Share

Dua Semi Devil Perbatasan Barat

Penulis: Jimmy Chuu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-31 18:12:03

Ular iblis bersayap semakin dekat. Sayap mereka mengepak dengan bunyi yang mengerikan, tubuh panjang berkelok-kelok di udara.

Mata mereka menyala merah di kegelapan. