Share

Kesempatan kedua.

Author: iva dinata
last update Last Updated: 2026-02-23 10:53:46

"Senja… Senja, kamu sudah sadar?"

Suara itu seperti gema dari lorong panjang dan gelap. Perlahan, kelopak mata Senja bergetar, lalu terbuka. Pandangannya masih kabur, namun sosok di hadapannya membuat napasnya tercekat.

“Mama…?” suaranya lirih, nyaris tak terdengar, penuh keterkejutan.

“Iya, ini Mama, Sayang… Syukurlah. Akhirnya kamu sadar.”

“Mama?”

Mata yang semula sayu kini membulat sempurna. Senja membeku. Ia mengerjap beberapa kali, memastikan penglihatannya tidak sedang mempermainkannya. Bingung. Kaget. Tak percaya.

“Senja? Sayang…” Wanita berwajah teduh itu menepuk lengannya pelan, lalu menyentuh pipinya lembut. Sentuhan tangan hangat itu begitu dikenalnya.

Sentuhan itu nyata.

“Ini Mama? Benar-benar Mama?” tanyanya gemetar.

“Iya, Sayang. Ini Mama.” Wulandari tersenyum lembut.

Sekejap kemudian, Senja bangkit dan memeluk tubuh di hadapannya erat-erat. Air matanya luruh tanpa bisa dibendung. Sedih, bahagia, rindu, semuanya bercampur menjadi satu dan memenuhi rongga dadanya hingga sesak.

Ia tak pernah membayangkan bisa kembali melihat wanita yang sangat ia rindukan itu.

Bukankah… Mama sudah meninggal? Sembilan tahun lalu. Beberapa jam setelah kabar kematian Papa dan kebangkrutan keluarga mereka.

"Mama… aku rindu…" isaknya. Pelukannya makin erat, seolah takut wanita itu kembali menghilang.

“Mama juga merindukan sikap manjamu,” jawab Wulandari, mencoba mengurai pelukan itu.

Senja menggeleng, tak mau melepaskan. "Jangan tinggalkan Senja lagi, Ma. Senja sayang Mama. Mulai hari ini Senja akan nurut. Senja janji…"

“Mama tidak ke mana-mana, Sayang. Mama akan selalu di samping kamu.” Wulandari kembali melepaskan pelukan itu dengan lembut, mengusap wajah putrinya yang basah oleh air mata. “Sudah, jangan menangis lagi.”

Hangat. Suara itu begitu hangat. Namun justru membuat dada Senja nyeri. Rasa nyeri karena rindu yang terlalu lama ia pendam.

"Ini benar Mama, kan? Mama masih hidup?" tanyanya di sela isak tangis.

Wulandari mengernyit bingung. “Tentu saja Mama masih hidup. Yang kecelakaan itu kamu. Sudah sepuluh hari kamu koma.”

“Apa?” Senja memekik.

Potongan-potongan kenangan berkelebat di kepalanya. Berputar seperti kaset kusut. Bayangan orang tuanya meninggal. Dirinya menikah. Punya anak. Terluka. Teraniaya. Hingga berakhirnya dirinya lompat atap rumah sakit.

"Aku… koma?" suaranya bergetar.

Mimpikah?

Ia menatap tubuhnya sendiri. Lengannya diperban, ada luka, tapi terlalu ringan untuk seseorang yang menjatuhkan diri dari gedung tinggi.

"Bukankah aku bunuh diri? Lompat dari atap rumah sakit? Bagaimana bisa---"

"Hus! Kamu bicara apa?" tegur Wulandari, menepuk lengannya pelan. "Kamu tidak bunuh diri. Kamu kecelakaan sama Narendra. Pulang dari konser musik."

"Konser musik?" gumamnya, berusaha menggali ingatan yang terasa begitu lama.

Konser itu… sepuluh tahun lalu.

Senja menahan napas. Jantungnya berdebar kencang. Ia meraih tangan ibunya.

"Ma… sekarang tahun berapa?"

"2016," jawab Wulandari, masih bingung.

"Astaga…" pekiknya membekap mulutny sendiri. "Mungkinkah, ini...."

Sepuluh tahun lalu.

Ia melanggar larangan orang tuanya demi pergi ke konser bersama Ardan. Narendra, sepupunya, ikut bersamanya. Namun naas, saat pulang, mereka mengalami kecelakaan. Ardan melarikan diri, meninggalkan Narendra dan dirinya yang pingsan.

