Share

Pedang Patah.

Author: Jimmy Chuu
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-03 18:08:05

Lin Tao, yang berdiri tidak jauh dari singgasana, merasa darahnya mendidih melihat sikap Rong Tian. Wajahnya yang tadinya sudah memerah kini semakin merah padam. Tangan yang terkepal di sisi tubuhnya gemetar menahan amarah.

"Berlutut, pemuda lancang!" bentak Lin Tao sambil menunjuk Rong Tian dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Anda berada di hadapan Kaisar! Beraninya Anda tidak menunjukkan rasa hormat?!"

Suara Lin Tao bergema di seluruh balairung, penuh amarah yang tidak bisa lagi ditahan.

R
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
sangat seru
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang   Jubah yang Tertinggal Pagi

    Beberapa tamu sekte kecil berbisik ketika melihat dua ahli waris Sekte Bunga Salju berdiri di sisi Rong Tian. Ada yang dulu ikut percaya bahwa Bing Ruoxue dan Xue Lingyin membawa aib dari Laut Timur, dan kini mereka tidak berani mengangkat suara setelah Pedang Rembulan tergantung jernih di belakang aula.Seorang tetua dari sekte luar mencoba menyelamatkan muka dengan berkata bahwa dunia persilatan memang sering salah paham. Murid di belakangnya cepat mengangguk, tetapi wajah mereka memucat ketika seorang murid tua Sekte Bunga Salju membuka catatan lama dan membacakan nama-nama orang yang pernah ikut menyebarkan tuduhan palsu.Rong Tian tidak mempermalukan mereka dengan kata-kata. Justru karena ia hanya duduk tenang di kursi utama tamu, para tamu merasa punggung mereka makin berat, sebab tidak ada yang tahu apakah diamnya seorang abadi berarti memaafkan atau sekadar menganggap mereka tidak layak ditegur.Upacara berlangsu

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang   Bab 320: Janji di Bawah Salju

    Beberapa hari setelah nama Bing Ruoxue dan Xue Lingyin dipulihkan, Sekte Bunga Salju tidak lagi tampak seperti tempat yang hanya dijaga oleh dingin dan aturan. Aula utama dibersihkan dari catatan palsu, tirai biru pucat diganti, dan tablet pendiri diseka oleh murid-murid tua yang selama lima tahun menelan keraguan tanpa berani menantang Qiao Yulan.Kabar menyebar dari pegunungan utara ke kota-kota kecil di bawah lereng. Orang-orang mulai berbisik bahwa Tuan Jubah Putih datang ke Sekte Bunga Salju, merobohkan ketua palsu tanpa membantai murid, membuka penjara bawah tanah, lalu mengembalikan Pedang Rembulan kepada dua ahli waris yang seharusnya tidak pernah hilang.Di gerbang luar, murid-murid yang dulu ikut menghunus pedang kini berdiri lebih tegak tetapi jauh lebih hati-hati. Mereka tidak lagi berani menyebut Bing Ruoxue dan Xue Lingyin sebagai pengkhianat, dan setiap kali melihat Rong Tian melewati tangga salju, tangan mereka merapikan gaga

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang   Darah di Atas Pedang Rembulan

    Pedang Rembulan ikut bersinar. Cahaya bulan menyentuh titik-titik segel di bahu, dada, dan pergelangan mereka, lalu menarik keluar qi dingin yang salah seperti benang hitam tipis dari kain putih.Beberapa murid yang mengikuti dari luar pintu menangis tanpa berani mengeluarkan suara. Mereka pernah mendengar dua nama itu sebagai pengkhianat, tetapi pemandangan di depan mereka tidak terlihat seperti pengkhianat yang dihukum, melainkan ahli waris yang dikurung agar tidak bisa bicara.Qiao Yulan menggertakkan gigi, lalu memaksa suara lembutnya keluar lagi. “Mereka dihukum karena membawa bahaya bagi sekte. Jangan tertipu oleh keadaan mereka sekarang, karena orang yang merusak nama Bunga Salju memang harus menanggung konsekuensi.”Bing Ruoxue menoleh ke arah suara itu. Tubuhnya masih lemah, tetapi matanya tetap berdiri lebih tegak daripada banyak murid sehat di belakang Qiao Yulan.“Kau me

