Share

06.

Author: silent-arl
last update publish date: 2026-04-07 17:34:57

Cengkeraman tangan Kaliel di pinggang Tatiana tidak melonggar, justru semakin mengunci. Jarak mereka begitu dekat hingga Tatiana bisa merasakan hawa panas yang menguar dari dada bidang Kaliel yang tak tertutup kemeja dengan sempurna.

"Jelaskan," desis Kaliel. Suaranya rendah, bergetar oleh perpaduan antara amarah dan rasa penasaran yang menyiksa. "Bagaimana kau tahu soal pulpen itu? Bagaimana kau tahu soal laci rahasia itu? Katakan padaku siapa yang memberimu informasi ini sebelum aku kehilangan kesabaranku."

Tatiana terdiam sesaat. Ia menatap mata biru Kaliel yang berkilat tajam. Mata yang ia tulis sebagai 'samudera yang sanggup menenggelamkan siapa pun yang berani menantangnya'.

"Kaliel... dengarkan aku," Tatiana memulai,. Ia mencoba melepaskan diri, tapi kekuatan Kaliel jauh di atasnya. "Meski terdengar sangat tidak masuk akal, dan kau mungkin akan menganggapku lebih gila dari sebelumnya... percaya padaku. Aku adalah... penulis duniamu."

Kaliel membeku. Alisnya bertaut rapat, menatap Tatiana seolah gadis itu baru saja berbicara dalam bahasa kuno yang tak dimengerti. "Penulis? Apa maksudmu? Kau bekerja di biro sensus? Atau kau bagian dari intelijen Sektor Onyx yang menyusun profilku?"

"Aku harap juga begitu, sayangnya semua jawaban salah." Tatiana menggeleng cepat. "Maksudku... aku yang menciptakanmu. Sektor Onyx, apartemen lantai 99, burung hantu putih itu, bahkan pengkhianatan Elise... semuanya berasal dari kepalaku. Aku yang menulis setiap kata, setiap luka, dan setiap langkah yang kau ambil."

Tatiana tidak berani melanjutkan kalimatnya. Ia tidak sanggup mengatakan bahwa dalam draf aslinya, ia sengaja membuat Kaliel menderita sebagai si 'antagonis sempurna'. Ia memberikan Kaliel kekayaan, tapi merampas kedamaiannya. Ia memberikan Kaliel cinta pada Elise, hanya untuk dihancurkan oleh pengkhianatan yang tragis.

Ia telah 'menghajar' karakter pria di depannya ini habis-habisan demi sebuah plot yang dramatis yang banyak diminati.

Kaliel tertawa kecil, tawanya penuh dengan nada sindirian. Ia melepaskan satu tangannya dari pinggang Tatiana hanya untuk mencengkeram dagu gadis itu, memaksanya menatap lurus ke matanya.

"Jadi kau ingin aku percaya bahwa hidupku, rasa sakitku, dan semua usahaku membangun Onyx hanyalah coretan tinta di kertasmu?" cengkeraman Kaliel di dagu Tatiana menguat. "Jika kau memang 'Tuhan' di dunia ini, katakan padaku, Penulis... kapan dia akan membunuhku?”

Mata Tatiana melirik ke segela arah, dia masih mengatupkan mulut rapat-rapat. Ternggorokannya sangat kering.

“Jawab aku.” suara itu disertai dengan helaan napas di pipi Tatiana.

Gadis itu akhirnya membuka matanya. “Kapan pun Elise punya kesempatan.”

***

Kaliel melonggarkan cengkramannya. Ia mundur selangkah, menatap Tatiana dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara benci, sangsi, dan rasa ngeri yang dingin. Ia merasa seperti sedang menatap cermin yang retak, wanita di depannya ini mengaku sebagai sumber dari segala kemalangannya.

"Jika kau memang penulisnya," suara Kaliel kembali datar, namun ada nada menantang di sana, "maka ubah ini. Tuliskan akhir di mana aku tidak perlu mati di tangan wanita itu. Tuliskan dunia di mana aku bisa memercayai seseorang."

Tatiana menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. Ia menatap telapak tangannya yang kosong. "Aku tidak bisa melakukannya, Kaliel. Aku juga terdampar di sini. Bahkan aku menganggap diriku sudah mati.”

Tatiana menatap Kaliel dengan tatapan yang hampir terlihat seperti peringatan dini. "Cerita ini sudah bernapas sendiri sekarang. Aku hanya... orang asing yang tahu ke mana arah angin bertiup. Aku tidak bisa menyelamatkanmu hanya dengan menjentikkan jari."

