Share

Hari kontra ditanda tangani.

Author: iva dinata
last update Last Updated: 2026-02-23 11:01:24

Di depan rumah sakit, Narendra sudah menunggu di atas motor. Mesin kuda besi itu masih menyala, sesuai perintah singkat dalam pesan yang dikirim Senja.

“Naren!” panggilnya sambil berlari mendekat.

Narendra menoleh. Ia menatap lekat-lekat sepupunya itu. “Kamu beneran sudah sadar?” tanyanya, hampir tak percaya.

Kemarin saat ia menjenguk, Senja masih terbaring pucat di atas ranjang rumah sakit.

“Seperti yang kamu lihat,” jawab Senja merentangkan tangannya. Ia berhenti tepat di hadapan Narendra. Napasnya memburu, dadanya naik turun.

“Kalau tidak melihat sendiri, rasanya sulit percaya,” ujar Narendra, mengulurkan tangannya mencubit pipi Senja. "Asli..."

“Ih... Apa sih!” Senja sontak menepis tangan sepupunya itu.

“Tapi kata dokter kemungkinan kamu bangun itu kecil…” Narendra memegang kedua lengan Senja, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, memastikan bahwa gadis di depannya benar-benar nyata.

Malam itu tanpa sengaja Narendra mendengar percakapan dokter dengan papanya Senja.

"Pasien mengalami benturan yang cukup keras, sehingga mengakibatkan pendarahan di otak. Pasien juga kehilangan banyak darah karena terlambat dibawa ke rumah sakit. Saya minta maaf, tapi untuk sadar… kemungkinan sangat kecil," jelas dokter malam itu setelah Senja selesai di operasi.

Namun Papa Senja tak putus asa, meminta dokter untuk tidak menghentikan perawatan. Pria itu yakin putri bungsunya itu akan sadar kembali. Papa Senja juga meminta agar kondisi sebenarnya disembunyikan dari istrinya yang memiliki riwayat penyakit jantung.

“Jangankan kamu, aku sendirian juga gak percaya bisa terbangun lagi,” ujar Senja menghela nafas panjang.

“Sudah gak perlu dibahas!" katanya saat Narendra hendak membuka mulutnya. "Sekarang antarin aku ke pabriknya Papa!”

“Mau apa?” Narendra makin bingung. Baru sadar dari koma, bukannya istirahat malah mau ke pabrik.

“Sudah, jangan banyak tanya!” Senja hendak naik ke boncengan, saat Narendra menahan lengannya. Ia melepas jaket yang dipakainya dan menyodorkannya.

“Pakai!" suruhnya.

Senja tersenyum. "Terima kasih," ucapnya.

Narendra Abisatya, sepupu dari mamanya itu sebenarnya anak yang baik dan pintar. Sayangnya… di masa depan, ia terbawa pergaulan buruk dan berakhir menjadi pecandu narkoba.

“Tenang saja. Kali ini aku akan memperbaiki semuanya.” Senja menepuk pundak Narendra.

“Apanya?” Narendra menoleh heran. “Emang ada yang rusak?”

“Nggak ada! Sudah ayo jalan!” perintah Senja setelah duduk di boncengan motor.

Narendra menarik gas dan motor melaju membelah jalanan kota siang itu.

“Lebih cepat!” perintah Senja tegas, tak mau dibantah.

"Pelan-pelan saja, nanti juga sampai."

Kecelakaan sepuluh hari yang lalu, sedikit membuat Narendra trauma. Rasa bersalah karena melihat Senja hampir tak terselamatkan.

"Aku bilang cepat!" Sentak Senja.

Narendra mendengus kasar, menarik gas motornya lebih dalam.

Ia tak pernah bisa menolak permintaan Senja. Bahkan kecelakaan sepuluh hari yang lalu, karena permintaan Senja. Sepupunya itu nekat kabur di malam hari demi menonton konser band favorit Ardan.

Senja memaksa Narendra untuk mengantarnya. Pulangnya mereka bertiga berboncengan. Ardan yang menyetir. Senja duduk paling belakang.

