Se connecterLily akhirnya melakukan apa yang diminta oleh Dimitri dalam waktu cepat. Kemudian ia buru-buru mengirimkan bukti kepada suaminya kembali. Ia tidak tahu apa alasan pasti sampai pria itu memintanya melakukan itu. Namun, satu hal yang pasti adalah jika ia tidak memenuhi apa yang diminta Dimitri, mungkin itu nanti akan menjadi masalah baginya. Sebuah panggilan telpon langsung masuk. Kontak “My Husband” yang menghubunginya sebagai penanda jika itu adalah Dimitri dan bukan orang lain.“Halo?” Lily akhirnya membuka suara.“Bagus.”Itu adalah kata pertama yang diucapkan Dimitri. Lily masih mengerutkan kening. “Maksudnya?” “Akhirnya kamu simpan nomor saya. Jadi kalau nanti saya menghubungi kamu lagi, kamu sudah tahu jika itu saja. Tidak ada alasan lagi untuk kamu menolak panggilan saya.”“Iya,” jawab Lily setelah ada jeda beberapa saat di sana. Ia memang masih bingung. Akan tetapi, ia juga seperti tidak memiliki opsi untuk bertanya saat ini. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba menghubungi saya?” t
Lily memasuki kamar dengan langkah yang lesu. Ia sama sekali tak bertenaga kali ini. Ia sudah melewati hari yang panjang. Bahkan ia juga tidak bisa merasa lebih baik di kamar Dimitri yang begitu megah ini. Bagaimana bisa kedua orang tuanya menambah beban di pundaknya. Ia tidak bisa membayangkan jika ia tidak memiliki keberanian seperti tadi lantas bagaimana hari esok yang harus ia lalui. Apakah ia bisa meminta uang lagi untuk Dimitri?Dimitri memang memberikannya uang. Namun, bukan berarti ia bisa menggunakan uang itu dengan sembarangan bukan? Karena lelah ia mencoba untuk berbaring di ranjang. Baru beberapa saat ponselnya bergetar. Lily menoleh dan tidak ada nama di sana. Ia tidak mengenal nomor tersebut. Ia menghela napas. Mungkin saja itu hanya orang iseng atau orang yang ingin menawarkan barang jasa. Merasa ia tidak punya banyak energi untuk menjawab panggilan telpon tersebut, Lily hanya mengabaikannya tanpa menekan tombol tolak di sana. Nomor itu terus menghubunginya sampai ti
“Ada apa, Ma Pa?” ulang Lily lagi.Tomi akhirnya angkat bicara.“Hubungan kamu dengan Dimitri bagaimana? Apa baik-baik saja? Maksudnya meskipun kamu hanya pengganti, dia tidak mengabaikan kamu sepenuhnya, bukan?” Lily mengerutkan kening. Terlihat jika ia sedang berpikir saat ini. “Mama tahu kalau kamu tidak terlihat menarik di mata banyak orang, tapi setidaknya jika di depan Dimitri kamu bisa berdandan lebih, bukan? Apalagi sekarang Mama lihat kamu juga ada peningkatan dalam hal penampilan. Kalau dulu mana bisa kamu berdandan seperti ini? Mungkin malah lebih mirip dengan badut saat kamu dipoles dengan riasan.”Ada nada mengejek di sana. Lily bisa merasakan kepalanya pening. Belum selesai dirinya diinjak harga dirinya oleh teman-teman suaminya, kini justru kedua orang tuanya yang berulah. “Jadi tujuan Mama dan Papa datang ke sini hanya untuk mengatakan hal semacam itu? Kalau memang ita lebih baik Mama dan Papa pergi saja sekarang.”Lily sudah hendak berdiri dan mengambil kruknya, na
Lily pulang dengan perasaan terluka. Ia harus membayangkan dalam enam bulan ini akan menerima semua perlakuan tidak baik ini. Apalagi ia juga masih harus bertemu mereka karena mereka adalah teman-teman Dimitri.Ia menyandarkan kepalanya di dalam mobil. Padahal ia juga baru keluar dari rumah dengan niat jalan-jalan. Tapi, pikirannya sudah kembali keruh dan penuh. “Nyonya yakin tidak ingin diantar ke tempat lain lagi?” Suara Rudi kembali menyadarkan Lily ke realita. Lily menggeleng kemudian menjawab dengan pelan.“Saat ini kita langsung pulang saja ke rumah. Saya juga sudah kenyang.”Rudi mengangguk dalam diam. Sekaligus mengamati sembari jarinya terus mengetik sesuatu di ponsel yang tidak terlihat oleh Lily dari kursi penumpang belakang. “Baik, Nyonya.”Setelah agak lama baru Rudi menjawab. Lily tertidur sebentar selama perjalanan pulang. Sampai ia menyadari mobil sudah berhenti. Ia menghela napas sebentar. Malam ini tidak ada Dimitri sehingga ia bisa lebih santai.Memang pria tampa
“Maaf, saya tidak ada masalah dengan kalian. Lagipula ini tempat umum.”Lily mencoba untuk tenang kali ini. Apalagi mereka ini adalah teman-teman suaminya. Jika terakhir kali permasalahan mereka terjadi di kantor Dimitri yang masih tidak terlalu banyak orang saja sudah berakhir memalukan untuk Lily, apalagi di mall seperti ini. “Sudahlah, Julian. Jangan seperti itu. Biar bagaimana pun juga ini kan teman Dimitri. Meskipun Dimitri juga terpaksa menikahinya setidaknya kita harus tetap menghargainya.”Lily menatap Kayla yang seperti membela sekaligus mengejeknya. Ia memilih diam kali ini. “Aku hanya bingung saja kenapa gadis ini masih terus mempertahankan pernikahan mereka. Apa dia tidak malu?” Lily mengeratkan pegangannya pada kruknya.“Dia masih sangat percaya diri mempertahankan gelar sebagai Nyonya Wijaya. Bahkan sekarang dengan terang-terangan berlagak hendak menghabiskan uang Dimitri. Omong kosong macam apa ini.”“Tidak ada yang salah dengan mempertahankan rumah tangga. Lagipula
Lily duduk di depan kolam renang sambil termenung. Dimitri sudah berangkat pagi-pagi sekali. Bahkan ia saja tidak sempat bertemu dengan pria itu. Bahkan Dimitri saja tidak mau repot-repot membangunkannya hanya untuk sekadar berpamitan. Ia jadi bingung sekali dengan sikap pria itu. Dimitri memang sering kali menatapnya tajam atau dingin. Namun, di beberapa kesempatan suaminya itu juga berbaik hati padanya. “Mungkin dia bersikap baik karena tidak ingin ada hutang budi denganku,” ucapnya pada diri sendiri. Dia mendesah sekali lagi. Tidak ada gunanya memang memikirkan suaminya itu. Ia mencoba berdiri dengan hati-hati. Ia meraih kruknya dengan gerakan pelan. Jangan sampai tergelincir, pikirnya. Ia jadi bingung apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia tidak ada kegiatan di sini. Karena Dimitri sedang berada di luar negeri, ia tidak perlu memasak untuk laki-laki itu. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Tidak apa-apa bukan jika ia ingin menghirup udara segar di luar? Ia menghampir







