Masuk"Apa kamu pikir Mama ini anak SD yang akan percaya dengan cerita karanganmu itu?" murka Wulandari. Wajah teduh itu sudah berubah merah padam.
"Ma, aku serius. Ak--" "Sudah cukup!!" bentak Wulandari. “Mama sudah benar-benar capek sama kamu! Gak bisa apa kamu nggak bikin masalah?" Nada suara Wulandari meninggi. Kesabaran yang selama ini menjadi ciri khasnya runtuh begitu saja. Wanita lemah lembut itu sudah benar-benar lelah dengan semua tingkah putri bungsunya itu. Senja mendesah berat, mendadak jantungnya berdenyut nyeri melihat tatapan kecewa sang mama. Secapek itukah sang mama dengan semua sikapnya? "Kamu juga Naren, berapa kali Tante bilang, jangan turuti permintaan Senja!" "Maaf, Tante." Narendra menunduk. "Ma... aku mohon sekali ini saja," Senja tak putus asa. "Mama bilang cukup! Kamu jadi suka membantah sejak mengenal si Ardan itu. Suka bohong dan membangkang!" Di mata Wulandari dan Himawan, Senja berubah sejak mengenal Ardan. Jadi sering membangkang dan sulit diatur. Ardan Saputra, senior Senja di kampus. Anak seorang janda penjual nasi pecel di pasar. Ambisius dan egois. Keterbatasan ekonomi membuatnya tega memanfaatkan kebaikan Senja. Tak hanya hadiah, Ardan sering meminta uang pada Senja. Dengan alesan membayar uang kuliah. “Pak, bawa ke mobil!” perintah Wulandari. Sopir itu menarik paksa Senja, namun gadis itu meronta, tapi cengkeraman pria dewasa jelas lebih kuat. "Aku mau ketemu Papa," kekeh Senja hampir menangis. Untuk apa dia hidup lagi jika harus mengulangi kesalahan yang sama. Kali ini takdir haeua berubah. “Ya Tuhan, Senja.... apa kamu tidak bisa nurut seperti kakakmu?” hardik Wulandari. “Ma, aku sedang berusaha menyelamatkan perusahaan kita. Percayalah…” Wulandari menghela napas panjang, mencoba untuk sabar. "Mama nggak tahu apa yang kamu pikirkan sampai kamu nekat begini.” Tatapannya lelah. Tak habis pikir mengapa putri bungsunya yang manja tiba-tiba mencampuri urusan perusahaan. “Mama kasih tahu, kontrak kerja sama itu sudah ditandatangani sejak tadi pagi. Jadi percuma kamu maksa mau ketemu Papamu sekarang.” Senja menggeleng. "Mama bohong, kan?” Tak ada jawaban selain helaan napas berat. “Pak, tolong bantu bawa ke mobil.” Wulandari memimta bantuan security. Kini dua pria dewasa memegangi Senja. Ia tak lagi mampu melawan. Tubuhnya dipaksa masuk ke dalam mobil. “Duduk dengan tenang!!" perintah Wulandari saat mobil mulai bergerak. “Ma, sekali ini saja. Kumohon percayalah sama aku,” mohon Senja masih tak mau menyerah. Mamanya Senja mendesah berat. “Apa kamu tidak kasihan dengan Papamu?” Nada itu tak lagi keras, tapi lelah. Membuat hati Senja tercubit. “Papamu sangat menyayangimu. Pikirkan bagaimana perasaannya kalau kerja sama yang sangat dia inginkannya gagal gara-gara kamu.” Seperti tamparan. Senja terdiam. Semua juga tahu, pabrik itu dirintis Himawan sejak masih muda. Tepatnya setelah keluar dari keluarga besarnya. Demi menikahi Wulandari, Himawan rela melawan orang tuanya dan kehilangan hak warisnya. Dan kini pria itu ingin membuktikan, ia bisa sukses tanpa nama besar keluarganya. “Tidak bisakah kamu seperti Mbakmu? Jadi anak penurut dan tekun belajar?” lanjut