LOGINCengkeraman tangan Kaliel di pinggang Tatiana tidak melonggar, justru semakin mengunci. Jarak mereka begitu dekat hingga Tatiana bisa merasakan hawa panas yang menguar dari dada bidang Kaliel yang tak tertutup kemeja dengan sempurna.
"Jelaskan," desis Kaliel. Suaranya rendah, bergetar oleh perpaduan antara amarah dan rasa penasaran yang menyiksa. "Bagaimana kau tahu soal pulpen itu? Bagaimana kau tahu soal laci rahasia itu? Katakan padaku siapa yang memberimu informasi ini sebelum aku kehilangan kesabaranku."
Tatiana terdiam sesaat. Ia menatap mata biru Kaliel yang berkilat tajam. Mata yang ia tulis sebagai 'samudera yang sanggup menenggelamkan siapa pun yang berani menantangnya'.
"Kaliel... dengarkan aku," Tatiana memulai,. Ia mencoba melepaskan diri, tapi kekuatan Kaliel jauh di atasnya. "Meski terdengar sangat tidak masuk akal, dan kau mungkin akan menganggapku lebih gila dari sebelumnya... percaya padaku. Aku adalah... penulis duniamu."
Kaliel membeku. Alisnya bertaut rapat, menatap Tatiana seolah gadis itu baru saja berbicara dalam bahasa kuno yang tak dimengerti. "Penulis? Apa maksudmu? Kau bekerja di biro sensus? Atau kau bagian dari intelijen Sektor Onyx yang menyusun profilku?"
"Aku harap juga begitu, sayangnya semua jawaban salah." Tatiana menggeleng cepat. "Maksudku... aku yang menciptakanmu. Sektor Onyx, apartemen lantai 99, burung hantu putih itu, bahkan pengkhianatan Elise... semuanya berasal dari kepalaku. Aku yang menulis setiap kata, setiap luka, dan setiap langkah yang kau ambil."
Tatiana tidak berani melanjutkan kalimatnya. Ia tidak sanggup mengatakan bahwa dalam draf aslinya, ia sengaja membuat Kaliel menderita sebagai si 'antagonis sempurna'. Ia memberikan Kaliel kekayaan, tapi merampas kedamaiannya. Ia memberikan Kaliel cinta pada Elise, hanya untuk dihancurkan oleh pengkhianatan yang tragis.
Ia telah 'menghajar' karakter pria di depannya ini habis-habisan demi sebuah plot yang dramatis yang banyak diminati.
Kaliel tertawa kecil, tawanya penuh dengan nada sindirian. Ia melepaskan satu tangannya dari pinggang Tatiana hanya untuk mencengkeram dagu gadis itu, memaksanya menatap lurus ke matanya.
"Jadi kau ingin aku percaya bahwa hidupku, rasa sakitku, dan semua usahaku membangun Onyx hanyalah coretan tinta di kertasmu?" cengkeraman Kaliel di dagu Tatiana menguat. "Jika kau memang 'Tuhan' di dunia ini, katakan padaku, Penulis... kapan dia akan membunuhku?”
Mata Tatiana melirik ke segela arah, dia masih mengatupkan mulut rapat-rapat. Ternggorokannya sangat kering.
“Jawab aku.” suara itu disertai dengan helaan napas di pipi Tatiana.
Gadis itu akhirnya membuka matanya. “Kapan pun Elise punya kesempatan.”
***
Kaliel melonggarkan cengkramannya. Ia mundur selangkah, menatap Tatiana dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara benci, sangsi, dan rasa ngeri yang dingin. Ia merasa seperti sedang menatap cermin yang retak, wanita di depannya ini mengaku sebagai sumber dari segala kemalangannya.
"Jika kau memang penulisnya," suara Kaliel kembali datar, namun ada nada menantang di sana, "maka ubah ini. Tuliskan akhir di mana aku tidak perlu mati di tangan wanita itu. Tuliskan dunia di mana aku bisa memercayai seseorang."
Tatiana menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. Ia menatap telapak tangannya yang kosong. "Aku tidak bisa melakukannya, Kaliel. Aku juga terdampar di sini. Bahkan aku menganggap diriku sudah mati.”
Tatiana menatap Kaliel dengan tatapan yang hampir terlihat seperti peringatan dini. "Cerita ini sudah bernapas sendiri sekarang. Aku hanya... orang asing yang tahu ke mana arah angin bertiup. Aku tidak bisa menyelamatkanmu hanya dengan menjentikkan jari."