Ardan yang tak mahir mengendarai motor namun memaksa ingin memegang stang motor. Saat melewati jalanan berlubang, kecelakaan pun terjadi. Senja terpelanting, kepalanya membentur pembatas jalan. Narendra juga terpental. Keduanya pingsan. Sementara Ardan, yang hanya luka ringan di kaki malah kabur meninggalkan Senja dan Narendra.

Mengingat itu Narendra mendesah berat. Entah apa yang sudah dilakukannya Andra sampai membuat Senja dibutakan oleh cinta. Rela melakukan apa saja demi laki-laki itu.

Tak sampai lima menit, mereka tiba di depan pabrik milik keluarga Senja. Motor pun berhenti di pinggi jalan.

“Kenapa berhenti di sini? Langsung masuk!” ujar Senja.

“Gak lihat itu gerbangnya ditutup?”

Senja mendengus kasar. Tanpa menunggu lama, ia turun dari motor dan berjalan menuju pos jaga. Di sampingnya ada pintu kecil untuk akses karyawan.

“Ada yang bisa dibantu?" tanya security yang berjaga.

"Saya mau ketemu Pak Himawan," jawab Senja.

"Maaf, apa sudah punya janji?"

"Bapak gak kenal saya?" tanya Senja balik. "Saya Senja Arunika. Putri kedua pemilik pabrik ini.”

"Maaf, tapi kami belum pernikahan bertemu anaknya Pak Himawan. Apa ada buktinya?" sahut security yang lain.

"Bukti apa? Kartu keluarga? tanya Senja mulai kesal. Ingin marah tapi sadar security hanya menjalankan tugas. Jika di ingat-ingat lagi, ini juga salahnya, dulu setiap kali diajak ke pabrik Senja selalu menolak. Menurutnya tidak ada hal yang menarik untuk dipelajari dari pabrik milik papanya itu.

"Pak, dia ini benar-benar anaknya Om Himawan. Kalau gak percaya telpon aja ke kantor." Narendra ikut menjelaskan.

Dua security itu saling pandang. Lalu segera menelpon kantor.

“Senja, itu Papamu!” Narendra menunjuk ke arah lobi kantor.

Himawan berjalan berdampingan dengan seorang pria berjas hitam. Di belakang mereka, beberapa staf mengikuti. Mereka berhalangan menuju gedung produksi.

Senja menyipitkan matanya. "Itu Adityawarman," batinnya.

Hari ini. Kerja sama itu.

“Papa!” teriak Senja, berusaha menerobos.

Namun tubuhnya kembali dihalangi.

“Maaf. Saat ini ada tamu penting. Siapapun tidak diizinkan masuk!” ujar Security.

Senja menggeram pelan. “Astaga…. Saya i---"

"Biarkan masuk, dia memang anaknya Pak Himawan. Mbak Senja Arunika,” beritahu satpam yang tadi menelepon.

"Oh… maaf, Mbak Senja.” Satpam segera minggir. Memberi jalan Senja.

Senja gegas melangkah masuk. “Papa!” panggilnya lagi, namun rombongan itu sudah lebih dulu masuk ke gedung produksi.

Senja sudah bersiap berlari mengejar ketika, tiba-tiba lengannya dicekal dari belakang. Langkahnya pun seketika terhenti.

Langkah Senja terhenti seketika.

"Apa lagi?” kesalnya menoleh. "Eh..."

Senja cukup terkejut, ternyata sopir pribadi keluarganya yang sedang memegangi tangannya.

"Kamu mau kemana?"

Suara itu pelan namum tegas. Membuat jantung Senja berdegup kencang.

"Mama..." panggilnya memelas.

Wulandari muncul dari belakang tubuh pak sopir. Wajah anggun yang biasanya lembut kini berubah tegas, bahkan keras.

“Tidak bisakah kamu tidak membuat masalah lagi!”