Namun seingatnya, ia tidak koma. Hanya kakinya yang patah dan membuatnya gagal mengikuti lomba fotografi di universitas negri di kota. Karena kejadian itu Senja frustasi dan tak lagi meneruskan bakat fotografi-nya.

Dan lebih bodohnya lagi, ia memaklumi sikap pengecut Ardan yang meninggalkan dan Narendra, hanya karena satu permintaan maaf.

"Ma…" Air matanya kembali menggenang. "Aku kembali ke masa lalu… Aku mengulang hidupku…"

"Kamu ini bicara apa?” Wulandari panik.

“Terima kasih, Tuhan… terima kasih…” tangisnya pecah lagi.

Melihat tingkah putrinya yang aneh, Wulandari segera meminta ART memanggil dokter.

“Kondisi pasien bagus. Tidak ada yang mengkhawatirkan,” jelas dokter setelah memeriksa.

“Tapi dia menangis terus, Dok. Bicara aneh-aneh. Bunuh diri, kembali ke masa lalu…”

Dokter tersenyum tipis. “Mungkin selama koma dia bermimpi. Tidak apa-apa, Bu. Selama tidak pusing atau mual, kondisinya baik.”

Setelah dokter pergi, Senja kembali memeluk ibunya.

“Maafkan aku, Ma… aku salah…” ucapnya berulang kali.

Ingatan melihat ibunya terbaring tak bernyawa membuat napasnya sesak. Belum lagi bayangan tubuh kecil putrinya yang dingin dalam pelukannya di kehidupan sebelumnya.

“Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji tidak akan membantah Mama.”

Wulandari mengelus punggungnya sabar. “Iya, Sayang. Mama sudah memaafkan kamu. Mulai sekarang nurut sama Mama sama Papa. Jangan buat masalah lagi!"

"Iya Ma," jawab Senja mengangguk, persis anak kecil.

"Sekarang sudah berhenti menangisnya,”

Tiba-tiba Senja teringat sesuatu.

“Ma… Papa di mana? Papa juga masih hidup, kan?”

Wulandari tersenyum lembut. “Alhamdulillah, Papa sehat. Sekarang di pabrik. Menyambut calon investor baru.”

Investor baru? Tubuh Senja menegak. Mendadak panik.

“Sekarang tanggal berapa?”

"27 Mei."

27 mei? Senja mengerutkan dahinya. Mengingat dengan keras kejadian di tanggal itu.

Iya, 27 mei, hari ketika Papa menjalin kerja sama dengan Adityawarman Bramantyo. Kerja sama yang menjadi awal kehancuran keluarga mereka.

“Ma, telepon Papa. Minta Papa jangan setuju kerja sama itu. Kalau gagal, Papa bisa bangkrut!”

“Astagfirullah… jangan bicara begitu. Doakan yang baik-baik.”

“Ma, kumohon. Kali ini percaya padaku. Tolong minta Papa menolak kerja sama dengan Adityawarman Bramantyo.”

“Kamu baru sadar dari koma. Pikiranmu masih kacau. Istirahat!”

“Tapi, Ma—”

“Sudah!”

Dipaksa berbaring, Senja hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan gelisah. Begitu ibunya keluar, pikirannya kembali dipenuhi bayangan masa depan yang pahit.

Tidak. Tuhan memberinya kesempatan kedua.

Ia meraih ponsel di meja. Jemarinya gemetar saat mengirim pesan.

Aku tidak boleh diam.

Dengan tergesa, ia menyingkap selimut dan turun dari ranjang. Mengintip ke luar. Mamanya sedang menelepon menghadap taman.

“Kesempatan ini tidak boleh terlewat,” gumamnya.

Ia melangkah cepat menuju pintu keluar paviliun.

“Halo, temui aku di depan rumah sakit. Sekarang. Aku sudah sadar… aku butuh bantuanmu.”

Karena terburu-buru, ia menabrak seseorang.

Bruk!

“Aduh…” Ia terduduk sambil memegangi pinggangnya.

“Kamu tidak apa-apa?” Sebuah tangan terulur membantunya berdiri.

“Nggak apa-apa,” jawabnya singkat.

“Senja! Kembali! Kamu mau ke mana?” teriak Wulandari dari kejauhan. “Tolong tahan dia!”

Senja menoleh. Mamanya berlari ke arahnya.

Ia hendak kabur, tetapi pergelangan tangannya dicekal pria yang tadi ditabraknya.

