Partager

Bab 6-2

Auteur: Selene21
last update Date de publication: 2024-01-31 23:53:18

Elia menahan tawanya dengan melipat bibir ke dalam seraya menggeleng.

“Kamu sependapat denganku?” selidik Tatik dengan lirikan tajam, tapi sudut bibirnya berkedut membuat Elia kembali meringis.

“Maaf, Oma. Tapi, saya memang sependapat.”

Mereka berdua terkekeh bersama. Tatik mulai melanjutkan ceritanya tentang mendiang anaknya yang meninggal karena kanker indung telur yang mengakibatkannya tidak bisa memiliki keturunan.

“Kadang, aku merasa kasihan saat melihat Wira begitu telaten menemani Mika bermain dan mendengar ocehannya.” Tatik mengusap mata tuanya yang basah. “Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak banyak wanita sabar dan pengertian yang mau menderita bersanding dengan pria kaku dan dingin seperti dia.”

Elia berjongkok di samping kursi roda Tatik sambil memasangkan pakaian bersih. “Ada sebuah rahasia yang mau Elia ceritakan, tapi Oma harus janji tidak akan menceritakannya pada orang lain.”

Begitu kepala Tatik mengangguk tanda setuju, Elia mulai berceloteh tentang panggilan-panggilan kehormatan yang biasanya mereka—mahasiswa kedokteran—pakai untuk menjuluki Wirasena.

“Apa, beruang kutub?! Astaga … hahaha …!”

Elia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk dekat dengan Tatik. Ia tidak tahu sampai berapa lama ia akan merawat wanita ini, maka tidak ada salahnya mencoba saling terbuka. Sampai beberapa lama setelahnya, Elia dan Tatik masih melanjutkan obrolan yang semakin seru.

“Bu,” tegur Wirasena dari ambang pintu menginterupsi keseruan Elia dan Tatik. “Wira berangkat dulu.”

Seperti biasa, Tatik hanya melambaikan tangan sebagai jawaban. Namun, kali ini Wirasena tidak bersikap seperti biasanya. Pria itu berhenti cukup lama untuk menatap Elia dengan pandangan yang tidak bisa diartikan membuat Elia bergidik.

“Ada yang mau kamu katakan?” tanya Tatik kembali ke nada sinisnya.

Alih-alih menjawab, Wirasena menggeleng dan menutup pintu perlahan. Suasana kamar kembali hening.

“Aku dan dia sama-sama terluka atas kepergian Anita. Tapi, kami memilih saling menjauh untuk menyembuhkan luka masing-masing,” aku Tatik sedih. “Menjadi akrab dengan Wira akan memberi kesempatan kenangan tentang Anita muncul dan melukai kami.”

Elia bisa merasakan kesedihan Tatik kehilangan putrinya, seperti ia masih berjuang mengatasi kesedihannya kehilangan Surya. Tangannya mengusap lembut bahu Tatik, menunjukkan dukungannya.

“Sudahlah, yang pergi tidak akan kembali, yang hidup harus terus berjalan. Bukan begitu?” Tatik mengangkat wajahnya dan memandang Elia dari cermin. “Lho, itu lehermu kenapa merah-merah?!”

Panik, Elia mengamati lehernya di cermin. ‘Astaga … ini ….!’

Tatik mencondongkan tubuhnya, menarik laci di depannya dan mengeluarkan minyak gosok dari sana. “Oleskan ini, meskipun semalam Mika sudah menuangnya ke rambutmu.” Tatik tersenyum geli mengingat kejadian semalam.

“Eh, i-iya. Terima kasih, Oma.” Elia buru-buru menerima botol minyak dan masuk ke kamar mandi. “Bagaimana ini?” paniknya seraya menggosok lehernya dengan punggung tangan. “Sial!” umpatnya saat tanda merah itu semakin melebar karena ulahnya sendiri.

***

Poli kandungan

“Pagi, Prof. Wah, ada angin apa ini, sampai Prof. Wira turun ke poli?” gurau bidan paling senior di Rumah Sakit Rahayu yang hanya dibalas senyum simpul oleh sang pemilik nama.

Baru kali ini, Wirasena merasa jarum jam bergerak sangat cepat. Tak terasa, tersisa satu pasien terakhir dalam antrian. Pasangan muda yang terlihat canggung dan ragu, duduk di seberang mejanya.

“Siang, Dok.” Pria muda itu menyapa takut-takut.

“Siang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Wirasena sembari membaca kartu pasien di depannya.

“Saya cuma mau tanya, Dok. Apa bisa terjadi hamil kalau hanya satu kali berbuat?”

Deg.

Wirasena terhenyak.

