Share

05.

Author: silent-arl
last update publish date: 2026-04-07 17:34:32

Di penthouse, suasana tidak lagi sunyi. Koper kecil milik Tatiana yang entah bagaimana berhasil diamankan oleh anak buah Kaliel dari gerbong kereta kini tergeletak terbuka di tengah lantai marmer.

Tatiana berlutut, napasnya memburu. Ia melempar baju-baju, alat rias, dan beberapa bungkus camilan ke segala arah. Tangannya merogoh hingga ke dasar koper, berharap menemukan benda itu.

"Harusnya di sini... aku yakin memasukkannya tadi," bisik Tatiana, suaranya bergetar.

Buku itu. Buku I Will Die For You yang selalu ia bawa untuk pembanding. Satu-satunya bukti bahwa dunia ini adalah imajinasinya. Tapi, koper itu kosong dari kertas apa pun. Naskah itu lenyap, seolah-olah semesta sedang menghapus jejak pelariannya.

Tatiana terduduk lemas di antara tumpukan pakaiannya. Ia menatap tangannya yang gemetar. Dinginnya lantai marmer, aroma kayu mahoni, bahkan tekstur kain bajunya terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

"Kalau dugaanku benar, aku tidak mati," gumamnya, matanya mulai panas. "Aku terjebak. Aku masuk ke dalam neraka yang kubuat sendiri." ia mengacak rambutya. 

Tatiana membuat buku ini dalam keadaan sangat bersemangat dalam mengobrak abrik sebuah tokoh. Dan… Kaliel-lah korbannya, Tatiana bahkan memberikan akhir tragis bagi Elise demi menghukum Kaliel.

“Ya Tuhan, ampuni aku.” dia mengadahkan tangan, entah pada siapa yang jelas ia ingin sekali keluar dari sini.

***

Sementara itu, di sebuah rumah mewah di tengah kota, tempat yang selama ini dianggap Kaliel sebagai tempat paling aman, suasana justru terasa menyesakkan.

Setelah makan malam yang gagal itu, mereka kembali ke kamar mereka. 

Lampu kamar utama redup, menyisakan bayangan dua tubuh yang berpaut di atas ranjang king size. Aroma parfum vanila Elise yang manis memenuhi indra penciuman Kaliel. Di bawah remang cahaya, Elise terlihat sangat menggoda, jemarinya mencengkeram bahu tegap Kaliel sementara bibirnya membisikkan kata-kata cinta yang selama ini didengar pria itu.

Kaliel melakukan tugasnya sebagai kekasih. Ia mencium Elise, membiarkan hasratnya memimpin. Namun, ada yang salah.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sentuhan Elise terasa... hambar.

Setiap kali Elise mendesah, Kaliel justru teringat pada benda perak di dalam tas hitam tadi. Pulpen berisi racun yang entah sejak kapan Elise simpan. Setiap kali Elise memeluknya erat, Kaliel teringat pada tatapan sedih Tatiana yang mengatakan bahwa Elise adalah mata-mata.

Pikiran Kaliel melayang ke penthouse. Ia membayangkan Tatiana yang sendirian, sedang merencanakan sesuatu yang gila lagi

"Kaliel?" bisik Elise, suaranya serak karena gairah, matanya menatap Kaliel dengan heran karena pria itu mendadak berhenti. "Ada apa? Kau tidak fokus malam ini."

Kaliel menjauhkan tubuhnya, duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Otot punggungnya yang kokoh menegang. Rasa mual yang aneh muncul di perutnya. Ia tidak bisa menikmati ini. Ia tidak bisa menyentuh wanita yang mungkin akan menusuknya saat ia tertidur.

"Aku sedang lelah, Elise. Tidurlah lebih dulu," ujar Kaliel dingin, tanpa menoleh.

Elise menutupi tubuhnya dengan selimut, memijat punggung Kaliel. “Apa ada yang membuatmu stress di kerjaan?”

