LOGIN“AAA …!”
Teriakan Elia membuat Wirasena terjaga dan menatap marah ke arah gadis itu. Namun, beberapa detik kemudian, pancaran amarah di matanya berganti tatapan bingung. Kulit putih mulus tanpa penutup sedang membanjiri indera penglihatnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?!” bentaknya setengah sadar.
Bentakan Wirasena dan tatapan aneh yang terarah padanya membuat Elia menunduk mengikuti arah pandangan itu.
“Aaa …!” Teriakan lain yang tak kalah nyaring menyusul keluar diikuti tarikan kasar pada selimut yang setengah tersingkap.
“Diam!” geram Wirasena berusaha menguasai diri. “Katakan. Apa yang kau lakukan di kamarku dalam kondisi begini?!” tunjuk Wirasena dengan dagunya.
Mata Elia terpejam. Denyutan di kepalanya kembali menyerang. Sekuat tenaga dicobanya mengingat apa yang terjadi semalam. Dahinya mengernyit antara mengingat dan menahan sakit di kepala dan bagian bawah tubuhnya.
‘Sudah terjadi. Ada nyeri dan perih di situ, ada kelelahan otot paha dan ada …,’ batin Elia mengulang kembali materi kuliah yang sudah dia dapat sambil membuka sebelah matanya melirik ke bagian bawah tubuhnya. ‘Haish …! Tenang, El. Tenang.’ Mulutnya bergumam tanpa suara menenangkan, tapi kepalanya berkhianat dan menggeleng panik.
“Hei! Kamu bisu?!” bentak Wirasena tak sabar.
Suara dingin itu melukai harga diri Elia. Dibukanya kedua matanya pelan, tapi pasti dan mengintimidasi. Ia ingin memastikan bahwa dirinya berada di ranjang yang benar sebelum membalas pria sombong yang menyusup masuk ke kamarnya dan berbuat tidak senonoh padanya.
‘Yes!’ pekiknya dalam hati. ‘Ini kamarku.’
“Koreksi. Ini kamar saya, Prof. Anda yang menyusup kemari dan berbuat asusila!” desis Elia dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar ucapan Elia, Wirasena mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. ‘Sial! Ini memang bukan kamarku. Lalu, apa yang aku lakukan di sini?! Bangsat!’ kutuk Wirasena pada dirinya.
“Maaf. Aku akan pikirkan solusinya.” Wirasena beringsut turun dari ranjang dan membelakangi Elia seraya memasang kembali pakaiannya, tanpa kehilangan keangkuhan yang membuat Elia makin geram.
‘Apa? Maaf?! Gampang sekali kedengarannya. Bahkan dia merubah sapaannya dari ‘saya’ menjadi ‘aku’. Hellow … dia pikir, siapa dia?’
Tak mau kalah, Elia memakai jubah mandinya, sedikit terlalu erat mengikatnya hingga membentuk tubuhnya dengan sempurna. “Saya sudah punya solusinya. Lupakan, tidak perlu repot.”
Kemeja kusut yang hanya terkancing setengah jalan, rambut acak-acakan dan mata tajam mengarah pada Elia lengkap dengan dua tangan bertengger di pinggang, menjadi perpaduan berbahaya di mata Elia.
‘Sial!’ umpat Elia kesal. ‘Kenapa di saat seperti ini, dia terlihat mempesona?!’
Wirasena mengernyit mendengar ucapan Elia. “Nona, jangan berlagak sudah terbiasa mengalami hal seperti ini. Aku tahu ini pengalaman pertamamu, maka aku akan bertanggung jawab atas konsekuensinya.”
Setelah berkata demikian, Wirasena berjalan cepat keluar kamar, meninggalkan Elia dengan lutut lemas dan perasaan aneh melingkupinya. Beruntung, suasana rumah sedang sepi hingga Wirasena tidak perlu khawatir ada yang melihatnya keluar dari kamar Elia.
Ia kembali ke kamarnya, hendak mandi dan bersiap pergi ke rumah sakit. Hari ini, ada tiga pasien yang sudah ia jadwalkan menjalani operasi dengannya. Ketika Wirasena membuka pintu kamar, bertepatan dengan Susan yang keluar dari kamar mandi dengan tubuh terbalut handuk dan rambut basah.