Wulandari pelan namun menyakitkan. Kembali, kalimat membandingkan keluar dari sang mama. Kalimata yan tanpa sadar menjadi alasan perubahan sikap Senja. "Berhentilah bergaul dengan Ardan. Pemuda itu membawa pengaruh buruk. Membuatmu suka melawan dan sulit diatur," Senja mengepalkan tangannya. Menahan rasa sesak di dadanya. Mamanya itu tidak menyadari bukan Ardan yang membuat Senja berubah. Tapi ucapannya yang sering membandingkan Senja dengan Bulan yang menjadi penyebab sikap membangkanga Senja. Gadis itu lelah dibandingkan. Marah dan sakit hati, hingga tak lagi peduli dan berbuat sesukanya. Jika dulu Senja akan membantah. Tapi kali ini berbeda. “Maaf,” ucap Senja. Sontak membuat mamanya kaget. “Aku janji akan berubah," ucap Senja menatap mamanya sendu. Wulandari memalingkan wajah. “Buktikan. Mama nggak mau terima janji.” ** Sesampainya di rumah, Senja berjalan mengikuti mamanya tanpa protes. Tanpa drama. Di ruang tengah, Bulan sudah berdiri dengan tatapan dingin. “Mbak Bulan…” panggil Senja. Matanya berkaca-kaca melihat kakak kandungnya itu. Bulan yang berdiri di hadapannya kini tampak sehat, cantik dan segar. Sangat berbeda dengan bayangan terakhir yang melekat di ingatannya. Bulan yang digerogoti penyakit HIV, tubuhnya kurus, wajah pucat dan kusam. Tanpa ragu, Senja memeluk kakaknya erat. “Aku kangen sama Mbak…” bisiknya. Bulan memutar mata jengah. “Drama apa lagi?” gumamnya sudah lelah dengan adiknya yang penuh drama. Risih, ia melepaa paksa pelukan Senja. “Mbak nggak kangen sama aku?” protes Senja. “Kangen,” jawabnya datar. Lalu menoleh pada mamanya. “Ma, aku mau kuliah S2 di Inggris.” "Apa? Kuliah di Inggris?” Tentu Wulandari terkejut. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba meminta kuliah keluar negeri. “Iya. Setelah lulus S1, aku mau lanjut S2 di Inggris. Aku nggak mau dijodohkan.” Wajah Wulandari memucat. “Siapa yang memberitahumu tentang perjodohan?” “Tidak penting siapa. Pokoknya aku nggak mau ditumbalkan demi bisnis keluarga.” Senja mengernyit. Harusnya kejadian ini belum terjadi. Harusnya kakaknya belum mengetahui tentang perjodohan itu. “Sayang, kamu salah paham. Tidak ada yang menumbalkan kamu.” “Menikahkan aku dengan bujang lapuk demi kerja sama bisnis itu apa namanya kalau bukan menumbalkan?” “Astaga... Ada apa ini, ribut-ribut?” Suara lembut itu menyusup dari arah dapur. Arini. Adik Wulandari berjalan mendekat, lalu memegangi lengan Bulan. “Bulan, kenapa marah-marah begitu sama Mamamu? Jangan begitu, sayang…” Di tempatnya berdiri, Senja menatap tajam. Bibirnya terkatup. Namun hatinya mengumpat. "Dasar munafik." “Kenapa harus aku yang dikorbankan? Kenapa bukan Senja saja?” suara Bulan meninggi. “Papa paling sayang sama dia, kan? Suruh saja Senja yang menikah dengan bujang lapuk itu!” tunjuknya dengan suara lebih keras lagi. Wulandari terkejut hingga memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri dan sesak. Senja sigap memegangi mamanya. “Mbak, jangan keras-keras. Kasihan Mama.” “Ck. Ratu drama,” ketus Bulan sebelum berlalu. “Ya Tuhan… kenapa Bulan jadi kasar begitu?” Arini menghela napas panjang. “Yang sabar ya, Mbak,” ujarnya sambil mengelus lengan