Share

Bab 8. Demi Senyum Mereka

Penulis: Wening
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-03 18:10:56

Sarah keluar kamar setelah shalat isya. Tubuhnya sudah mulai rilaks setelah rebahan beberapa saat. Tidur di mobil meski sudah dikondisikan senyaman mungikin tetap saja membuat tubuh Sarah yang memang belum terlalu fit menjadi pegal-pegal. Ibu sengaja melarangnya keluar kamar agar bisa beristirahat sejenak. Bayi Putri sudah anteng bersama Bibi. Sementara Laras juga beristirahat bersama bayinya di kamar tamu. Kaum bapak pergi ke masjid dekat rumah, dari maghrib bablas sampai isya.

Celoteh para bayi membawa langkah Sarah ke ruang tengah. Semua orang berkumpul di sana. Bau harum masakan Bibi menguar dari meja makan. Kami bersiap makan malam bersama setelah bapak dan Anton kembali.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumusalam.” Mereka serempak menjawab salam para pria yang ada di rumah saat ini.

“Ayo kita makan bersama dulu baru lanjut istirahat,” kata bapak memimpin langkah.

Semua mengambil tempat masing-masing melingkari meja makan oval di ruang makan. Hidangan sederhana tertata rapi. Bibi memana
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 17. Amarah Itu Masih Ada

    Bab 17. Amarah Itu Masih AdaSuara tangis dari kamar Sarah membuat kedua orang tuanya bergegas menghampiri. Bayi Putri terbangun dan merengek dengan suara melengkling. Terdengar Sang Bunda sedang berusaha menenangkannya. Mamun nampaknya bayi mungil itu sedang tak mau menurut.Tok! Tok!Suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian bayi mungil itu. Namun setelah berhenti sebentar suaranya tangisnya kembali terdengar.“Sarah. ibu masuk, ya.”“Masuk saja, Bu.”“Kenapa cucu, eyang? Sini biar ibu gendong.” Ibu mengambil alih Bayi Putri dari gendongan Sarah. Alih-alih diam Putri malah meliukkan badan me

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 16. Hampa

    “Assalamualaikum!”Seruan Salam dari pintu depan mengalihkan perhatian Bapak dan Dokter Wan yang sedang duduk mengobrol. Sambil mengangkat tangan tanda menjeda obrolan lelaki dengan sarung dan koko itu beranjak menghampiri daun pintu yang memang tidak ditutup.“Waalaikumusalam ….Wah Pak RT, silakan-silakan,” kata Bapak ramah sambil mempersilakan tamunya masuk.“Silakan duduk, Pak.” Dokter Wan bangkit dan meyalami tamu yang baru saja datang lalu mempersilakan duduk.Sikap Dokter Wan yang serupa tuan rumah membuat suami Bu Siti itu tampak canggung dan sungkan. Tatapannya mengarah pada Bapak dengan wajah mengisyaratkan tanya.“Silakan duduk dulu,Pak,” kata Bapak mengabaikan rasa ingin tahu tamunya.Pak Zulkarnain yang merupakan ketua RT di lingkungan Bapak duduk dengan sedikit gelisah. Penampilan Dokter di hadapannya itu sangat menonjol dengan karisma kuat membuatnya bingung bagaimana memulai percakapan. Untungnya Bapak sangat paham dan segera mengakhiri suasana kurang nyaman itu.“Nak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 15. Itu Janjiku

    Rumah bapak dan ibu Sarah tampak lebih tenang sore ini. Keberadaan Anton dan keluarga kecilnya kemarin membuat beberapa tetangga mampir untuk menyapa sekaligus menjenguk Sarah dan keluarga karena lama di kota sana dan diketahui pergi untuk menjaga Sarah pasca melahirkan. Sebagian dari mereka menjenguk untuk mengetahui apakah Sarah sudah sehat kembali dan ingin melihat anak yang baru dilahirkannya. Namun sebagian dari mereka adalah untuk mengorek berita untuk bekal obrolan kala duduk bersama bergosip dengan yang lain. Penyebabnya Sarah pulang kembali ke kampung halaman tanpa sang suami sedangkan saat hamil juga sendirian di rumah orang tuanya. Anton dikenal karena memang asli warga desa itu dan sebagian penduduk terutama mereka yang sepuh tahu. Namun tamu lain dan ternyata seorang dokter membuat wanga desa sangat penasaran. Apa lagi saat mobil Anton sudah tidak ada dan dipastikan kembali ke kota sana, kendaraan sang dokter masih anteng parkir di halaman samping keluarga Sarah. Sontak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 14. Jangan Berikan Harapan Semu

