak—dan entah mengapa, Aura merasa tatapan itu terlalu dalam, seolah ia bisa membaca semua yang tersembunyi.

Hmm, cantik...” jawab Pras akhirnya. “Pintar kamu cari istri.”

Arman tersenyum lebar, bangga atas validasi pamannya. Aura hanya bisa ikut tersenyum, meski jantungnya sempat berdetak tak menentu.

Selesai sarapan, Arman datang mengabari bahwa mereka harus segera berangkat ke bandara untuk check-in. Aura langsung bergerak ke dalam, memeriksa kembali barang-barang suaminya, memastikan tak ada yang tertinggal.

Namun tiba-tiba, dari belakang, terdengar suara berat yang mengejutkan.

“Siapa yang akan antar ke bandara?”

Aura menoleh cepat. Dia melihat Pras sudah berdiri tak jauh darinya. “Om Pras?”

“Mungkin sopir, Om,” jawabnya ragu.

“Biar aku saja yang antar,” ucap Pras, singkat, penuh otoritas.

Ketika Arman tahu Pras yang akan mengantarnya, dia langsung setuju, bahkan tampak senang. Aura hanya diam, menuruti rencana yang berubah itu.

Di dalam mobil, Arman duduk di kursi depan bersama Pras. Aura di belakang, memandangi punggung mereka dalam diam.

“Tante Veni kapan balik, Om?” tanya Arman memecah keheningan.

“Entahlah. Mungkin minggu depan,” jawab Pras dengan nada datar.

“Sabar, Om. Bisa tampil di London itu kan prestasi besar. Tante pasti bangga.”

Pras menoleh sedikit. “Jangan sok menceramahi aku. Kau sendiri bagaimana? Sudah punya istri cantik, malah ditinggal kuliah ke luar negeri?”

Aura tak berani ikut campur. Tapi dari kaca spion, ia sempat menangkap tatapan Pras ke arahnya. Dua kali. Mungkin tiga. Tatapan yang membuat Aura harus berpura-pura melihat ke luar jendela.

“Aku hanya ingin memperkuat kualifikasi, Om. Setahun saja. Aura mengerti, kok,” jawab Arman santai.

Ia menoleh ke belakang. “Kau nggak keberatan, kan, Sayang?”

Aura tersenyum, walau terasa berat. “Kalau itu yang terbaik untuk Mas Arman, aku akan mendukung.”

Arman tertawa kecil, lalu menepuk pundak Pras. “Lihat kan, Om? Istriku tahu yang terbaik buat suaminya.”

Aura tersenyum, tapi dadanya terasa kosong. Jika hatinya bisa dibelah, akan tampak luka kecil karena terlalu sering ditinggalkan, bahkan saat masih bersama. Dukungan yang ia berikan terasa seperti selimut kebohongan yang ia jahit sendiri untuk menjaga harga diri Arman.

Di bandara, Pras dan Arman berbincang sebentar sebelum keberangkatan. Aura hanya menatap dari kejauhan, lalu melambaikan tangan saat Arman akhirnya masuk ke gate keberangkatan.

Kini hanya mereka berdua. Pras dan Aura. Pria itu berjalan menghampiri Aura yang masih termangu menatap kepergian suaminya.

“Jangan sedih, dia akan sering pulang untukmu,” ujarnya, mengusik lamunan Aura.

“Oh, iya, Om.” Hanya itu ucapan Aura. Karena tak tahu harus bicara apa lagi.

“Mau langsung pulang, atau mampir dulu?” tanya Pras tenang.

“Langsung saja, Om. Tak enak merepotkan Om yang sibuk,” jawab Aura sopan.

“Tak masalah. Mumpung sekalian keluar, aku bisa bekerja dari mana pun.”

Aura kembali terkesan atas perhatian Pras. Tapi ia menahan diri untuk tidak menunjukkan apa pun.

Dalam perjalanan pulang, mereka tak banyak bicara. Aura terlalu canggung, dan Pras tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Keheningan itu bukan kosong, melainkan penuh dengan pikiran dan asumsi yang tak terucapkan.

Sesampainya di rumah, Pras minta izin untuk menggunakan ruang tamu karena harus memimpin rapat daring. Waktunya sudah mepet, dan perjalanan ke kantor tak sempat lagi ditempuh.

