author-banner
Melvii_SN
Melvii_SN
Author

Novel-novel oleh Melvii_SN

Sejuta Untuk Sekali Menyusui

Sejuta Untuk Sekali Menyusui

"Satu juta per sesi." "Baiklah, tapi siapa yang akan saya susui?" "Saya." * Hanya gara-gara mengasuh bayi yang diambil dari tong sampah, Jihan diceraikan oleh suaminya karena alasan bayinya mengidap penyakit kelainan jantung. Sejak berpisah, Jihan pun banting tulang demi menghidupi bayi itu, hingga nekat menjual ASI-nya terhadap Reynand—CEO perusahaan bergengsi. * Masalah semakin rumit saat Reynand tahu bahwa bayi yang selama ini ia cari ternyata masih hidup, dan tinggal bersama asistennya sendiri.
Baca
Chapter: Bab 82
Suasana kamar mereka malam itu begitu syahdu. Tirai tipis berwarna krem melambai perlahan tertiup angin malam yang menyusup dari celah jendela. Cahaya kuning keemasan dari lampu tidur menciptakan bayangan lembut di dinding, seolah turut menjaga keintiman dua insan yang baru saja diikat oleh janji suci.Reynand duduk bersandar di kepala ranjang, mengenakan piyama sutra berwarna gelap. Di sampingnya, Jihan tampak masih mengenakan gaun tidur panjang berwarna putih gading, duduk dengan tangan bertaut di pangkuannya. Wajahnya redup dalam diam, namun matanya menyiratkan perasaan yang tak mampu didefinisikan hanya dengan kata.“Malam ini terasa seperti mimpi,” gumam Reynand pelan, memecah keheningan.Jihan menoleh, bibirnya tersenyum tipis. “Jika ini mimpi, maka aku tak ingin terbangun.”Reynand menatap lekat wajah istrinya. Ada sesuatu yang damai dalam tatapan itu, sesuatu yang selama ini ia kejar namun baru benar-benar ia temukan malam ini—kehadiran yang tidak hanya diterima, tetapi juga m
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: Bab 81
Hari itu langit begitu bersih seakan mengerti bahwa bumi tengah menyambut satu janji suci yang tak main-main. Di sebuah gedung bergaya arsitektur klasik modern, berbalut putih gading dan sentuhan emas di setiap lengkungannya, acara pernikahan Reynand dan Jihan berlangsung dengan anggun, tanpa cela. Lantunan instrumental dari grand piano mengisi ruangan dengan melodi lembut yang menyatu dengan aroma bunga segar yang menguar dari setiap sudut ruangan.Para tamu datang dengan pakaian formal bernuansa nude dan pastel, menambah kesan teduh dan elegan. Meja-meja bundar berhias lilin kaca dan buket mawar putih dikelilingi oleh kursi dengan pita emas yang diikat rapi. Cahaya lampu gantung kristal menari pelan di langit-langit, menciptakan atmosfer yang tidak hanya mewah, namun juga menghangatkan hati siapa pun yang hadir.Di tengah sorotan lembut, berdirilah Reynand dengan jas abu tua yang menjulang gagah, berdasi hitam polos dan sepatu mengilap. Wajahnya tenang namun matanya memancarkan sin
Terakhir Diperbarui: 2025-08-03
Chapter: Bab 80
Jihan terdiam. Suara di seberang tidak segera menjawab, tapi Reynand tidak bisa lagi menahan desakan dalam dadanya. Kalimat itu mengalir begitu saja—tanpa rencana, tanpa konsep, namun penuh dengan keyakinan yang telah tumbuh dari kegelisahan dan cinta yang tak lagi bisa ia sembunyikan."Menikah... minggu depan?" ulang Jihan lirih, seolah kalimat itu terlalu asing untuk dicerna dalam sekejap."Ya," ujar Reynand mantap, suaranya rendah namun tak bergetar. “Kita sudah terlalu lama menangguhkan kebahagiaan. Aku tidak ingin menunda lagi, Jihan. Bukan karena ingin terlihat sempurna di mata orang. Bukan karena tekanan dari siapa pun. Tapi karena aku tahu... kamu adalah rumahku. Dan aku ingin Rangga merasa aman berada dalam rumah itu.”Di seberang, Jihan mulai terisak lagi. Tapi tangis itu berbeda. Tangis kali ini seperti air yang menetes perlahan dari gelas yang terlalu penuh—bukan karena luka, tapi karena keharuan. Karena perasaan tidak percaya bahwa setelah semua badai, seseorang bisa masi
