Share

Bab 5

Author: diahara
last update publish date: 2026-10-06 12:33:22

“Julian! Jaga ucapanmu!” tegur Kayla pada lelaki yang menuding Lily, “Kamu bisa membuatnya menangis. Kasian kan Dimitri nanti makin sibuk dan tidak bisa bermain dengan kita karena harus menenangkannya?”

“Aku hanya berbicara yang sebenarnya. Harus ada orang yang menyadarkannya, kan?” dengus Julian tak terima.

Seluruh tubuh Lily bergetar melihat teman-teman Dimitri yang lain mengangguk-anggukkan kepala, setuju dengan ucapan Julian. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; percakapan Kayla dan Julian ini atau ucapan Julian tadi.

Tapi, ia tahu ucapan Julian tadi tidak salah. Azalea adalah gadis sempurna. Semua orang menginginkannya, dan Dimitri bukanlah pengecualian. Karena itu, ucapan pria tadi seolah memberikan lubang di hatinya. Membuat dadanya sesak dan terluka.

Tahu tidak bisa membendung emosinya lagi, Lily akhirnya bangkit dan berbalik badan. Ia segera pergi dari sana tanpa memerhatikan reaksi teman-teman Dimitri.

Gadis itu berjalan tertatih-tatih melewati koridor depan pintu rapat. Kakinya terasa agak sakit karena ia paksakan untuk berjalan cepat. Meski begitu, Lily tidak memperlambat langkahnya. Ia ingin segera kembali ke mobil dan pulang ke rumah!

Karena tidak berhati-hati dan sibuk dengan rasa sakit hatinya, Lily tidak menyadari pintu ruang rapat itu terbuka. Dimitri keluar dari sana bersama dengan para dewan direksi, bertepatan dengan Lily melaju ke arahnya. Keduanya akhirnya bertabrakan dan membuat bekal di tangan Lily terjatuh ke lantai.

Klontang!

Semua orang menoleh. Menatap Lily yang kini pucat saat melihat masakannya berhamburan di lantai. Ia buru-buru berlutut, hendak memunguti isi makanan yang jatuh di lantai sebelum tangan Dimitri tiba-tiba menariknya.

“Sudah, biarkan saja. Jangan memunguti barang kotor di lantai!”

Lily tersentak. Ia menoleh ke Dimitri. Menggigit bibir saat melihat alis pria itu bertaut dalam dengan sorot mata yang tajam. Bahkan menurut Dimitri, makanan yang ia bawa pun hanya barang kotor? Padahal dia sudah menyiapkannya dengan susah payah tadi pagi!

“Apa yang kamu lakukan di sini? Apa ada yang kamu butuhkan?” tanya Dimitri. Ia menatap sejenak mata Lily yang berkaca-kaca dan semakin mengerutkan alisnya.

“Kamu menangis?”

Lily menggeleng cepat. Ia ingin menjawab kalau ia tidak menangis, matanya hanya kemasukan debu. Tapi, tatapan sinis dari para dewan direksi di belakang Dimitri membuat lidah Lily kelu. 

Ia pastilah sudah membuat Dimitri malu sekarang. Teman-teman Dimitri benar, seharusnya ia tahu diri dengan tidak datang kesini. Bukannya membuat situasi membaik, ia justru malah membuatnya semakin parah!

Lily kemudian mengibaskan tangan Dimitri. Cukup kencang hingga membuat cekalan pria itu terlepas. 

Ia buru-buru mengalihkan pandangannya, tidak ingin melihat wajah Dimitri yang mengeras lalu berkata serak, “Saya tidak apa-apa. Saya ingin pulang sekarang,” lalu melangkah cepat menuju lift.

Cermin di dalam lift memantulkan penampilannya. Membuatnya teringat ucapan sekumpulan teman-teman Dimitri tadi yang mengatakan bahwa ia tak setara dengan Azalea, bahkan cacat. Tanpa sadar, air matanya mengalir keluar.

Gadis itu mengusap air matanya kasar ketika lift sudah berhenti di lobi. Begitu pintu lift terbuka, matanya segera menangkap sosok pria berpenampilan rapih di depannya.

“Nyonya Lily? Saya Rendra, asisten Pak Dimitri. Beliau meminta saya untuk mengantarkan Anda ke rumah,” ucapnya.

