Chapter: Bab 56Emily mencoba membuka matanya yang berat dengan cepat. Namun, buru-buru ia memejamkannya rapat karena pusing menyerangnya.“Sial! Apa yang mereka pakai membiusku?” batin Emily sambil menata otaknya.Ia merasa tangan dan kakinya juga sulit untuk digerakkan, ada yang menahannya bergerak. Tapi, ia tetap mencoba melawan. Hasilnya, kepalanya semakin kencang berdenyut.Sret … sret ….Emily meringis kesakitan manakala tali yang mengikat tangan dan kakinya ditarik semakin erat. Menyadari ada orang lain yang bersamanya, Emily memaksa matanya terbuka. Seorang pria asing sedang membungkuk di atas kakinya.“S-siapa kamu?” tanya Emily seraya mengernyit merasakan pening yang menyergap kepalanya.Carlos memasang masker dan topi hitamnya.“Siapa kamu?!” ulang Emily sambil berteriak. “Tolong …! Tolong …!!”Plak!Punggung tangan kiri Carlos mendarat keras di pipi Emily hingga kepala wanita itu terpelanting ke kanan. Kepala Emily nyaris meledak rasanya. Pipinya panas. Sudut bibirnya perih dan lidahnya m
Last Updated: 2026-10-22
Chapter: Bab 55Turun dari kereta, Emily melihat Arthur dan Soraya berdiri di belakang besi, berdiri bersama para penjemput lainnya. Secuil rasa hangat menyusup masuk ke dalam hatinya yang hampir beku.“Emily …,” Soraya menyapanya lembut seraya membuka kedua lengannya.Bimbang, Emily melangkah pelan masuk dalam pelukan Soraya yang ternyata sangat hangat, melebihi yang dia bayangkan.“Bu,” balas Emily lembut. “Yah.” Emily melepaskan pelukan Soraya perlahan dan menatap Arthur.Arthur tersenyum. Lalu, ia merentangakn kedua lengannya seperti yang Soraya lakukan. Emily diam sejenak menatap sepasang lengan yang entah kapan terakhir kali memeluknya.“Maafkan, Ayah.”Kalimat sederhana yang keluar dari bibir Arthur dengan nada penuh penyesalan itu, meruntuhkan tembok yang selama ini Emily bangun untuk melindungi dirinya. Layaknya seorang anak yang merindukan pelukan, Emily menyambut lengan Arthur. Mereka berpelukan erat beberapa waktu lamanya.Emily merasa sesak napas karena tangisnya tidak bisa keluar. Ada t
Last Updated: 2026-10-19
Chapter: Bab 54“Satu dua puluh,” gumam Emily menatap layar ponselnya sambil menguap. “Kenapa aku belum juga terlelap?”Mata Emily mengantuk, namun hatinya gelisah. Kejadian di dalam taksi tadi terus mengganggunya. Emily memutuskan keluar kamar sambil membawa laptopnya. Ia duduk di meja dekat dapur dan mulai menonton video bedah koleksinya, pikirannya mulai teralihkan.Emily melirik pojok kanan bawah layar laptopnya setelah menonton dua video. “Sudah hampir pagi,” ujarnya seraya merebahkan kepalanya di atas meja beralas lengan.Rasa sakit di tengkuknya membuat Emily terbangun. Aroma kopi hitam yang diseduh air panas, menyambut hidungnya. Emily mengangkat kepalanya perlahan, menguap dan menggeliat dengan suara menggeram yang manja.“Pagi!”Emily melompat turun dari kursinya dan terbeliak melihat Ivander berdiri di dapurnya, memegang teko air panas di tangan kiri, celemek menempel di tubuhnya dan sedang menatapnya dengan mata berbinar jenaka.“Sial!” umpat Emily spontan.“Terima kasih,” sindir Ivander.