“Mas Wira, baru bangun?”
“Keluar!” jawab Wirasena ketus.
Susan hanya tersenyum dan berjalan melintasi kamar. Dibukanya salah satu pintu lemari dan mengeluarkan sepasang pakaian dalam warna merah menyala. “Semalam tidur di mana? Susan tungguin sampai larut, belum juga pulang.”
“Keluar kataku!” bentak Wirasena sembari menarik lengan Susan menjauh dari lemarinya.
Raut wajah Susan tidak berubah, masih tetap menyungging senyuman. “Sabar, dong. Paling tidak, biarkan aku pakai baju.” Kedua tangannya menjimpit salah satu ujung pakaian dalamnya dan melepaskan ujung yang lain, membuat bra dan celana dalam itu terjuntai.
Wirasena melepas tangan Susan. Ia menarik sebuah kemeja dan celana dari lemari, lalu masuk ke kamar mandi diikuti suara pintu berdebum. Begitu Wirasena menghilang di balik pintu, Susan melempar tubuhnya ke ranjang.
“Sial! Tidur di mana dia semalam?!” Susan melirik tajam ke pintu kamar mandi. “Kenapa ada dua gelas kotor di dapur? Siapa yang minum wiski bersamanya?” gumam Susan penasaran.
Di kamar lain, Elia sudah memulai tugas pertamanya bersama Tatik ditemani Mika, meskipun dua jam lebih lambat dari biasanya.
“Oma, Oma gak bisa cuci rambut sendiri, ya?” tanya Mika dengan raut ingin tahu.
Melihat Tatik hanya diam tidak berniat merespon, Elia berinisiatif menjawab. “Sayang, karena sedang sakit, Oma perlu dibantu untuk mandi dan melakukan hal lain. Jadi, Kak El yang bantu Oma mencuci rambutnya.”
Mulut Mika membola tanpa suara. “Nanti, kalau Oma sudah selesai, gantian Mika, ya?” tanyanya seraya menatap penuh harap pada Elia.
“Memangnya, Mika sedang sakit?” tanya Elia sambil menyemprotkan air hangat ke atas kepala Tatik.
Mika menggeleng. “Mika mau dibantuin juga.”
Elia meraih handuk kecil yang tersampir di bahu kirinya dan membungkus rambut basah Tatik. “Hmm … gimana kalau Mika minta tolong Mama? Kalau nunggu Kak El, nanti Mika kesiangan berangkat sekolahnya. Oke?” Elia mengerling jenaka pada bocah itu.
Mika kembali menggeleng, kali ini dengan wajah cemberut. “Mama gak pernah mandiin Mika. Selalu suster. Lagian, Kak El juga telat.”
‘Upss! Salah bicara gue,’ sesal Elia dalam hati.
“Mika, minta mandi sama Marni, gih.” Tatik mengusap kepala Mika lembut. “Susternya mau bantu oma mandi.”
Kali ini, Mika mengangguk patuh dan berlari keluar.
“Lain kali, jangan ikut campur masalah Mika dan Susan. Susan tidak suka orang lain ikut campur urusannya,” ketus Tatik seraya membuka baju atasannya. “Meski dia anakku, dia berbeda dengan kakaknya, mendiang istri Wira.”
Elia terkejut mendapati nada sedih tersirat dalam ucapan Tatik. Selama Elia merawatnya, Tatik bukan tipe terbuka dan ramah, cenderung murung dan menyendiri.
“Iya, Oma. Maafkan saya.”
“Anita wanita yang hangat dan perhatian. Dulu, aku sempat tidak setuju saat dia meminta izin untuk menikahi Wira. Memang dia tampan, mapan dan pintar, tapi dingin dan kaku.”
Elia terkikik mendengar kebenaran yang Tatik ungkapkan. Sedikit berlebihan, hingga membuat Tatik menoleh padanya.
“Kenapa tertawa?!” tanya Tatik dengan sinis.