“Mama…, tolong percayalah, sekali ini saja,” rengek Senja, suaranya melemah. “Aku tidak bohong. Papa tidak boleh, bekerja sama dengan perusahaan Bramantyo. Aku datang dari masa depan. Aku sudah mengalami semua ini,"

"Apa kamu bilang? Datang dari masa depan?" Wulandari mengerutkan dahinya.

"Benar. Aku terlahir kembali setelah bunuh diri. Jadi, percayalah padaku Ma..." Senja berlutut sambil memegangi kaki mamanya.

"Kumohon percayalah padaku, Ma,......"

"Kamu serius Ma?"

"Serius Ma," jawab Senja cepat. "Aku berani sumpah! Aku mohon percaya sama aku,"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Permintaan Ardan.

    Plak!Suara tamparan itu menggema keras di seluruh kantin.Beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin langsung menoleh ke arah Senja dan Ardan yang kini berdiri saling berhadapan. Suasana mendadak sunyi. Namun hanya sesaat.Detik berikutnya, bisik-bisik mulai bergulir seperti gelombang. Dari yang terkejut, mencibir dan menertawakan Ardan.Ardan sendiri seperti membatu. Napasnya tertahan di dada, matanya membelalak penuh keterkejutan. Sama sekali tidak menyangka Senja berani menamparnya."Apa yang kamu lakukan?!" sentaknya menatap Senja dengan mata menyala penuh amarah. Namun Senja justru menarik satu sudut bibirnya.Sebuah seringai tipis muncul di wajah cantiknya.Ada kepuasan kecil di matanya. "Kenapa kamu menamparku?!" geram Ardan.Tangannya mencengkeram lengan Senja dengan kasar.Cengkeraman itu begitu kuat sampai membuat Senja meringis. Namun Ardan tidak peduli.Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa malunya. Harga dirinya runtuh dalam sekejap.Senja menarik tangannya d

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Kembali ke kampus.

    Pagi ini Senja akhirnya memutuskan kembali kuliah. Sudah hampir tiga minggu ia tidak muncul di kampus sejak kecelakaan itu. Tubuhnya memang sudah cukup pulih, namun luka di kepalanya masih belum benar-benar sembuh. Senja sedang duduk di depan meja rias ketika pintu kamar terbuka perlahan. Wulandari melangkah masuk. Tatapan seorang ibu yang penuh kekhawatiran langsung tertuju pada kepala Senja yang masih diperban. "Apa tidak mulai minggu depan saja kuliahnya?" ujar Wulandari lembut sambil duduk di ujung ranjang. "Luka di kepalamu belum sembuh, Nak." Senja tersenyum.Dari pantulan cermin ia menatap wajah mamanya dengan mata yang tiba-tiba terasa menghangat. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar nada khawatir itu. Di kehidupan sebelumnya, setelah keluarganya hancur, suara cerewet penuh perhatian ini hilang dari hidupnya. Senja menjalani delapan tahun hidup tanopa adanya dukungan dari sang mama. Penyakit jantung merenggut nyawanya. "Kok malah diam?" Wulandari kembali bertanya, bingu

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Menjaga keluarga.

    Senja sedang tenggelam dalam tumpukan buku kuliahnya ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Tok… tok… “Non, dipanggil Nyonya. Makan malam sudah siap.” Suara bibi terdengar dari balik pintu. “Iya, Bi,” jawab Senja singkat. Ia segera menutup bukunya, lalu bangkit dan keluar kamar. Langkahnya pelan saat menuruni tangga. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat Bulan dan Arini sudah duduk di sana. Keduanya tampak berbincang santai, sesekali tertawa kecil terlihat sangat akrab. “Senja, cepat duduk!” panggil Wulandari yang baru keluar dari dapur sambil membawa sepiring udang. “Mama masakin udang saus mentega kesukaan kalian.” Aroma gurih langsung memenuhi ruangan ketika ia meletakkan hidangan itu di tengah meja. Wulandari baru saja hendak mengambil piring Bulan untuk diisi nasi, namun Arini lebih dulu berdiri. “Mbak duduk saja,” katanya lembut. “Biar aku yang ambilkan nasinya.” Senyumnya ramah, tangannya cekatan mengambil sendok nasi. Senja memperhatikan dengan tatapan dat

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Berbeda.