“Lepas!”

“Itu ada yang memanggilmu,” ujar pria itu tenang.

“Jangan dilepas! Tahan dia!”

Panik, Senja meronta. Namun cekalan itu tak mengendur.

“Bagaimana ini? Aku tidak punya banyak waktu…” gumamnya frustasi.

Mamanya semakin dekat.

Sementara itu, tangannya masih dicekal oleh pria asing yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya. Pria yang tiba-tiba saja ia tabrak, dan kini justru menghalanginya.

Di tengah kepanikan yang berdesakan di dadanya, Senja memaksa dirinya berpikir jernih. Ia menarik napas panjang.

“Maaf,” ucapnya tiba-tiba.

Pria itu bergeming, mungkin bingung mendegar kata maaf yang keluar dari mulut gadis yang dipeganginya.

Dan dalam sepersekian detik berikutnya,

Senja mengangkat kakinya dan menginjak keras punggung kaki pria itu.

“Akh....!”

Cekalan itu terlepas.

Tanpa menoleh lagi, Senja berlari secepat yang ia mampu.

“Senja, berhenti! Jangan buat Papamu marah!”

Teriakan mamanya menggema di pelataran rumah sakit. Namun tak membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia berlari seperti orang yang dikejar takdir.

Ia memang sedang mengejar waktu.

“Mama pulang saja! Aku cuma pergi sebentar!” teriaknya tanpa menoleh.

“Tenang saja, Ma. Aku tidak akan membiarkan keluarga kita hancur!” tekadnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Permintaan Ardan.

    Plak!Suara tamparan itu menggema keras di seluruh kantin.Beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin langsung menoleh ke arah Senja dan Ardan yang kini berdiri saling berhadapan. Suasana mendadak sunyi. Namun hanya sesaat.Detik berikutnya, bisik-bisik mulai bergulir seperti gelombang. Dari yang terkejut, mencibir dan menertawakan Ardan.Ardan sendiri seperti membatu. Napasnya tertahan di dada, matanya membelalak penuh keterkejutan. Sama sekali tidak menyangka Senja berani menamparnya."Apa yang kamu lakukan?!" sentaknya menatap Senja dengan mata menyala penuh amarah. Namun Senja justru menarik satu sudut bibirnya.Sebuah seringai tipis muncul di wajah cantiknya.Ada kepuasan kecil di matanya. "Kenapa kamu menamparku?!" geram Ardan.Tangannya mencengkeram lengan Senja dengan kasar.Cengkeraman itu begitu kuat sampai membuat Senja meringis. Namun Ardan tidak peduli.Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa malunya. Harga dirinya runtuh dalam sekejap.Senja menarik tangannya d

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Kembali ke kampus.

    Pagi ini Senja akhirnya memutuskan kembali kuliah. Sudah hampir tiga minggu ia tidak muncul di kampus sejak kecelakaan itu. Tubuhnya memang sudah cukup pulih, namun luka di kepalanya masih belum benar-benar sembuh. Senja sedang duduk di depan meja rias ketika pintu kamar terbuka perlahan. Wulandari melangkah masuk. Tatapan seorang ibu yang penuh kekhawatiran langsung tertuju pada kepala Senja yang masih diperban. "Apa tidak mulai minggu depan saja kuliahnya?" ujar Wulandari lembut sambil duduk di ujung ranjang. "Luka di kepalamu belum sembuh, Nak." Senja tersenyum.Dari pantulan cermin ia menatap wajah mamanya dengan mata yang tiba-tiba terasa menghangat. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar nada khawatir itu. Di kehidupan sebelumnya, setelah keluarganya hancur, suara cerewet penuh perhatian ini hilang dari hidupnya. Senja menjalani delapan tahun hidup tanopa adanya dukungan dari sang mama. Penyakit jantung merenggut nyawanya. "Kok malah diam?" Wulandari kembali bertanya, bingu

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Menjaga keluarga.

