Share

Bab 7. Pasien Istimewa

Penulis: Wening
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-03 18:05:45

Dokter Wan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Pikirannya berkelana pada seraut wajah yang akhir-akhir ini menyita perhatian. 

“Sarah,” gumamnya lirih.

Rasa bingung dan hampa tanpa tahu apa penyebab pasti membuatnya tak bersemangat. Memasuki ruangan pribadi di klinik sesampainya di sana hanya diisi dengan duduk dan menengadahkan wajah lalu menutupinya dengan lengan yang diangkat. Meski matanya terpejam, pikirannya berkelana pada hari di waktu-waktu kunjungan pasien sampai ke brankar Sarah. Sosoknya yang terlihat kuat meski sesunguhnya rapuh membuatnya sangat ingin melindungi. Dan wajah ayunya yang ….

Dokter Wan mendesah pelan.

“Apa ada sesuatiu yang terjadi?”

Tak ada orang lain yang berani masuk ke ruangannya tanpa ijin kecuali satu orang di klinik  pribadinya selain Dokter Irma. Rekan seperjuangan dan penanggung jawab klinik pribadi yang dia miliki.

“Keluarlah, aku sedang tak ingin berdebat.”

“Apa ini tentang pasien istimewamu?”

“Tolong, aku tak ingin membahasnya sekarang.”

“Baiklah. Hanya saja dia masih bersuami sebaiknya memang mundurlah sementara.”

“Sok tahu!” umpat Dokter Wan sambil melempar pulpen yang entah sejak kapan sudah ada di tangan, ke arah wanita cantik bertubuh gempal itu.

“Dok, aku sungguh merasa kehilangan.”

“Aku tahu, ngaku aja begitu kan lega. Akan kucarikan info perkembangannya lewat Dokter Ema.”

“Ok.” 

*

Sejak menerima panggilan telephon dari Dokter Wan, perasaan Sarah menjadi tidak tenang. Wajah tampan dengan tatapan hangat yang terkadang juga sayu itu terus mengusik ingatan. 

“Tunggu sebentar, … suara yang sering kudengar saat itu, sepertinya sangat mirip dengan suaranya.” Sarah bergumam pelan berusaha terus mengingat-ingat.

Statusnya sebagai seorang istri jelas Sarah sangat menjaga diri dari hal-hal yang bisa merusak marwahnya sebagai seorang wanita muslimah. Dirinya tak ingin menyeret pihak lain dalam masalah bersamanya. Apalagi orang baik seperti Dokter Wan.

Sarah teringat bisikan hangat itu lagi.  Saat seseorang  berusaha membuatnya sadar.

Mengingat upaya  Dokter Wan yang selalu mengusahakan agar pengobatannya berhasil semaksimal, sangat mungkin bisa melakukannya. 

Hubungan dokter dan pasien ini menjadi dekat dan menyadari itu membuat semburat merah menyebar di pipi Sarah yang putih sedikit pucat.

“Astaghfirullah.” Sarah mengibaskan tangan sambil beristighfar.

“Ada apa, Nduk?” tanya ibu, memberhatikan sikap aneh Sarah.

“Tidak apa-apa, Bu.”

“Ya sudah. Jangan suka melamun saja kamu kerjanya. Ngomong-ngomong, Nak Dokter bagaimana tanggapannya kita pulang begitu saja ya, Nduk? Apa kita seharusnya pamit secara langsung? Kita kemarin memang tak sengaja pulang lebih cepat karena Nak Anton tiba-tiba menawarkan diri mengantar bareng, Nak Laras juga.” Ibu malah berceloteh tentang orang yang sedang di lamunkan putrinya tanpa menyadari kini Sarah semakin salah tingkah.

“Eh! Apa kamu sedang memikirkannya, Nduk?”

“Apa! ah, tidak, Bu.” Sarah segera mengibaskan tangan menutupi gugup.

“Kenapa reaksinya begitu keras?” Tamya ibu dengan senyum menggoda.

“Sebaiknya memeang jangan karena kamu, masih istri Si Fadhil bengal itu,” sambung ibu sambil bersungut dan berbalik ke luar kamar Sarah. Namun sebelum jauh pergi wanita tua yang masih lincah itu kembali bersuara, “Kau cepatlah diskusikan ini bersama bapakmu bagaimana mengambil tindakan buat Si Fadhil.”

