Masuk"Apa yang kau katakan?" balas Dante, balik bertanya.Samar, kening Liv bergelombang. Bibir ranumnya sedikit mengerucut—bukan merajuk, ia tengah mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya."Bukankah aku pasanganmu?" Beberapa kali Liv mengedipkan kelopak mata—mencoba mencerna maksud ucapan Dante. Walau vokalnya terdengar jelas, tapi ia berusaha percaya di atas ragu karena percakapan pelayan."Tentu aku mengerti bagaimana kau," imbuh Dante selama istrinya terdiam. "Kau suka melamun, seperti ada banyak sekali hal di dalam kepala mungilmu.""Dante tahu?" Perempuan itu bersuara rendah, sangat rendah, persis bisikan. "Dante bisa menebak apa yang Liv pikirkan sekarang?"Dante menarik udara panjang, memerosoki rongga hidung hingga paru-paru penuh oleh oksigen. Kemudian dia lepaskan perlahan."Bukan hal penting," ucapnya, nampak tak mengindahkan pertanyaan Liv. "Kepalamu terlalu berharga.""Berhentilah memikirkan hal-hal tak penting." Punggung tangan Liv diberikan usapan, gerakannya ritmis, te
Matahari menyorot tajam kala itu, jatuh tepat di atas kepala Liv, buat Liv kernyitkan kening dalam, halau ketajaman sari sorot matahari merusak penglihatannya.Kain-kain yang Allison perintahkan untuk dijemur, baru setengah Liv selesai jemur. Tak hanya menjemur, Liv diberi titah untuk mencucinya. Nyaris setengah hari waktu Liv dihabiskan mencuci pakaian, padahal mereka bisa mencuci di loundry.Sudah jelas untuk apa tujuan Allison memberinya tugas seperti ini—menyiksanya."Jika wanita itu benar-benar akan dijadikan Nyonya Greyson, bukankah Tuan harus mengadakan peresmian?" Samar, rungu Liv menangkap gosip dari pelayan tepat di balik kain yang tengah Liv bentangkan di atas tali.Pembicaraan itu sangat menarik untuk Liv dengar. Saksama, dia dengarkan, tak akan biarkan diri tertinggal satupun kata. Terlebih, mereka menyelipkan dirinya dan menjadikannya tokoh utama dalam pembicaraan tersebut."Mengadakan peresmian? Tapi kenapa Tuan tidak melakukannya? Malah Tuan seperti membiarkan wanita i
Setiap ketukan alas sepatu di ubin yang ia pijaki, punggungnya terasa panas akan banyaknya mata menyorot sebagaimana laser. Sementara langkah terus ia bawa maju, walau debaran di dalam dada seperti ditusuk ribuan jarum.Liv tahu, mereka tidak sedang menatapnya. Namun, benak terus merasa tatapan mereka berpusat padanya. Dia terlalu memikirkan hal tak seharusnya, berakhir resah tak keruan menggelayuti diri."Ekhem!" Seseorang menghadang langkah, berdiri pongah seolah pemimpin.Tundukan kepala, spontan Liv arahkan ke atas—tepat pada kedatangan seseorang yang menjadi pengganggu selama ia berada di lingkungan kampus."Kau berjalan seolah-olah tidak membuat kesalahan sebelumnya." Lengan orang tersebut menyilang di depan tubuh, memberi kesan betapa berkuasanya ia.Caranya menatap, seakan ingin memerosoki Liv dalam jurang kesialan. Walau memang tujuannya menghadang Liv di koridor adalah memberi kesialan di awal Liv menjalani rutinitas sebagai mahasiswi."Ha-Hailey butuh apa?" Kala pertanyaan
Telah terpasang sempurna setelan formal di tubuh Dante, membentuk siluet anggun nan gagah yang membungkus tonjolan ototnya.Begitu cermin dia lihat guna pindai diri, ada satu kecacatan di lehernya—dasi—benda itu belum Dante pasang. Telaga birunya dilempar pada insan yang membantunya bersiap pagi ini—sang istri—dia menatap kagum sosoknya yang berwibawa dalam bungkusan setelan formal."Did I look handsome, My Lady?" Dia membalikkan badan, perlihatkan betapa menawannya dirinya.Labium Lib mengukir senyum kagum. Tertera di telaga almondnya binar kagum untuk sang pria. "Everytime," sahut Liv. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, adalah kesempurnaan dari Dante Greyson. Pria itu diciptakan tanpa sedikitpun celah, seolah dewa dari Yunani.Dalam wajah datar kendati telah diberi pujian, Dante berkata, "Kau tidak merasa ada yang kurang?"Bibir Liv mengkerut, perhatikan lagi penampilan Dante—cari celah dari kesempurnaan yang telah tercipta. Lekas tatapannya mengacu pada leher yang kosong."Ah,
Di ujung ranjang, sosoknya duduk diam dengan kepala menunduk. Bola matanya terus bergulir ke kanan dan kiri, selama tidak berpusat pada seseorang yang baru membuka setelan kerjanya. Acap kali hidungnya mengembus aroma black opium dari pria ini, ingatan akan malam panas penuh gairah kemarin menyelinap. Memorinya masih menyimpan bagaimana perlakuan pria itu. Sentuhan-sentuhan lembutnya membekas begitu lekat. Terkadang, Liv merasa malu dalam diamnya. Selama dirinya hidup, tidak ada satupun pria menyentuhnya.Ujung sepatu Dante mengetuk. Alas sepatu warna merah sebagai simbol kekuasaannya membunyikan ketukan intimidatif.Lama waktu berselang, buat hening meraja di dalam kamar, Dante baru bersuara, "Aku lihat-lihat kau sering sekali melamun."Ujung telunjuk pria itu menggerakkan dagu Liv, agar kepala wanitanya tidak selalu menunduk."Aku mengerti." Kala bibirnya mengetukkan kata, aroma mint dari mulutnya terembus begitu segar di wajah Liv. "Sulit bagimu beradaptasi di duniaku. Tapi ada s
Bola mata Liv membeliak, mulutnya ternganga lebar selagi desahan-desahan menggelikan, dia nyanyikan. Sentuhan-sentuhan kecil nan panas dari tangan Dante di setiap jengkal sensitifnya mengundang adrenalin Liv, yang terkadang membuat Liv melepaskan erangannya. "Dante, nghh." Sebutan dari Liv sebagaimana bensin untuk Dante yang begitu sibuk memacu diri ke dalam Liv. Ciuman di taman atas izin dari Liv, berlanjut hingga ranjang, membunyikan harmoni romansa di tengah senyap malam, saling bertukar keringat berikut percikan api gairah tanpa ada pemaksaan dari sebelah pihak. "Ukh, Liv. Bagaimana bisa milikmu sangat kecil?" Bunyi peraduan milik mereka tercipta syahdu. Pinggul Dante bergerak berulang maju dan mundur, mendatangkan api gairah. "Kau menjepitku, My Lady. Ukh." Kening Dante mengkerut, rasakan gerakan maju-mundur dari pinggulnya, membuat miliknya terasa sempit di dalam mulut rahim Liv. Jemari Liv menekan kuat pundak Dante, salurkan desiran kuat dari feromonnya. Alis menukik taja