“Tentu, Om. Silakan. Mau kubuatkan kopi?” tawar Aura.

Pras hanya mengangguk. Tak lama kemudian, Aura kembali dengan secangkir kopi dan sepiring kecil kue buatannya sendiri.

Hanya saja, kopi itu terguncang karena gerakan kecilnya hingga sedikit tumpah mengenai celana Pras yang sedang duduk di depan laptopnya itu.

“Maaf, Om! Aduh, basah…” Aura spontan mengusap bagian celana yang terkena tumpahan, tidak sadar betapa canggungnya posisinya itu. Tangannya langsung menekan, berusaha membersihkan noda panas itu dengan panik.

Baru beberapa detik kemudian dia menyadari, tangannya terlalu lama diam di sana.

Sementara Pras tak berkata apapun. Dia hanya menatap Aura lama dan dalam…

.

.

.

<Next>

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   308.

    “Gimana sih, Mas Pras? Ini sudah lama lho sejak aku melahirkan, tapi Mas belum juga mengabari orang rumah?”Aura yang baru saja menyerahkan bayinya kepada perawat kini memandangi suaminya dengan sorot mata tajam. Tubuhnya masih lelah setelah proses persalinan, emosinya pun belum sepenuhnya stabil.“Ya habis aku panik tadi, Sayang.” Pras menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya terlihat kikuk, antara bersalah dan malu.“Panik masa seharian, Mas?” Aura mendengus pelan.“Iya, iya… ini aku hubungi orang rumah.”Pras merogoh saku celananya. Kosong. Ia menepuk saku kemeja. Tidak ada. Keningnya berkerut. Baru saat itu ia sadar—ponselnya tidak bersamanya sejak tadi.“Lho…” gumamnya pelan.Aura langsung menangkap perubahan ekspresi itu. “Kenapa lagi?”“Kayaknya… ponselku enggak ada.”“Mas!” Aura membelalak. “Jangan ceroboh begitu, dong. Mas itu orang penting, lho. Kalau ponsel hilang nanti bahaya.”“Amanlah. Mungkin ketinggalan di mobil. Habis ini aku ambil.” Pras mencoba terdengar tenang

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   307.

    Oma Eliyas sedang menerima panggilan dari Arman. Sore itu rumah terasa lengang. Di tangannya, ponsel bergetar ringan, sementara wajahnya tampak tegang ketika menceritakan sedikit tentang masalah yang terjadi pada Mikayla.Arman di seberang sana justru terdengar tenang.“Kau tidak terkejut, Man?” tanya Oma Eliyas, keningnya berkerut.“Mereka sudah ngaku pas ketemu selesai di pemakaman Veny, Oma,” jawab Arman santai.“Mereka ngaku ke kamu?” Nada suara Oma Eliyas meninggi, jelas belum selesai dengan keterkejutannya.“Iya. Awalnya aku cuma heran, bagaimana Devano sangat perhatian pada Mikayla. Dan sebaliknya, Mika juga manja sekali sama Devano. Kelihatan beda. Akhirnya mereka mengaku sudah pacaran.”Oma Eliyas menghela napas panjang. Dikira Mikayla dengan polos dan jujur sudah mengaku sampai sejauh mana hubungan mereka. Ternyata tidak sedetail itu.“Namanya juga anak-anak, Man. Oma saja masih dag-dig-dug membayangkan Mikayla sekecil itu sudah harus hamil dan akan melahirkan.”Arman malah

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   306.

    “Tenang, Pak. Bu Aura hanya kelelahan. Biarkan dia beristirahat dulu,” ujar Dokter Arini dengan suara lembut namun tegas.Pras mengembuskan napas panjang. Sejak tadi dadanya terasa sesak oleh ketakutan yang tak mau ia akui. Kini, mendengar penjelasan itu, pundaknya sedikit turun. Namun ia tetap tak beranjak dari sisi ranjang.Tangannya menggenggam tangan Aura erat-erat, seolah takut wanita itu menghilang jika ia lepaskan. Matanya sembab, kantuk menggantung di pelupuk, tetapi ia menolak tidur. Ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Aura saat membuka mata.…Di rumah, suasana tak kalah tegang.Oma Eliyas yang tadi sempat terpeleset karena tergesa-gesa hendak ke rumah sakit kini duduk dengan wajah kesal. Tari menahannya agar tak memaksakan diri berangkat.“Dulu aku tidak menemani Aura melahirkan. Sekarang kau mau menahanku di rumah seperti orang bodoh?” hardiknya, suaranya bergetar antara marah dan cemas.Tari menunduk hormat, tetapi tetap bersikeras. “Nyonya, biar saya urut dulu ka

