Share

04.

Author: silent-arl
last update publish date: 2026-04-07 17:34:16

Kaliel menyambar liontin safir itu dari tangan Tatiana dengan gerakan yang sangat cepat, seolah takut kulit Tatiana akan mengotori peninggalan ibunya lebih lama pergi. Ia menggenggam kalung itu erat di telapak tangannya, menatap Tatiana dengan amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi yang amat sangat.

"Dengar, aku tidak tahu kau ini penyihir, peramal, atau apa pun itu," desis Kaliel, melangkah maju hingga Tatiana terdesak ke pinggiran meja mahoni. "Tapi kau tidak akan keluar dari ruangan ini sampai—"

Ponsel di saku mantel Kaliel bergetar. Kaliel mengerang rendah, ia mendengus saat melihat nama yang tertera di layar. Elise.

Tatiana, melirik ke arah ponsel itu. "Wah, si pemeran utama wanita sudah menelpon. Dia pasti sudah di kafe Red Moon. Menunggumu sambil memesan latte tanpa gula karena dia sedang diet ketat.”

Kaliel memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya. "Demi Tuhan... berhenti bicara seolah kau tahu segalanya.” Ia mengangkat telepon itu. "Ya, Elise? ... Aku sedikit terlambat. Ada urusan mendadak di Sektor Onyx. Tunggu di sana."

Suara Elise yang manja dan lembut terdengar samar dari speaker ponsel, membuat Tatiana refleks memutar bola matanya. Duh, kenapa dulu aku menulis dialog Elise se-centil itu? Geli sendiri aku ketika mendengarnya langsung, batin Tatiana sinis.

Begitu panggilan berakhir, Kaliel menatap Tatiana dengan tatapan yang sangat mengancam. Ia menunjuk ke arah sofa dengan telunjuknya.

"Duduk. Di sana. Jangan menyentuh apa pun. Jangan mencoba mendekati jendela, dan jangan berpikir untuk kabur jika kau masih sayang pada nyawamu," perintah Kaliel dengan nada yang tidak boleh dilanggar. "Aku akan kembali dalam satu jam untuk membereskanmu."

Tatiana langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, telapak tangannya terbuka lebar dalam pose "menyerah" yang sangat polos tapi terlihat menyebalkan bagi Kaliel.

"Siap, Bos! Aku tidak akan ke mana-mana," sahut Tatiana dengan nada santai. "Lagipula, sistem keamanan pintumu pakai pemindai retina, kan? Aku tidak punya aksesnya. Jadi, kencan saja yang tenang. Jangan lupa periksa tas Elise saat dia ke toilet, siapa tahu ada sesuatu di sana.”

Kaliel tidak menjawab. Ia hanya memberikan satu tatapan tajam terakhir sebelum berbalik dan melangkah keluar dengan terburu-buru.

Pintu penthouse mendesis tertutup dan terkunci otomatis.

Tatiana mengembuskan napas panjang ia menjatuhkan dirinya ke sofa kulit yang sangat empuk itu dan menatap langit-langit ruangan yang mewah.”

“Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah, aku benar-benar masuk ke dalam bukuku sendiri?” Tatiana menatap sekliling, ia melihat seekor burung hantu putih betenger di sebelah jendela yang terbuka kecil. “Lalu bagaimana caraku pulang?”

***

Lampu kristal di kafe Red Moon memantulkan cahaya temaram yang elegan. Di hadapan Kaliel, Elise duduk dengan anggun. Gaun merah sutranya memeluk tubuh dengan sempurna, kontras dengan kulit porselennya yang seolah tanpa cela.

"Jadi, kasus penipuan asuransi itu benar-benar menguras energiku, Sayang," Elise berujar lembut, suaranya semanis madu. Ia menyesap latte tanpa gulanya, persis seperti yang dikatakan Tatiana. "Menjadi pengacara di firma hukum itu ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Selalu ada saja hal yang harus kukerjakan.”

Kaliel mengangguk, tapi matanya yang biru tampak sedikit kosong. Biasanya, ia akan mengagumi setiap inci wajah Elise. Namun malam ini, bayangan Tatiana yang merangkak di bawah mejanya justru lebih sering muncul di kepalanya. Tanpa sadar ia mengigit bibir bawahnya.

