เข้าสู่ระบบLily sedang duduk di ruang tengah rumah Dimitri sambil membaca buku di sana. Para maid mengatakan jika Lily bosan berada di rumah ini, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah membaca buku. Buku yang tersedia di kamar mereka. Lebih tepatnya kamar Dimitri yang saat ini juga tengah ia tempati untuk sementara.
Ia teringat suasana tadi malam setelah ia meminta para maid keluar dari kamar mereka, Dimitri menatapnya tajam untuk beberapa saat. Akan tetapi pria tampan itu tidak mengatakan sepatah kata pun dan berakhir dengan membaringkan diri di samping Lily sambil membelakanginya. Lily juga mengikuti hal yang sama. Setelah itu pagi ini para maid mengatakan jika Dimitri sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Namun, sebelum suaminya itu pergi ternyata pria itu berpesan pada para maid agar saat Lily bangun nanti, mereka harus mengingatkan gadis itu untuk segera sarapan.“Nyonya, ada Nyonya Rose datang ke sini.”Lily menutup bukunya pelan. Baru beberapa hari setelah pernikahan antara ia dan Dimitri, tapi rasanya sama sekali tidak ada ketenangan. “Oh baik, saya akan ke luar.”Lily hendak menyambut ibu mertuanya untuk masuk ke dalam. Tapi baru saja ia berjalan setelah memakai kruk, suara langkah kaki sudah terdengar.“Tidak perlu repot-repot untuk menyambut saya di luar. Karena kalau menunggu kaki kamu berjalan sampai halaman depan rumah anak saya, pasti membutuhkan waktu lebih dari satu jam.”Ucapan pedas yang dilontarkan Rose membuat Lily kembali merasa sakit hati.“Ada keperluan apa Ibu…Mama datang ke sini?” Ada kecanggungan luar biasa ketika lidah Lily turut memanggil Rose dengan sebutan mama. Apalagi setelah melihat raut wajah Rose yang tidak suka. “Jangan panggil saya dengan panggilan seperti itu. Saya bukan ibumu. Lagipula bukan kamu yang kami minta untuk menjadi istri anak saya.”Lily terdiam. “Lagipula terserah saya kapan pun saya mau datang ke rumah ini juga hak saya. Ingat baik baik jika ini adalah rumah anak saya.”Lily melirik beberapa maid yang ada di sana. Mereka menunduk dalam tapi tidak berani pergi sebelum Rose meminta mereka. Namun, Lily tahu jika Rose sengaja mengatakan semua itu di depan para maid. Ibu mertuanya sengaja menyudutkan dirinya secara terang-terangan. “Baik maaf Nyonya,” jawab Lily akhirnya. Lily kemudian melihat Rose yang duduk di atas sofa. “Bawakan minuman dan cemilan kesukaan saya seperti biasa. Karena pasti dia tidak tahu apa kesukaan keluarga kami.”Lily tahu Rose kembali membicarakannya. Para maid pergi dari sana meninggalkan Lily dan Rose berdua saja. Lily akhirnya duduk di sofa yang berhadapan dengan Rose.“Lalu ada keperluan apa Nyonya datang ke sini? Karena Dimitri sedang bekerja ke kantor.”“Saya juga tahu jika anak saya ke kantor. Dia itu pewaris utama Keluarga Wijaya. Bukan seorang pengangguran seperti kamu yang hanya diam di rumah mewah seperti ini sambil membaca buku. Kamu pikir kamu adalah nyonya di sini?” Lily ingin sekali menjawab tapi mengingat bagaimana kondisi dan latar belakang mengapa ia menikah dengan Dimitri, ia menekan bibirnya rapat-rapat agar tetap terkunci serta mengeluarkan suara. “Seharusnya kamu tahu diri, Lily. Banyak yang mempertanyakan kenapa Dimitri yang agung harus menikah dengan gadis cacat seperti kamu. Kamu tidak secantik kakakmu dan tidak memiliki kelebihan apa pun. Sehingga seharusnya hal yang bisa kamu lakukan saat ini adalah mencari keberadaan Azalea agar posisi kalian bisa segera ditukar.”