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   305. Kepanikan Pras

    Disupiri Tata, Pras mengantar Aura ke rumah sakit. Sepanjang jalan Aura meringis kesakitan, sementara Pras panik bukan main. Ingatannya melayang pada saat Aura melahirkan Axel dulu—penuh ketegangan, penuh rasa takut yang nyaris melumpuhkan.Sampai-sampai dia lupa belum menghubungi dokter yang biasa memeriksa Aura. Ketika Aura bertanya, barulah Pras tersadar dan buru-buru mengambil ponselnya.“Mas? Belum hubungi Dokter Arini?” Meski sambil meringis, Aura masih punya tenaga untuk memarahi suaminya itu.“Iya, ini aku akan hubungi…” Pras menekan tombol panggil. Namun karena sudah terbiasa selalu menghubungi Rico lebih dulu, jemarinya refleks menekan nama asistennya itu.“Halo, Ric?” tukas Pras cepat.Mendengar suaminya malah menghubungi asistennya, Aura makin kesal. Entah karena emosi atau saking sakitnya, ia menjambak rambut pria itu.“Kenapa panggil Rico? Hubungi Dokter Arini, Pak Pras Eliyaaaassss…!”“Auw! Oke, Sayang. Rico nanti bisa menghubungi Dokter Arini, kok!” Pras menahan rasa s

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   304. Keputusan Pras(2)

    “Kami memilih pergi saja. Tidak masalah tidak diakui siapa-siapa di keluarga ini. Tapi kami sudah sepakat untuk mempertahankan bayi kami.”Suara Mikayla gemetar, tetapi keteguhannya tak goyah sedikit pun. Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata, seolah memberi perlindungan pada kehidupan kecil di dalam sana.Devano berdiri di sampingnya, rahangnya mengeras. “Ini kesalahan kami, Mas. Dan bayi ini tidak salah. Tolong jangan minta Mikayla menggugurkannya.”Ruangan itu seketika dipenuhi ketegangan. Udara terasa berat, seperti menekan dada siapa pun yang berada di sana.“Pras, kenapa sekarang kau seegois itu?” suara Oma Eliyas meninggi. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia benar-benar tak bisa menahan emosinya.“Kau meminta Mikayla melakukan Aborsi? Di amna hati nuranimu, Pras?” Kata aborsi itu seperti pisau di telinga Oma Eliyas.Oma Eliyas masih ingat betul masa mudanya—betapa sulitnya ia memiliki anak. Catatan medisnya dulu penuh dengan kalimat yang membuatnya nyaris pu

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   303. Keputusan Pras

    “Setelah itu aku langsung masuk ke kamar Devan. Melihat Devano sibuk dengan dirinya sendiri, aku yang memaksanya membantu. Lalu semuanya pun terjadi…”Suara Mikayla terdengar bergetar karena harus menahan rasa malu dan salah. Kepalanya menunduk dalam ke lantai tak berani menatap semua orang yang terdiam mendengar cerita bagaimana kedua anak muda itu sampai melampaui batasannya.Pras menghela sedangkan Aura meliriknya seolah melempar sebuah peringatan karena kebiasannya yang suka nyosor di sembarang tempat.Kalau dulu mereka tinggal di apartemen hanya berdua tanpa siapapun itu masih bisa dimaklumi. Tapi, saat ini mereka tinggal bersama keluarga besar yang lain. Tidak boleh sembarangan melakukan hal itu. Lihat saja sudah ada korban dari sikap sembarangannya ini. Aura jadi terbit sebalnya. Awas saja kalau suaminya itu masih merasa tak bersalah. “Aku juga minta maaf. Tapi aku dan Mika sudah membicarakan semuanya.” Devan ikutan menyahut. Membantu Mikayla yang sejak tadi berusaha sendir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status