Pupil mata Tiffany melebar, terkejut mendengar jawaban Damien.
"Y-ya?"
Damien tersenyum sinis, "Ya atau tidak, tergantung dirimu. Jika kau mempercayainya, berarti ya. Tetapi jika tidak, maka tidak. Percuma ku jelaskan panjang lebar, jika kau saja tak memiliki kepercayaan padaku."
Adalah benar apa yang dia ucapkan, Tiffany memang belum mempercayai apapun yang dilihatnya sampai detik ini. Namun, meski ragu-ragu wanita itu pun bersuara.
"Em ... mungkin dunia kita berbeda, tapi aku akan berusaha percaya padamu, Tuan. Entah kenapa aku yakin Tuan memiliki sisi baik yang tak diketahui banyak orang."
Jawabannya membuat Damien tertegun, seolah tak percaya dengan apa yang didengar. "Kau yakin? Aku bukan orang baik, Tiffany. Aku dibesarkan dengan cara berbeda. Penuh kebohongan, kekerasan, dan penghianatan, orang seperti aku tak pantas kau percaya," katanya dengan nada rendah.
"Dunia ini kejam. Bahkan orang yang paling dekat denganmu, bisa menjadi musuh dalam selimut," imbuh Damien.
"Aku tau, tetapi aku memilih tetap mempercayaimu, Tuan."
Lagi, jawaban Tiffany berhasil membuat Damien terdiam. Rasa hangat menjalar ke dalam hatinya. Itu adalah rasa yang belum pernah Damien rasakan sebelumnya. Dipercaya? Sungguh?
"Jika kau percaya padaku, pertahankan sikap patuh mu. Dengan begitu, aku akan melindungimu apapun yang terjadi. Mengerti?"
Tiffany mengangguk.
____________
Bandara Internasional JFK, New York
Damien dan Tiffany terlihat keluar dari terminal, berjalan cepat menuju area parkir VIP, dimana sebuah mobil mewah dengan body hitam mengkilap menunggu di sana. Mereka masuk ke dalamnya, dan mulai melaju menyusuri jalanan New York.
Tiffany duduk diam di kursi belakang, pandangannya tertuju ke luar jendela, takjub melihat lampu-lampu kota yang gemerlap indah. Sementara di sebelahnya Damien tetap tenang, fokusnya hanya tertuju ke depan.
"Kenapa dia diam saja? Ah, aku lupa. Dia kan kaya raya, artinya sudah terbiasa melihat hal-hal seperti ini," batin Tiffany, bibirnya mengukir senyum getir, "Sedangkan aku, setiap hari hanya mengurus rumah atau membajak sawah. Untung saja sekarang sudah terbebas dari itu semua."
Kurang dari 20 menit, akhirnya mereka tiba di gedung apartemen tengah kota. Memasuki lobi yang luas dan indah, namun sunyi. Mereka berjalan menuju lift eksklusif yang hanya bisa diakses oleh pemilik apartemen atau orang-orang tertentu. Lift itu membawa mereka ke lantai paling atas.
Begitu pintu lift terbuka, seketika Tiffany terpana. Apartemen Damien lebih dari yang ia bayangkan, ruangannya sangat luas dengan dinding kaca menghadap langsung ke pemandangan kota New York. Lampu yang berkilauan memberi kesan seolah mereka berada di puncak dunia.
"Kita akan menemui klien malam ini juga, jadi bersiaplah sesegera mungkin," perintah Damien sukses membuyarkan ketakjuban Tiffany.
"I-iya, Tuan," jawabnya mengangguk. Satu hal yang pasti, Tiffany tidak bisa berlama-lama menikmati keindahan yang tampak di depan mata, sebab itu semua milik Damien. Dia tidak lebih dari seekor anak rusa yang terperangkap di kandang buaya.
____________
Pukul 20:00
Tiffany mengekor di belakang Damien, mereka masuk ke dalam restoran mewah dengan keanggunan yang tak bisa disangkal. Dari kejauhan terlihat seorang pria bersetelan jas hitam duduk di meja sudut, tempat paling eksklusif yang terlindungi oleh tirai tipis.
"Hei, Freedy," sapa Damien menyapanya dengan santai, seolah mereka teman lama yang baru kembali berjumpa.
"Ou, Damien. Akhirnya kau datang," balas Freedy berdiri, sedikit membungkuk sebagai bentuk penghormatan.