Lily menyipitkan mata. Dimitri memintanya? Kenapa? Apa pria itu juga berpikir kalau ia hanya gadis cacat yang bahkan tidak bisa pulang sendiri?

Menahan gemuruh dalam hatinya, Lily menggeleng. “Tidak perlu. Saya sudah ada jemputan sendiri. Anda bisa kembali saja ke Dimitri,” ucapnya dingin lalu melewati Rendra secepat mungkin.

Ia masuk ke dalam mobil. Menghembuskan napas panjang saat mobil mulai bergerak pergi meninggalkan rumah sakit.

Sekarang semuanya sudah hancur. Dengan peristiwa yang terjadi barusan, sudah pasti pernikahan mereka tidak berkembang ke arah yang baik. Dimitri pasti akan murka dan meminta berpisah. Sudah tidak ada lagi masa depan untuknya.

Satu-satunya yang bisa menyelamatkan situasi ini hanyalah Azalea. Kakaknya. Kehadirannya pasti bisa mencegah kehancuran yang akan terjadi karena kebodohannya ini.

Lamunan Lily terputus ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia segera mengambilnya dari saku celana dan tersentak ketika melihat nama Ana tertera di sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 9

    “Halo?” Lily menyapa dengan ragu. Apalagi saat melihat wajah sopir pribadi suaminya tersebut sudah pucat seperti sedang menerima telpon dari makhluk astral.“Kamu di mana, Lily?” “Saya-saya sedang di rumah teman.”“Siapa?” “Anda juga tidak kenal. Ada apa?” tanya Lily kembali. “Sudah jam berapa ini?” Lily melihat jam tangannya yang saat ini sudah menunjukkan jam setengah satu siang. “Jam setengah satu, kenapa?” tanya Lily dengan bingung. Dimitri tidak langsung menjawab, melainkan ada dengusan keras yang terdengar. Sopir pribadi mereka tidak salah ketika mengatakan Dimitri memang sedang marah. Tapi, marah akan hal apa? “Sebenarnya rumah teman siapa yang sedang kamu kunjungi?” Lily menelan tenggorokannya dengan susah payah. “Teman Kak Azalea. Saya mencari Kak Azalea siapa tahu ada informasi.”“Temannya? Laki-laki? Apa mantannya?” Suara Dimitri naik satu oktaf. “Bukan, kok. Temannya perempuan. Setahu saya Kak Azalea tidak punya mantan pacar.”Terdengar helaan napas lega di san

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 8

    Lily sedang duduk di ruang tengah rumah Dimitri sambil membaca buku di sana. Para maid mengatakan jika Lily bosan berada di rumah ini, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah membaca buku. Buku yang tersedia di kamar mereka. Lebih tepatnya kamar Dimitri yang saat ini juga tengah ia tempati untuk sementara.Ia teringat suasana tadi malam setelah ia meminta para maid keluar dari kamar mereka, Dimitri menatapnya tajam untuk beberapa saat. Akan tetapi pria tampan itu tidak mengatakan sepatah kata pun dan berakhir dengan membaringkan diri di samping Lily sambil membelakanginya. Lily juga mengikuti hal yang sama. Setelah itu pagi ini para maid mengatakan jika Dimitri sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Namun, sebelum suaminya itu pergi ternyata pria itu berpesan pada para maid agar saat Lily bangun nanti, mereka harus mengingatkan gadis itu untuk segera sarapan.“Nyonya, ada Nyonya Rose datang ke sini.”Lily menutup bukunya pelan. Baru beberapa hari setelah

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 7

    “Sa-Saya mau ke kamar mandi.” Dimitri menaikkan sebelah alisnya. Kemudian seolah mengejek Lily, ia kemudian mengarahkan dagunya ke pintu kamar mandi. Lily menggigit bibirnya tidak sadar. Ia seharusnya memang berpikir lebih dahulu sebelum berbicara. Untuk apa ia harus keluar dari kamar hanya untuk ke kamar mandi. Padahal sudah jelas setiap kamar di rumah ini memiliki kamar mandi sendiri. “Duduk.”Lily seperti mematung membuat suaminya itu kembali mengulangi ucapannya. “Duduk di sini, Lily. Ada yang harus kita bicarakan.” Lily akhirnya menurut karena ia juga tidak punya alasan untuk menolak Dimitri. Ia menaruh kruk di dekatnya yang juga tak luput dari pandangan pria gagah itu. “Kenapa kamu tadi datang ke kantor?Apa ada masalah?” Lily menggeleng. Ia kembali teringat bagaimana teman-teman suaminya tadi memojokkan dan menghina dirinya. Sakit hati sekali dirinya jika harus mengingat hal itu. “Tidak ada masalah. Tadi hanya…”“Hanya apa?” Dimitri memerhatikan Lily yang sepertinya tid