    Hari kunjungan berakhir menjelang waktu asyar. Para Santri harus shalat berjamaah bersama para pengampu mereka. Dengan berat hati Sarah melepaskan kedua putranya kembali ke asrama. Lalu mereka kembali ke area parkir. Cuti Anton telah selesai dan esok hari harus kembali ke kantor, jadi mereka langsung berpisah karena keluarga kecil itu akan mengambil jalur jalan yang berbeda. Bapak dan Ibu pulang bersama Dokter Wan di mobilnya bersama Sarah dan bayi Putri.“Apa tidak merepotkan, Nak Dokter?” tanya bapak sungkan.“Saya bisa pesan kendaraan online, Dok,” kata Sarah menimpali.Dokter Wan tampak bimbang. Misinya datang jelas belum mendapatkan kesempatan untuk disampaikan pada wanita di hadapannya itu. Tanpa sadar tatapannya melembut ke bawah di mana sosok kecil masih meringkuk nyaman di lengan besarnya yang hangat. Melihatnya membuat Sarah jadi serba salah. Bayinya itu sulit dilepaskan dari pria yang dipanggilnya Papa. Tatapan sendi mata Sarah membuat ujung bibir Dokter tampan itu sedikit

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 13. Pandangan Kosong Itu menyakitiku

    “Assalamualaikum!” Beberapa Santri mendekati keluarga Sarah dan mengangsurkan tangan untuk menyalami semuanya. Syamil dengan antusias memperkenalkan keluarga pada teman-temannya. Suasana canggung antara Sarah dan Dokter Wan tersamar begitu saja. Mereka melanjutkan dengan makan bersama dan bercerita. Secara garis besar kedua anak lelaki Sarah betah di tempat belajar baru meski jauh dari orang tua. Si pendiam Rayyan lebih banyak mengangguk mengiyakan setiap celoteh adiknya tentang asyiknya sekolah berasramah. Punya banyak teman yang membersamai dalam suka dan duka baik siang maupun malam membuat mereka sangat bersyukur menemukan sekolah baru, pengalaman baru juga teman baru yang lebih bermakna. Menghadapi banyak hal bersama seperti mengatasi rasa kangen pada keluarga. Persamaan rasa sebagai yang jauh dari ayah dan bunda membuat mereka menjadi saling menjaga dan saling mengisi setiap kekososngan. Seperti ketika teman-temannya di jenguk wali mereka, Syamil dan Rayyan juga kerap diajak ber

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 12. Bolehkah?

    Pada akhirnya Sarah dan Dokter Wan duduk di jok depan mobil yang mereka kendarai. Bayi Putri kekeh tak melepaskan sosok yang selalu dipanggilnya, Papa. Bayi mungil itu bahkan tetap memegang ujung kemeja Dokter War sepanjang jalan. Sang ibu pun hanya bisa pasrah menghadapi tingkah putri kecilnya kali ini.“Maaf,” gumamnya jengah sambil melirik lelaki di sampingnya yang hanya dibalas dengan senyuman hangat.Kendaraan mereka terah berbelok dari jalan raya memasuki kawasan hijau dan daerah berbukit. Pohon rindang di sepanjang jalan membuat suasana sangat asri dan menyenangnkan. Makin ke dalam mulai terlihat jejak-jejak tangan terampil. Tempat duduk dinaungi pohon rindang dan juga beberapa bangunan joglo berbentuk saung yang berjejer mengarah ke bangunan induk. Dengan selingan taman kecil berpetak dengan bunga dan dan juga sayuran hijau sungguh memanjakan mata.Mobil Anton meluncur dinamis memasuki area parkir yang kemudian diikuti Dokter Wan dari belakang yang memarkirkan kendaraan tepat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status