Share

Bab 6

Author: diahara
last update publish date: 2026-10-06 12:34:21

Lily menimbang-nimbang sejenak apakah dia perlu mengangkat telepon tersebut. Ia tahu mamanya pasti akan menanyakan lagi soal hubungannya dengan Dimitri dan Lily sedang tidak mood untuk menanggapinya.

Tapi, teringat bahwa ia membutuhkan Azalea dan hanya orang tuanya lah yang mempunyai informasi terkait kakaknya itu, membuat Lily akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.

“Halo, Lily. Bagaimana kabarmu? Apa hubunganmu dan Dimitri baik-baik saja?”

Ucapan pertama Ana membuat Lily seketika mencengkram ponselnya. Dugaannya ternyata benar. 

Menarik napas sejenak, Lily akhirnya menjawab, “Kami baik-baik saja. Baru saja tadi aku bertemu dengannya.”

“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Mama senang mendengarnya,” ucap Ana. Nada suaranya terdengar lega. 

Meski begitu, Lily tahu Ana merasa lega bukan karena hal itu. Tapi, karena Lily masih tetap bisa mengikat Dimitri. Seandainya dia tahu kejadian hari ini, mamanya sudah pasti akan marah besar dengannya.  

“Ingat Lily, kamu harus tetap berhubungan baik dengan Dimitri. Jangan sampai kamu melakukan sesuatu yang bisa membuatnya memutuskan hubungan denganmu—”

“Ma, bagaimana kelanjutan pencarian Kak Azalea? Apa sudah menemui titik terang?” potong Lily. “Apa Mama dan Papa sudah menemukan petunjuk di mana Kak Azalea berada?”

Tidak ada jawaban langsung dari Ana. Mungkin mamanya terlalu kaget karena Lily, yang selalu mendengarkannya, tiba-tiba memotong ucapannya. Setelah beberapa lama jeda, Ana akhirnya menjawab, “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya mengenai kakakmu? Apa sebenarnya terjadi sesuatu?”

“Aku hanya bertanya,” balas Lily cepat, “Kalau Mama memang sudah menemukan Kak Azalea, sebaiknya mama segera membuatnya menggantikan diriku. Lebih cepat, lebih baik untuk kita, kan?”

‘Dan mama tidak perlu lagi merasa was-was apakah aku akan melakukan hal bodoh yang bisa menghancurkan keluarga kita,’ ringis Lily pedih dalam hati.

Hening kembali. Tapi, kali ini Lily bisa mendengar Ana menghembuskan napas. Sepertinya ucapan Lily tadi membuatnya kesal.

“Kami masih terus berusaha mencarinya. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan soal Azalea lagi.”

Nada suara Ana kemudian berubah dingin, “Fokus saja pada tugasmu, Lily. Jangan sampai membuat Dimitri melepaskan hubungannya darimu sebelum kami menemukan Azalea.”

Ana kemudian  mematikan sambungan telepon secara sepihak. Meninggalkan rasa kosong dan hampa di hati Lily. 

Gadis itu menyandarkan kepalanya ke headrest. Menutup matanya dengan lengan saat bulir-bulir air mata jatuh ke pipinya.

***

Sesampainya di rumah, Lily langsung masuk ke dalam kamar. Kejadian hari ini sungguh menguras batinnya sehingga ia ingin langsung merebahkan dirinya di atas ranjang empuk dan beristirahat. 

Lily tertidur cukup lama. Bahkan sampai melewatkan makan malam. Gadis itu baru terbangun sekitar tengah malam ketika tiba-tiba mencium aroma yang begitu wangi.

Ia membuka mata perlahan, mengerjapkan mata sejenak berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya. Kemudian, ia menoleh ke nakas, hendak melihat jam digital yang ada di atas sana, ketika matanya tiba-tiba menangkap sosok orang di dalam kamar. 

Seorang pria berperawakan tinggi dan besar. Ia mengenakan bathrobe yang membuat dada bidangnya terlihat. Beberapa tetes air terjatuh di sana. Berasal dari rambut luruhnya yang masih basah.

Begitu melihat wajahnya, mata Lily seketika membulat. Itu Dimitri! Sejak kapan dia pulang? 

Tidak, lebih tepatnya, ternyata dia pulang? Padahal  setelah kejadian tadi, Lily pikir pria itu akan semakin enggan untuk pulang dan melihatnya di rumah.

Lily buru-buru bangkit dari posisinya. “Ma-maaf. Saya tidak tahu kalau Anda pulang. Apa Anda sudah di sini dari tadi?” tanya Lily gugup dan panik. 