“Saya juga terus bertanya pada orang tua saya bagaimana perkembangan pencarian kakak saya, Nyonya.”Rose tertawa mengejek dan itu sangat dibenci oleh Lily. “Hanya terus bertanya. Setidaknya coba kamu tanya satu per satu kepada teman kakakmu di mana mereka terakhir melihat Azalea. Kalau hanya duduk diam di rumah seperti ini namanya memang kamu tidak ingin mencari kakakmu.”Lily menggeleng tidak terima.“Atau mungkin kamu senang juga rupanya dengan pernikahan ini karena ini jadi kesempatan untuk kamu mendapatkan anak saya secara cuma-cuma? Karena kamu tahu anak saya itu memang nyaris sempurna sehingga kamu berharap Azalea memang tidak pernah ditemukan?”“Saya tidak pernah berpikiran seperti itu, Nyonya!” Lily kali ini sudah tidak terima dituduh seperti itu. Rose langsung membelalak tidak suka ketika Lily mengatakannya dengan nada yang cukup keras. “Perhatikan tata kramamu, Gadis Cacat! Saya hanya membicarakan fakta. Kalau memang kamu tidak memanfaatkan keadaan maka seharusnya kamu berupaya sekeras mungkin agar Azalea bisa ditemukan. Lihat tadi apa yang sedang kamu lakukan? Membaca buku sambil meminum teh. Ingat kalau kamu itu menumpang di sini! Jangan macam-macam kamu di sini karena nasib keluarga kamu ada di tangan kami!” Napas Lily naik turun karena ucapan Rose. Semua alasan itu membuatnya muak dan juga merasa lemah tak berdaya. Para maid datang membawakan teh dan juga cemilan yang tadi dipesan oleh Lily. Rose memakannya dengan anggun dan santai di depan Lily. Tak lama wanita itu sudah selesai meminum teh dan kembali menatap Lily dengan tatapan benci. “Kamu ingat baik-baik apa yang saya katakan. Kamu harus coba untuk menemukan Azalea karena yang kami inginkan untuk menjadi seorang menantu adalah Azalea.” Setelah mengatakan hal itu, Rose langsung pergi dari sana. Lily merasakan dadanya sesak. Ia mengeluarkan ponsel. Apakah ia harus kembali menghubungi mamanya? Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Rose, ia harus mencoba mencari Azalea. Ia berpikir keras dari mana ia harus memulai. Ia tidak tahu banyak mengenai teman dekat Azalea. Karena selama ini jika Azalea sedang kedatangan teman di kediaman orang tua mereka, Lily diminta untuk tidak keluar kamar. Tapi ia ingat salah satu teman Azalea. Mungkin ia bisa mencoba ke sana lebih dahulu untuk mencari tahu di mana Azalea berada. Ia buru-buru keluar rumah.“Nyonya mau ke mana? Biar saya antar.”Sopir pribadi Dimitri mencegah Lily yang berusaha berjalan dengan cepat menggunakan kruknya. “Oh itu saya harus pergi ke rumah seseorang. Ada yang ingin saya pastikan,” jawab Lily pelan. “Biar saya antar, Nyonya.”Lily menggeleng.“Tidak perlu, Pak. Saya tidak hendak pergi ke kantor Pak Dimitri. Jadi lebih baik saya naik angkutan umum saja.”Lily tahu jika ia juga tidak punya banyak uang. “Nyonya justru karena tidak ke kantor Tuan Dimitri jadi harus saya antar. Tuan Dimitri meminta saya untuk mengantarkan Nyonya Lily ke mana pun.” Lily menghembuskan napas. Ia akhirnya menurut dibanding nantinya itu akan menjadi masalah bagi sopir pribadi suaminya.Lily tiba di rumah salah satu teman Azalea yang ia kenal. Ia memantapkan diri untuk menekan bel rumah teman Azalea tersebut. Seorang perempuan seusia Azalea keluar dari sana sambil menatap Lily dengan kaget. “Ada perlu apa datang ke sini?” tanya perempuan itu.