“Maksudnya?”

Pria itu menegakkan punggungnya dan melipat kedua tangannya di atas meja, memberanikan diri. “Saya dan pacar saya ‘begituan’ bulan lalu. Hanya satu kali. Dan dia.” Pria itu menoleh sinis pada gadis yang sejak tadi tertunduk di sebelahnya. “Dia bilang, dia hamil, Dok. Apa mungkin?” sambung pria itu sedikit kesal.

“Begituan?”

Bidan senior yang menemani Wirasena berbisik lirih, “Berhubungan maksudnya.”

Bibir Wirasena membulat. “Ohh,” balasnya tak kalah lirih. “Bisa. Mungkin.”

“Hhaah?” Bidan senior dan pasangan muda itu terkejut bersamaan.

Wirasena berdehem untuk menyadarkan diri. “Bisa hamil dan mungkin hamil,” ulangnya dengan nada tegas. “Sudah dilakukan tes kehamilan mandiri?”

Si gadis mengangguk seraya mengeluarkan alat tes kehamilan yang sudah dipakainya. Wirasena mengernyit yang segera saja direspon oleh bidan pendampingnya dengan mengambil dan membaca hasil tespek.

“Positif, Prof,” lapor bidan.

Bulu kuduk Wirasena meremang. Dalam pandangannya, Elia sedang berdiri di hadapannya dan menyodorkan tespek dengan dua garis merah tua.

“Ehm!” Wirasena kembali berdehem keras.

Bidan senior mendorong sebotol air putih ke dekat tangan Wirasena yang disambut dengan senyum kaku.

“Tolong beri mereka surat pengantar laborat.”

Setelah berkata demikian, Wirasena meninggalkan kursinya dan keluar ruangan tanpa mempedulikan tatapan bingung tiga orang di belakangnya.

“Bodoh! Kenapa aku tidak terpikir kemungkinan itu, pagi tadi?” gerutu Wirasena sambil melirik jam tangannya. “Sudah lebih dua belas jam belum, ya?” gumamnya. “Sepertinya sudah. Tapi, bukankah dia dokter sekarang? Pasti tahu tentang pencegahan kehamilan, ‘kan?” Wirasena mulai mondar-mandir.

Sebuah ide cemerlang singgah di otak cerdasnya. Wirasena merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Dicarinya nama Elia dalam kontak ponselnya, nihil. “Sial! Aku tidak pernah tanya nomer telfonnya.”

“Prof, sedang tidak enak badan? Pucat, lho.” Bidan senior tadi menghampiri Wirasena dengan wajah cemas. “Kurang tidur sepertinya.”

“Hah, eh, iya. Nanti, kalau hasil laboratnya sudah keluar, minta mereka datang lagi besok. Ada hal yang harus saya urus.” Wirasena melepas jas putih lengan panjang miliknya.

“Prof, pasangan tadi menolak tes laborat. Tujuan mereka datang hanya untuk menggugurkan kandungan,” papar bidan senior sambil melipat rapi jas putih yang Wirasena serahkan.

“Gilak! Sudah berbuat dosa sekali, masih mau nambah?!” ketus Wirasena lebih pada dirinya sendiri. “Terserahlah. Saya duluan.”

***

“Pak Somad, minta tolong ambilin layang-layang Mika!” teriak Mika dari halaman belakang. “Pak Somad!” ulangnya lagi tak sabar.

“Hai, Cantik! Kenapa teriak-teriak?” Elia menghampiri setengah berlari mencegah Mika berteriak lagi.

“Kak, layang-layang Mika nyangkut!” tunjuk Mika ke arah pohon mangga.

“Layang-layang Mika?”

Bibir Mika tersenyum malu. “Bukan, ding. Layang-layang tetangga yang nyangkut ke pohon.”

Elia ikut tersneyum seraya mengelus kepala Mika. “Oke, tunggu di sini, ya.” Elia bergegas menuju tumpukan bambu tidak terpakai, mencari sesuatu yang bisa dipakainya untuk mengambil layang-layang.

“Kak, masih lama gak?!” Teriakan Mika kembali terdengar.

“Iya, iya.” Elia kembali ke sisi Mika dengan tangan kosong.

“Lho, mana bambunya?”

“Tenang, nanti Kak El naik ke sana ambil layang-layangnya.”

Mika mengangguk senang dan bersorak-sorak memberi semangat saat Elia berusaha keras memanjat pohon mangga. Tak butuh waktu lama, Elia berhasil meraih layang-layang berbentuk ikan lengkap dengan ekor panjang menjuntai.

“Yeiyy!” teriak Mika senang. “Ayo, bawa turun, Kak!” imbuhnya seraya melompat-lompat.