Terakhir Diperbarui: 2025-07-31
Chapter: Bab 79
Telepon itu berdering begitu pelan, namun di tengah malam yang sunyi, suara itu terdengar seperti denting lonceng dari kejauhan yang menggema ke relung dada Reynand. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama sepersekian detik, lalu berdegup kencang, hampir tak tertahankan. Dengan sigap, ia meraih ponsel dari meja kecil di sisi ranjang, menekan tombol hijau, dan segera menempelkannya ke telinga.“Assalamu’alaikum...” Suara Jihan terdengar lirih, nyaris seperti bisikan yang retak oleh tangis yang tak jadi pecah.“Wa’alaikumussalam, Jihan...” jawab Reynand, suaranya serak, seolah ia baru saja menelan pil yang terlalu besar—pahit dan menyumbat tenggorokannya.Hening.Sejenak hanya suara napas yang terdengar dari dua sisi. Tidak berat, tidak pula tenang—gelisah dan canggung. Reynand menahan desakan untuk langsung bertanya banyak hal. Ia tahu, satu kata kasar saja akan membuat perempuan itu kembali menutup diri.“Terima kasih sudah menghubungiku,” ucap Reynand lembut, mencoba menjembatani
Terakhir Diperbarui: 2025-07-31
Chapter: Bab 78
Langit malam menggantung kelam di atas rumah kecil bergaya minimalis milik Nayla. Lampu temaram dari ruang tengah menyorot samar bayangan dua wanita yang duduk berdekapan di atas sofa berlapis kain abu-abu. Aroma teh chamomile menyebar hangat, namun tak mampu menyamarkan hawa getir yang menguar dari tubuh Jihan yang gemetar dalam tangis.Tangis itu bukan sekadar sedih. Ia mengandung luka, sesak, dan ketakutan yang tak terucapkan selama ini."Aku... aku benar-benar tidak kuat, Nayla…" Jihan terisak, bahunya terguncang hebat. "Tadi... saat kami bermain, Rangga menatapku dengan matanya yang polos dan bertanya... 'Bunda, Bunda beneran Bunda Rangga?'” Suaranya pecah, lamat-lamat, seakan satu kata pun menambah beban di dadanya yang nyaris meledak.Nayla, yang sedari tadi duduk di sampingnya, hanya bisa merengkuh tubuh sahabatnya ke dalam pelukan. Dibelainya punggung Jihan pelan-pelan, penuh kelembutan, seperti menenangkan seorang anak yang terluka."Jihan... Rangga tidak bermaksud menyakiti
Terakhir Diperbarui: 2025-07-29
Chapter: Bab 77
Langit mulai menggelap saat mobil Reynand berhenti di gang sempit yang penuh kenangan. Hujan belum turun, tapi awan kelabu menggantung berat di atas kepalanya, seolah ikut merunduk bersama dadanya yang sesak.Ia turun dari mobil, langkahnya terburu, hampir tersandung batu kecil yang mencuat di jalan tanah. Nafasnya memburu. Jaketnya hanya menggantung separuh bahu karena tergesa keluar rumah tadi.Matanya menyapu barisan rumah-rumah kontrakan di kiri jalan. Matanya menangkap satu pintu yang tak asing, berwarna biru pudar dengan bekas goresan di sisi kanan.Di situlah dulu Jihan tinggal. Sendirian. Mengasuh anak. Bertahan hidup. Tanpa siapa pun.Tangannya mengepal."Kenapa kamu balik ke tempat ini, Jihan? Kalau pun iya, kenapa kamu gak bilang?"Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kontrakan. Ia mengetuk cepat. Sekali. Dua kali.Tak lama, daun pintu terbuka, menampakkan wajah seorang wanita paruh baya yang sudah akrab di ingatannya."Bu Rani?" sapanya buru-buru, suaranya terdengar be
Terakhir Diperbarui: 2025-07-29
Dalam Penjara Bos Mafia

Dalam Penjara Bos Mafia

Karena dirinya hanya anak pungut, Tiffany dipaksa menggantikan kakaknya sebagai asisten pribadi Damien Rael, bos mafia yang dikenal kejam dan arogan. Tak punya pilihan lain, Tiffany terjebak dalam dunia gelap penuh bahaya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai melihat sisi lain dari pria itu yang tak terungkap sebelumnya. Akankah benih-benih cinta muncul di antara mereka? Atau justru Tiffany terjebak semakin dalam ke permainan berbahaya yang dijalani Damien?