"Kau melamun, Kaliel?" Elise memiringkan kepalanya, jemari lentiknya mengusap punggung tangan Kaliel. "Apa ada masalah di pekerjaanmu?”

"Hanya urusan kecil," jawab Kaliel pendek. Ia menegakkan duduknya. Kenapa dia memesan latte tanpa gula? Kenapa dia memakai gaun merah? Kenapa semua detail ini terasa seperti cerita yang dia hafal?

"Oh, sebentar. Aku harus ke kamar mandi untuk membenarkan riasanku," Elise berdiri dengan gerakan yang sangat lembut. Ia meninggalkan tas tangan kulit hitamnya di atas kursi, tanpa mencurigai apa pun. "Jangan rindu padaku, ya?"

Kaliel mengangguk. Begitu Elise menghilang di balik lorong, Kaliel menatap tas hitam itu. Hatinya bergejolak. Selama ini ia memercayai Elise lebih dari siapa pun, namun peringatan Tatiana terus terngiang dalam kepalanya.

Dengan gerakan yang sangat tenang namun cepat, Kaliel meraih tas itu. Tangannya merogoh ke dalam, melewati beberapa kosmetik mahal dan ponsel, hingga jemarinya menyentuh sebuah benda silinder kecil.

Sebuah pulpen perak yang elegan.

Kaliel menariknya keluar. Ia memutar tutup pulpen itu dengan teliti. Insting mafianya yang tajam langsung menangkap sesuatu yang tidak beres. Tidak ada tinta di dalamnya. Sebagai gantinya, terdapat jarum kecil dengan cairan bening yang beraroma pahit samar di ujungnya.

Ini racun. Batin Kaliel, ia hafal betul bagaimana cara dunia kotor dijalankan.

Kaliel menggertkan rahangnya  hingga otot lehernya menegang. Ia mengembalikan pulpen itu ke dalam tas tepat saat ia melihat bayangan Elise kembali dari kejauhan.

Pikirannya kini benar-benar kacau. Elise, wanita yang ia anggap sebagai cinta terkahirnya ternyata sedang membawa kematian di dalam tasnya. Dan Tatiana, wanita asing yang ia anggap gila ternyata adalah satu-satunya orang yang sudah menyelamatkannya.

"Ada apa, Kaliel? Wajahmu tegang sekali," tanya Elise saat ia kembali duduk, tersenyum manis.

Kaliel menatap Elise, ia tidak bisa langsung percaya pada Tatiana. Dia mengenal Elise beberapa tahun lalu. 

Pria itu mencondongkan tubuhnya, dan meraih tengkuk Elise. Menciumnya dengan dalam, bahkan tak peduli ketika beberapa pengunjung memperhatikan mereka. Aku mencintainya, aku yakin itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   108.

    Tatiana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tangisnya pecah seketika. Tubuhnya gemetar hebat di bawah tekanan rasa bersalah. "Kukira aku tidak akan pernah goyah... aku mengaku aku salah, Kaliel!" seru Tatiana di balik tangannya, suaranya parau dan tersedat. "Tapi sampai detik ini... demi Tuhan, aku tidak mencintainya! Hanya kau, Kaliel. Hanya kau."Kaliel menyeringai, sebuah senyuman pahit dan penuh sarkasme yang memperlihatkan betapa hancur harga dirinya saat ini. "Kau pikir mudah bagiku untuk tidak cemburu pada pria itu?!" cetus Kaliel, matanya menatap Tatiana dengan amarah yang belum reda. "Kau membelanya, kau menyimpan kuncinya, kau memberinya peluang untuk masuk terlalu jauh, Tatiana! Tapi kau bertingkah seolah kau korban dan pura-pura tidak bersalah di sini. Kau egois!"Tatiana tidak bisa menjawab tuduhan itu, ia sadar dia telah melu

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   107.

    Edward memaksakan sebuah senyuman tipis, menatap wajah Tatiana yang tampak begitu kuyu di bawah pendar lampu kamar. "Kau kelihatan lelah," bisiknya parau.Tatiana menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan gelombang kesedihan yang mendesak di dadanya. "Kau kelihatan payah. Apa yang sebenarnya terjadi, Ed?" tuntutnya dengan suara bergetar.Edward langsung mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, menghindari kontak mata dengan Tatiana. "Aku sakit," jawabnya singkat, seolah kata itu cukup untuk menjelaskan segalanya.Mendengar jawaban yang begitu enteng, Tatiana memukul lengan Edward pelan, frustrasi karena pria itu selalu menutup diri. "Jelaskan apa penyakitmu!"Edward meringis pelan, karena rasa sakit yang kembali menusuk dadanya. "Sesu

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   106.