    Brakk.... Sore itu pintu rumah keluarga Senja dibuka dengan tergesa. Dengan langkah lebar seorang pria berjalan masuk dan terhenti di ruang tengah. "Ma!!" Suara berat itu menggema sampai ke dapur. Wulandari yang tengah memotomg sayur tersentak. Pisau di tangannya segera ia letakkan dan bergegas menghampiri suamianya. "Papa sudah pulang? katanya lembur?" "Mana Senja? Benar dia sudah sadar?" tanya Himawan, mengabaikan pertanyaan istrinya. "Iya benar. Senja sudah sadar, Pa." Wulandari menjawab dengan lembut. Senyum tipis bahagia menghiasi wajahnya. Himawan menutup mata sejenak, menghela nafas panjang seolah beban berat di dadanya baru saja terangkat. "Syukurlah, akhirnya dia sadar juga," gumamnya. "Tadi security lapor, katanya Senja datang ke pabrik." Wulandari mengangguk. "Sekarang sedang istirahat di kamarnya?" Mendadak wajah Himawan berubah. "Kenapa sudah pulang? Apa kata dokter?" Wulandari menghela nafas berat. "Sebenarnya masoh harus dirawat di dua sampai t

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Wanita beracun.

    "Tidak perlu berpura-pura lagi! Tante, kan, yang memberi tahu Mbak Bulan? Tante sengaja ingin mengadu domba kami?" Tatapan Senja tajam dan dingin, menusuk tepat ke arah Arini. Sementara wanita itu tampak terperanjat, wajahnya pucat seketika, seolah tak menyangka tuduhan itu akan meluncur dari bibir keponakannya sendiri. “Ya Tuhan… Kenapa kamu menuduh Tante sejahat itu?” sahut Arini dengan suara bergetar. “Untuk apa Tante mengadu domba kalian? Kamu dan Bulan sudah Tante anggap seperti anak sendiri.” Nada memelas itu terdengar begitu meyakinkan. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar, seolah air mata siap tumpah detik itu juga. Senja berdecak pelan. Kali ini ia tidak akan tertipu lagi oleh wajah polos itu. Di kehidupan sebelumnya, ia dan Bulan menelan mentah-mentah setiap nasihat Arini. Mereka percaya tanpa ragu, tanpa pernah menyadari bahwa di balik kelembutan tutur katanya, tersimpan niat yang tak pernah benar-benar tulus. "Senja, jangan bicara seperti itu pada Tant

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Terlambat.

    "Apa kamu pikir Mama ini anak SD yang akan percaya dengan cerita karanganmu itu?" murka Wulandari. Wajah teduh itu sudah berubah merah padam. "Ma, aku serius. Ak--""Sudah cukup!!" bentak Wulandari. “Mama sudah benar-benar capek sama kamu! Gak bisa apa kamu nggak bikin masalah?" Nada suara Wulandari meninggi. Kesabaran yang selama ini menjadi ciri khasnya runtuh begitu saja. Wanita lemah lembut itu sudah benar-benar lelah dengan semua tingkah putri bungsunya itu. Senja mendesah berat, mendadak jantungnya berdenyut nyeri melihat tatapan kecewa sang mama. Secapek itukah sang mama dengan semua sikapnya? "Kamu juga Naren, berapa kali Tante bilang, jangan turuti permintaan Senja!""Maaf, Tante." Narendra menunduk. "Ma... aku mohon sekali ini saja," Senja tak putus asa."Mama bilang cukup! Kamu jadi suka membantah sejak mengenal si Ardan itu. Suka bohong dan membangkang!"Di mata Wulandari dan Himawan, Senja berubah sejak mengenal Ardan. Jadi sering membangkang dan sulit diatur. Ar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status