Last Updated: 2026-10-16
Chapter: Bab 53Adrian mengernyit melihat gerak-gerik Ivander yang tidak seperti biasanya. Ia mengambil dua gelas champagne dari talam yang kebetulan sedang ditawarkan oleh seorang pelayan padanya, lalu menghampiri Ivander.“Apa yang membuatmu gundah? Apa Emily tidak datang bersamamu?” Adrian menyodorkan satu gelas ke depan Ivander.“Justru karena Emily datang, maka Ivan menjadi gelisah,” sahut Sandra cepat. “Kamu tahu, ia tidak bisa tenang berbincang denganku. Matanya terus saja menatap ke lantai atas.”Ivander tidak repot mendebat. Ia menyerahkan gelasnya kembali pada Adrian dan setengah berlari menaiki anak tangga.“Ada apa dengannya?” tanya Adrian bingung.Sandra tersenyum puas. “Saatnya kita melihat gunung es mencair.”Adrian semakin tidak mengerti. “Maksudnya?”“Ish …!” Sandra mendesis kesal. “Tunggu saja sampai wanita bernama Emily itu turun dan bergabung dengan kita.”Tok … tok … tok.“Emily, apa ada masalah?” tanya Ivander gelisah.“Ngh, tidak. Aku keluar sekarang.” Terdengar suara Emily men
Last Updated: 2026-10-15
Chapter: Bab 52Srak. Prang!Caroline terbeliak kaget melihat alat makan dan semua isinya pindah dari meja ke lantai dalam satu sapuan tangan.“Hei! Apa-apaan ini?!” hardik Caroline marah. “Ada apa denganmu belakangan ini?!” imbuhnya.Mendengar bentakan Caroline, amarah Raditya makin menggila. Ia bergerak cepat menghampiri Caroline dan mencekik leher wanita itu.“Semua ini gara-gara kamu terus mendesakku!” Ucap Raditya dengan suara berdesis. “Kamu mengacaukan semuanya!”Wajah Caroline memerah. Napasnya mulai sesak. “Aakh …! R-ra … dit. Aakh ….” Caroline berusaha melepaskan cengkeraman tangan raditya di lehernya.Brug!Raditya mendorong leher Caroline hingga wanita itu jatuh terjengkang ke lantai.“Siaaal …!” raung Raditya dengan kepala tengadah.Caroline beringsut menjauh dengan cepat. Ia ketakutan dan kesakitan, namun o
Last Updated: 2026-10-14
Chapter: Bab 51Ivander baru menyelesaikan sesi kuliah terakhirnya hari ini. Ia membereskan beberapa buku dan bersiap pergi ketika tiga orang mahasiswi menghampiri mejanya.“Dok, boleh kami bicara sebentar?”Tanpa menghentikan gerakannya, Ivander menjawab, “Silakan.”“Dokter sudah menikah?” tanya gadis berkacamata setelah dua rekannya menyikut lengannya.Ivander diam beberapa saat hingga seluruh barangnya masuk ke dalam tas dan menggenggam ponselnya. Ia menatap lurus pada gadis di hadapannya. “Belum.”“Dokter punya kekasih?” tanya gadis lain di belakang gadis berkaca.Ponsel Ivander bordering, sebuah panggilan masuk. Senyum simpul terbit dari sudut bibirnya ketika membaca nama yang tertera di layar, membuat ketiga mahasiswinya saling pandang.“Kebetulan sekali,” ucap Ivander seraya menghadapkan layar ponselnya pada tiga gadis di depannya. “Ini dia.”“Kekasihnya, Dok?”“Tunangannya?”Dua gadis di belakang gadis berkacamata bersikap responsif.“Saya harus menjawab panggilan.” Ivander tersenyum lebih le
Last Updated: 2026-10-13
Chapter: Bab 52“Yah, jangan tinggalkan El sendirian.” Elia mencekal lengan Wirasena.Wirasena yang masih membungkuk di atas tubuh Elia membeku oleh sentuhan itu. Sampai malam ini, Wirasena tidak pernah menyadari bahwa ia—tubuhnya—sangat merindukan wanita itu. Bukan karena Elia sedang mengandung anaknya, bukan karena tanggung jawab yang selama ini ia jadikan alasan untuk bisa dekat dengan wanita itu, tapi karena wanita itu Elia.“El, kamu akan menyesalinya dan semakin marah padaku begitu kamu bangun besok pagi.”Elia menarik lengan Wirasena semakin erat hingga lengan berotot itu bersentuhan dengan dada penuh yang terbalut kain kaos. Wirasena mengejang, rahangnya gemerutuk menahan hasrat yang ditahannya beberapa bulan ini.Tangan bebas Wirasena mengusap wajah Elia lembut. Ibu jarinya menyentuh bibir Elia yang lembab.“Pers*tan, El! Aku siap menanggung semuanya besok,” gumam Wirasena sebelum merendahkan kepalanya dan melumat bibir istrinya yang setengah terbuka.Tidak berhenti di situ, Wirasena berpind