Suasana di penthouse itu mendadak terasa semakin menyesakkan. Tatiana tidak tahan hanya diam terkunci di sini sementara "anak emas"-nya sedang mempersiapkan racun di rumah lain. Ia harus melihatnya. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya memberikan predikat protagonis pada Elise adalah benar.

"Bawa aku menemuinya," ujar Tatiana tiba-tiba, kepalanya mengangguk-angguk.

Kaliel mengerutkan kening. "Menemui siapa?"

"Elise. Aku ingin bicara dengannya. Aku ingin melihat apakah dia memang layak mendapatkan semua pengorbanan yang kutulis untuknya," Tatiana menatap Kaliel lurus-lurus. "Atau mungkin... aku ingin melihat apakah aku telah melakukan kesalahan besar dengan menjadikannya pusat duniamu."

Kaliel terdiam lama. Baginya, permintaan ini adalah langkah tidak masuk akal. Mempertemukan wanita yang mengaku sebagai penciptanya dengan wanita yang sedang berencana membunuhnya adalah resep sempurna untuk bencana.

“Aku tidak akan bilang kalau aku ini… entahlah.” dia memalingkan wajah dan melihat Tutu yang keluar dari jendela untuk mencari mangsanya. “Hanya saja, aku merasa bersalah. Di duniaku, aku kacau dan kau tidak perlu menjadi si kacau bersamaku.”

Mendengar ucapan tulus dan putus asa Titania, membuat Kaliel merasa gusar. Gadis di hadapannya lebih kecil dari Elise, wajahnya bulat dengan pakaian aneh yang ketinggalan jaman. Namun, ada dorongan aneh untuk membantunya.

"Baik," Kaliel mengusap dagunya. "Tapi ingat, di depan Elise, kau adalah sepupu jauhku dari luar sektor. Jika kau mengucapkan satu kata saja tentang 'buku' atau 'penulis', aku akan memastikan lidahmu tidak bisa bicara lagi sebelum Elise sempat meracuniku."

Tatiana hanya mengangguk pelan. Ia tidak takut pada ancaman Kaliel. Ia justru lebih takut pada kenyataan bahwa ia mungkin akan membenci karakter yang selama ini ia puja-puja dalam naskahnya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 150 (end)

    Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Luke Kalien, bocah kecil yang dulu lahir prematur di usia delapan bulan dan sempat membuat ayah serta ibunya tak bisa melepaskan pandangan di ruang NICU, kini sudah bertumbuh menjadi balita aktif yang pandai berjalan, bahkan berlari ke sana kemari.Pagi itu, tepat tiga tahun setelah kelahiran Luke. Kehidupan di Sektor Onyx sudah banyak berubah. Kaliel, yang dulunya selalu menuntut kendali penuh atas segala urusan, kini telah resmi mundur dari berbagai jabatan birokrasi yang merepotkan.Pria itu sekarang lebih memilih memonitor seluruh pergerakan bisnis dan wilayahnya langsung dari rumah yang nyaman. Bagi Kaliel saat ini, melangkah keluar dari rumah adalah hal yang paling menyebalkan di dunia. Ia sudah cukup dengan segala hiruk-pikuk luar dan hanya ingin menikmati ketenangannya.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 149

    Kamar suite terbaik yang disewa Kaliel memiliki dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah Rumah Sakit Pusat Sektor Onyx. Di depan jendela itu, Tatiana berdiri diam, menatap lampu-lampu rumah sakit yang benderang di kejauhan dengan tatapan kosong dan penuh kerinduan.Kaliel melangkah mendekat tanpa suara, lalu melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Tatiana dari belakang. Ia menarik tubuh istrinya bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya, mencoba menyalurkan kehangatan dan rasa aman."Jangan suka menyiksa dirimu," bisik Kaliel rendah, tepat di tengkuk Tatiana. "Luke tidak sendirian di sana dan kau tidak perlu merasa bersalah."Kaliel membalikkan sedikit tubuh Tatiana agar wanita itu bisa melihat sudut pandang yang i

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 148

    Ketegangan yang sempat mencekam koridor rumah sakit itu mendadak luruh ketika pintu ganda ruang tindakan darurat kembali terbuka. Dokter melangkah keluar, melepas masker medisnya, dan langsung menyunggingkan senyum lebar yang penuh kelegaan."Semua selamat, Tuan Kaliel," ujar dokter itu dengan nada mantap. "Ibu dan bayinya berhasil melewati masa kritis. Jagoan kecil Anda lahir dengan selamat melalui tindakan vakum darurat, dan Nyonya Tatiana saat ini sudah sadar kembali, meskipun kondisinya masih sangat lemas."Mendengar kalimat itu, bahu kaku Kaliel yang sejak tadi tegang langsung merosot. Kepalan tangannya perlahan melonggar, dan helaan napas panjang lolos dari bibirnya.Tanpa membuang waktu, Kaliel segera melangkah masuk ke dalam ruang perawatan pasca operasi. Di sana, di atas ranjang yang bersih, Tatiana berbari