Mereka pun duduk di kursi masing-masing, tetapi tidak dengan Tiffany yang tetap berdiri di sisi kiri Damien. Mendengarkan dengan bijak apa yang kedua pria itu diskusikan.
"Kerjasama kita tidak hanya sekedar uang, melainkan kekuasaan dan kontrol. Apa yang kita bicarakan akan merombak struktur yang ada, dan kita akan menguasai jalur distribusi yang belum pernah tersentuh," ungkap Damien memulai pembicaraan, kemudian melanjutkan.
"Kita akan menggunakan jaringan distribusi ilegal untuk mendekati target strategis. Mulai dari level paling bawah, merangkul perlahan, dan mengatur langkah tanpa mereka sadari."
Dadanya berdebar kencang mendengar pernyataan Damien, entah seberapa dalam kekuasaan yang tuannya miliki. Sungguh, Tiffany merasa semakin terperangkap dalam dunia gelap dan penuh berbahaya, yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Aku setuju. Tapi sebelum melangkah lebih jauh, aku ingin bicara dengan gadismu," ujar Freedy tersenyum miring, tatapan intensnya seolah ingin menelanjangi wanita itu.
Risih, itu yang saat ini Tiffany rasakan menyadari tatapan Freedy yang penuh nafsu. Ditambah lagi peringatan Damien untuk tetap diam masih terngiang di telinga. Situasi tersebut membuatnya bingung harus melakukan apa. Menyetujui atau menolak?
"Ma-maaf, Tuan. Aku ingin ke toilet, perutku mual," pamit Tiffany, suaranya terdengar cemas. Tanpa menunggu persetujuan ia pergi begitu saja.
Sesampainya di toilet, barulah dia dapat bernapas lega. Dua sampai empat menit berlalu, Tiffany berusaha menenangkan detak jantungnya yang seolah hendak terlepas dari sarang. Setelah dirasa tenang, dia pun keluar. Namun langkahnya terjeda ketika melihat sosok pria berpakaian serba hitam, dilengkapi masker senada.
"S-siapa kamu?"
Pria itu tak langsung menjawab, dia mengulurkan secarik kertas putih berisi sederet tulisan, "Datang ke alamat ini, jika kau ingin tahul ebih banyak tentang kematian ayahmu, yang disebabkan oleh Damien."
Malam ketiga tanpa Tiffany.Damien terduduk di sofa ruang kerjanya, menatap kosong segelas bourbon yang belum sempat ia sentuh. Matanya sayu, ada lingkaran hitam samar yang mulai terbentuk di bawahnya. Kemeja hitam yang biasanya rapi kini kusut, beberapa kancingnya terbuka, memperlihatkan lehernya yang tegang karena kurang tidur.Rico, yang berdiri di sudut ruangan, menghela napas pelan. Sudah tiga hari ini bosnya berubah. Tidak ada umpatan, tidak ada perintah keras, bahkan tidak ada baku hantam dengan siapa pun. Hanya tatapan kosong dan sikap melankolis yang bikin bulu kuduknya merinding.“Bos,” panggil Rico hati-hati.Damien tidak menoleh. Rico mendekat, menunggu respon yang tak kunjung datang. Ia pun memberanikan diri duduk di hadapan bosnya, menatapnya seakan sedang menghadapi pasien patah hati. “Tuan, maaf sebelumnya … tapi Anda ini Damien Rael, bos mafia paling ditakuti seantero Italia. Masa akhir-akhir ini galau karena ditinggal a
Damien masih menatap Rico dengan tajam, sorot matanya menuntut jawaban lebih dari sekadar omong kosong. Nafasnya memburu, pikirannya penuh tanda tanya yang kian menyesakkan dada. "Cepat ceritakan atau kepalamu akan kupenggal?!" Glek! Susah payah Rico menelan ludah sebelum akhirnya mulai berbicara, suaranya berat dan tegang."Sebenarnya, saat tuan menyuruhku mengamankan Tiffany, aku langsung berlari ke kamarnya. Aku tahu dia masih di sana, jadi aku tidak membuang waktu. Tapi..." Rico menghentikan ucapannya sesaat, ekspresinya semakin serius. "Saat aku hampir sampai, aku melihat Jasper keluar dari kamar itu lebih dulu."Damien menyipitkan mata, dahinya mengernyit. "Jasper?"Rico mengangguk cepat. "Ya. Dia berjalan keluar dengan ekspresi tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Aku langsung curiga, tapi aku juga tak bisa langsung menahannya. Jadi aku mempercepat langkah, masuk ke kamar..."Napas Rico sedikit tercekat saat m