Suasana di penthouse itu mendadak terasa semakin menyesakkan. Tatiana tidak tahan hanya diam terkunci di sini sementara "anak emas"-nya sedang mempersiapkan racun di rumah lain. Ia harus melihatnya. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya memberikan predikat protagonis pada Elise adalah benar.
"Bawa aku menemuinya," ujar Tatiana tiba-tiba, kepalanya mengangguk-angguk.
Kaliel mengerutkan kening. "Menemui siapa?"
"Elise. Aku ingin bicara dengannya. Aku ingin melihat apakah dia memang layak mendapatkan semua pengorbanan yang kutulis untuknya," Tatiana menatap Kaliel lurus-lurus. "Atau mungkin... aku ingin melihat apakah aku telah melakukan kesalahan besar dengan menjadikannya pusat duniamu."
Kaliel terdiam lama. Baginya, permintaan ini adalah langkah tidak masuk akal. Mempertemukan wanita yang mengaku sebagai penciptanya dengan wanita yang sedang berencana membunuhnya adalah resep sempurna untuk bencana.
“Aku tidak akan bilang kalau aku ini… entahlah.” dia memalingkan wajah dan melihat Tutu yang keluar dari jendela untuk mencari mangsanya. “Hanya saja, aku merasa bersalah. Di duniaku, aku kacau dan kau tidak perlu menjadi si kacau bersamaku.”
Mendengar ucapan tulus dan putus asa Titania, membuat Kaliel merasa gusar. Gadis di hadapannya lebih kecil dari Elise, wajahnya bulat dengan pakaian aneh yang ketinggalan jaman. Namun, ada dorongan aneh untuk membantunya.
"Baik," Kaliel mengusap dagunya. "Tapi ingat, di depan Elise, kau adalah sepupu jauhku dari luar sektor. Jika kau mengucapkan satu kata saja tentang 'buku' atau 'penulis', aku akan memastikan lidahmu tidak bisa bicara lagi sebelum Elise sempat meracuniku."
Tatiana hanya mengangguk pelan. Ia tidak takut pada ancaman Kaliel. Ia justru lebih takut pada kenyataan bahwa ia mungkin akan membenci karakter yang selama ini ia puja-puja dalam naskahnya sendiri.
Cengkeraman tangan Kaliel di pinggang Tatiana tidak melonggar, justru semakin mengunci. Jarak mereka begitu dekat hingga Tatiana bisa merasakan hawa panas yang menguar dari dada bidang Kaliel yang tak tertutup kemeja dengan sempurna."Jelaskan," desis Kaliel. Suaranya rendah, bergetar oleh perpaduan antara amarah dan rasa penasaran yang menyiksa. "Bagaimana kau tahu soal pulpen itu? Bagaimana kau tahu soal laci rahasia itu? Katakan padaku siapa yang memberimu informasi ini sebelum aku kehilangan kesabaranku."Tatiana terdiam sesaat. Ia menatap mata biru Kaliel yang berkilat tajam. Mata yang ia tulis sebagai 'samudera yang sanggup menenggelamkan siapa pun yang berani menantangnya'."Kaliel... dengarkan aku," Tatiana memulai,. Ia mencoba melepaskan diri, tapi kekuatan Kaliel jauh di atasnya. "Meski terdengar sangat tidak masuk akal, dan kau mungkin akan menganggapku lebih gila dari sebelumnya... percaya padaku. Aku adalah... penulis duniamu."Kaliel membeku. Alisnya bertaut rapat, menat
Di penthouse, suasana tidak lagi sunyi. Koper kecil milik Tatiana yang entah bagaimana berhasil diamankan oleh anak buah Kaliel dari gerbong kereta kini tergeletak terbuka di tengah lantai marmer.Tatiana berlutut, napasnya memburu. Ia melempar baju-baju, alat rias, dan beberapa bungkus camilan ke segala arah. Tangannya merogoh hingga ke dasar koper, berharap menemukan benda itu."Harusnya di sini... aku yakin memasukkannya tadi," bisik Tatiana, suaranya bergetar.Buku itu. Buku I Will Die For You yang selalu ia bawa untuk pembanding. Satu-satunya bukti bahwa dunia ini adalah imajinasinya. Tapi, koper itu kosong dari kertas apa pun. Naskah itu lenyap, seolah-olah semesta sedang menghapus jejak pelariannya.Tatiana terduduk lemas di antara tumpukan pakaiannya. Ia menatap tangannya yang gemetar. Dinginnya lantai marmer, aroma kayu mahoni, bahkan tekstur kain bajunya terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi."Kalau dugaanku benar, aku tidak mati," gumamnya, matanya mulai panas. "Aku terje