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 51Elia sedang merendam kakinya setelah beberapa jam berdiri dan berjalan mengerjakan tugasnya di puskesmas dan balai desa sekaligus. Ia bersandar nyaman pada sofa dan menikmati larutan garam hangat melebarkan pembuluh darahnya dan menenangkan ototnya yang kaku.“Cokelat hangat?” tawar Jonas dari meja makan.“Tidak, terima kasih. Seharian ini aku merasa perutku penuh dan napsu makanku hilang.” Elia menegakkan punggungnya. “Jonas, apakah respon warga selalu antusia begitu saat ada penyuluhan?” tanya Elia penasaran.Jonas tersenyum. “Ya, setidaknya di sini, mereka sangat antusias terhadap informasi kesehatan yang diberikan. Atau mungkin ….” Jonas duduk di samping Elia. “Mereka lebih antusias karena kamu yang berbicara.”Elia terkekeh. “Bukankah sebelumnya mereka sudah punya doknas yang ganteng?” gurau Elia polos.“Dok, Dokter!” Bagus muncul di ambang pintu dengan wajah panik. “Pasien baru, anak-anak usia sembilan tahun, luka bakar empat puluh persen.”Jonas dan Elia bergegas menuju UGD pus
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 50Di atas ranjang, Barata tersenyum memandangi foto yang sengaja diambilnya untuk sebuah tujuan yang mulia. Pose mereka berdua sangat provokatif, meskipun itu terjadi karena ketidaksengajaan dan didukung keahlian sang fotografer, Joko.“Kamu kenapa? Pulang dari area konflik malah senyum-senyum.” Elena naik ke atas ranjang menjejeri suaminya. “Jangan kelewat bahagia, besok ketemu Wira, jadi remahan rempeyek.”Barata terkekeh seraya menyerahkan foto yang dipandanginya sejak tadi. “Coba lihat. Apa yang akan terjadi padaku besok, ketika si Wira lihat foto ini?”Elena menerima ponsel Barata dengan rasa penasaran. “Wahh, habis kamu, Yang. Bakal jadi perkedel kamu. Kok bisa posenya begini, sih?!” Elena menyodorkan kembali ponsel suaminya dengan bergidik.“Disuruh bantu selesaikan masalah, malah nambah masalah. Misimu itu meredakan perang, bukan sebaliknya. Astaga ...,” desah Elena lelah.“Biar saja. Jengkel aku dibuatnya! Istri siapa yang kabur, siapa yang disuruh kejar.” Barata kembali mengam
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Bab 49“Tidak mungkin ketahuan, maksudmu?” sela Wirasena dengan sorot mata tajam. “Bukan tidak ketahuan, tapi belum saatnya diketahui orang. Sama seperti tindakanmu pada almarhum ibuku yang akan aku bongkar sebentar lagi.”Wajah Rossana makin pias. Keringat sebesar biji jagung, muncul di kedua pelipisnya. “A-apa maksudnya?”“Cih! Dari sikap gugup dan butiran keringat yang keluar, sudah cukup membuktikan bahwa kamu mengerti betul apa maksud ucapanku,” cibir Wirasena sinis. “Ayo, Nar. Tidak perlu berlama-lama.”“Sampaikan pada Yulia, kami tidak akan menuntut kalau semua dikembalikan pada pemiliknya. Itu saja.” Danar meraih tas kerjanya dan bangkit dari kursinya. “Kami permisi.”Wirasena hanya melirik ketika Danar menepuk bahunya sambil lalu. Ia belum berniat beranjak dari tempatnya.“Sekilas, aku ingat Elia pernah menyebut tentang tukang kebunnya yang tiba-tiba menghilang setelah kematian ayahnya. Apa itu juga ada hubungannya denganmu?”Dengan tenang, Wirasena mengusap dagunya yang kasar. “Aku