Wulandari. Tatapan Senja kembali menajam. “Ini semua rencana Tante, kan?” “Maksud kamu apa, Senja?” Arini tampak bingung. “Rencana apa?” “Tidak perlu berpura-pura lagi!” suara Senja bergetar oleh amarah yang ia tahan. “Tante yang memberitahu Mbak Bulan, kan? Tante sengaja ingin mengadu domba kami?”Plak!Suara tamparan itu menggema keras di seluruh kantin.Beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin langsung menoleh ke arah Senja dan Ardan yang kini berdiri saling berhadapan. Suasana mendadak sunyi. Namun hanya sesaat.Detik berikutnya, bisik-bisik mulai bergulir seperti gelombang. Dari yang terkejut, mencibir dan menertawakan Ardan.Ardan sendiri seperti membatu. Napasnya tertahan di dada, matanya membelalak penuh keterkejutan. Sama sekali tidak menyangka Senja berani menamparnya."Apa yang kamu lakukan?!" sentaknya menatap Senja dengan mata menyala penuh amarah. Namun Senja justru menarik satu sudut bibirnya.Sebuah seringai tipis muncul di wajah cantiknya.Ada kepuasan kecil di matanya. "Kenapa kamu menamparku?!" geram Ardan.Tangannya mencengkeram lengan Senja dengan kasar.Cengkeraman itu begitu kuat sampai membuat Senja meringis. Namun Ardan tidak peduli.Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa malunya. Harga dirinya runtuh dalam sekejap.Senja menarik tangannya d
Pagi ini Senja akhirnya memutuskan kembali kuliah. Sudah hampir tiga minggu ia tidak muncul di kampus sejak kecelakaan itu. Tubuhnya memang sudah cukup pulih, namun luka di kepalanya masih belum benar-benar sembuh. Senja sedang duduk di depan meja rias ketika pintu kamar terbuka perlahan. Wulandari melangkah masuk. Tatapan seorang ibu yang penuh kekhawatiran langsung tertuju pada kepala Senja yang masih diperban. "Apa tidak mulai minggu depan saja kuliahnya?" ujar Wulandari lembut sambil duduk di ujung ranjang. "Luka di kepalamu belum sembuh, Nak." Senja tersenyum.Dari pantulan cermin ia menatap wajah mamanya dengan mata yang tiba-tiba terasa menghangat. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar nada khawatir itu. Di kehidupan sebelumnya, setelah keluarganya hancur, suara cerewet penuh perhatian ini hilang dari hidupnya. Senja menjalani delapan tahun hidup tanopa adanya dukungan dari sang mama. Penyakit jantung merenggut nyawanya. "Kok malah diam?" Wulandari kembali bertanya, bingu
Senja sedang tenggelam dalam tumpukan buku kuliahnya ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Tok… tok… “Non, dipanggil Nyonya. Makan malam sudah siap.” Suara bibi terdengar dari balik pintu. “Iya, Bi,” jawab Senja singkat. Ia segera menutup bukunya, lalu bangkit dan keluar kamar. Langkahnya pelan saat menuruni tangga. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat Bulan dan Arini sudah duduk di sana. Keduanya tampak berbincang santai, sesekali tertawa kecil terlihat sangat akrab. “Senja, cepat duduk!” panggil Wulandari yang baru keluar dari dapur sambil membawa sepiring udang. “Mama masakin udang saus mentega kesukaan kalian.” Aroma gurih langsung memenuhi ruangan ketika ia meletakkan hidangan itu di tengah meja. Wulandari baru saja hendak mengambil piring Bulan untuk diisi nasi, namun Arini lebih dulu berdiri. “Mbak duduk saja,” katanya lembut. “Biar aku yang ambilkan nasinya.” Senyumnya ramah, tangannya cekatan mengambil sendok nasi. Senja memperhatikan dengan tatapan dat