Kaliel menyambar liontin safir itu dari tangan Tatiana dengan gerakan yang sangat cepat, seolah takut kulit Tatiana akan mengotori peninggalan ibunya lebih lama pergi. Ia menggenggam kalung itu erat di telapak tangannya, menatap Tatiana dengan amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi yang amat sangat."Dengar, aku tidak tahu kau ini penyihir, peramal, atau apa pun itu," desis Kaliel, melangkah maju hingga Tatiana terdesak ke pinggiran meja mahoni. "Tapi kau tidak akan keluar dari ruangan ini sampai—"Ponsel di saku mantel Kaliel bergetar. Kaliel mengerang rendah, ia mendengus saat melihat nama yang tertera di layar. Elise.Tatiana, melirik ke arah ponsel itu. "Wah, si pemeran utama wanita sudah menelpon. Dia pasti sudah di kafe Red Moon. Menunggumu sambil memesan latte tanpa gula karena dia sedang diet ketat.”Kaliel memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya. "Demi Tuhan... berhenti bicara seolah kau tahu segalanya.” Ia mengangkat telepon itu. "Ya, Elise? ... Aku sedikit t
Setelah melemparkan informasi soal Elise, Tatiana merasa tugasnya sudah selesai. Ia merasa sudah menjadi "arwah" yang cukup baik karena telah memperingatkan tokoh ciptaannya sendiri. Sekarang, ia hanya ingin pergi ke tempat yang seharusnya. Surga."Ya sudah kalau begitu. Anggap saja itu hadiah perpisahan dariku," ujar Tatiana santai sembari membalikkan badan. Ia menatap ke arah ujung peron yang berpendar cahaya biru. "Ngomong-ngomong, Kaliel... kau tahu di mana arah surga? Aku tidak tahu dimana jalannya.”Kaliel tertegun sejenak. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Gadis ini baru saja membongkar rahasia paling krusial dalam hidupnya, lalu sekarang bertanya arah jalan seolah-olah ia hanya menanyakan letak toilet?"Surga?" Kaliel mendesis, kerutan di keningnya mendalam.Dalam satu gerakan kilat yang tidak sempat ditangkap mata Tatiana, Kaliel sudah berada di belakangnya. Ia mencengkeram lengan Tatiana, memutar tubuh gadis itu, dan menekannya hingga punggung Tatiana m
Cengkeraman di dagu Tatiana terasa begitu nyata. Dingin, keras, dan menuntut jawaban. Namun, alih-alih gemetar ketakutan seperti karakter Elise yang biasanya ia tulis, otak Tatiana yang sedang error justru mengirimkan sinyal yang salah."Wah..." gumam Tatiana pelan. Matanya yang bulat menatap lurus ke arah pori-pori kulit pria di depannya. "Halus banget. Aku nulis dia pakai perawatan apa, ya?"Tanpa aba-aba, Tatiana mengangkat telunjuknya dan... Ia mencolek pipi Kaliel. Sekali. Lalu dua kali, memastikan apakah jari tangannya akan menembus bayangan atau tidak."Lembut," bisik Tatiana dengan wajah tanpa dosa. "Mimpinya terasa nyata banget. Bau parfumnya juga mahal.”Rahang Kaliel menegang. Mata birunya yang sedalam samudra itu berkilat berbahaya. Ia melepaskan dagu Tatiana dengan sentakan kecil, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor."Kau... baru saja menyentuhku?" dengus Kaliel, terdengar seperti geraman singa yang terganggu tidurnya.Tatiana tidak menghiraukan tatapan mem
Suara ketukan bolpoin di atas meja kayu itu terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati. Tatiana mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha menahan gemetar yang merambat dari ujung jarinya."Lima ratus juta, Tatiana. Itu kerugian yang harus kami tanggung karena skandal ini," suara Pak Bram, sang direktur, terdengar datar namun tajam. "Kamu tidak hanya menghancurkan namamu sendiri, tapi juga mencoreng kredibilitas perusahaan kami!"Tatiana mendongak mantap, dia tidak gentar karena dia tahu bukan dirinya yang harus bertanggung jawab. "Saya tidak meniru satu kalimat pun dari buku itu, Pak. Saya menulisnya dari nol. Saya yang menciptakan semua tokohnya! Saya yang—""Cukup!" Seorang editor senior di pojok ruangan menyela dengan dengusan sinis. "Semua penulis amatir yang tertangkap basah akan mengatakan hal yang sama. Faktanya, alur ceritamu identik dengan buku yang terbit di luar negeri itu. Kamu pikir kami bodoh?"Tatiana menghela napas panjang, ia merasa seperti sedang ditelanjangi