Elia celingukan mencari pijakan yang membantunya naik tadi. “Lhoh, gimana turunnya ini?!” paniknya setelah tidak menemukan pijakan. “Apa gue lompat aja, ya?” Elia melongok ke bawah.

“STOP!”

****

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 52

    “Yah, jangan tinggalkan El sendirian.” Elia mencekal lengan Wirasena.Wirasena yang masih membungkuk di atas tubuh Elia membeku oleh sentuhan itu. Sampai malam ini, Wirasena tidak pernah menyadari bahwa ia—tubuhnya—sangat merindukan wanita itu. Bukan karena Elia sedang mengandung anaknya, bukan karena tanggung jawab yang selama ini ia jadikan alasan untuk bisa dekat dengan wanita itu, tapi karena wanita itu Elia.“El, kamu akan menyesalinya dan semakin marah padaku begitu kamu bangun besok pagi.”Elia menarik lengan Wirasena semakin erat hingga lengan berotot itu bersentuhan dengan dada penuh yang terbalut kain kaos. Wirasena mengejang, rahangnya gemerutuk menahan hasrat yang ditahannya beberapa bulan ini.Tangan bebas Wirasena mengusap wajah Elia lembut. Ibu jarinya menyentuh bibir Elia yang lembab.“Pers*tan, El! Aku siap menanggung semuanya besok,” gumam Wirasena sebelum merendahkan kepalanya dan melumat bibir istrinya yang setengah terbuka.Tidak berhenti di situ, Wirasena berpind

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 51

    Elia sedang merendam kakinya setelah beberapa jam berdiri dan berjalan mengerjakan tugasnya di puskesmas dan balai desa sekaligus. Ia bersandar nyaman pada sofa dan menikmati larutan garam hangat melebarkan pembuluh darahnya dan menenangkan ototnya yang kaku.“Cokelat hangat?” tawar Jonas dari meja makan.“Tidak, terima kasih. Seharian ini aku merasa perutku penuh dan napsu makanku hilang.” Elia menegakkan punggungnya. “Jonas, apakah respon warga selalu antusia begitu saat ada penyuluhan?” tanya Elia penasaran.Jonas tersenyum. “Ya, setidaknya di sini, mereka sangat antusias terhadap informasi kesehatan yang diberikan. Atau mungkin ….” Jonas duduk di samping Elia. “Mereka lebih antusias karena kamu yang berbicara.”Elia terkekeh. “Bukankah sebelumnya mereka sudah punya doknas yang ganteng?” gurau Elia polos.“Dok, Dokter!” Bagus muncul di ambang pintu dengan wajah panik. “Pasien baru, anak-anak usia sembilan tahun, luka bakar empat puluh persen.”Jonas dan Elia bergegas menuju UGD pus

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 50

    Di atas ranjang, Barata tersenyum memandangi foto yang sengaja diambilnya untuk sebuah tujuan yang mulia. Pose mereka berdua sangat provokatif, meskipun itu terjadi karena ketidaksengajaan dan didukung keahlian sang fotografer, Joko.“Kamu kenapa? Pulang dari area konflik malah senyum-senyum.” Elena naik ke atas ranjang menjejeri suaminya. “Jangan kelewat bahagia, besok ketemu Wira, jadi remahan rempeyek.”Barata terkekeh seraya menyerahkan foto yang dipandanginya sejak tadi. “Coba lihat. Apa yang akan terjadi padaku besok, ketika si Wira lihat foto ini?”Elena menerima ponsel Barata dengan rasa penasaran. “Wahh, habis kamu, Yang. Bakal jadi perkedel kamu. Kok bisa posenya begini, sih?!” Elena menyodorkan kembali ponsel suaminya dengan bergidik.“Disuruh bantu selesaikan masalah, malah nambah masalah. Misimu itu meredakan perang, bukan sebaliknya. Astaga ...,” desah Elena lelah.“Biar saja. Jengkel aku dibuatnya! Istri siapa yang kabur, siapa yang disuruh kejar.” Barata kembali mengam