    Senja sedang tenggelam dalam tumpukan buku kuliahnya ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Tok… tok… “Non, dipanggil Nyonya. Makan malam sudah siap.” Suara bibi terdengar dari balik pintu. “Iya, Bi,” jawab Senja singkat. Ia segera menutup bukunya, lalu bangkit dan keluar kamar. Langkahnya pelan saat menuruni tangga. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat Bulan dan Arini sudah duduk di sana. Keduanya tampak berbincang santai, sesekali tertawa kecil terlihat sangat akrab. “Senja, cepat duduk!” panggil Wulandari yang baru keluar dari dapur sambil membawa sepiring udang. “Mama masakin udang saus mentega kesukaan kalian.” Aroma gurih langsung memenuhi ruangan ketika ia meletakkan hidangan itu di tengah meja. Wulandari baru saja hendak mengambil piring Bulan untuk diisi nasi, namun Arini lebih dulu berdiri. “Mbak duduk saja,” katanya lembut. “Biar aku yang ambilkan nasinya.” Senyumnya ramah, tangannya cekatan mengambil sendok nasi. Senja memperhatikan dengan tatapan dat

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Berbeda.

    Brakk.... Sore itu pintu rumah keluarga Senja dibuka dengan tergesa. Dengan langkah lebar seorang pria berjalan masuk dan terhenti di ruang tengah. "Ma!!" Suara berat itu menggema sampai ke dapur. Wulandari yang tengah memotomg sayur tersentak. Pisau di tangannya segera ia letakkan dan bergegas menghampiri suamianya. "Papa sudah pulang? katanya lembur?" "Mana Senja? Benar dia sudah sadar?" tanya Himawan, mengabaikan pertanyaan istrinya. "Iya benar. Senja sudah sadar, Pa." Wulandari menjawab dengan lembut. Senyum tipis bahagia menghiasi wajahnya. Himawan menutup mata sejenak, menghela nafas panjang seolah beban berat di dadanya baru saja terangkat. "Syukurlah, akhirnya dia sadar juga," gumamnya. "Tadi security lapor, katanya Senja datang ke pabrik." Wulandari mengangguk. "Sekarang sedang istirahat di kamarnya?" Mendadak wajah Himawan berubah. "Kenapa sudah pulang? Apa kata dokter?" Wulandari menghela nafas berat. "Sebenarnya masoh harus dirawat di dua sampai t

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Wanita beracun.

    "Tidak perlu berpura-pura lagi! Tante, kan, yang memberi tahu Mbak Bulan? Tante sengaja ingin mengadu domba kami?" Tatapan Senja tajam dan dingin, menusuk tepat ke arah Arini. Sementara wanita itu tampak terperanjat, wajahnya pucat seketika, seolah tak menyangka tuduhan itu akan meluncur dari bibir keponakannya sendiri. “Ya Tuhan… Kenapa kamu menuduh Tante sejahat itu?” sahut Arini dengan suara bergetar. “Untuk apa Tante mengadu domba kalian? Kamu dan Bulan sudah Tante anggap seperti anak sendiri.” Nada memelas itu terdengar begitu meyakinkan. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar, seolah air mata siap tumpah detik itu juga. Senja berdecak pelan. Kali ini ia tidak akan tertipu lagi oleh wajah polos itu. Di kehidupan sebelumnya, ia dan Bulan menelan mentah-mentah setiap nasihat Arini. Mereka percaya tanpa ragu, tanpa pernah menyadari bahwa di balik kelembutan tutur katanya, tersimpan niat yang tak pernah benar-benar tulus. "Senja, jangan bicara seperti itu pada Tant

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Terlambat.

    "Apa kamu pikir Mama ini anak SD yang akan percaya dengan cerita karanganmu itu?" murka Wulandari. Wajah teduh itu sudah berubah merah padam. "Ma, aku serius. Ak--""Sudah cukup!!" bentak Wulandari. “Mama sudah benar-benar capek sama kamu! Gak bisa apa kamu nggak bikin masalah?" Nada suara Wulandari meninggi. Kesabaran yang selama ini menjadi ciri khasnya runtuh begitu saja. Wanita lemah lembut itu sudah benar-benar lelah dengan semua tingkah putri bungsunya itu. Senja mendesah berat, mendadak jantungnya berdenyut nyeri melihat tatapan kecewa sang mama. Secapek itukah sang mama dengan semua sikapnya? "Kamu juga Naren, berapa kali Tante bilang, jangan turuti permintaan Senja!""Maaf, Tante." Narendra menunduk. "Ma... aku mohon sekali ini saja," Senja tak putus asa."Mama bilang cukup! Kamu jadi suka membantah sejak mengenal si Ardan itu. Suka bohong dan membangkang!"Di mata Wulandari dan Himawan, Senja berubah sejak mengenal Ardan. Jadi sering membangkang dan sulit diatur. Ar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status