Baca
Chapter: Bab 58
Malam ketiga tanpa Tiffany.Damien terduduk di sofa ruang kerjanya, menatap kosong segelas bourbon yang belum sempat ia sentuh. Matanya sayu, ada lingkaran hitam samar yang mulai terbentuk di bawahnya. Kemeja hitam yang biasanya rapi kini kusut, beberapa kancingnya terbuka, memperlihatkan lehernya yang tegang karena kurang tidur.Rico, yang berdiri di sudut ruangan, menghela napas pelan. Sudah tiga hari ini bosnya berubah. Tidak ada umpatan, tidak ada perintah keras, bahkan tidak ada baku hantam dengan siapa pun. Hanya tatapan kosong dan sikap melankolis yang bikin bulu kuduknya merinding.“Bos,” panggil Rico hati-hati.Damien tidak menoleh. Rico mendekat, menunggu respon yang tak kunjung datang. Ia pun memberanikan diri duduk di hadapan bosnya, menatapnya seakan sedang menghadapi pasien patah hati. “Tuan, maaf sebelumnya … tapi Anda ini Damien Rael, bos mafia paling ditakuti seantero Italia. Masa akhir-akhir ini galau karena ditinggal a
Terakhir Diperbarui: 2025-03-13
Chapter: Bab 57
Damien masih menatap Rico dengan tajam, sorot matanya menuntut jawaban lebih dari sekadar omong kosong. Nafasnya memburu, pikirannya penuh tanda tanya yang kian menyesakkan dada. "Cepat ceritakan atau kepalamu akan kupenggal?!" Glek! Susah payah Rico menelan ludah sebelum akhirnya mulai berbicara, suaranya berat dan tegang."Sebenarnya, saat tuan menyuruhku mengamankan Tiffany, aku langsung berlari ke kamarnya. Aku tahu dia masih di sana, jadi aku tidak membuang waktu. Tapi..." Rico menghentikan ucapannya sesaat, ekspresinya semakin serius. "Saat aku hampir sampai, aku melihat Jasper keluar dari kamar itu lebih dulu."Damien menyipitkan mata, dahinya mengernyit. "Jasper?"Rico mengangguk cepat. "Ya. Dia berjalan keluar dengan ekspresi tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Aku langsung curiga, tapi aku juga tak bisa langsung menahannya. Jadi aku mempercepat langkah, masuk ke kamar..."Napas Rico sedikit tercekat saat m
Terakhir Diperbarui: 2025-03-13
Chapter: Bab 56
"Tapi apa? Cepat jawab! Jangan bertele-tele!" tegas Lucian marah, namun segera menurunkan nada bicara agar tak kedengaran Damien. Jasper mengangkat kepalanya, menatap Lucian dengan wajah tanpa ekspresi. "Aku tidak menemukannya, Tuan." Seketika atmosfer di halaman mansion berubah. Semua orang saling berpandangan, mencoba mencari kepastian dari wajah satu sama lain. Anak buah Lucian mulai gelisah, beberapa menggenggam senjata lebih erat, sementara anak buah Damien tetap dalam posisi siaga, meski kebingungan mulai merayap di benak mereka.Damien menajamkan pandangannya, napasnya tertahan di tenggorokan karena pembicaraan Bloodstone tidak terdengar. Matanya beralih ke arah Rico, berharap mendapatkan jawaban dari tangan kanannya itu. Namun, Rico hanya menggeleng perlahan, ekspresinya tetap tegas tanpa keraguan."Lelucon macam apa ini?" Lucian akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar berbahaya, seperti bara api yang siap membakar habis apa pun di ha
Terakhir Diperbarui: 2025-03-13
Chapter: Bab 55
Angin segar berembus dingin, tetapi terasa menyesakkan, bercampur dengan hawa kematian yang menggantung di udara. Damien berdiri tegak di depan mansionnya, berhadapan langsung dengan Lucian Amato yang kini menatapnya dengan mata berkilat penuh kebencian. Di sampingnya, ada Jasper yang berdiri sambil menyeringai licik menunggu perintah.Belum sempat mereka buka suara, tiba-tiba Dor!Suara tembakan pertama meledak, memecah kesunyian.Peluru menembus udara, nyaris menghantam kaki Damien. Refleksnya bekerja cepat. Dengan gerakan sigap, ia melompat mundur dan berlindung di balik salah satu pilar besar di depan mansionnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tetapi karena amarahnya yang mulai mendidih."Manusia gila!" umpat Damien..Melalui celah perlindungan, Damien melirik sekilas ke arah lawannya. Alih-alih mundur atau gentar dengan ancamannya tadi, Lucian justru berdiri gagah, seolah mengejeknya. Lalu, denga