Dimitri menoleh padanya. Tatapannya datar dan sedikit dingin membuat perut Lily terasa melilit. Ia lalu menjawab singkat, “Saya baru datang.”

Lily ber-oh pelan. Tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa malu dan juga canggung karena teringat dengan kejadian di kantor Dimitri sebelumnya, jadi tidak tahu harus berkata apa. Berharap Dimitri yang akan melanjutkan percakapan.

Tapi, pria itu justru juga diam. Hanya menatap lekat Lily yang membuatnya bingung dan bertanya-tanya. 

Ia tidak tahu apakah Dimitri marah atau tidak dengannya. Tatapan pria itu terlalu datar dan sorot wajahnya juga tidak menunjukkan apa pun, membuat Lily tidak bisa menebak isi pikirannya. 

Atau sebenarnya pria itu sedang mengintimidasinya dengan diamnya sekarang?

Tidak tahan dengan situasi ini, Lily kemudian berdiri. Lebih baik ia pergi dahulu dari kamar ini. Menenangkan diri dan menyusun rencana sebelum berhadapan lagi dengan Dimitri.

Lily kemudian berkata pelan, “Saya izin keluar sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban Dimitri, Lily segera melangkah menuju pintu kamar. Tapi, baru saja ia melewati Dimitri, tangan besar laki-laki itu tiba-tiba menahan tangannya.

“Mau ke mana? Bukankah harus ada yang kita bicarakan sekarang?”

Jantung Lily seketika berdegup kencang saat mendengar nada berat dari suara pria itu. Bulu kuduknya meremang ketika melihat melihat tatapan dingin nan mengintimidasi Dimitri yang dilabuhkan padanya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 7

    “Sa-Saya mau ke kamar mandi.” Dimitri menaikkan sebelah alisnya. Kemudian seolah mengejek Lily, ia kemudian mengarahkan dagunya ke pintu kamar mandi. Lily menggigit bibirnya tidak sadar. Ia seharusnya memang berpikir lebih dahulu sebelum berbicara. Untuk apa ia harus keluar dari kamar hanya untuk ke kamar mandi. Padahal sudah jelas setiap kamar di rumah ini memiliki kamar mandi sendiri. “Duduk.”Lily seperti mematung membuat suaminya itu kembali mengulangi ucapannya. “Duduk di sini, Lily. Ada yang harus kita bicarakan.” Lily akhirnya menurut karena ia juga tidak punya alasan untuk menolak Dimitri. Ia menaruh kruk di dekatnya yang juga tak luput dari pandangan pria gagah itu. “Kenapa kamu tadi datang ke kantor?Apa ada masalah?” Lily menggeleng. Ia kembali teringat bagaimana teman-teman suaminya tadi memojokkan dan menghina dirinya. Sakit hati sekali dirinya jika harus mengingat hal itu. “Tidak ada masalah. Tadi hanya…”“Hanya apa?” Dimitri memerhatikan Lily yang sepertinya tid

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 6

    Lily menimbang-nimbang sejenak apakah dia perlu mengangkat telepon tersebut. Ia tahu mamanya pasti akan menanyakan lagi soal hubungannya dengan Dimitri dan Lily sedang tidak mood untuk menanggapinya.Tapi, teringat bahwa ia membutuhkan Azalea dan hanya orang tuanya lah yang mempunyai informasi terkait kakaknya itu, membuat Lily akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.“Halo, Lily. Bagaimana kabarmu? Apa hubunganmu dan Dimitri baik-baik saja?”Ucapan pertama Ana membuat Lily seketika mencengkram ponselnya. Dugaannya ternyata benar. Menarik napas sejenak, Lily akhirnya menjawab, “Kami baik-baik saja. Baru saja tadi aku bertemu dengannya.”“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Mama senang mendengarnya,” ucap Ana. Nada suaranya terdengar lega. Meski begitu, Lily tahu Ana merasa lega bukan karena hal itu. Tapi, karena Lily masih tetap bisa mengikat Dimitri. Seandainya dia tahu kejadian hari ini, mamanya sudah pasti akan marah besar dengannya. “Ingat Lily, kamu harus tetap berhubungan baik