“Maaf sebelumnya. Saya Lily, adik Kak Azalea. Saya tahu Kak Maya salah satu teman dekat Kak Azalea. Apa Kak Maya punya kabar mengenai keberadaan Kak Azalea?” Wajah perempuan itu langsung berubah ketika mendengar alasan kenapa Lily datang ke sana. Ia menggeleng dengan cepat.“Saya tidak tahu apa-apa mengenai Azalea. Saya tidak tahu dia di mana.”Lily bisa melihat jika wanita itu melirik ke arah mobil dan sopir pribadi Dimitri. “Lebih baik Anda segera pergi dari rumah saya. Saya tidak nyaman dengan keberadaan Anda di sini.”“Tap—”Wanita itu segera memerintahkan pembantunya untuk menuntun Lily menjauh dari area rumahnya. Lily menghela napas panjang. Baru saja ia hendak masuk ke dalam mobil, sopir pribadi Dimitri menyerahkan ponselnya kepada Lily dengan wajah takut.“Nyonya, Tuan Dimitri telpon saya dan bertanya Nyonya ke mana. Sepertinya Tuan Dimitri marah, Nyonya.”Tubuh Lily langsung menegang mendengarnya.“Halo?” Lily menyapa dengan ragu. Apalagi saat melihat wajah sopir pribadi suaminya tersebut sudah pucat seperti sedang menerima telpon dari makhluk astral.“Kamu di mana, Lily?” “Saya-saya sedang di rumah teman.”“Siapa?” “Anda juga tidak kenal. Ada apa?” tanya Lily kembali. “Sudah jam berapa ini?” Lily melihat jam tangannya yang saat ini sudah menunjukkan jam setengah satu siang. “Jam setengah satu, kenapa?” tanya Lily dengan bingung. Dimitri tidak langsung menjawab, melainkan ada dengusan keras yang terdengar. Sopir pribadi mereka tidak salah ketika mengatakan Dimitri memang sedang marah. Tapi, marah akan hal apa? “Sebenarnya rumah teman siapa yang sedang kamu kunjungi?” Lily menelan tenggorokannya dengan susah payah. “Teman Kak Azalea. Saya mencari Kak Azalea siapa tahu ada informasi.”“Temannya? Laki-laki? Apa mantannya?” Suara Dimitri naik satu oktaf. “Bukan, kok. Temannya perempuan. Setahu saya Kak Azalea tidak punya mantan pacar.”Terdengar helaan napas lega di san
Lily sedang duduk di ruang tengah rumah Dimitri sambil membaca buku di sana. Para maid mengatakan jika Lily bosan berada di rumah ini, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah membaca buku. Buku yang tersedia di kamar mereka. Lebih tepatnya kamar Dimitri yang saat ini juga tengah ia tempati untuk sementara.Ia teringat suasana tadi malam setelah ia meminta para maid keluar dari kamar mereka, Dimitri menatapnya tajam untuk beberapa saat. Akan tetapi pria tampan itu tidak mengatakan sepatah kata pun dan berakhir dengan membaringkan diri di samping Lily sambil membelakanginya. Lily juga mengikuti hal yang sama. Setelah itu pagi ini para maid mengatakan jika Dimitri sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Namun, sebelum suaminya itu pergi ternyata pria itu berpesan pada para maid agar saat Lily bangun nanti, mereka harus mengingatkan gadis itu untuk segera sarapan.“Nyonya, ada Nyonya Rose datang ke sini.”Lily menutup bukunya pelan. Baru beberapa hari setelah
“Sa-Saya mau ke kamar mandi.” Dimitri menaikkan sebelah alisnya. Kemudian seolah mengejek Lily, ia kemudian mengarahkan dagunya ke pintu kamar mandi. Lily menggigit bibirnya tidak sadar. Ia seharusnya memang berpikir lebih dahulu sebelum berbicara. Untuk apa ia harus keluar dari kamar hanya untuk ke kamar mandi. Padahal sudah jelas setiap kamar di rumah ini memiliki kamar mandi sendiri. “Duduk.”Lily seperti mematung membuat suaminya itu kembali mengulangi ucapannya. “Duduk di sini, Lily. Ada yang harus kita bicarakan.” Lily akhirnya menurut karena ia juga tidak punya alasan untuk menolak Dimitri. Ia menaruh kruk di dekatnya yang juga tak luput dari pandangan pria gagah itu. “Kenapa kamu tadi datang ke kantor?Apa ada masalah?” Lily menggeleng. Ia kembali teringat bagaimana teman-teman suaminya tadi memojokkan dan menghina dirinya. Sakit hati sekali dirinya jika harus mengingat hal itu. “Tidak ada masalah. Tadi hanya…”“Hanya apa?” Dimitri memerhatikan Lily yang sepertinya tid
