LOGIN"Senja harus bercerai dengan suaminya, lalu menikah dengan Guntur untuk meneruskan trah keturunan keluarga kita," Brakk.... Senja mendorong daun pintu lebih keras hingga pintu terbuka lebar. Sontak saja membuat semua orang di ruangan itu menoleh. "Senja!!" Wulandari yang berdiri di depan ranjang pasien menoleh. Raut wajahnya kaget namun juga nampak sedikit lega. "Kamu jemput Mama?" lanjutnya yang langsung mendapatkan anggukan dari Senja. Wanita cantik itu lalu mengarahkan tatapan dinginnya pada sosok yang terbaring diatas ranjang pasien. Seorang wanita setengah baya yang sedang duduk sambil bersandar. Punggungnya tegap dengan wajah pucat namun tetap terlihat tegas dan beribawa. Wanita itu, Raden Ayu Widuri puspita, nenek Senja dari papanya. Istri dari almarhum Raden Mas Anggada Wijayakrama. Wajah angkuh itu terangkat. "Kamu sudah dengar, kan?" ucap Eyang Widuri. "Saya tidak akan berbasa-basi, cepat cerai dan tinggal di keraton. Bulan depan kamu menikah dengan Guntur Wija
Atas perintah Oma Hanna, Bumi terpaksa kembali ke Jakarta. Awalnya dokter muda itu menolak, namun Oma Hanna tak kehabisan akal. Ia menelpon Adityawarman, meminta putranya itu datang sendiri untuk menjemput Bumi. Adityawan murka saat tahu, Bumi menaruh hati pada Senja. Mereka pun memutuskan untuk mengirim Bumi keluar negeri. Dilarang pulang sampai benar-benar ikhlas menerima Senja sebagai kakak iparnya. Di sisi lain, kehidupan Senja dan Langit kembali tenang. Senja dengan masalah pabrik, kuliah dan kasus kecelakaan almarhum papanya. Sementara Langit sedang sibuk dengan cabang perusahaan barunya. Sudah lebih dari satu bulan pria itu dinas luar kota. Siang ini Senja kembali menemui kakaknya di penjara. Pengacara memberitahu jika Bulan sudah bersedia berkerjasama dan koperatif. "Demi Tuhan, bukan aku yang merencanakannya. Aku hanya memberi info kegiatan Papa pada tante Arini," aku Bulan dengan wajah memelas. Sorot matanya sayu penuh rasa bersalah. "Aku memang sempat marah dan ke
Bumi tersungkur ke lantai. Kali ini Langit benar-benar tak mampu menahan emosinya. Amarah yang sejak tadi ditahannya seketika meledak dan sebuah pukulan mendarat di wajah sang adik. "Langit....." jerit Oma Hanna histeris. Tak berhenti di sana, Langit kembali meluapkan amarahnya, menendang perut dan kaki Bumi hingga hingg membuat sang adik mengerang kesakitan. "Astaga, Langit berhenti!" teriak Oma Hanna dengan tubuh gemetar. Hendak memisah tapi tubuhnya mendadak lemas. Wanita itu pun terduduk di sofa sambil memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. "Astaghfirullah...." Dari arah dapur, Bibi berlari mendekat. "Istighfar, Tuan.... sudah cukup!!!" ujarnya sambil menarik lengan Langit mundur. "Sabar, Tuan... sabar...." ucapnya sambil mengelus lengan pria itu. Wanita paruh baya itu berusaha menenangkan majikan yang sudah diasuhnya sejak kecil. Namun, sentuhan tangan Bibi tak mampu meredakan emosi Langit. Layaknya api yang disiram bensin, amarah itu justru semakin berkobar
"Kubilang manfaatkan belas kasihannya. Buat dia iba!!! Apa itu sulit?" sentaknya dengan suara penuh emosi. Oma Hanna mengerutkan dahinya. Ucapan Bumi mengusik hatinya. "Lakukan seperti instruksiku!" Tubuh tegap itu bergerak, tak lagi membelakangi Oma Hanna. Wanita itu bisa melihat ekspresi Bumi dari samping. Wajahnya memerah padam. Sangat berbeda dengan biasanya. Ekspresi kalem yang biasanya melekat di wajah dokter muda itu, hilang entah ke mana. Berganti dengan raut garang dan mata melotot penuh amarah.Penasaran, ucapan Bumi dan siapa yang lawan bicara pria itu. Perlahan Oma Hanna melangkah menuju teras samping. "Bumi," panggilnya yang seketika membuat cucunya terperanjat. "O-Oma?" jawabnya dengan ekspresi kaget yang tidak bisa ia sembunyikan. "Kamu sedang bicara dengan siapa? Memanfaatkan siapa? Membuat iba siapa?" cecar Oma Hanna. "Siapa yang kamu maksud?" "Eeee......" Bumi gugup. Namun hanya sebentar, segera ia merubah ekspresi keterkejutan di wajahnya berganti se