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 5

    “Julian! Jaga ucapanmu!” tegur Kayla pada lelaki yang menuding Lily, “Kamu bisa membuatnya menangis. Kasian kan Dimitri nanti makin sibuk dan tidak bisa bermain dengan kita karena harus menenangkannya?”“Aku hanya berbicara yang sebenarnya. Harus ada orang yang menyadarkannya, kan?” dengus Julian tak terima.Seluruh tubuh Lily bergetar melihat teman-teman Dimitri yang lain mengangguk-anggukkan kepala, setuju dengan ucapan Julian. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; percakapan Kayla dan Julian ini atau ucapan Julian tadi.Tapi, ia tahu ucapan Julian tadi tidak salah. Azalea adalah gadis sempurna. Semua orang menginginkannya, dan Dimitri bukanlah pengecualian. Karena itu, ucapan pria tadi seolah memberikan lubang di hatinya. Membuat dadanya sesak dan terluka.Tahu tidak bisa membendung emosinya lagi, Lily akhirnya bangkit dan berbalik badan. Ia segera pergi dari sana tanpa memerhatikan reaksi teman-teman Dimitri.Gadis itu berjalan tertatih-tatih melewati koridor depan pintu rapa

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 4

    Lily menunggu Dimitri sampai semalaman suntuk. Berpikir bahwa Dimitri mungkin akan tetap datang setelah mengetahui dirinya bersiap. Karena tidak mungkin seorang pria akan menolak godaan itu, kan?Tapi, sampai pagi menjelang, Dimitri ternyata tidak datang. Bahkan tidak ada bekas ia tidur di sebelah Lily, yang berarti ia juga tidak tidur di sana. “Tuan Dimitri ada banyak pekerjaan dari semalam, Nyonya. Karena itu, ia tidak datang ke kamar,” beritahu Rudi dengan raut wajah tak enak saat Lily bertanya, “Pagi ini beliau juga ada rapat. Makanya masih belum sempat pulang.”Alasan yang masuk akal. Apalagi, ia tahu kalau Dimitri memang sibuk. Tapi, setelah berhari-hari ditinggal terus sampai malam hari, Lily menyadari mungkin itu semua alasan belaka.Mungkin saja pria itu sebenarnya hanya enggan untuk bersamanya. Meski dia setuju menikahi Lily sebagai pengganti Azalea, tapi bukan berarti dia juga mau tinggal bersamanya, kan? Karena itu, dia pasti menghindari Lily.Tapi, bukankah itu keterlalu

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 3

    Acara pernikahan berjalan dengan cepat.Tidak ada lagi drama setelah itu. Ia dan Dimitri menjalankan akad dengan lancar. Begitu juga dengan pesta pernikahan mereka. Meski sepanjang acara Lily banyak merasakan tatapan dan bisik-bisik tak mengenakkan dari para tamu.Lily tidak tahu apakah Dimitri juga merasakan hal tersebut sama seperti dirinya. Karena bukankah pria itu harusnya bereaksi meskipun sedikit? Bagaimana pun, ini menyinggung tentang harga dirinya.Tapi, pria itu justru terlihat tenang. Ekspresi wajahnya datar, tidak terlihat terganggu sedikit pun dan sorot matanya juga merefleksikan hal yang sama. Meski begitu, ia juga tidak berusaha untuk mendiamkan tamu atau menenangkan Lily dari berbagai hal tersebut.Dengan kata lain, pria itu hanya tidak peduli saja. Baik situasi ini, maupun dirinya.Tidak masalah. Toh, sejak awal Lily sudah tahu kalau Dimitri bukanlah pria yang baik. Terbukti dari ucapan merendahkannya tadi pada Lily.Karena itu, Lily berusaha untuk tidak memasukkannya

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 2

    “Apa? Menikah dengan anakmu yang pincang itu?” Rose menggeram, “Mana sudi kami menerimanya! Apa kalian ingin semakin mempermalukan kami, hah?!”Lily menundukkan kepalanya saat tatapan menghina Rose dilayangkan ke arahnya. Tubuhnya bergetar. Berusaha menahan mati-matian air mata yang hendak keluar.Kenapa semuanya tiba-tiba begini? Belum sembuh ia dari rasa sakit hati karena Evan ikut kabur dengan Azalea, sekarang ia disuruh menggantikan kakaknya itu? Bahkan tanpa berkata apa pun lebih dulu dengannya!Apakah dia memang tidak memiliki arti di mata orang tuanya? Hanya sekadar cadangan? Sosok yang bisa dipakai kapan saja untuk menggantikan kakaknya? Dada Lily terasa sesak.“Sudahlah! Kami tidak mau mendengar apapun lagi. Sebaiknya kalian segera angkat kaki dan membayar hutang pada kita!” seru Rose lagi.“Tapi, Nyonya—”“Aku setuju dengan ide itu.”Suara berat dan dalam itu menyentakkan semua orang. Mereka segera menoleh ke arah pintu dan tercekat ketika melihat pria berperawakan tinggi d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status