Brakk.... Sore itu pintu rumah keluarga Senja dibuka dengan tergesa. Dengan langkah lebar seorang pria berjalan masuk dan terhenti di ruang tengah. "Ma!!" Suara berat itu menggema sampai ke dapur. Wulandari yang tengah memotomg sayur tersentak. Pisau di tangannya segera ia letakkan dan bergegas menghampiri suamianya. "Papa sudah pulang? katanya lembur?" "Mana Senja? Benar dia sudah sadar?" tanya Himawan, mengabaikan pertanyaan istrinya. "Iya benar. Senja sudah sadar, Pa." Wulandari menjawab dengan lembut. Senyum tipis bahagia menghiasi wajahnya. Himawan menutup mata sejenak, menghela nafas panjang seolah beban berat di dadanya baru saja terangkat. "Syukurlah, akhirnya dia sadar juga," gumamnya. "Tadi security lapor, katanya Senja datang ke pabrik." Wulandari mengangguk. "Sekarang sedang istirahat di kamarnya?" Mendadak wajah Himawan berubah. "Kenapa sudah pulang? Apa kata dokter?" Wulandari menghela nafas berat. "Sebenarnya masoh harus dirawat di dua sampai t
"Tidak perlu berpura-pura lagi! Tante, kan, yang memberi tahu Mbak Bulan? Tante sengaja ingin mengadu domba kami?" Tatapan Senja tajam dan dingin, menusuk tepat ke arah Arini. Sementara wanita itu tampak terperanjat, wajahnya pucat seketika, seolah tak menyangka tuduhan itu akan meluncur dari bibir keponakannya sendiri. “Ya Tuhan… Kenapa kamu menuduh Tante sejahat itu?” sahut Arini dengan suara bergetar. “Untuk apa Tante mengadu domba kalian? Kamu dan Bulan sudah Tante anggap seperti anak sendiri.” Nada memelas itu terdengar begitu meyakinkan. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar, seolah air mata siap tumpah detik itu juga. Senja berdecak pelan. Kali ini ia tidak akan tertipu lagi oleh wajah polos itu. Di kehidupan sebelumnya, ia dan Bulan menelan mentah-mentah setiap nasihat Arini. Mereka percaya tanpa ragu, tanpa pernah menyadari bahwa di balik kelembutan tutur katanya, tersimpan niat yang tak pernah benar-benar tulus. "Senja, jangan bicara seperti itu pada Tant
"Apa kamu pikir Mama ini anak SD yang akan percaya dengan cerita karanganmu itu?" murka Wulandari. Wajah teduh itu sudah berubah merah padam. "Ma, aku serius. Ak--""Sudah cukup!!" bentak Wulandari. “Mama sudah benar-benar capek sama kamu! Gak bisa apa kamu nggak bikin masalah?" Nada suara Wulandari meninggi. Kesabaran yang selama ini menjadi ciri khasnya runtuh begitu saja. Wanita lemah lembut itu sudah benar-benar lelah dengan semua tingkah putri bungsunya itu. Senja mendesah berat, mendadak jantungnya berdenyut nyeri melihat tatapan kecewa sang mama. Secapek itukah sang mama dengan semua sikapnya? "Kamu juga Naren, berapa kali Tante bilang, jangan turuti permintaan Senja!""Maaf, Tante." Narendra menunduk. "Ma... aku mohon sekali ini saja," Senja tak putus asa."Mama bilang cukup! Kamu jadi suka membantah sejak mengenal si Ardan itu. Suka bohong dan membangkang!"Di mata Wulandari dan Himawan, Senja berubah sejak mengenal Ardan. Jadi sering membangkang dan sulit diatur. Ar







