Share

Langkah di Udara Kosong (Kedua)

Penulis: Jimmy Chuu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-02 20:52:04

Langkah kedua diambil dengan ketenangan yang sama. Kaki kiri terangkat, melewati pagar kapal dengan gerakan yang sangat santai, lalu turun di udara terbuka tanpa pijakan apapun.

Rong Tian berjalan di udara kosong.

Ia melangkah dengan tenang seperti sedang berjalan di halaman rumah sendiri. Setiap langkah stabil sempurna, tidak ada goyangan walau sedikit, tidak ada keraguan dalam gerakan.

Udara di sekitarnya menegang dengan cara yang sangat berbeda. Bukan karena tekanan spiritual yang dilepaskan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
cerita yg sangat bagus dan ditunggu2
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Para Pemburu di Tepi Kabut

    Beberapa kepala di sekitar meja menoleh ke arah Zhao Wuchen dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya menyetujui."Makanya kita tidak masuk sekarang," kata Zhao Wuchen."Lalu apa yang kita lakukan?" tanya pemimpin regu pertama. "Menunggu sambil orang lain mengambil apa yang seharusnya kita ambil?""Kita bangun pos pengamatan di Pulau Karang Merah," jawab Zhao Wuchen sambil jarinya bergeser ke titik yang lebih kecil di dekat batas zona. "Dekat perbatasan. Kita lihat siapa saja yang bergerak dan ke arah mana.""Dengan menunggu," kata pemimpin regu ketiga, "kita memberi orang lain waktu untuk masuk lebih dulu.""Kita beri mereka waktu untuk mati lebih dulu," jawab Zhao Wuchen dengan nada yang sama tenangnya. "Beda tipis, tapi sangat berbeda artinya bagi kesehatan kita."Pemimpin regu kedua yang dari tadi diam mengetuk mejanya sekali. "Dan kalau Sekte Ombak Gelap sud

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Ketika Rumor Mulai Bergerak

    "Berapa kapal?" tanya seorang prajurit patroli yang kebetulan sedang makan di meja sebelah. Sumpit di tangannya berhenti di tengah jalan."Tiga," jawab perempuan itu dengan meyakinkan. "Aku mendengarnya dari kapten kapal yang melihat langsung.""Nama kaptennya siapa?" tanya prajurit itu dengan nada yang mulai berubah dari sekadar penasaran menjadi sesuatu yang lebih terlatih.Perempuan itu sebentar berhenti. "Aku tidak tanya namanya. Tapi ia memakai jubah gelap dan tangannya...""Kau tidak tahu namanya," potong prajurit itu sambil ia meletakkan sumpitnya dengan perlahan, "tapi kau sangat yakin ada tiga kapal yang hilang?""Tiga atau empat," kata perempuan itu sambil keningnya berkerut. "Semua orang di pelabuhan Hyeongseong mengatakan hal yang sama.""Semua orang," ulang prajurit itu. "Atau satu orang yang menceritakannya kepada semua orang, lalu semua orang m

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Rumor dari Hyeongseong

    Kapal dagang pertama yang meninggalkan Pulau Hyeongseong keesokan paginya berlayar ke arah barat menuju Pulau Akakumo, wilayah Yamatsukuni. Angin pagi membawa asin laut yang lebih tajam dari biasanya, seolah bahkan udara di sekitar pulau itu sudah menyerap ketegangan malam sebelumnya.Kaptennya adalah pria bertubuh gemuk dengan kulit yang sudah gelap karena bertahun-tahun terpapar angin laut. Tangannya memegang kemudi dengan gaya seseorang yang sudah terlalu sering menempuh rute yang sama, namun matanya menyimpan cahaya yang berbeda dari biasanya.Ia membawa lebih dari sekadar muatan kain dan garam.Ia membawa cerita.Ketika kapal itu berlabuh di dermaga Pulau Akakumo setelah setengah hari perjalanan, seorang buruh muda yang sedang mengikat tali berlutut di tepi dermaga menoleh ke atas. Wajah kapten itu sudah memberi tahu bahwa ada sesuatu sebelum mulutnya terbuka."Hyeongseong s

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Cahaya dari Kedalaman Laut Xinghai

    Kapal-kapal berhenti melaju karena tidak ada angin yang mendorong layar dan tidak ada gelombang yang membantu pergerakan. Semua orang di atas kapal berdiri diam tanpa mengerti apa yang baru saja terjadi.Kuroda Tetsuya menurunkan pedangnya yang sudah setengah terhunus.Ryu Seongmin menarik napas dan tidak mengeluarkannya.Han Jisoo, yang sudah mengangkat tombaknya untuk melempar ke arah kapal Seo Hyunwoo, membiarkan tangannya turun perlahan sampai ujung tombak itu menyentuh geladak kapalnya sendiri.Tidak ada yang berkata apapun selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.Di bawah permukaan laut yang hitam dan rata itu, dari kedalaman yang tidak bisa diukur dengan cara apapun yang diketahui manusia, sesuatu bergerak.Cahaya muncul dari kedalaman. Bukan cahaya biasa, bukan cahaya dari benda yang dikenal.Ia bergerak dalam pola yang m

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Pertarungan di Laut Xinghai

    Park Jaeun muncul dari sisi lain dermaga dan menyemburkan kabut racun laut berwarna kehijauan ke arah Baek Daejin yang mencoba merebut kapal yang belum sempat ia naiki. Baek Daejin menghirup setengah napas dari kabut itu, tangannya langsung menekan dadanya.Lututnya menyentuh dermaga, dan tidak bergerak lagi.Han Jisoo melompat dari ujung dermaga dengan tombaknya sudah terarah ke arah Fujimoto Kagero yang mencoba naik ke kapal yang berbeda. Tombak itu menembus bahu kiri Fujimoto dan mendorongnya kembali ke dermaga dengan suara benturan yang keras."Biarkan aku pergi," rengek Fujimoto dari lantai dermaga sambil tangannya mencoba mencabut tombak dari bahunya, wajahnya sudah pucat. "Aku tidak membaca isinya.""Aku tidak tahu apapun.""Semua orang yang masuk ke aula itu tahu sesuatu," kata Han Jisoo dengan sangat dingin sambil ia mencabut tombaknya kembali dengan satu tarikan. "Itu s

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Kejaran di Dermaga Hyeongseong

    Pelabuhan Pulau Hyeongseong pada malam hari hanya diterangi oleh lampion-lampion kapal yang bergoyang mengikuti gelombang kecil, cahayanya oranye dan tidak stabil. Tidak ada penjaga resmi.Tidak ada hukum yang berlaku setelah gelap turun di pulau ini, dan semua orang yang datang ke Hyeongseong sudah tahu itu sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini.Bau ikan asin dan tali basah mengisi udara. Beberapa nelayan yang masih terjaga di atas kapal mereka memilih berpaling dan pura-pura sibuk begitu mereka melihat siapa yang datang ke dermaga dengan langkah seperti itu.Seo Hyunwoo tiba di dermaga dengan napas yang sudah mulai tidak teratur.Ia memilih kapal kecil yang tambatannya paling mudah dilepas, kapal nelayan berukuran dua orang dengan layar kecil yang sudah setengah terlipat dan cat lambungnya yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Tangannya bekerja cepat melepas tali tambat sambil matanya te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status