Terakhir Diperbarui: 2025-03-13
Chapter: Bab 54
Angin pagi berembus kencang saat Damien melangkah keluar dari mansion. Begitu pintu besar terbuka, pemandangan di depannya segera memenuhi pandangan, halaman luasnya kini dipenuhi oleh ratusan orang bersenjata, berdiri tegap dalam formasi yang mengancam.Di garis depan, berdiri dua sosok yang tak asing.Lucian Amato, pria bertubuh tegap dengan mata gelap yang kini menyala oleh amarah. Di sampingnya, Jasper, tangan kanannya yang setia, memegang pistol dengan santai, namun ancaman jelas terasa di udara.Damien tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Ia tetap berdiri tegak di depan pintu mansionnya, mengenakan setelan hitamnya yang sempurna, tangan dimasukkan ke dalam saku jas seolah ini bukan apa-apa.Lucian mengangkat sebuah dokumen yang diremas di tangan. Kertas itu kusut, menunjukkan betapa marahnya ia sebelum datang ke sini.“Dokumen ini, kau pikir aku tidak akan tahu kalau ini palsu?”ucap Lucian dengan lantang dan penuh amarah. B
Terakhir Diperbarui: 2025-03-12
Chapter: Bab 53
Pagi itu langit tampak kelabu, seolah ikut merasakan kelelahan yang masih menggelayuti tubuh Tiffany. Sinar matahari yang menembus jendela hanya redup, tak mampu sepenuhnya mengusir hawa dingin yang menyelimuti kamarnya.Tiffany duduk di ranjang dengan punggung bersandar pada kepala ranjang, selimut tebal membungkus tubuhnya yang masih terasa menggigil. Kepalanya sedikit berat, tenggorokannya kering, dan kulitnya terasa lebih panas dari biasanya. Demam. Dia benar-benar jatuh sakit.Dia menghela napas pelan, menatap ke luar jendela dengan tatapan penuh kekecewaan. Seharusnya hari ini dia sudah bersiap untuk mendaki, mencari ayahnya, memastikan kebenaran kata-kata Damien. Tapi sekarang, tubuhnya sendiri malah mengkhianatinya.Suara langkah kaki di luar pintu membuyarkan lamunannya. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan muncullah sosok Damien dengan setelan yang lebih santai dari biasanya. Tak ada jas mahal atau sepatu kulit berkilau. Hanya kaus hitam po
Terakhir Diperbarui: 2025-03-12
Candu Belaian Tuan Miliader

Candu Belaian Tuan Miliader

"Kita menikah karena ketidaksengajaan, jadi jangan berharap lebih karena aku tak menginginkan mu, Tuan." "Mulutmu berkata 'tidak', tapi tubuhmu mengatakan 'ya'. Bagaimana kamu menjelaskan ketidaksinkronan itu?" "M-maksud, Tuan?" Mulut Raisa ternganga lebar saat Anggara Darenarendra—pria yang tiba-tiba menjadi suaminya itu menunjukkan video dimana Raisa menggeliat, memeluk, dan memohon di bawah kungkungan Anggara agar segera menyatukan diri mereka. Sementara pada saat sadar, dengan angkuhnya Raisa menolak Anggara. Pernikahan mereka bermula dari ketidaksengajaan, pengkhianatan, dan keterpaksaan yang membuat dunia Raisa berubah dalam sekejap mata. Ia hidup mewah, bergelimang harta, serta dapat membalas dendam pada orang-orang yang telah menzaliminya. Namun, ada satu hal yang tak bisa Raisa ungkapkan kebenarannya, yaitu tentang perasaannya terhadap Anggara. Ditambah lagi, mantan kekasih pria itu terus mencoba merebut kembali hatinya. Hanya satu yang pasti, Raisa memiliki candu terhadap sentuhan Anggara.