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang   Pintu di Bawah Aula

    Segel kecil di gagang pedang pecah. Cahaya bulan yang semula dipaksa mengalir ke arah Qiao Yulan tiba-tiba berbalik, dan perempuan itu memuntahkan darah ketika meridiannya dihantam oleh qi yang selama ini ia tekan dengan paksa.Pedang Rembulan lepas dari tangannya dan berputar sekali di udara. Rong Tian mengangkat lengan, membiarkan gagang pedang jatuh ke telapak tangannya, sementara seluruh aula melihat Qiao Yulan terhuyung mundur dengan wajah yang tidak lagi mampu mempertahankan senyum.“Pedang ini tidak pernah memilihmu,” kata Rong Tian.Aula sunyi, tetapi kesunyian itu tidak kosong. Di dalamnya ada wajah murid yang memucat, napas yang tertahan, jari yang melepaskan gagang pedang, dan tatapan yang mulai menghitung ulang semua cerita yang mereka dengar selama lima tahun.Cai Ruxin paling cepat bereaksi. Ia menunjuk Rong Tian dengan tangan gemetar, lalu berteriak, “Teknik iblis! Di

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang   Pedang di Tangan Pencuri

    Aula utama Sekte Bunga Salju tampak indah dengan cara yang dingin dan tertib. Pilar putihnya dipahat menyerupai batang es, lantai batu beku memantulkan cahaya biru pucat, sementara lambang bulan besar tergantung di balik kursi ketua seperti mata yang menilai setiap orang dari tempat tinggi.Rong Tian masuk di antara dua baris murid perempuan yang sudah mendengar tuduhan pencurian teknik. Beberapa menatapnya dengan kebencian yang dipelajari dari rumor, beberapa lagi mencoba tampak keras meskipun tangan mereka masih mengingat bagaimana formasi gerbang runtuh tanpa satu pun luka besar.Qiao Yulan duduk di kursi utama. Ia bukan perempuan renta, tetapi usia tampak berusaha disembunyikan di balik riasan halus, dan matanya yang licin menatap Rong Tian seperti pedagang tua menaksir barang langka sebelum menawar dengan harga paling rendah.Di samping kursi ketua, sebuah pedang tersandar pada penyangga giok putih. Pedang Rembulan

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang   Salju yang Tidak Mengenali Guru

    Rong Tian tidak mengubah ekspresi. Ia melihat bagaimana nama Bing Ruoxue dan Xue Lingyin menimbulkan reaksi yang terlalu cepat, terlalu seragam, dan terlalu takut untuk disebut sebagai kebenaran yang lahir alami.“Aku hanya bertanya apakah mereka masih hidup,” kata Rong Tian. “Jika kalian tidak tahu, panggil orang yang tahu.”Kalimat itu membuat wajah Cai Ruxin sedikit berubah. Bagi murid-murid muda, ucapan Rong Tian terdengar seperti ketenangan orang yang tidak memahami bahaya, tetapi bagi Cai Ruxin, ketenangan itu terasa seperti seseorang yang sengaja menahan tangan karena belum ingin membongkar meja.“Mulutmu ringan sekali menyebut nama orang berdosa,” ujar Cai Ruxin sambil mengangkat tangan. “Di depan wilayah sekte kami, pria asing sepertimu masih berani menyuruh kami memanggil orang, seolah Sekte Bunga Salju adalah halaman rumahmu sendiri.”Seorang

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang   Gerbang Kota Ashgar

    Kota Ashgar berdiri kokoh di tepi Padang Pasir Ashkar dengan tembok batu yang sangat tinggi dan tebal seperti benteng yang tidak tertembus. Batu-batu itu berwarna coklat kemerahan, terkikis angin gurun selama ratusan tahun hingga permukaannya kasar dan penuh goresan waktu.Gerbang utamanya terbuat

    last updateHuling Na-update : 2026-03-29
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang   Pedang Rembulan di Gurun Maut

    Dua hari berlalu sejak Kapal Roh Sayap Roh Tianxu melewati Khar Amitan. Lanskap berubah lagi dengan cara yang sangat drastis dan mencolok.Salju putih Kunlun menghilang total. Digantikan oleh hamparan pasir yang luas dan sangat gelap.Ini adalah Padang Pasir Ashkar. Lautan Pasir Tanpa Nyawa yang te

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang   Satu Tebasan, Dua Mayat

    Pedang itu muncul dari kehendak itu sendiri, dari keinginan yang tidak terlihat. Seperti ia selalu ada di sana sejak awal, hanya menunggu dipanggil untuk menunjukkan diri.Bilahnya hitam pekat tanpa sedikit kilauan atau refleksi cahaya apapun. Tidak ada ornamen yang indah, tidak ada ukiran yang rum

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang   Eksekusi Tanpa Ampun

    Biarawati Thunder menarik pedangnya dengan gerakan yang sangat cepat. "Empat," katanya sambil menghitung dengan nada yang sangat santai seolah sedang menghitung buah di pasar."Satu lagi. Kemana kau mau lari, sampah?"Pria kelima sudah berlutut dengan tubuh gemetar hebat. "Ampun," mohonnya dengan s

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status