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Bab 48Haris duduk bersandar pada kursi plastik tebal yang baru pertama kali dipakainya menemui tamu karena semenjak dirinya mendekam dalam tahanan, belum ada satu orang pun yang menjenguknya, termasuk para perempuannya. Ia mengernyit melihat dua pria yang menjadi tamu pertamanya. Rasanya, ia belum pernah melihat apalagi mengenal mereka berdua. “Kalian siapa?” Pria berdasi menegakkan punggungnya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kulit hitam yang biasanya juga Haris pakai ketika menemui klien atau yang berkaitan dengan kasus yang ditanganinya. “Saya Danar Wiguna, kuasa hukum dari Wirasena. Saya datang untuk menyampaikan ini kepada anda.” Danar memutar kertas menghadap Haris agar pria itu mudah membacanya. Tangan bergelang borgol itu, menerima dengan ragu. Bola matanya bergerak lambat mencermati setiap kata yang tertera dalam kertas. Sejurus kemudian, senyum sinis terbersit di sudut kanan bibirnya. “Pemalsuan surat wasiat? Apa ini?!” Haris meremas kertas di tangannya dan mem
Last Updated: 2024-05-10
Chapter: Bab 47Mata wanita Bali itu lekat menatapnya, membuat Elia was-was.“Secara keseluruhan, kondisi bayinya sehat. Hanya saja ….”“Hanya saja apa, Dok? Bayi saya kenapa?” sambar Elia cepat.Tok tok tok.“Masuk.”Elia sedikit kesal pada pemilik tangan di balik pintu yang mengganggunya. Wajah cemberutnya tidak lepas dari pengamatan Kadek.“Permisi, Dok. Apa suami pasien sudah boleh masuk?” tanya perawat pendamping polos.“Boleh. Persilakan masuk, Sus.” Senyum jenaka terbersit di sudut bibir Kadek.Elia memalingkan wajahnya menanti kemunculan Jonas. Begitu pria itu menampakkan wajah tampannya yang sedang tersenyum canggung, Elia menekuk bibirnya keluar.“Kenapa masuk sekarang, sih?!” ketus Elia disambut ekspresi kebingungan Jonas.“Hah?”“Silakan duduk.” Kadek berdiri dan mengulurkan tangan. “Tidak perlu kaget, pengaruh pregnancy hormone.”Mulut Jonas membulat tanda maklum. “Jadi, bagaimana dengan bayinya, Dok?” Jonas mengambil kursi di samping Elia, mengabaikan wajah cemberut yang masih menatapny
Last Updated: 2024-05-06
Chapter: Bab 80 Kembali Seutuhnya“Aku akan memanggilmu lagi saat membutuhkan,” ucapnya masih membelakangi Weqing.“Ya, dengan senang hati, Yang Mulia.”Lan Weqing mengenakan kembali baju seragamnya dengan hati berbunga. Penantian panjang dan tindakan-tindakan yang diambilnya untuk mendapatkan Mu Lan, berujung kebahagiaan. Senyumnya terus mengembang.“Jenderal,” panggil Mu Lan membuat Weqing berbalik cepat menghadapnya.“Ya, Yang Mulia.”Mu Lan mendekat dengan langkah gemulai. Tangannya mendarat lembut di bahu Weqing. Ujung jari telunjuk kanannya bergerak turun dengan gerakan memutar menyusuri dada Weqing, membuat pria itu menggelinjang girang.“Y-yang Mulia, secepat ini?” tanya Weqing panik sekaligus senang.“Bawa laporan keuangan seluruh kementerian yang bisa kau dapatkan, saat kau datang mengunjungiku lain hari.” Mu Lan menjulurkan lidahnya menyapu rahang Weqing hingga tubuh pria itu bergetar.“K-kapan?” tanya Weqing menggeram menahan hasratnya yang kembali meronta.“Kapanpun kau siap, Jenderal,” desah Mu Lan di wa
Last Updated: 2024-04-17
Chapter: Bab 79 Saatnya Telah TibaSecepat kilat, Zening mendongak tidak percaya. “Kak, kaukah itu?”Wang Yang dan Ru Lan menyingkir menjauhi ranjang, memberi ruang untuk Deyun dan Zening.Alih-alih memeluk adiknya seperti keinginannya tadi, Deyun berlutut dan mengangkat kedua tangannya memberi hormat. “Li Deyun, menghadap Yang Mulia Permaisuri!”“Kak!” pekik Zening lega. “Mereka melepaskanmu?” tanyanya seraya menangkup wajah Deyun yang terlihat tirus dan lelah. “Apa mereka juga menyiksamu?”Li Deyun menggeleng dengan senyum samar menghiasi bibirnya. “Mereka tidak akan berani menyiksa kakak permaisuri,” godanya pada Zening. “Aku menyelinap keluar untuk mengucapkan selamat atas pernikahan dan penobatanmu menjadi permaisuri. Aku harap, kau tidak mengecewakan kami, Rakyatmu.”Dug.Zening meninju perut Deyun kuat-kuat. “Kau berkata begini saat aku khawatir tentangmu? Sungguh keterlaluan!&rdq
Last Updated: 2024-04-13
