LOGINKapal dagang pertama yang meninggalkan Pulau Hyeongseong keesokan paginya berlayar ke arah barat menuju Pulau Akakumo, wilayah Yamatsukuni. Angin pagi membawa asin laut yang lebih tajam dari biasanya, seolah bahkan udara di sekitar pulau itu sudah menyerap ketegangan malam sebelumnya.
Kaptennya adalah pria bertubuh gemuk dengan kulit yang sudah gelap karena bertahun-tahun terpapar angin laut. Tangannya memegang kemudi dengan gaya seseorang yang sudah terlalu sering menemp
"Berapa kapal?" tanya seorang prajurit patroli yang kebetulan sedang makan di meja sebelah. Sumpit di tangannya berhenti di tengah jalan."Tiga," jawab perempuan itu dengan meyakinkan. "Aku mendengarnya dari kapten kapal yang melihat langsung.""Nama kaptennya siapa?" tanya prajurit itu dengan nada yang mulai berubah dari sekadar penasaran menjadi sesuatu yang lebih terlatih.Perempuan itu sebentar berhenti. "Aku tidak tanya namanya. Tapi ia memakai jubah gelap dan tangannya...""Kau tidak tahu namanya," potong prajurit itu sambil ia meletakkan sumpitnya dengan perlahan, "tapi kau sangat yakin ada tiga kapal yang hilang?""Tiga atau empat," kata perempuan itu sambil keningnya berkerut. "Semua orang di pelabuhan Hyeongseong mengatakan hal yang sama.""Semua orang," ulang prajurit itu. "Atau satu orang yang menceritakannya kepada semua orang, lalu semua orang m
Kapal dagang pertama yang meninggalkan Pulau Hyeongseong keesokan paginya berlayar ke arah barat menuju Pulau Akakumo, wilayah Yamatsukuni. Angin pagi membawa asin laut yang lebih tajam dari biasanya, seolah bahkan udara di sekitar pulau itu sudah menyerap ketegangan malam sebelumnya.Kaptennya adalah pria bertubuh gemuk dengan kulit yang sudah gelap karena bertahun-tahun terpapar angin laut. Tangannya memegang kemudi dengan gaya seseorang yang sudah terlalu sering menempuh rute yang sama, namun matanya menyimpan cahaya yang berbeda dari biasanya.Ia membawa lebih dari sekadar muatan kain dan garam.Ia membawa cerita.Ketika kapal itu berlabuh di dermaga Pulau Akakumo setelah setengah hari perjalanan, seorang buruh muda yang sedang mengikat tali berlutut di tepi dermaga menoleh ke atas. Wajah kapten itu sudah memberi tahu bahwa ada sesuatu sebelum mulutnya terbuka."Hyeongseong s
Kapal-kapal berhenti melaju karena tidak ada angin yang mendorong layar dan tidak ada gelombang yang membantu pergerakan. Semua orang di atas kapal berdiri diam tanpa mengerti apa yang baru saja terjadi.Kuroda Tetsuya menurunkan pedangnya yang sudah setengah terhunus.Ryu Seongmin menarik napas dan tidak mengeluarkannya.Han Jisoo, yang sudah mengangkat tombaknya untuk melempar ke arah kapal Seo Hyunwoo, membiarkan tangannya turun perlahan sampai ujung tombak itu menyentuh geladak kapalnya sendiri.Tidak ada yang berkata apapun selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.Di bawah permukaan laut yang hitam dan rata itu, dari kedalaman yang tidak bisa diukur dengan cara apapun yang diketahui manusia, sesuatu bergerak.Cahaya muncul dari kedalaman. Bukan cahaya biasa, bukan cahaya dari benda yang dikenal.Ia bergerak dalam pola yang m
Park Jaeun muncul dari sisi lain dermaga dan menyemburkan kabut racun laut berwarna kehijauan ke arah Baek Daejin yang mencoba merebut kapal yang belum sempat ia naiki. Baek Daejin menghirup setengah napas dari kabut itu, tangannya langsung menekan dadanya.Lututnya menyentuh dermaga, dan tidak bergerak lagi.Han Jisoo melompat dari ujung dermaga dengan tombaknya sudah terarah ke arah Fujimoto Kagero yang mencoba naik ke kapal yang berbeda. Tombak itu menembus bahu kiri Fujimoto dan mendorongnya kembali ke dermaga dengan suara benturan yang keras."Biarkan aku pergi," rengek Fujimoto dari lantai dermaga sambil tangannya mencoba mencabut tombak dari bahunya, wajahnya sudah pucat. "Aku tidak membaca isinya.""Aku tidak tahu apapun.""Semua orang yang masuk ke aula itu tahu sesuatu," kata Han Jisoo dengan sangat dingin sambil ia mencabut tombaknya kembali dengan satu tarikan. "Itu s
Pelabuhan Pulau Hyeongseong pada malam hari hanya diterangi oleh lampion-lampion kapal yang bergoyang mengikuti gelombang kecil, cahayanya oranye dan tidak stabil. Tidak ada penjaga resmi.Tidak ada hukum yang berlaku setelah gelap turun di pulau ini, dan semua orang yang datang ke Hyeongseong sudah tahu itu sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini.Bau ikan asin dan tali basah mengisi udara. Beberapa nelayan yang masih terjaga di atas kapal mereka memilih berpaling dan pura-pura sibuk begitu mereka melihat siapa yang datang ke dermaga dengan langkah seperti itu.Seo Hyunwoo tiba di dermaga dengan napas yang sudah mulai tidak teratur.Ia memilih kapal kecil yang tambatannya paling mudah dilepas, kapal nelayan berukuran dua orang dengan layar kecil yang sudah setengah terlipat dan cat lambungnya yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Tangannya bekerja cepat melepas tali tambat sambil matanya te
"Lima ratus," kata Han Jisoo dari pojoknya dengan nada yang tidak mengandung emosi apapun, seperti seseorang yang menyebut angka dari daftar belanjaan.Dari baris belakang, seorang kultivator muda dengan jaket kulit laut berbisik kepada temannya. "Siapa pria rambut keperakan itu? Ia menawar seperti orang yang sudah tahu isinya.""Seo Hyunwoo," jawab temannya dengan suara yang lebih pelan. "Pengumpul peta reruntuhan. Ia sudah dua kali masuk ke zona berbahaya yang tidak ada orang lain yang berani. Kalau ia mau sesuatu, artinya sesuatu itu bernilai."Seo Hyunwoo menghitung cepat.Ia tahu nilai salinan itu. Ia juga tahu bahwa siapapun yang memenangkan lelang ini tidak akan bisa berjalan keluar dari pulau ini dengan tenang.Namun ia sudah datang jauh-jauh dari kota pelabuhan Haeryong untuk ini, dan ia tidak datang untuk pulang dengan tangan kosong."Enam ratus," k