    Kaliel tidak langsung menyambut uluran tangan Joe. Alih-alih terharu, ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai. Sebuah senyuman tipis, setengah sinis, terukir di sudut bibirnya. Sebagai pria yang sudah kenyang dengan intrik, Kaliel tidak akan sebodoh itu langsung memercayai loyalitas instan dari seorang anak buah Laura."Apa motifmu, Joe?" tanya Kaliel dingin, matanya menyipit, mengunci pergerakan pria di hadapannya. "Kau rela membuang karier mapan di firma hukum sebesar ini hanya demi membela sepasang kekasih yang sedang diburu masalah? Jangan bercanda."Kedua alis Joe terangkat, sedikit terkejut dengan skeptisisme Kaliel, namun sedetik kemudian ekspresinya melembut, menyiratkan luka lama. "Entahlah," sahut Joe lirih, tatapannya menerawang ke arah tumpukan berkas. "Mungkin karena saya melihat diri saya yang dulu pada posisi Anda. D

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   105.

    Perjalanan menuju Sektor Onyx terasa berbeda dari biasanya. Di dalam kendaraan diselimuti keheningan yang agak tegang, meski kehadiran Tatiana di kursi sebelah kemudi sedikit banyak meredam kecemasan Kaliel. Pemandangan luar jendela perlahan berubah, dari pembatas sektor yang dijaga ketat hingga deretan bangunan tinggi khas Onyx yang mulai terlihat di cakrawala.Di tengah keheningan itu, Tatiana tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Kaliel yang fokus menatap jalanan di depan. “Kaliel, kenapa Edward tidak ada kabar seharian ya?" tanya Tatiana, keningnya sedikit berkerut cemas. "Biasanya dia selalu memberi kabar.”Mendengar nama Edward disebut,mood Kaliel seketia rusak. Kaliel mengangkat satu tangannya dari kemudi, menggosok hidungnya sekali dengan gerakan refleks yang menunjukkan rasa tidak nyaman sekaligus jengkel. "Tidak tahu," sahut

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   104.

    Kaliel memutar tubuhnya menjadi tengkurap dan membenamkan sebagian wajahnya di bantal. Namun, matanya tetap melirik tajam ke arah Tatiana. "Mandilah, Sayang, sebelum aku berubah pikiran untuk tidak membuatmu hamil sekarang juga," ancam Kaliel dengan suara tertahan yang justru terdengar sangat seksi dan penuh penekanan.Tatiana tertawa mendengarnya. Ia mencondongkan kepalanya ke belakang, menatap Kaliel dari atas bahunya dengan senyum kemenangan yang menghiasi bibirnya. "Baiklah, pikirkan saja itu sesukamu," sahut Tatiana santai sembari melangkah mundur menuju kamar mandi. "Tapi setelah itu kita harus sarapan. Kau butuh banyak energi untuk menghadapi apa pun yang menunggumu di luar sana hari ini."Pintu kamar mandi pun tertutup, menyisakan Kaliel yang perlahan memudarkan senyumnya di atas kasur. Begitu sendirian, bayangan tentang pria misterius yang

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   103.

    Malam menyelimuti rumah dengan kegelapan dan keheningan yang mencekam. Namun di dalam kamar, Kaliel memastikan di sekitar mereka terasa sehangat mungkin. Ia menyalakan lampu tidur, mengunci semua celah rumah dengan pengamanan, dan tidak membiarkan Tatiana lepas dari jangkauan pandangannya bahkan untuk sedetik pun.Kaliel merebahkan tubuhnya di sebelah Tatiana, menarik selimut tebal untuk membungkus tubuh wanita itu yang masih sesekali berjengit kecil karena sisa takut siang tadi.Tanpa suara, Kaliel membawa Tatiana ke dalam dekapan dadanya, membiarkan wanita itu mendengarkan detak jantungnya."Tidurlah, Sayang. Aku menjaga sepanjang malam," bisik Kaliel lembut di telinga Tatiana, sambil mengecup pelan pelipisnya.Jemari kekar Kaliel bergerak perlahan, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status