LOGINMereka keluar ke permukaan.
Dan menemukan badai.
Bukan badai pertama yang mereka lewati turun ke lorong sebelumnya. Ini lebih besar.
Dinding pasir berputar dari tiga arah sekaligus, membawa suara gesekan pasir yang memenuhi seluruh pendengaran seperti ribuan pisau kecil yang digosok bersama tanpa henti.
Jarak pandang turun ke jarak tidak lebih dari sepuluh langkah. Aura kultivator yang biasanya bisa dibaca dar
Shen Ruolan membalas tatapan itu dengan rahang kencang. “Kalau aku terus disimpan di sini, buat apa aku hidup.”“Untuk menjadi bukti,” kata Rong Tian tanpa meninggikan nada. “Bukti hidup lebih berharga daripada mayat yang berangkat dengan marah lalu tak pernah kembali.”Tak ada satu pun kata dalam kalimat itu yang lembut, tetapi justru karena benar, ia menghantam lebih dalam. Shen Ruolan menahan napas. Mo Lian memalingkan wajah sejenak, seolah perlu satu tarikan penuh agar tak meledak.Qingfeng yang sedari tadi diam akhirnya melangkah dari ruang belakang dengan mangkuk obat di tangan. “Dia benar,” katanya, suara tenangnya memecah benturan tanpa menghapus tepinya. “Orang luar sudah tahu dua saksi ada di bawah atap ini. Kalau kalian tiba-tiba hilang, mereka justru mendapat kepastian bahwa rumah obat sedang bergerak.”Mo Lian menoleh padanya de
Pagi di Shiqiao datang dengan bunyi-bunyi yang biasa, tetapi tak satu pun terdengar biasa. Teh di rumah Wu Laosan tetap diseduh, roti kukus tetap dijual, penarik iuran lorong tetap berjalan sambil membawa papan hitung, dan penjual mi masih mengaduk kuahnya dari balik uap.Namun suara mereka semua turun setengah tingkat, langkah mereka lebih hati-hati, dan tak ada lagi orang yang berani berdiri lama di depan Balai Pengobatan Bulan Patah sambil membuang ludah atau komentar seenaknya.Malam sebelumnya telah memukul blok utara dengan cara yang lebih telanjang daripada duel. Orang-orang masih mengaku pada diri sendiri bahwa mereka cuma terpeleset, cuma salah duduk, cuma kaget karena atap bergetar, tapi tak satu pun bisa menipu tulang lututnya sendiri.Zhao Meiyan berdiri di ambang rumah teh sambil menatap orang-orang yang lewat di depan balai. “Lihat mulut mereka. Semalam dipaksa menempel lantai, pagi ini langsung belaj
Wang Fu berdiri di ambang seperti batu besar yang tak bergerak meski debu halus dari atap jatuh ke bahunya.Xiao Li yang tadi baru selesai mengusir dua pengintai dari loteng kini menatap lorong dengan mata lebar, menyaksikan orang-orang yang terlalu lama merasa bisa menghitung Balai Pengobatan Bulan Patah akhirnya dipaksa berlutut oleh sesuatu yang sama sekali tak memedulikan harga lapak, status dagang, atau keberanian murahan.Qingfeng turun setengah langkah dari pintu ruang dalam, menjaga dua saksi dengan satu tangan dan menahan gelombang luar dengan qi tipis di tangan lainnya. Jarum-jarum di meja bergetar makin nyaring, seperti suara logam kecil yang menyanyikan satu nada terlalu tajam.“Dia sudah menyentuh batasnya,” kata Qingfeng.Wang Fu tak menoleh. “Kalau orang-orang luar masih tidak paham sesudah ini, berarti tulang kepala mereka terlalu tebal.”D