Chapter: Bab 78-2“Kak Yang, aku ….” “Tarik napasmu. Nikmati semuanya.” Wang Yang mulai bergerak cepat. “Ya, begitu ….” Zening merasakan sensasi aneh yang terjadi padanya. Seolah tenaganya terisi penuh setelah lama kering dan kosong. Seluruh otot dan sendinya yang layu, kembali merekah dengan cepat. “Ah, Kak. Aku akan meledak,” bisik Zening sambil terengah mengimbangi gerakan Wang Yang. Wang Yang berhenti dan menatap Zening. “Ini hadiah pernikahanku untukmu. Aku kembalikan semuanya padamu.” Wang Yang mengakhiri kalimatnya dengan sebuah ciuman panjang hingga Zening tertidur pulas. Beberapa lamanya, Wang Yang hanya menatap wajah cantik Zening yang lelap seperti bayi kenyang menyusu. Ibu jarinya mengusap bibir bengkak Zening akibat ulahnya. Tek tek tek. Sebuah ketukan di pintu kamar menarik Wang Yang dari gulungan hasrat yang membungkusnya. Tangannya cekatan menarik selimut menutupi tubuh polos Zening, lalu menarik tirai ranjang hingga menutup semp
Last Updated: 2024-04-05
Chapter: Bab 78-1 Hadiah Malam PertamaTrang!Anak panah lain yang melesat cepat dari busur Hanxiu, menabrak anak panah yang nyaris menancap di dada Zening.“Ada penyusup! Ada penyusup!”Entah dari mana asal teriakan itu, seketika semua yang hadir bercerai-berai. Suasana halaman istana menjadi gaduh dan tidak terkendali karena teriakan itu. Setiap orang berlari saling tabrak menyelamatkan diri.“Yang Mulia, sebaiknya kita juga kembali ke istana. Situasinya sulit untuk dikendalikan,” usul Huazhi dengan mata waspada mengawasi udara sekitarnya.“Ayo!” Wang Yang mengulurkan tangannya membawa Zening di bawah perlindungannya. “Ning’er,” tegurnya kala menyadari Zening sedang sibuk mencari sosok yang berhasil menghalau anak panah untuknya.“Yang Mulia, siapa yang menghalau anak panah tadi?” tanya Zening penasaran dengan mata masih mengedar ke sekitar.“Huazhi akan menyelidikinya. Ayo, kita segera kembali ke is
Last Updated: 2024-04-04
Chapter: Bab 77-2“Yang Mulia, apa Anda tidak enak badan?” cemas Yuru.“Tidak. Aku merasa kondisiku hari ini adalah yang terbaik dari semua hari sejak aku melangkahkan kaki memasuki istana. Kenapa?” Zening memutar tubuhnya seraya merentangkan gaun sutra paduan warna emas dan merah.“T-tidak.” Yuru menggeleng takut-takut.Akhirnya, Zening tak kuasa menahan tawanya melihat wajah Yuru begitu tertekan akibat perubahan sikapnya, membuat dayang muda itu semakin kebingungan.“Ayo, pasang lagi yang perlu kau pasang.” Zening merentangkan tangannya, bersiap menerima perlakuan selanjutnya.“Sabuk!” pekik Yuru seraya menepuk dahinya.Ketika Yuru setengah membungkuk merapatkan diri memasang sabuk, Zening menundukkan kepalanya sedikit dan berbisik, “Setelah ini, pergilah ke penjara. Temui kakakku dan peringatkan dia untuk tetap waspada.”Yuru mematung, tidak merespon.“Pst! Kau deng
Last Updated: 2024-03-23
Chapter: Bab 77-1 Teror PernikahanMata Mu Lan melebar. “M-maksudmu kau mengelabuinya?!”“Tidak sepenuhnya. Hanya membuatnya tidak mewaspadaiku.” Wang Yoo berjalan meninggalkan aula.“Aku tidak mengerti jalan pikirannya,” gumam Mu Lan.“Wang Yoo adalah pemuda yang pintar. Isi pikirannya sulit ditebak. Sebaiknya, kita tetap waspada.” Ziliang mengibaskan lengan hanfunya dan berjalan keluar.“Cih! Tidak ada yang benar-benar bertindak demi kepentinganku.” Mu Lan mendesah kesal. “Baiklah, karena kalian hanya memikirkan kepentingan kalian sendiri, maka aku juga akan berlaku yang sama.” Mu Lan memandangi token Rajawali Emas di tangannya dan mulai memikirkan hal apa yang bisa dia buat melalui token kayu itu.“Selir pun tidak masalah asalkan bisa memilikimu dan menyingkirkan lainnya,” gumam Mu Lan seraya tersenyum bengis.Keesokan harinya, seluruh istana sudah sibuk menyiapkan upacara pernikahan raja.