“Yah, jangan tinggalkan El sendirian.” Elia mencekal lengan Wirasena.Wirasena yang masih membungkuk di atas tubuh Elia membeku oleh sentuhan itu. Sampai malam ini, Wirasena tidak pernah menyadari bahwa ia—tubuhnya—sangat merindukan wanita itu. Bukan karena Elia sedang mengandung anaknya, bukan karena tanggung jawab yang selama ini ia jadikan alasan untuk bisa dekat dengan wanita itu, tapi karena wanita itu Elia.“El, kamu akan menyesalinya dan semakin marah padaku begitu kamu bangun besok pagi.”Elia menarik lengan Wirasena semakin erat hingga lengan berotot itu bersentuhan dengan dada penuh yang terbalut kain kaos. Wirasena mengejang, rahangnya gemerutuk menahan hasrat yang ditahannya beberapa bulan ini.Tangan bebas Wirasena mengusap wajah Elia lembut. Ibu jarinya menyentuh bibir Elia yang lembab.“Pers*tan, El! Aku siap menanggung semuanya besok,” gumam Wirasena sebelum merendahkan kepalanya dan melumat bibir istrinya yang setengah terbuka.Tidak berhenti di situ, Wirasena berpind
Elia sedang merendam kakinya setelah beberapa jam berdiri dan berjalan mengerjakan tugasnya di puskesmas dan balai desa sekaligus. Ia bersandar nyaman pada sofa dan menikmati larutan garam hangat melebarkan pembuluh darahnya dan menenangkan ototnya yang kaku.“Cokelat hangat?” tawar Jonas dari meja makan.“Tidak, terima kasih. Seharian ini aku merasa perutku penuh dan napsu makanku hilang.” Elia menegakkan punggungnya. “Jonas, apakah respon warga selalu antusia begitu saat ada penyuluhan?” tanya Elia penasaran.Jonas tersenyum. “Ya, setidaknya di sini, mereka sangat antusias terhadap informasi kesehatan yang diberikan. Atau mungkin ….” Jonas duduk di samping Elia. “Mereka lebih antusias karena kamu yang berbicara.”Elia terkekeh. “Bukankah sebelumnya mereka sudah punya doknas yang ganteng?” gurau Elia polos.“Dok, Dokter!” Bagus muncul di ambang pintu dengan wajah panik. “Pasien baru, anak-anak usia sembilan tahun, luka bakar empat puluh persen.”Jonas dan Elia bergegas menuju UGD pus
Di atas ranjang, Barata tersenyum memandangi foto yang sengaja diambilnya untuk sebuah tujuan yang mulia. Pose mereka berdua sangat provokatif, meskipun itu terjadi karena ketidaksengajaan dan didukung keahlian sang fotografer, Joko.“Kamu kenapa? Pulang dari area konflik malah senyum-senyum.” Elena naik ke atas ranjang menjejeri suaminya. “Jangan kelewat bahagia, besok ketemu Wira, jadi remahan rempeyek.”Barata terkekeh seraya menyerahkan foto yang dipandanginya sejak tadi. “Coba lihat. Apa yang akan terjadi padaku besok, ketika si Wira lihat foto ini?”Elena menerima ponsel Barata dengan rasa penasaran. “Wahh, habis kamu, Yang. Bakal jadi perkedel kamu. Kok bisa posenya begini, sih?!” Elena menyodorkan kembali ponsel suaminya dengan bergidik.“Disuruh bantu selesaikan masalah, malah nambah masalah. Misimu itu meredakan perang, bukan sebaliknya. Astaga ...,” desah Elena lelah.“Biar saja. Jengkel aku dibuatnya! Istri siapa yang kabur, siapa yang disuruh kejar.” Barata kembali mengam
“Tidak mungkin ketahuan, maksudmu?” sela Wirasena dengan sorot mata tajam. “Bukan tidak ketahuan, tapi belum saatnya diketahui orang. Sama seperti tindakanmu pada almarhum ibuku yang akan aku bongkar sebentar lagi.”Wajah Rossana makin pias. Keringat sebesar biji jagung, muncul di kedua pelipisnya. “A-apa maksudnya?”“Cih! Dari sikap gugup dan butiran keringat yang keluar, sudah cukup membuktikan bahwa kamu mengerti betul apa maksud ucapanku,” cibir Wirasena sinis. “Ayo, Nar. Tidak perlu berlama-lama.”“Sampaikan pada Yulia, kami tidak akan menuntut kalau semua dikembalikan pada pemiliknya. Itu saja.” Danar meraih tas kerjanya dan bangkit dari kursinya. “Kami permisi.”Wirasena hanya melirik ketika Danar menepuk bahunya sambil lalu. Ia belum berniat beranjak dari tempatnya.“Sekilas, aku ingat Elia pernah menyebut tentang tukang kebunnya yang tiba-tiba menghilang setelah kematian ayahnya. Apa itu juga ada hubungannya denganmu?”Dengan tenang, Wirasena mengusap dagunya yang kasar. “Aku