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 6

    Lily menimbang-nimbang sejenak apakah dia perlu mengangkat telepon tersebut. Ia tahu mamanya pasti akan menanyakan lagi soal hubungannya dengan Dimitri dan Lily sedang tidak mood untuk menanggapinya.Tapi, teringat bahwa ia membutuhkan Azalea dan hanya orang tuanya lah yang mempunyai informasi terkait kakaknya itu, membuat Lily akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.“Halo, Lily. Bagaimana kabarmu? Apa hubunganmu dan Dimitri baik-baik saja?”Ucapan pertama Ana membuat Lily seketika mencengkram ponselnya. Dugaannya ternyata benar. Menarik napas sejenak, Lily akhirnya menjawab, “Kami baik-baik saja. Baru saja tadi aku bertemu dengannya.”“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Mama senang mendengarnya,” ucap Ana. Nada suaranya terdengar lega. Meski begitu, Lily tahu Ana merasa lega bukan karena hal itu. Tapi, karena Lily masih tetap bisa mengikat Dimitri. Seandainya dia tahu kejadian hari ini, mamanya sudah pasti akan marah besar dengannya. “Ingat Lily, kamu harus tetap berhubungan baik

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 5

    “Julian! Jaga ucapanmu!” tegur Kayla pada lelaki yang menuding Lily, “Kamu bisa membuatnya menangis. Kasian kan Dimitri nanti makin sibuk dan tidak bisa bermain dengan kita karena harus menenangkannya?”“Aku hanya berbicara yang sebenarnya. Harus ada orang yang menyadarkannya, kan?” dengus Julian tak terima.Seluruh tubuh Lily bergetar melihat teman-teman Dimitri yang lain mengangguk-anggukkan kepala, setuju dengan ucapan Julian. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; percakapan Kayla dan Julian ini atau ucapan Julian tadi.Tapi, ia tahu ucapan Julian tadi tidak salah. Azalea adalah gadis sempurna. Semua orang menginginkannya, dan Dimitri bukanlah pengecualian. Karena itu, ucapan pria tadi seolah memberikan lubang di hatinya. Membuat dadanya sesak dan terluka.Tahu tidak bisa membendung emosinya lagi, Lily akhirnya bangkit dan berbalik badan. Ia segera pergi dari sana tanpa memerhatikan reaksi teman-teman Dimitri.Gadis itu berjalan tertatih-tatih melewati koridor depan pintu rapa

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 4

    Lily menunggu Dimitri sampai semalaman suntuk. Berpikir bahwa Dimitri mungkin akan tetap datang setelah mengetahui dirinya bersiap. Karena tidak mungkin seorang pria akan menolak godaan itu, kan?Tapi, sampai pagi menjelang, Dimitri ternyata tidak datang. Bahkan tidak ada bekas ia tidur di sebelah Lily, yang berarti ia juga tidak tidur di sana. “Tuan Dimitri ada banyak pekerjaan dari semalam, Nyonya. Karena itu, ia tidak datang ke kamar,” beritahu Rudi dengan raut wajah tak enak saat Lily bertanya, “Pagi ini beliau juga ada rapat. Makanya masih belum sempat pulang.”Alasan yang masuk akal. Apalagi, ia tahu kalau Dimitri memang sibuk. Tapi, setelah berhari-hari ditinggal terus sampai malam hari, Lily menyadari mungkin itu semua alasan belaka.Mungkin saja pria itu sebenarnya hanya enggan untuk bersamanya. Meski dia setuju menikahi Lily sebagai pengganti Azalea, tapi bukan berarti dia juga mau tinggal bersamanya, kan? Karena itu, dia pasti menghindari Lily.Tapi, bukankah itu keterlalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status