LOGINNyaring terdengar dari sebuah benda pipih di atas nakas, mengusik lelap seorang wanita di balik selimut tebal. Sebuah tangan mengulur dari dalam selimut, meraba area nakas sebelum bertemu benda yang menimbulkan dering. "Ukh." Dia meringis selagi membuka mata. Menyipit begitu cahaya silau dari layar ponsel menerpa wajah, stabilkan pencahayaan dengan kornea mata setelah dibawa tidur selama satu malam. Sederet nama dia baca sebagai ID caller di layar ponsel. Ikon hijau pun diseret sebelum tersambungnya telepon. Lekas bawa benda tersebut menempel di telinganya. "Kenapa lama sekali?" Suara sang ayah terdengar, nadanya marah. Dia jengkel sebab Liv baru menjawab teleponnya—itu jelas. Liv sendiri sudah paham bagaimana ayahnya. "Maaf, Ayah. Liv baru bangun." Perempuan itu melepas selimut, membawa punggung bersandar pada headboard. Decakan jengkel menyusul dari Kane. "Transfer Ayah uang. Ayah kalah judi malam ini, dan kau harus membalas budimu." Bahkan Liv baru membuka mata, tapi sambu
Saat knalpot harley mendebur gagah di tengah jalanan Los Angeles, membelah udara bercampur rinai yang telah mengguyur bumi. Setiap butirannya menampar wajah Dante yang tak dihalangi kaca helm, suara dentingan di setiap permukaan yang dijamah adalah alunan dari perjalanan mereka. Meskipun hujan telah menghancurkan momen indah mereka di atas Los Angeles 6th bridge, perasaan Liv tetap konsisten—bahagia. Dan karena hujan, dia merasa tengah berperan dalam bingkai film. Nuansa menjadi romantis kala dia dengan Dante duduk satu jok di atas motor harley, menembus derasnya hujan tanpa melipir ke tempat teduh. Liv sendiri terkejut hujan tiba-tiba datang, padahal langit membentang cerah sebelum mereka tiba di Los Angeles 6th bridge, bahkan sempat melihat bintang yang bersinar terang malam ini, tak luput bulatnya bulan mereka saksikan. Gaungan knalpot harley mereda begitu Dante menghentikan putaran rodanya saat mereka akhirnya tiba di mansion. Liv turun, membuka helm bersama senyum senantiasa te
Udara dingin mengembus membawa surai Liv, suhunya menusuk setiap lapisan kulit. Namun, saat bersamaan, Liv merasakan adanya dekapan ternyaman dari angin malam yang berembus.Mata bulatnya menatap takjub pada rasi bintang yang berkelap-kelip indah di atas bentala. Setiap dia menangkap bentuk indah berupa ursa mayor, senyumnya mengembang—seperti sehabis diberi hadiah."Malam ini sangat cerah." Suara Dante menyelinap di antara hening.Liv membalikkan badan, dia temukan sang suami yang juga menatap keindahan bentala yang membentangkan ribuan bintang. "Dante tidak keluar?" Liv tahu, seorang pemimpin seperti Dante selalu mewajibkan pria itu untuk keluar di malam hari untuk bekerja.Saat orang normal akan keluar di siang hari untuk mencari punda-pundi rupiah, berbeda dengan suaminya. Dia tidak bekerja dalam lingkup bersih, dunia gelapnya selalu menuntut agar dia bergerak di tengah gelapnya malam."Untuk apa?" Lelaki itu dekati istrinya, tiba di jangkauan Liv, lengannya melingkar di pinggang
Jarum jam tiada henti berdetak, suaranya berdentum menampar telinga kala senyap menguasai. Namun, di beberapa momen, suara Allison akan terdengar, seperti saat ini.Telah tiba saatnya Allison mengajari Liv mengatur keuangan mansion, membuktikan kepada tuannya bahwa dia kepala pelayan yang dapat diandalkan, bukan sekadar memberi perintah kepada pelayan lain."Apa Nyonya sudah membaca secara keseluruhan anggaran bulanan mansion yang saya beri?" Mata Allison penuh selidik, mencari celah dari perempuan yang dipilih Tuannya. Padahal Liv tidak memiliki sedikitpun keunggulan yang wajar untuk menyabet gelar Nyonya Greyson."Sudah," jawab Liv lugas. Punggungnya tegak, jemari saling bertaut di atas pangkuan, memperlihatkan ketenangan di balik debaran samar dalam dada. Dia ingin terlihat pantas menjadi Nyonya Greyson—memiliki martabat dan kekuasaan di depan Kepala Pelayan."Sejauh mana?" Di balik kacamata yang bertengger di pangkal hidung, Allison memindai tajam majikannya.Tak peduli status y
"Apa yang kau katakan?" balas Dante, balik bertanya.Samar, kening Liv bergelombang. Bibir ranumnya sedikit mengerucut—bukan merajuk, ia tengah mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya."Bukankah aku pasanganmu?" Beberapa kali Liv mengedipkan kelopak mata—mencoba mencerna maksud ucapan Dante. Walau vokalnya terdengar jelas, tapi ia berusaha percaya di atas ragu karena percakapan pelayan."Tentu aku mengerti bagaimana kau," imbuh Dante selama istrinya terdiam. "Kau suka melamun, seperti ada banyak sekali hal di dalam kepala mungilmu.""Dante tahu?" Perempuan itu bersuara rendah, sangat rendah, persis bisikan. "Dante bisa menebak apa yang Liv pikirkan sekarang?"Dante menarik udara panjang, memerosoki rongga hidung hingga paru-paru penuh oleh oksigen. Kemudian dia lepaskan perlahan."Bukan hal penting," ucapnya, nampak tak mengindahkan pertanyaan Liv. "Kepalamu terlalu berharga.""Berhentilah memikirkan hal-hal tak penting." Punggung tangan Liv diberikan usapan, gerakannya ritmis, te
Matahari menyorot tajam kala itu, jatuh tepat di atas kepala Liv, buat Liv kernyitkan kening dalam, halau ketajaman sari sorot matahari merusak penglihatannya.Kain-kain yang Allison perintahkan untuk dijemur, baru setengah Liv selesai jemur. Tak hanya menjemur, Liv diberi titah untuk mencucinya. Nyaris setengah hari waktu Liv dihabiskan mencuci pakaian, padahal mereka bisa mencuci di loundry.Sudah jelas untuk apa tujuan Allison memberinya tugas seperti ini—menyiksanya."Jika wanita itu benar-benar akan dijadikan Nyonya Greyson, bukankah Tuan harus mengadakan peresmian?" Samar, rungu Liv menangkap gosip dari pelayan tepat di balik kain yang tengah Liv bentangkan di atas tali.Pembicaraan itu sangat menarik untuk Liv dengar. Saksama, dia dengarkan, tak akan biarkan diri tertinggal satupun kata. Terlebih, mereka menyelipkan dirinya dan menjadikannya tokoh utama dalam pembicaraan tersebut."Mengadakan peresmian? Tapi kenapa Tuan tidak melakukannya? Malah Tuan seperti membiarkan wanita i