Haris duduk bersandar pada kursi plastik tebal yang baru pertama kali dipakainya menemui tamu karena semenjak dirinya mendekam dalam tahanan, belum ada satu orang pun yang menjenguknya, termasuk para perempuannya. Ia mengernyit melihat dua pria yang menjadi tamu pertamanya. Rasanya, ia belum pernah melihat apalagi mengenal mereka berdua. “Kalian siapa?” Pria berdasi menegakkan punggungnya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kulit hitam yang biasanya juga Haris pakai ketika menemui klien atau yang berkaitan dengan kasus yang ditanganinya. “Saya Danar Wiguna, kuasa hukum dari Wirasena. Saya datang untuk menyampaikan ini kepada anda.” Danar memutar kertas menghadap Haris agar pria itu mudah membacanya. Tangan bergelang borgol itu, menerima dengan ragu. Bola matanya bergerak lambat mencermati setiap kata yang tertera dalam kertas. Sejurus kemudian, senyum sinis terbersit di sudut kanan bibirnya. “Pemalsuan surat wasiat? Apa ini?!” Haris meremas kertas di tangannya dan mem
Mata wanita Bali itu lekat menatapnya, membuat Elia was-was.“Secara keseluruhan, kondisi bayinya sehat. Hanya saja ….”“Hanya saja apa, Dok? Bayi saya kenapa?” sambar Elia cepat.Tok tok tok.“Masuk.”Elia sedikit kesal pada pemilik tangan di balik pintu yang mengganggunya. Wajah cemberutnya tidak lepas dari pengamatan Kadek.“Permisi, Dok. Apa suami pasien sudah boleh masuk?” tanya perawat pendamping polos.“Boleh. Persilakan masuk, Sus.” Senyum jenaka terbersit di sudut bibir Kadek.Elia memalingkan wajahnya menanti kemunculan Jonas. Begitu pria itu menampakkan wajah tampannya yang sedang tersenyum canggung, Elia menekuk bibirnya keluar.“Kenapa masuk sekarang, sih?!” ketus Elia disambut ekspresi kebingungan Jonas.“Hah?”“Silakan duduk.” Kadek berdiri dan mengulurkan tangan. “Tidak perlu kaget, pengaruh pregnancy hormone.”Mulut Jonas membulat tanda maklum. “Jadi, bagaimana dengan bayinya, Dok?” Jonas mengambil kursi di samping Elia, mengabaikan wajah cemberut yang masih menatapny
“Elia sedang mengandung anak Wira, Bu,” ulang Wirasena karena Tatik hanya diam, seolah tidak mendengar ucapannya. Ia tidak memperhatikan kedua tangan Tatik yang mencengkeram lengan kursi roda hingga buku jarinya memutih.“Ternyata aku salah mengira,” gumam Tatik deng
“Biasakan dengan itu semua, sampai kamu melahirkan anak itu. Setelahnya, aku tidak akan mencampuri kehidupanmu. Mengerti?!”Sederet kalimat itu berhasil melukai Elia, dalam dan perih. ‘Dia hanya menginginkan anaknya, El. Dia tidak bermaksud peduli denganmu. Dia hanya mau a
“YES!” ucap Wirasena bersemangat dengan tangan terkepal ke depan dadanya. “Yes, akhirnya!” ulangnya lebih mantap lagi.Ia memberikan tambahan tip untuk kurir sewaannya dan mengucap terima kasih sekali lagi, hal yang baru pertama kali dia lakukan. Hatinya membuncah lu
“Wanita itu, entah berada atau tidak, entah cerdas atau tidak, entah berkedudukan atau tidak. Pada dasarnya, dia hanya sosok yang ingin dicintai, diperhatikan dan dihargai dalam kondisi apapun.” Hana tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya.“Mama tidak mendapatkan itu seja