Pagi ini, Oma Hanna datang ke rumah Senja. Setelah lebih dari satu minggu cucu menantunya itu tidak pulang, hari ini ia bermaksud menanyakan alasan Senja belum juga kembali ke rumah. Dengan dibantu Bibi, Oma Hanna turun dari mobil dan melangkah masuk. Dari dalam rumah, Wulandari segera keluar untuk menyambut besannya itu. "Silakan masuk," ucapnya sambil menggandeng Oma Hanna masuk. "Silakan duduk," katanya lagi. Setelah menyajikan minuman, Wulandari segera meminta ART-nya untuk memanggil Senja dan membuatkan minum. "Bagaimana kondisi tubuhmu?" tanya Oma Hanna pada Wulandari. "Alhamdulillah sehat," jawab Wulandari. Oma Hanna mengangguk. "Syukurlah," ujarnya sambil menghela napas lega. Wulandari ikut mengangguk. Senyum tipis ia sunggingkan di bibirnya. "Tadinya aku pikir kamu sedang sakit, makanya Senja harus tinggal di sini untuk menemanimu. Tapi ternyata kamu sehat dan baik-baik saja." "Oh... Itu...." "Kamu kan tahu Senja sudah punya keluarga sendiri. Dia harus mengurus sua
Setelah merasa cukup tenang, Senja menemui Bulan di kantor polisi. Ia datang seorang diri, tanpa suami maupun mamanya. Kali ini, ia ingin mendengar langsung dari mulut kakaknya alasan di balik perbuatan yang tega mencelakai sang Papa. Di sebuah ruangan yang dijaga dua orang polisi, Senja duduk berhadapan dengan Bulan. Sebuah meja persegi menjadi penghalang di antara mereka. "Kamu harus percaya sama aku... Aku tidak bersalah." Sama seperti saat dibawa ke kantor polisi, sampai detik ini Bulan masih tidak mengakui perbuatannya. "Senja, Om Irfan dan Tante Arini lah dalang dari pembunuhan Papa. Aku benar-benar tidak terlibat," ujar Bulan berusaha menyakinkan sang adik."Kamu harus percaya sana aku. Aku ini kakak kandungmu," lanjutnya masih dengan wajah memelas. Suaranya terdengar pelan, tetapi penuh tekanan. Ada kepanikan dan ketakutan yang jelas terselip di balik setiap kata yang keluar dari bibirnya. Senja bergeming. Sejak datang, ia hanya menatap Bulan dengan tatapan dingin. Tanpa
Pagi ini Senja akhirnya memutuskan kembali kuliah. Sudah hampir tiga minggu ia tidak muncul di kampus sejak kecelakaan itu. Tubuhnya memang sudah cukup pulih, namun luka di kepalanya masih belum benar-benar sembuh. Senja sedang duduk di depan meja rias ketika pintu kamar terbuka perlahan. Wulandar
Senja sedang tenggelam dalam tumpukan buku kuliahnya ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Tok… tok… “Non, dipanggil Nyonya. Makan malam sudah siap.” Suara bibi terdengar dari balik pintu. “Iya, Bi,” jawab Senja singkat. Ia segera menutup bukunya, lalu bangkit dan keluar kamar. Langk
Brakk.... Sore itu pintu rumah keluarga Senja dibuka dengan tergesa. Dengan langkah lebar seorang pria berjalan masuk dan terhenti di ruang tengah. "Ma!!" Suara berat itu menggema sampai ke dapur. Wulandari yang tengah memotomg sayur tersentak. Pisau di tangannya segera ia letakkan dan berge
"Tidak perlu berpura-pura lagi! Tante, kan, yang memberi tahu Mbak Bulan? Tante sengaja ingin mengadu domba kami?" Tatapan Senja tajam dan dingin, menusuk tepat ke arah Arini. Sementara wanita itu tampak terperanjat, wajahnya pucat seketika, seolah tak menyangka tuduhan itu akan meluncur dari bib