"Tapi apa? Cepat jawab! Jangan bertele-tele!" tegas Lucian marah, namun segera menurunkan nada bicara agar tak kedengaran Damien. Jasper mengangkat kepalanya, menatap Lucian dengan wajah tanpa ekspresi. "Aku tidak menemukannya, Tuan." Seketika atmosfer di halaman mansion berubah. Semua orang saling berpandangan, mencoba mencari kepastian dari wajah satu sama lain. Anak buah Lucian mulai gelisah, beberapa menggenggam senjata lebih erat, sementara anak buah Damien tetap dalam posisi siaga, meski kebingungan mulai merayap di benak mereka.Damien menajamkan pandangannya, napasnya tertahan di tenggorokan karena pembicaraan Bloodstone tidak terdengar. Matanya beralih ke arah Rico, berharap mendapatkan jawaban dari tangan kanannya itu. Namun, Rico hanya menggeleng perlahan, ekspresinya tetap tegas tanpa keraguan."Lelucon macam apa ini?" Lucian akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar berbahaya, seperti bara api yang siap membakar habis apa pun di ha
Angin segar berembus dingin, tetapi terasa menyesakkan, bercampur dengan hawa kematian yang menggantung di udara. Damien berdiri tegak di depan mansionnya, berhadapan langsung dengan Lucian Amato yang kini menatapnya dengan mata berkilat penuh kebencian. Di sampingnya, ada Jasper yang berdiri sambil menyeringai licik menunggu perintah.Belum sempat mereka buka suara, tiba-tiba Dor!Suara tembakan pertama meledak, memecah kesunyian.Peluru menembus udara, nyaris menghantam kaki Damien. Refleksnya bekerja cepat. Dengan gerakan sigap, ia melompat mundur dan berlindung di balik salah satu pilar besar di depan mansionnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tetapi karena amarahnya yang mulai mendidih."Manusia gila!" umpat Damien..Melalui celah perlindungan, Damien melirik sekilas ke arah lawannya. Alih-alih mundur atau gentar dengan ancamannya tadi, Lucian justru berdiri gagah, seolah mengejeknya. Lalu, denga
Angin pagi berembus kencang saat Damien melangkah keluar dari mansion. Begitu pintu besar terbuka, pemandangan di depannya segera memenuhi pandangan, halaman luasnya kini dipenuhi oleh ratusan orang bersenjata, berdiri tegap dalam formasi yang mengancam.Di garis depan, berdiri dua sosok yang tak asing.Lucian Amato, pria bertubuh tegap dengan mata gelap yang kini menyala oleh amarah. Di sampingnya, Jasper, tangan kanannya yang setia, memegang pistol dengan santai, namun ancaman jelas terasa di udara.Damien tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Ia tetap berdiri tegak di depan pintu mansionnya, mengenakan setelan hitamnya yang sempurna, tangan dimasukkan ke dalam saku jas seolah ini bukan apa-apa.Lucian mengangkat sebuah dokumen yang diremas di tangan. Kertas itu kusut, menunjukkan betapa marahnya ia sebelum datang ke sini.“Dokumen ini, kau pikir aku tidak akan tahu kalau ini palsu?”ucap Lucian dengan lantang dan penuh amarah. B
Pagi itu langit tampak kelabu, seolah ikut merasakan kelelahan yang masih menggelayuti tubuh Tiffany. Sinar matahari yang menembus jendela hanya redup, tak mampu sepenuhnya mengusir hawa dingin yang menyelimuti kamarnya.Tiffany duduk di ranjang dengan punggung bersandar pada kepala ranjang, selimut tebal membungkus tubuhnya yang masih terasa menggigil. Kepalanya sedikit berat, tenggorokannya kering, dan kulitnya terasa lebih panas dari biasanya. Demam. Dia benar-benar jatuh sakit.Dia menghela napas pelan, menatap ke luar jendela dengan tatapan penuh kekecewaan. Seharusnya hari ini dia sudah bersiap untuk mendaki, mencari ayahnya, memastikan kebenaran kata-kata Damien. Tapi sekarang, tubuhnya sendiri malah mengkhianatinya.Suara langkah kaki di luar pintu membuyarkan lamunannya. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan muncullah sosok Damien dengan setelan yang lebih santai dari biasanya. Tak ada jas mahal atau sepatu kulit berkilau. Hanya kaus hitam po