Baca
Chapter: Bab 8 Permusuhan
Bab 8Pernyataan dingin yang keluar dari mulut Anggara terngiang-ngiang bak gema di dinding kamar yang sunyi. Sentuhan ibu jari pria itu di garis bibir bawah Raisa terasa membakar—sebuah sensasi aneh yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya, memicu denyut halus yang asing sekaligus mendebarkan di dalam dada.Raisa mematung. Matanya menatap lurus pada manik mata elang di depannya. Di sana, tidak ada keraguan, tidak ada belas kasihan. Hanya ada dominasi mutlak yang dibungkus dengan ketampanan yang sangat berbahaya.Namun, tepat sebelum jiwanya benar-benar tersedot oleh aura mengintimidasi itu, bayangan wajah Angga Sebastian yang tertawa mengejek di depan kantor catatan sipil mendadak melintas di kepalanya.“Kamu cuma staff toko florist yang gajinya kecil sekali. Kita tidak selevel!”Suara itu bekerja bagaikan air es yang disiramkan ke kepala Raisa. Kesadarannya tertarik kembali secara paksa. Rasa hangat yang sempat menyelinap di dadanya seket
Terakhir Diperbarui: 2026-09-30
Chapter: Bab 7 Posesif
Deru mesin mobil sport milik Anggara akhirnya meredup saat kendaraan mewah itu melintasi gerbang besi tempa berukuran raksasa yang terbuka secara otomatis. Mobil itu membelah jalan setapak beraspal mulus, membelah pekarangan hijau seluas lapangan sepak bola dengan air mancur bertingkat di bagian tengahnya, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pilar-pilar megah bergaya klasik modern.Kediaman utama keluarga Darenarendra.Raisa menatap keluar jendela dengan napas tertahan. Kemewahan bangunan di depannya begitu megah, namun baginya, tempat ini tak ubahnya sebuah sangkar emas yang baru saja siap mengurungnya."Turun," perintah Anggara datar seraya mematikan mesin mobil.Pria itu keluar lebih dulu. Sebelum Raisa sempat berpikir untuk mengunci diri di dalam kabin, pintu di sisinya sudah dibukakan oleh Evan yang menyambut mereka dengan sikap hormat."Selamat datang di rumah, Nyonya Darenarendra," sapa Evan membungkuk sopan.Rai
Terakhir Diperbarui: 2026-09-29
Chapter: Bab 6
Jantung Raisa serasa berhenti berdetak saat itu juga. Sentuhan tangannya pada lengan kokoh Anggara mendadak terasa membakar kulitnya sendiri. Dengan panik, Raisa bermaksud menarik diri dan membuka pintu mobil untuk kembali melarikan diri, namun terlambat.Satu tangan kekar Anggara bergerak kilat menyambar pergelangan tangan Raisa, sementara tangan lainnya menekan tombol kunci otomatis.Ctek.Pintu mobil sport itu terkunci rapat."Ingin lari ke mana lagi, Raisa?" suara Anggara bergema dalam kabin mobil yang sempit, begitu berat, dingin, dan sarat akan dominasi mutlak.Raisa mencengkeram sabuk pengaman, matanya liar menatap belasan pria berjas hitam yang kini sudah mengepung luar mobil sport tersebut. Evan, yang baru saja berlari terengah-engah, memberikan hormat tunduk di balik kaca jendela pengemudi."P-lepaskan aku! Biarkan aku keluar!" jerit Raisa dengan suara bergetar hebat. Wajahnya yang pucat pasi kini memerah akibat perpaduan rasa takut, panik, dan malu yang teramat sangat karen
Terakhir Diperbarui: 2026-09-28
Chapter: Bab 5 Akhir Dari Pencarian