Sarah kembali mendesah berat mengingat masalah pelik rumah tangganya. Setelah mendengar cerita dari semua orang yang menyayanginya tentang hari-hari yang dia lupakan, tekadnya sudah bulat untuk berpisah dengan Fadhil. Dirinya akan berdamai dengan keadaan. Perang tak berkesudahan melawan suami dan madu hanya akan membuatnya sakit dan anak-anak akan bingung. Anak-anak yang utama membuatnya harus segera mengambil tindakan tegas. Dirinya punya banyak bahan untuk menggugatnya dengan berbagai pasal.

Dari kekerasan rumah tangga, lalai dalam nafkah juga poligami yang tidak adil. Untuk yang terakhir Sarah bertekat akan menanyakannya pada yang lebih ahli apakah bisa dimasukkan dalam berkas perkara. Tapi membuat istri sampai tertekan dan mengalami gangguan mental jelas bukan hal sepele. Juga soal biaya anak-anak yang terbengkalai karena tanggung jawab yang kurang dari ayahnya, seharunya bisa membantunya mendapatkan keadilan dan memudahkan pengajuan gugatan cerai yang akan dilayangkan.

Bersambung ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 17. Amarah Itu Masih Ada

    Bab 17. Amarah Itu Masih AdaSuara tangis dari kamar Sarah membuat kedua orang tuanya bergegas menghampiri. Bayi Putri terbangun dan merengek dengan suara melengkling. Terdengar Sang Bunda sedang berusaha menenangkannya. Mamun nampaknya bayi mungil itu sedang tak mau menurut.Tok! Tok!Suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian bayi mungil itu. Namun setelah berhenti sebentar suaranya tangisnya kembali terdengar.“Sarah. ibu masuk, ya.”“Masuk saja, Bu.”“Kenapa cucu, eyang? Sini biar ibu gendong.” Ibu mengambil alih Bayi Putri dari gendongan Sarah. Alih-alih diam Putri malah meliukkan badan me

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 16. Hampa

    “Assalamualaikum!”Seruan Salam dari pintu depan mengalihkan perhatian Bapak dan Dokter Wan yang sedang duduk mengobrol. Sambil mengangkat tangan tanda menjeda obrolan lelaki dengan sarung dan koko itu beranjak menghampiri daun pintu yang memang tidak ditutup.“Waalaikumusalam ….Wah Pak RT, silakan-silakan,” kata Bapak ramah sambil mempersilakan tamunya masuk.“Silakan duduk, Pak.” Dokter Wan bangkit dan meyalami tamu yang baru saja datang lalu mempersilakan duduk.Sikap Dokter Wan yang serupa tuan rumah membuat suami Bu Siti itu tampak canggung dan sungkan. Tatapannya mengarah pada Bapak dengan wajah mengisyaratkan tanya.“Silakan duduk dulu,Pak,” kata Bapak mengabaikan rasa ingin tahu tamunya.Pak Zulkarnain yang merupakan ketua RT di lingkungan Bapak duduk dengan sedikit gelisah. Penampilan Dokter di hadapannya itu sangat menonjol dengan karisma kuat membuatnya bingung bagaimana memulai percakapan. Untungnya Bapak sangat paham dan segera mengakhiri suasana kurang nyaman itu.“Nak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 15. Itu Janjiku

    Rumah bapak dan ibu Sarah tampak lebih tenang sore ini. Keberadaan Anton dan keluarga kecilnya kemarin membuat beberapa tetangga mampir untuk menyapa sekaligus menjenguk Sarah dan keluarga karena lama di kota sana dan diketahui pergi untuk menjaga Sarah pasca melahirkan. Sebagian dari mereka menjenguk untuk mengetahui apakah Sarah sudah sehat kembali dan ingin melihat anak yang baru dilahirkannya. Namun sebagian dari mereka adalah untuk mengorek berita untuk bekal obrolan kala duduk bersama bergosip dengan yang lain. Penyebabnya Sarah pulang kembali ke kampung halaman tanpa sang suami sedangkan saat hamil juga sendirian di rumah orang tuanya. Anton dikenal karena memang asli warga desa itu dan sebagian penduduk terutama mereka yang sepuh tahu. Namun tamu lain dan ternyata seorang dokter membuat wanga desa sangat penasaran. Apa lagi saat mobil Anton sudah tidak ada dan dipastikan kembali ke kota sana, kendaraan sang dokter masih anteng parkir di halaman samping keluarga Sarah. Sontak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 14. Jangan Berikan Harapan Semu

