"Senja… Senja, kamu sudah sadar?"Suara itu seperti gema dari lorong panjang dan gelap. Perlahan, kelopak mata Senja bergetar, lalu terbuka. Pandangannya masih kabur, namun sosok di hadapannya membuat napasnya tercekat.“Mama…?” suaranya lirih, nyaris tak terdengar, penuh keterkejutan.“Iya, ini Mama, Sayang… Syukurlah. Akhirnya kamu sadar.”“Mama?”Mata yang semula sayu kini membulat sempurna. Senja membeku. Ia mengerjap beberapa kali, memastikan penglihatannya tidak sedang mempermainkannya. Bingung. Kaget. Tak percaya.“Senja? Sayang…” Wanita berwajah teduh itu menepuk lengannya pelan, lalu menyentuh pipinya lembut. Sentuhan tangan hangat itu begitu dikenalnya.Sentuhan itu nyata.“Ini Mama? Benar-benar Mama?” tanyanya gemetar.“Iya, Sayang. Ini Mama.” Wulandari tersenyum lembut.Sekejap kemudian, Senja bangkit dan memeluk tubuh di hadapannya erat-erat. Air matanya luruh tanpa bisa dibendung. Sedih, bahagia, rindu, semuanya bercampur menjadi satu dan memenuhi rongga dadanya hingga s
Read more