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 147

    Melihat celah kecil di antara himpitan mobil, mata Kaliel menangkap kilatan lampu rotator merah-biru yang berjarak sekitar lima puluh meter di depan mereka. Sebuah ambulans sektor kebetulan sedang berada di lokasi kecelakaan, baru saja selesai mengevakuasi korban tabrakan beruntun.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kaliel menarik pintu mobilmya hingga terbuka lebar. Ia keluar dari kabin sambil mendekap tubuh pucat Tatiana dengan protektif, melangkah lebar dan cepat menerobos sela-sela kendaraan yang berhenti total.Para pengendara lain yang terjebak macet sempat menoleh dengan pandangan ngeri dan segan melihat sosok pria yang kerap berseliweran di majalah bisnis Sektor Onyx berjalan dengan aura sedingin es, menggendong seorang wanita yang lemah di bawah siraman lampu jalan."Buka pintunya!" titah Kaliel menggeleg

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 146

    Suasana kamar sudah sepenuhnya sunyi ketika jarum jam dinding melewati angka dua malam. Hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan lampu tidur yang menyelimuti ranjang besar mereka.Kaliel, yang sejak tadi tidak benar-benar terlelap, perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Tatiana masih terjaga, bersandar malas dengan mata yang sayu namun menatapnya balik. Keheningan malam itu mendadak terasa pekat oleh sisa gairah yang sempat mereka tunda beberapa jam lalu.Mencoba peruntungannya, Kaliel bergeser mendekat. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap tengkuk Tatiana, lalu menunduk, mendaratkan kecupan dalam dan lembut di bibir istrinya. Ciuman yang awalnya pelan itu perlahan berubah menjadi hisapan menuntut yang sarat akan kerinduan sebulan penuh.Ketika tautan bibir mereka terlepas, Kaliel

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 145

    Sore itu, angin berembus perlahan, membawa kesejukan di teras depan rumah yang megah. Sesuai dengan saran dokter untuk lebih banyak menghirup udara segar, Tatiana duduk santai di kursi malas yang nyaman. Salah satu tangannya bergerak telaten, mengelus permukaan perutnya yang terasa tenang dan lembut.Anehnya, sejak Kaliel berangkat ke kantor pagi tadi, si kecil di dalam kandungan sama sekali tidak membuat ulah. Tidak ada tendangan beruntun, tidak ada gerakan heboh yang membuat ibunya kesakitan seperti beberapa hari lalu.Tatiana menunduk, menatap perut buncitnya dengan senyum kecil yang geli sekaligus heran. "Kenapa kau sangat diam saat tidak ada Ayah, Nak?" bisiknya lembut, suaranya mengalun pelan di keheningan sore.Ia mengetuk pelan perutnya dengan ujung jari, mencoba memancing respons yang tak kunjung datang. "K

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   03.

    Setelah melemparkan informasi soal Elise, Tatiana merasa tugasnya sudah selesai. Ia merasa sudah menjadi "arwah" yang cukup baik karena telah memperingatkan tokoh ciptaannya sendiri. Sekarang, ia hanya ingin pergi ke tempat yang seharusnya. Surga."Ya sudah kalau begitu. Anggap saja itu hadiah perp

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   02.

    Cengkeraman di dagu Tatiana terasa begitu nyata. Dingin, keras, dan menuntut jawaban. Namun, alih-alih gemetar ketakutan seperti karakter Elise yang biasanya ia tulis, otak Tatiana yang sedang error justru mengirimkan sinyal yang salah."Wah..." gumam Tatiana pelan. Matanya yang bulat menatap lurus

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   01.

    Suara ketukan bolpoin di atas meja kayu itu terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati. Tatiana mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha menahan gemetar yang merambat dari ujung jarinya."Lima ratus juta, Tatiana. Itu kerugian yang harus kami tanggung karena skandal ini," suara Pak Bram, sa

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   07.

    Matahari Sektor Onyx baru saja merayap naik, memantul pada gedung-gedung kaca yang dingin. Di dalam kendaraan hitam legam milik Kaliel, suasana terasa kaku. Tatiana duduk di kursi penumpang, mencoba merapikan dress kuning cerah yang ia temukan di tumpukan kopernya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status