    Hari kunjungan berakhir menjelang waktu asyar. Para Santri harus shalat berjamaah bersama para pengampu mereka. Dengan berat hati Sarah melepaskan kedua putranya kembali ke asrama. Lalu mereka kembali ke area parkir. Cuti Anton telah selesai dan esok hari harus kembali ke kantor, jadi mereka langsung berpisah karena keluarga kecil itu akan mengambil jalur jalan yang berbeda. Bapak dan Ibu pulang bersama Dokter Wan di mobilnya bersama Sarah dan bayi Putri.“Apa tidak merepotkan, Nak Dokter?” tanya bapak sungkan.“Saya bisa pesan kendaraan online, Dok,” kata Sarah menimpali.Dokter Wan tampak bimbang. Misinya datang jelas belum mendapatkan kesempatan untuk disampaikan pada wanita di hadapannya itu. Tanpa sadar tatapannya melembut ke bawah di mana sosok kecil masih meringkuk nyaman di lengan besarnya yang hangat. Melihatnya membuat Sarah jadi serba salah. Bayinya itu sulit dilepaskan dari pria yang dipanggilnya Papa. Tatapan sendi mata Sarah membuat ujung bibir Dokter tampan itu sedikit

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 13. Pandangan Kosong Itu menyakitiku

    “Assalamualaikum!” Beberapa Santri mendekati keluarga Sarah dan mengangsurkan tangan untuk menyalami semuanya. Syamil dengan antusias memperkenalkan keluarga pada teman-temannya. Suasana canggung antara Sarah dan Dokter Wan tersamar begitu saja. Mereka melanjutkan dengan makan bersama dan bercerita. Secara garis besar kedua anak lelaki Sarah betah di tempat belajar baru meski jauh dari orang tua. Si pendiam Rayyan lebih banyak mengangguk mengiyakan setiap celoteh adiknya tentang asyiknya sekolah berasramah. Punya banyak teman yang membersamai dalam suka dan duka baik siang maupun malam membuat mereka sangat bersyukur menemukan sekolah baru, pengalaman baru juga teman baru yang lebih bermakna. Menghadapi banyak hal bersama seperti mengatasi rasa kangen pada keluarga. Persamaan rasa sebagai yang jauh dari ayah dan bunda membuat mereka menjadi saling menjaga dan saling mengisi setiap kekososngan. Seperti ketika teman-temannya di jenguk wali mereka, Syamil dan Rayyan juga kerap diajak ber

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 12. Bolehkah?

    Pada akhirnya Sarah dan Dokter Wan duduk di jok depan mobil yang mereka kendarai. Bayi Putri kekeh tak melepaskan sosok yang selalu dipanggilnya, Papa. Bayi mungil itu bahkan tetap memegang ujung kemeja Dokter War sepanjang jalan. Sang ibu pun hanya bisa pasrah menghadapi tingkah putri kecilnya kali ini.“Maaf,” gumamnya jengah sambil melirik lelaki di sampingnya yang hanya dibalas dengan senyuman hangat.Kendaraan mereka terah berbelok dari jalan raya memasuki kawasan hijau dan daerah berbukit. Pohon rindang di sepanjang jalan membuat suasana sangat asri dan menyenangnkan. Makin ke dalam mulai terlihat jejak-jejak tangan terampil. Tempat duduk dinaungi pohon rindang dan juga beberapa bangunan joglo berbentuk saung yang berjejer mengarah ke bangunan induk. Dengan selingan taman kecil berpetak dengan bunga dan dan juga sayuran hijau sungguh memanjakan mata.Mobil Anton meluncur dinamis memasuki area parkir yang kemudian diikuti Dokter Wan dari belakang yang memarkirkan kendaraan tepat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status