Last Updated: 2024-03-23
Chapter: Bab 131-2Vila Danutirta, Bandung“Gimana, Han? sudah dapat tiket pesawatnya?” tanya Jelita gelisah. “Kasihan Alina dan Rangga, mereka belum pernah menemani ibu bersalin, pasti bingung dan panik.” Jelita mondar-mandir seperti kain pel.“Belum, Bu. Penerbangan hari ini penuh semua. Tiket kereta juga ludes sampai besok,” lapor Hanna tak kalah gelisah.“Haduh ... kenapa bisa habis semua di saat seperti ini? Galih, kamu sudah hubungi Galih dan Reno? Biasanya otak pria bisa berpikir cepat saat situasi mendesak begini.”Hanna menggeleng. “Mas Galih dan Reno sedang berada di kawasan proyek, Bu. Ponselnya dinonaktifkan.”“Astaga, ya Allah Gusti ...! Kok bisa barengan begini, sih?!” Jelita menepuk kedua pahanya putus asa.Yuki yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, hanya bengong sambil kepalanya bergerak mengikuti Hanna dan Jelita bergantian.Jelita melambaikan tangannya denga
Last Updated: 2022-06-02
Chapter: Bab 131-1 Perjuangan PanjangRangga sedang iseng mengintip isi kantong belanjaan yang tergeletak di atas ranjang manakala telinganya mendengar seruan panik dari dalam kamar mandi. Rangga bergegas ke kamar mandi, melihat Maura sedang berdiri berpegang erat pada pinggiran wastafel, tapi mimiknya tidak menyiratkan kesakitan, membuat Rangga menurunkan kewaspadaannya.“Ada apa?” tanya Rangga tenang.“Balonnya meletus,” ucap Maura bingung.Rangga mengedarkan pandangan ke arah langit-langit, mencari bohlam yang pecah. “Mana? Gak ada yang pecah, kok.”“Ini, yang di sini.” Maura menunjuk ke bawah kakinya.“Astaga! Ini balon apa yang pecah, kok isinya air keruh?!” panik Rangga. “Jangan-jangan ... ini ketuban, ya?” tebak Rangga sambil menatap Maura meminta penjelasan.“Sepertinya begitu.”Rangga bergegas mengangkat Maura, membawanya keluar dan membaringkannya di ranjang.“Jangan
Last Updated: 2022-06-02
Chapter: Bab 130-2“Hoek, hoek!” Maura bersandar lemas di depan pantry dengan kran menyala deras. Di sampingnya, Alina dengan telaten memijat lembut tengkuknya. “Maura kenapa, Al?” Rangga yang penuh keringat setelah bermain tenis bersama Kirman terlihat cemas. “Entahlah, sejak tadi pagi sudah begini.” Alina meraih selembar tisu untuk mengusap peluh yang membasahi leher dan dahi Maura. “Sini, biar aku saja.” Rangga menggantikan Alina, memijit tengkuk dan mengusap peluh. “Masih mau muntah?” tanyanya lembut. Maura menggeleng. “Aku mau duduk, Kak.” Rangga dengan sigap menggendong Maura, membawanya ke kursi goyang kayu kesayangan eyang kakungnya. “Duduk sini dulu, aku ambilkan minum.” “Aku mau teh lemon madu hangat,” sahut Maura cepat. “Oke, segera datang.” Rangga melesat kembali ke dapur bersih dan sibuk menyiapkan teh yang Maura minta. “Kak, apa masih ingin muntah? Perlu aku ambilkan baskom kecil?” tanya Alina seraya mendekat.