Lily menimbang-nimbang sejenak apakah dia perlu mengangkat telepon tersebut. Ia tahu mamanya pasti akan menanyakan lagi soal hubungannya dengan Dimitri dan Lily sedang tidak mood untuk menanggapinya.Tapi, teringat bahwa ia membutuhkan Azalea dan hanya orang tuanya lah yang mempunyai informasi terkait kakaknya itu, membuat Lily akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.“Halo, Lily. Bagaimana kabarmu? Apa hubunganmu dan Dimitri baik-baik saja?”Ucapan pertama Ana membuat Lily seketika mencengkram ponselnya. Dugaannya ternyata benar. Menarik napas sejenak, Lily akhirnya menjawab, “Kami baik-baik saja. Baru saja tadi aku bertemu dengannya.”“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Mama senang mendengarnya,” ucap Ana. Nada suaranya terdengar lega. Meski begitu, Lily tahu Ana merasa lega bukan karena hal itu. Tapi, karena Lily masih tetap bisa mengikat Dimitri. Seandainya dia tahu kejadian hari ini, mamanya sudah pasti akan marah besar dengannya. “Ingat Lily, kamu harus tetap berhubungan baik
“Julian! Jaga ucapanmu!” tegur Kayla pada lelaki yang menuding Lily, “Kamu bisa membuatnya menangis. Kasian kan Dimitri nanti makin sibuk dan tidak bisa bermain dengan kita karena harus menenangkannya?”“Aku hanya berbicara yang sebenarnya. Harus ada orang yang menyadarkannya, kan?” dengus Julian tak terima.Seluruh tubuh Lily bergetar melihat teman-teman Dimitri yang lain mengangguk-anggukkan kepala, setuju dengan ucapan Julian. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; percakapan Kayla dan Julian ini atau ucapan Julian tadi.Tapi, ia tahu ucapan Julian tadi tidak salah. Azalea adalah gadis sempurna. Semua orang menginginkannya, dan Dimitri bukanlah pengecualian. Karena itu, ucapan pria tadi seolah memberikan lubang di hatinya. Membuat dadanya sesak dan terluka.Tahu tidak bisa membendung emosinya lagi, Lily akhirnya bangkit dan berbalik badan. Ia segera pergi dari sana tanpa memerhatikan reaksi teman-teman Dimitri.Gadis itu berjalan tertatih-tatih melewati koridor depan pintu rapa
Lily menunggu Dimitri sampai semalaman suntuk. Berpikir bahwa Dimitri mungkin akan tetap datang setelah mengetahui dirinya bersiap. Karena tidak mungkin seorang pria akan menolak godaan itu, kan?Tapi, sampai pagi menjelang, Dimitri ternyata tidak datang. Bahkan tidak ada bekas ia tidur di sebelah Lily, yang berarti ia juga tidak tidur di sana. “Tuan Dimitri ada banyak pekerjaan dari semalam, Nyonya. Karena itu, ia tidak datang ke kamar,” beritahu Rudi dengan raut wajah tak enak saat Lily bertanya, “Pagi ini beliau juga ada rapat. Makanya masih belum sempat pulang.”Alasan yang masuk akal. Apalagi, ia tahu kalau Dimitri memang sibuk. Tapi, setelah berhari-hari ditinggal terus sampai malam hari, Lily menyadari mungkin itu semua alasan belaka.Mungkin saja pria itu sebenarnya hanya enggan untuk bersamanya. Meski dia setuju menikahi Lily sebagai pengganti Azalea, tapi bukan berarti dia juga mau tinggal bersamanya, kan? Karena itu, dia pasti menghindari Lily.Tapi, bukankah itu keterlalu