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 49

    “Tidak mungkin ketahuan, maksudmu?” sela Wirasena dengan sorot mata tajam. “Bukan tidak ketahuan, tapi belum saatnya diketahui orang. Sama seperti tindakanmu pada almarhum ibuku yang akan aku bongkar sebentar lagi.”Wajah Rossana makin pias. Keringat sebesar biji jagung, muncul di kedua pelipisnya. “A-apa maksudnya?”“Cih! Dari sikap gugup dan butiran keringat yang keluar, sudah cukup membuktikan bahwa kamu mengerti betul apa maksud ucapanku,” cibir Wirasena sinis. “Ayo, Nar. Tidak perlu berlama-lama.”“Sampaikan pada Yulia, kami tidak akan menuntut kalau semua dikembalikan pada pemiliknya. Itu saja.” Danar meraih tas kerjanya dan bangkit dari kursinya. “Kami permisi.”Wirasena hanya melirik ketika Danar menepuk bahunya sambil lalu. Ia belum berniat beranjak dari tempatnya.“Sekilas, aku ingat Elia pernah menyebut tentang tukang kebunnya yang tiba-tiba menghilang setelah kematian ayahnya. Apa itu juga ada hubungannya denganmu?”Dengan tenang, Wirasena mengusap dagunya yang kasar. “Aku

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 48

    Haris duduk bersandar pada kursi plastik tebal yang baru pertama kali dipakainya menemui tamu karena semenjak dirinya mendekam dalam tahanan, belum ada satu orang pun yang menjenguknya, termasuk para perempuannya. Ia mengernyit melihat dua pria yang menjadi tamu pertamanya. Rasanya, ia belum pernah melihat apalagi mengenal mereka berdua. “Kalian siapa?” Pria berdasi menegakkan punggungnya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kulit hitam yang biasanya juga Haris pakai ketika menemui klien atau yang berkaitan dengan kasus yang ditanganinya. “Saya Danar Wiguna, kuasa hukum dari Wirasena. Saya datang untuk menyampaikan ini kepada anda.” Danar memutar kertas menghadap Haris agar pria itu mudah membacanya. Tangan bergelang borgol itu, menerima dengan ragu. Bola matanya bergerak lambat mencermati setiap kata yang tertera dalam kertas. Sejurus kemudian, senyum sinis terbersit di sudut kanan bibirnya. “Pemalsuan surat wasiat? Apa ini?!” Haris meremas kertas di tangannya dan mem

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 47

    Mata wanita Bali itu lekat menatapnya, membuat Elia was-was.“Secara keseluruhan, kondisi bayinya sehat. Hanya saja ….”“Hanya saja apa, Dok? Bayi saya kenapa?” sambar Elia cepat.Tok tok tok.“Masuk.”Elia sedikit kesal pada pemilik tangan di balik pintu yang mengganggunya. Wajah cemberutnya tidak lepas dari pengamatan Kadek.“Permisi, Dok. Apa suami pasien sudah boleh masuk?” tanya perawat pendamping polos.“Boleh. Persilakan masuk, Sus.” Senyum jenaka terbersit di sudut bibir Kadek.Elia memalingkan wajahnya menanti kemunculan Jonas. Begitu pria itu menampakkan wajah tampannya yang sedang tersenyum canggung, Elia menekuk bibirnya keluar.“Kenapa masuk sekarang, sih?!” ketus Elia disambut ekspresi kebingungan Jonas.“Hah?”“Silakan duduk.” Kadek berdiri dan mengulurkan tangan. “Tidak perlu kaget, pengaruh pregnancy hormone.”Mulut Jonas membulat tanda maklum. “Jadi, bagaimana dengan bayinya, Dok?” Jonas mengambil kursi di samping Elia, mengabaikan wajah cemberut yang masih menatapny

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 45

    “Masuk, Bang!” Jonas mengiring Barata masuk. “Kok gak kabar-kabar dulu? Kakak gaka ikut?”Elia hanya terbengong melihat Jonas begitu akrab dengan dosen walinya. Kalau hanya kenal, dirinya juga mengenal Barata dengan baik. Tapi ini, lebih dari sekedar saling kenal.

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 44

    “Mau apa?” Mata Elia melebar karena panik.Alih-alih menjawab pertanyaan Elia, Jonas menarik turun kedua kaki Elia dan meletakkannya di dalam ember berisi larutan garam hangat.“Rendam kakimu sebentar.” Jonas merasa Elia menarik kakinya dengan tatapan curiga. &

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 41

    “Jonas! Apa benar yang dikatakan nenek Aminah?!” tanya Andika tak sabar.Mulut Jonas setengah terbuka hendak menjawab pertanyaan Andika, tapi urung karena kepala-kepala lain menyusul di belakang Andika. Tatapan penasaran menghujani Elia dan Jonas yang masih bingung mencerna kondisi yang sedang terjad

  • Dari Pegawai Jadi Mempelai   Bab 39-2

    “Haish! Dia lagi di mana, sih?!” kesal Shinta seraya menghubungi Elia kembali. “Kamu di mana, El?” cemas Shinta kala operator menjawab panggilannya.Maswir calling ….“Halo, Maswir.”[Ada apa dengan Elia?] tanya Wirasena dengan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status