Rong Tian mengangkat tangan kanan dan membiarkan qi bergerak ke ujung dua jari. Kali ini ia tidak mendorong tenaga keluar seperti gelombang, melainkan menahannya sampai tipis, sampai rasa tajamnya berkumpul dan berubah dari kemarahan menjadi niat.Di atas, Qingfeng baru saja menaruh kain balut ketika mangkuk air hangat di meja bergerak lagi. Bukan hanya bergetar, melainkan membentuk lingkaran kecil yang terus berlari ke sisi mangkuk.Wang Fu segera melangkah ke ambang dan menutup pintu setengah. “Tidak ada yang masuk.”Xiao Li sudah bergerak ke lorong luar. “Yang berdiri terlalu dekat, mundur. Kalau masih ingin menempel di jendela, cari ibu kalian untuk mengantar.”Seorang penjaga loteng yang berdiri di atas tong kayu mendecih. “Jangan sok besar kepala. Kami cuma mau lihat.”Xiao Li menatapnya dari bawah. “Kalau cuma mau lihat, kuberi nas
Ruang bawah Balai Pengobatan Bulan Patah tidak besar, tetapi malam itu kesempitannya justru terasa seperti keuntungan.Dinding batu, rak tua, cermin kusam, dan Kalung Bintang Pemusnah yang tergantung di hadapannya membuat seluruh tekanan terkumpul di satu titik, tanpa memberi Rong Tian jalan untuk pura-pura tak melihat apa yang sudah lama menunggu.Ia duduk bersila di lantai batu, meletakkan cermin di depan lutut, lalu membiarkan qi di tubuhnya turun setipis benang. Kalung itu masih memancarkan garis retak kebiruan yang nyaris tak terlihat, tetapi Rong Tian tahu yang pecah bukan permukaannya saja.Yang retak adalah penahanan terakhir.Ia tak menutup mata seperti orang yang hendak mencari ketenangan. Yang datang lebih dulu justru potongan-potongan gambar yang tajam, kota yang pernah terbakar di bawah langit merah, aula kekaisaran yang lantainya licin oleh darah, rumah lelang yang patah di bawah cahaya perak, dan dirinya sendiri dalam jalan lama yang selalu memilih memotong seluruh jala
Rong Tian membiarkan darah itu keluar sampai warnanya berubah. Ketika yang menetes tak lagi hitam pekat, ia mulai mencabut jarum satu per satu, lalu menepuk ringan sisi lutut dengan dua jari.“Turun,” katanya pada istri Zhou Kaimin.Perempuan itu menatapnya seolah tak paham. Zhou Kaimin pun ikut membeku satu tarikan napas.“Turun,” ulang Rong Tian. “Kalau kaki ini tidak kau pakai sekarang, rasa takutmu sendiri yang akan menutupnya lagi.”Qingfeng turun ke sisi meja, membantu memegang siku perempuan itu. Wang Fu tetap berdiri di pintu, tapi matanya kini tak lagi di lorong, melainkan pada kaki kiri yang perlahan turun menyentuh lantai batu.Tumit itu gemetar. Lututnya goyah, dan napas perempuan itu pecah dua kali.“Berdiri,” kata Rong Tian.Ia berdiri.Awalnya cuma setenga
Rong Tian berdiri di hadapan pedang hitam yang terletak di sudut Makam Pedang. Meskipun penampilannya sangat sederhana dan tidak mencolok, aura yang terpancar dari pedang itu kini terasa begitu kuat dan menindas.Seolah roh pedang di dalamnya telah terbangun sepenuhnya. Mengamati Rong Tian dengan i
Di antara halaman-halaman yang memudar, ada deskripsi tentang sebuah ajaran spiritual yang disebut Sutra Api Suci Zarthus. Sutra itu tidak mengajarkan seni bela diri ofensif seperti yang dikenal di Timur. Sebaliknya, sutra itu berfokus pada penguasaan elemen api dan cahaya, serta penggunaan Qi untu
Di tengah Makam Pedang Kekaisaran yang gelap, Rong Tian berdiri tegak dengan Lonceng Jiwa Senyap dalam genggamannya. Di hadapannya, pedang raksasa yang terbentuk dari jalinan ribuan bilah kuno menjulang tinggi, memancarkan aura kehancuran yang mencekam.Wushhhh!Tanpa peringatan, pedang raksasa itu
Kaisar Longwei, yang telah menyaksikan seluruh kejadian dengan mata kepalanya sendiri, menghela napas panjang. Napasnya berat, penuh dengan pemahaman yang baru saja Kaisar dapatkan. Kebimbangan di hatinya telah lenyap, digantikan oleh pemahaman yang sangat jelas.Pemuda di hadapannya ini bukanlah p







