LOGIN“Apa?! Mante sudah memiliki kekasih lagi?” tanya Zicola dengan suara menyelak dan mata menyala-nyala dipenuhi oleh amarah. “Ya, namanya Lilian Narinia. Seorang perempuan rendahan yang menjandakan diri agar bisa bersama Mante.”Derap suara langkah terdengar dikesunyian ruangan rumah sakit itu. Zicola mendekati ranjang tempat dimana kini putrinya duduk mendapatkan perawatan. Dalam kebisuannya, Zicola pandangi mata berkaca-kaca Celestine yang dipenuhi kesedihan, tangannya berkali-kali terkepal seperti sedang menahan amarah. Selama ini Celestine selalu tetap tenang setiap kali bersangkutan dengan berbagai macam perempuan yang dekat dengan Mante, bahkan Gloria.. wanita yang tinggal beberapa hari lagi akan Mante nikahi, Celestine masih santai sampai memiliki waktu untuk mencela kekurangannya Gloria, lalu membanggakan diri bahwa menikahi Gloria hanya akan menyadarkan Mante bahwa Celestine adalah wanita terbaik untuk masa depannya..Tapi kali ini, kepercayaan dirinya yang sebesar gunung i
Lilian mundur membentur dinding bilik toilet kehilangan keseimbangan, wajahnya yang berada dalam tangkupan tangan Mante diangkat mendongkan. Tidak sempat Lilian bersuara, Mante sudah lebih dulu menciumnya dengan keras, menjejali mulut Lilian dengan lidahnya.Hangat sapuan napas Mante membelai pipi, wangi aroma parfume dan sentuhannya yang kuat memenjarakan Lilian dalam diam, menjatuhkan tasnya dari pegangan.Tidak waktu untuk Lilian marah, tidak ada ruang untuk Lilian menghindar. Mante mengurungnya di sudut tempat sempit itu, mendekap tubuhnya dengan kuat, dengan tidak sabaran tangan Mante menarik turun resleting di belakang punggung Lilian, melepas pengait bra yang dipakai.Mante sudah tidak dapat menahan kecemburuannya lagi begitu menyaksikan Lilian pergi dengan sapu tangan millik Cassius seolah benda itu lebih penting dibandingkan dirinya.Pikiran Mante telah gelap, jika Lilian tidak sudi bicara apapun dengannya maka tubuh mereka yang harus melakukannya.Jantung Lilian berdebar ke
Darah di nadi Mante bergejolak panas, pria itu memejamkan matanya merasakan ketegangan yang mulai merayap sampai kepala, di hujani bayang-bayang keinginan tak manusiawi dari sisi tergelapnya..Mante begitu ingin melakukan hal liar pada ‘sesuatu’ yang mengganggu ketenangannya.Sejak Mante berdiri dibalik jendela, dia sudah berusaha menahan diri dan tetap menjadi pria bermoral, meski dalam hatinya dia marah menerima pengabaian Lilian karena disaat yang sama, Lilian justru buang waktunya untuk pria lain.Kini, dengan tenangnya Lilian ceritakan jika ternyata Cassius pernah jadi lelaki pilihan ibunya sebagai calon suami, menyanjung Cassius sebagai pria bermartabat, seseorang yang dulu memilih mundur karena tahu batas.Ironisnya, semua sanjungan itu Lilian ucapkan di hadapan Mante, lelaki yang baru semalam membuka sisi lain dirinya, sebagai penjahat kelas atas.Lilian benar-benar telah berhasil meledakan kecemburuannya..“Sayangnya, sekarang kau sudah menikah dengan pria penjahat, hidup dan
Celestine...Sebuah nama yang harusnya tidak diungkit, dengan entengnya disebutkan oleh Cassius di hadapan Lilian.Sangat terbaca jelas, bahwa saat ini Cassius sedang ingin memprovokasi, membuat Mante kesal dan menunjukan tunjukan sisi lain dirinya yang tidak Lilian ketahui.Gigi Mante terkatup rapat mempertahankan diri tetap tenang tak berbicara kasar dan bertindak gegabah yang akan semakin membuat Lilian takut padanya.Dipandanginya Lilian dengan satu pipi masih merah memar.Sudah dua kali Lilian dipukul, dalam waktu dekat Mante akan membalasnya dengan tangannya sendiri.“Untuk apa orang luar menghubungiku? Apapun yang terjadi padanya, itu bukan urusanku,” jawab Mante menunjukan ketidak pedulian yang perlu Lilian dengar.Itu bukan omong kosong, tapi benar adanya..Mante tidak peduli meski kini Celestine berada di rumah sakit terkena serangan jantung, tidak ada yang pantas disalahkan karena Celestine sendirilah yang memulai perkara.Seandainya Celestine bukan bagian dari keluarga Gie