Kaliel mengedikan bahu. “Tidak usah dipikirkan, lebih baik aku mandi dulu.”

Dada Kaliel terasa panas, amarahnya seperti sedang mendirih. Bukan pada Elise, tapi pada dirinya sendiri yang tidak bisa lagi melihat dunianya dengan cara yang sama. Tatiana telah menghancurkan fantasinya, dan sekarang, Kaliel merasa asing di rumahnya sendiri.

***

Kaliel melangkah keluar dari kamar mandi dengan sisa uap panas yang masih menyelimuti tubuhnya. Ia hanya mengenakan celana tidur kain hitam yang menggantung rendah di pinggulnya, memperlihatkan garis otot perutnya yang keras, persis seperti yang pernah Tatiana tulis dengan penuh semangat dalam bukunya.

Rambut hitamnya yang basah berantakan, tetesan air mengalir lambat melewati rahang tegas, turun ke leher, dan menghilang di sela-sela otot dadanya yang bidang. Aroma sabun yang segar bercampur dengan uap panas membuatnya terlihat sangat berbahaya sekaligus menggoda.

"Aku ada urusan di kantor. Tidurlah lebih dulu," ujar Kaliel dingin pada Elise yang masih bergelung di bawah selimut. Tanpa menunggu jawaban, ia menyambar kemeja hitamnya dan melangkah keluar dengan tatapan mata yang sudah tidak sabar untuk meledak.

***

Tiga puluh menit kemudian, pintu penthouse mendesis terbuka. Kaliel masuk dengan langkah lebar, kemeja hitamnya tidak dikancingkan sepenuhnya, menampakkan sisi liar yang jarang ia tunjukkan. Ia sudah siap untuk menyeret Tatiana, menuntut penjelasan tentang pengkhianatan Elise yang menghancurkan hatinya.

Namun, langkahnya terhenti seketika. “Astaga,” keterkejutan Kaliel tergambar dari ekspresinya.

Di tengah lantai marmer yang dipenuhi tumpukan pakaian, Tatiana tidak sedang menangis atau mencoba kabur. Gadis itu sedang melakukan headstand, bersandar pada dinding marmer yang dingin.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kaliel menyilangkan tangan di depan dada. Dia tidak terbiasa dengan pemandangan ini di rumahnya yang biasa sepi.

Tatiana tidak bergerak, wajahnya sudah memerah karena posisi terbalik itu. Matanya yang bulat menatap kaki telanjang Kaliel dari perspektif yang aneh.

"Oh, kau sudah pulang?" suara Tatiana terdengar sedikit tercekik. "Jangan memasang wajah seperti itu, Kaliel. Aku sedang mencoba mendinginkan kepalaku. Kau tahu... sepertinya semua darahku menumpuk di satu tempat dan aku perlu mendistribusikannya kembali supaya otakku bisa berpikir jernih."

Kaliel mematung. Ia menatap kaki mungil Tatiana yang bergoyang sedikit di udara, lalu menatap wajah merah gadis itu yang tampak sangat serius dengan teorinya. Amarah yang tadinya mendidih di dada Kaliel mendadak terasa... ringan.

"Turun sekarang juga sebelum kau mematahkan lehermu sendiri," perintah Kaliel. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan wajah terbalik Tatiana.

"Tunggu, satu menit lagi. Aku sedang merencanakan bagaimana caraku keluar dari sini," gumam Tatiana pelan, suaranya makin serak. "Ternyata menulis nasib buruk untuk orang lain itu jauh lebih mudah daripada memperbaikinya saat orang itu berdiri di depanmu dengan dada bidang yang... wow, ototmu benar-benar nyata ya."

Kaliel menghela napas kasar, frustrasi yang ia rasakan mencapai puncaknya. Tanpa aba-aba, ia meraih pinggang Tatiana dan menurunkan tubuh gadis itu dengan paksa.