Last Updated: 2022-06-01
Chapter: Bab 130-1 Keluargaku DuniakuRangga, Hanna dan Galih kompak mengernyit jijik melihat isi gelas yang Jelita sodorkan ke depan Maura. Sedangkan wanita hamil itu, dengan mata membeliak, mengintip ke dalam gelas dan penasaran pada isinya.“Sudah, jangan intip-intip. Minum!” desak Jelita lagi.Maura memasang wajah memelas. “Eyang, boleh tidak kita lewati saja tradisi yang ini?”Jelita menggeleng.“Kalau minumnya setelah makan?” tawar Maura lagi.“Bisa-bisa kamu makin eneg dan muntah nanti,” celetuk Rangga, membayangkan dirinya yang meminum ramuan Jelita.Maura mendelik marah ke arah Rangga yang memasang wajah tanpa dosa. “Kalau begitu, biar dia saja yang mewakili Maura, Eyang!” ketus Maura sambil terus menatap Rangga kesal.“Hush! Yang hamil kamu, yang lahiran kamu, masa’ iya yang minum jamu Rangga?” Jelita tersenyum memahami kekesalan Maura, tapi gelas di tangannya tetap teguh di depan waja
Last Updated: 2022-06-01
Chapter: Bab 129-2Jelita tersentak melihat Maura berdiri di tengah ruangan dengan lengan menggamit Rangga dan tangan lainnya menggandeng Yuki. Di belakangnya, ada Hanna dan Galih. “Lho, kalian?” heran Jelita sampai tidak bisa berkata-kata. Warsih yang pertama kali tanggap, menarik lengan Kirman dan Barno untuk membawa koper tamunya masuk. “Ayo, kopernya diurus dulu,” bisiknya memberi perintah. “Trus, urusan cacing ini gimana, Mbak?” protes Barno. “Tahan dulu!” hardik Warsih sambil melotot kesal. “Ehhem! Kalian ke belakang dulu, buatkan Maura minuman hangat.” Kumpulan abdi dalem itu pun membubarkan diri dengan wajah penasaran tentang apa yang terjadi pada majikannya. Jelita berdiri, mempersilakan tamunya duduk di sofa tengah. Sikapnya kaku dan canggung, membuat Galih dan lainnya merasa makin bersalah. “Kenapa tiba-tiba datang tanpa kasih tahu dulu? Ada apa?” tanya Jelita datar. Galih dan Hanna duduk mengapit Jelita. “Bu, kami datang untuk
Last Updated: 2022-05-29
Chapter: Bab 129-1 Hal TerindahPuri Mangkunegaran 15, Yogyakarta“Sih, Warsih! Ayo, jangan lama-lama. Keburu siang nanti.” Jelita berpaling ke belakang sambil merapikan sanggulnya.Warsih tergopoh-gopoh masuk dari pintu belakang. “Maaf, Ndoro. Saya baru selesai bantu Kirman motong ayam,” ujarnya sambil membenahi kebayanya yang berantakan.“Ya, sudah. Tolong kamu panggilkan Barno, minta dia untuk mengantar kita ke pasar.” Jelita menjinjing tas belanja yang terbuat dari anyaman plastik warna-warni kesayangannya dan berjalan mendahului Warsih ke teras.Nyatanya, Barno sedang sibuk mengelap mobil kuno warna hijau pastel yang bagian atasnya berbentuk lengkung. Melihat majikannya mendekat, Barno bergegas membuka pintu penumpang.“Sudah selesai bersih-bersihnya?” tanya Jelita seraya memeriksa hasil kerja abdinya.“Sampun, Ndoro.” Barno memeras kanebo sebelum memasukkannya ke dalam kotak plastik warna k
Last Updated: 2022-05-29