Rencana matang Anggara untuk mengepung area kos Raisa ternyata meleset dari perkiraan. Usaha belasan anak buahnya yang berjaga dalam senyap di sekitar Gang Kelinci sejak tengah malam terbuang sia-sia. Mereka tidak tahu bahwa kamar kos di lantai dua itu sudah kosong sejak kemarin malam.Tepat saat semburat merah subuh mulai memecah langit, Raisa baru saja turun dari angkutan kota dengan langkah gontai. Gadis itu tidak berada di kosnya, melainkan baru saja menempuh perjalanan melelahkan dari rumah ibu tirinya di pinggiran kota."Dasar anak tidak tahu untung," gumam Raisa lirih, meniru makian ibu tirinya semalam dengan senyum getir. "Menyesal rasanya aku pulang ke kampung. Lagipula, aku pun tak tau kenapa aku memilih pulang kemarin. Ah... dasar orangtua kejam."Raisa merapatkan jaket tudungnya, mencoba menghalau hawa dingin subuh sekaligus menyembunyikan wajahnya yang pucat. Perutnya berbunyi nyaring, memprotes karena sejak kemarin malam tidak ada satu pun makanan yang masuk. Berniat men
Terakhir Diperbarui: 2026-07-09
Chapter: Bab 4 Informasi Terbaru
"Tuan... Tuan... Bangun Tuan..."Satu kedipan. Dua kedipan.Aroma keringat, karet lantai gym, dan sensasi dingin yang mendadak menepuk pipinya dengan agak kurang ajar membuat kesadaran Anggara ditarik paksa dari trotoar jalanan malam yang sepi.Pandangannya yang semula kabur perlahan memfokus, menangkap bayangan siluet wajah yang sangat familiar di atasnya. Bukan wajah Raisa dengan senyum sinisnya yang menantang, melainkan wajah cemas Evan yang memegang sebuah handuk kecil dan botol air mineral.Anggara mengerang rendah. Rasa sakit menjalar di punggung dan lehernya. Pria itu baru menyadari dirinya masih terduduk di lantai, bersandar pada tiang besi tepat di bawah samsak gantung yang masih bergoyang pelan. Dia ketiduran karena saking lelahnya. Semua konfrontasi intens dengan Raisa tadi hanyalah proyeksi dari otaknya yang terlalu stres."T-Tuan Anggara? Anda tidak apa-apa?" suara Evan memecah keheningan ruang gym, terdengar sangat berhati-hati. "Saya tadi ke sini karena ada dokumen daru
Terakhir Diperbarui: 2026-07-09
Chapter: Bab 3 Menemukannya?
Di sisi lain kota, atmosfer di dalam ruang kerja utama kediaman megah keluarga Darenarendra terasa begitu mencekik. Ruangan luas berlantai marmer hitam itu hening, hanya menyisakan deru napas tertahan dari Evan yang berdiri membeku di depan meja kerja jati yang besar.Di balik meja itu, Anggara duduk tegak. Setelan jasnya sudah berganti dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. Sepasang mata elangnya menatap dingin lembar dokumen pernikahan di atas meja, sebelum akhirnya perlahan mendongak, menusuk tepat ke manik mata asisten pribadinya."Jadi kamu datang ke hadapanku hanya membawa kabar kosong, Evan?"Evan menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai bercucuran melewati pelipisnya. Ia menunduk dalam, tidak berani membalas tatapan dominan sang atasan. "M-maaf, Tuan Anggara. Tim kami sudah menyisir radius lima kilometer dari kantor catatan sipil, termasuk memeriksa CCTV di sekitar ga
Terakhir Diperbarui: 2026-07-09
Anda juga akan menyukai
Mayat-Mayat Hidup
Mayat-Mayat Hidup
Thriller · Ari Keling
2.8K Dibaca
Dendam Sang Biduan
Dendam Sang Biduan
Thriller · Nathalie
2.8K Dibaca
SHIELD
SHIELD
Thriller · Dewi Norma
2.8K Dibaca
No One
No One
Thriller · lilly
2.8K Dibaca
Killer from the future
Killer from the future
Thriller · Meimei
2.8K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status