“Aduh! Pelan-pelan, gravitasi itu kejam, Kaliel!" protes Tatiana saat kakinya kembali menyentuh lantai. Ia sempoyongan sejenak, membuat kepalanya pening, dan ia refleks mencengkeram lengan bawah Kaliel yang kokoh untuk menjaga keseimbangan.

Begitu pandangannya fokus, Tatiana mendongak. Jantungnya hampir melompat keluar. Di depannya berdiri Kaliel, setengah telanjang, dengan rambut setengah basah dan tatapan mata biru yang sanggup menembus sukmanya.

"Darahmu sudah kembali ke tempatnya?" tanya Kaliel, tangannya masih melingkar di pinggang Tatiana, mencegah gadis itu jatuh.

Tatiana menelan ludah, wajahnya yang tadi merah karena headstand kini makin memanas karena alasan lain. "I-iya... sepertinya sekarang darahku malah menumpuk di pipi." ia mengecap bibirnya. Pria fiksi memang yang terbaik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 150 (end)

    Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Luke Kalien, bocah kecil yang dulu lahir prematur di usia delapan bulan dan sempat membuat ayah serta ibunya tak bisa melepaskan pandangan di ruang NICU, kini sudah bertumbuh menjadi balita aktif yang pandai berjalan, bahkan berlari ke sana kemari.Pagi itu, tepat tiga tahun setelah kelahiran Luke. Kehidupan di Sektor Onyx sudah banyak berubah. Kaliel, yang dulunya selalu menuntut kendali penuh atas segala urusan, kini telah resmi mundur dari berbagai jabatan birokrasi yang merepotkan.Pria itu sekarang lebih memilih memonitor seluruh pergerakan bisnis dan wilayahnya langsung dari rumah yang nyaman. Bagi Kaliel saat ini, melangkah keluar dari rumah adalah hal yang paling menyebalkan di dunia. Ia sudah cukup dengan segala hiruk-pikuk luar dan hanya ingin menikmati ketenangannya.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 149

    Kamar suite terbaik yang disewa Kaliel memiliki dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah Rumah Sakit Pusat Sektor Onyx. Di depan jendela itu, Tatiana berdiri diam, menatap lampu-lampu rumah sakit yang benderang di kejauhan dengan tatapan kosong dan penuh kerinduan.Kaliel melangkah mendekat tanpa suara, lalu melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Tatiana dari belakang. Ia menarik tubuh istrinya bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya, mencoba menyalurkan kehangatan dan rasa aman."Jangan suka menyiksa dirimu," bisik Kaliel rendah, tepat di tengkuk Tatiana. "Luke tidak sendirian di sana dan kau tidak perlu merasa bersalah."Kaliel membalikkan sedikit tubuh Tatiana agar wanita itu bisa melihat sudut pandang yang i

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 148

    Ketegangan yang sempat mencekam koridor rumah sakit itu mendadak luruh ketika pintu ganda ruang tindakan darurat kembali terbuka. Dokter melangkah keluar, melepas masker medisnya, dan langsung menyunggingkan senyum lebar yang penuh kelegaan."Semua selamat, Tuan Kaliel," ujar dokter itu dengan nada mantap. "Ibu dan bayinya berhasil melewati masa kritis. Jagoan kecil Anda lahir dengan selamat melalui tindakan vakum darurat, dan Nyonya Tatiana saat ini sudah sadar kembali, meskipun kondisinya masih sangat lemas."Mendengar kalimat itu, bahu kaku Kaliel yang sejak tadi tegang langsung merosot. Kepalan tangannya perlahan melonggar, dan helaan napas panjang lolos dari bibirnya.Tanpa membuang waktu, Kaliel segera melangkah masuk ke dalam ruang perawatan pasca operasi. Di sana, di atas ranjang yang bersih, Tatiana berbari