Saat dengar kabar jika Lilian sedang habiskan waktunya bersama Cassius usai terkena masalah, Mante masih sempat diam menantikan jika Lilian akan menghubunginya..Namun, Lilian sedikitpun tidak melakukannya. Tidak satupun pesan maupun telephone.Ketenangan Mante goyah. Dia tidak tahan hanya diam tidak berkutik, seolah sengaja membiarkan Lilian menghadapi masalahnya seorang diri, terluka dan mungkin kini sedang salah paham padanya.Mante langgar aturan yang dibuat Elisio, dia putuskan untuk cari Lilian meski ada konsekuensi, bahwa hari ini juga dia harus pergi ke luar negeri menjauh dari Lilian sampai pesta selesai. Karena itulah kini Mante berdiri disini.. Saksikan Lilian bicara dengan serius bersama Cassius, saksikan kontak fisik Cassius tanpa penolakan Lilian, hingga.. tatapan hangat Cassius yang ingin sekali Mante tusuk bola matanya agar pria itu tidak bisa melihat apapun lagi.Di bawah tudung topi hitam yang meneduhi sebagian wajahnya, sepasang mata biru Mante berkilat tajam seir
Diamnya Cassius yang tidak langsung memberikan jawaban, mulai buat Lilian gugup, jantungnya berdebar kencang mengumpulkan kesiapan menghadapi kemungkinan bahwa apa yang akan Lilian dengar, bukanlah sesuatu yang baikLilian tahu, pantasnya masalah seperti ini Lilian bicarakan langsung pada Mante dan langsung meminta penjelasannya..Tetapi, Lilian mulai kehilangan banyak kepercayaan padanya yang telah membohongi Lilian berbulan-bulan. Tidak ada salahnya jika Lilian dengarkan jawaban dari banyak orang, termasuk Cassius.Cassius ambil kembali cangkir minumannya, dibalik beningnya kramik cangkir itu ia pandangi wajah Lilian yang begitu jelas sedang diliputi kekhawatiran.Dalam pertimbangan di detik-detik terakhirnya, pikiran Cassius bertanya-tanya.. bagaimana perasaan Diana dan Rafael jika mereka tahu, putri satu-satunya mereka yang sejak kecil mereka perjuangkan untuk bertemu laki-laki yang tepat, kini justru terjebak dengan penjahat?Apakah masih bermanfaat, semua kebaikan yang orang tua
Lilian menelan salivanya dengan kesulitan, kulitnya menggigil merasakan intimidasi hebat yang menekan. Ada kilatan liar seperti hewan pemburu dimata pria itu asing itu.. Apa ada yang salah dengan jam tangan yang Lilian bawa hingga pria itu bertanya berkali-kali? Apa jangan-jangan.. justru jam ta
Jarak yang begitu dekat menyisakan sedikit celah, hangat deru napas Lilian menyapu dinginnya kulit Mante.Pria itu menahan diri untuk tidak bergerak, diam-diam menarik napas ingin mengulang kembali sensasi pertama yang menyapa indranya saat sadar dari pingsan, yaitu aroma lembut milik Lilian. Aroma
“Dipertemuan tadi, semua orang membicarakan hal penting yang bahkan tidak aku tahu.” Seorang pria paruh baya melepaskan setelan jassnya, dengan sigap sang isteri menerimanya dan mengikuti langkah suaminya. “Memangnya apa yang sedang dibicarakan mereka?” tanya Katty penasaran. Dengan wajah muram
Lilian mundur seketika, dengan wajah pucat pasinya gadis itu mundar-mandir menggigit ujung jari, tidak dapat mengendalikan kepanikan yang semakin berkeacamuk dalam kepala. Jika pria asing itu tidak ingat apapun, apa itu artinya dia mengalami lupa ingatan akibat benturan? Jika hal itu benar, ini