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 147

    Melihat celah kecil di antara himpitan mobil, mata Kaliel menangkap kilatan lampu rotator merah-biru yang berjarak sekitar lima puluh meter di depan mereka. Sebuah ambulans sektor kebetulan sedang berada di lokasi kecelakaan, baru saja selesai mengevakuasi korban tabrakan beruntun.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kaliel menarik pintu mobilmya hingga terbuka lebar. Ia keluar dari kabin sambil mendekap tubuh pucat Tatiana dengan protektif, melangkah lebar dan cepat menerobos sela-sela kendaraan yang berhenti total.Para pengendara lain yang terjebak macet sempat menoleh dengan pandangan ngeri dan segan melihat sosok pria yang kerap berseliweran di majalah bisnis Sektor Onyx berjalan dengan aura sedingin es, menggendong seorang wanita yang lemah di bawah siraman lampu jalan."Buka pintunya!" titah Kaliel menggeleg

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 146

    Suasana kamar sudah sepenuhnya sunyi ketika jarum jam dinding melewati angka dua malam. Hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan lampu tidur yang menyelimuti ranjang besar mereka.Kaliel, yang sejak tadi tidak benar-benar terlelap, perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Tatiana masih terjaga, bersandar malas dengan mata yang sayu namun menatapnya balik. Keheningan malam itu mendadak terasa pekat oleh sisa gairah yang sempat mereka tunda beberapa jam lalu.Mencoba peruntungannya, Kaliel bergeser mendekat. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap tengkuk Tatiana, lalu menunduk, mendaratkan kecupan dalam dan lembut di bibir istrinya. Ciuman yang awalnya pelan itu perlahan berubah menjadi hisapan menuntut yang sarat akan kerinduan sebulan penuh.Ketika tautan bibir mereka terlepas, Kaliel

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 145

    Sore itu, angin berembus perlahan, membawa kesejukan di teras depan rumah yang megah. Sesuai dengan saran dokter untuk lebih banyak menghirup udara segar, Tatiana duduk santai di kursi malas yang nyaman. Salah satu tangannya bergerak telaten, mengelus permukaan perutnya yang terasa tenang dan lembut.Anehnya, sejak Kaliel berangkat ke kantor pagi tadi, si kecil di dalam kandungan sama sekali tidak membuat ulah. Tidak ada tendangan beruntun, tidak ada gerakan heboh yang membuat ibunya kesakitan seperti beberapa hari lalu.Tatiana menunduk, menatap perut buncitnya dengan senyum kecil yang geli sekaligus heran. "Kenapa kau sangat diam saat tidak ada Ayah, Nak?" bisiknya lembut, suaranya mengalun pelan di keheningan sore.Ia mengetuk pelan perutnya dengan ujung jari, mencoba memancing respons yang tak kunjung datang. "K

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   04.

    Kaliel menyambar liontin safir itu dari tangan Tatiana dengan gerakan yang sangat cepat, seolah takut kulit Tatiana akan mengotori peninggalan ibunya lebih lama pergi. Ia menggenggam kalung itu erat di telapak tangannya, menatap Tatiana dengan amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi yang amat s

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   03.

    Setelah melemparkan informasi soal Elise, Tatiana merasa tugasnya sudah selesai. Ia merasa sudah menjadi "arwah" yang cukup baik karena telah memperingatkan tokoh ciptaannya sendiri. Sekarang, ia hanya ingin pergi ke tempat yang seharusnya. Surga."Ya sudah kalau begitu. Anggap saja itu hadiah perp

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   02.

    Cengkeraman di dagu Tatiana terasa begitu nyata. Dingin, keras, dan menuntut jawaban. Namun, alih-alih gemetar ketakutan seperti karakter Elise yang biasanya ia tulis, otak Tatiana yang sedang error justru mengirimkan sinyal yang salah."Wah..." gumam Tatiana pelan. Matanya yang bulat menatap lurus

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   01.

    Suara ketukan bolpoin di atas meja kayu itu terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati. Tatiana mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha menahan gemetar yang merambat dari ujung jarinya."Lima ratus juta, Tatiana. Itu kerugian yang harus kami tanggung karena skandal ini," suara Pak Bram, sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status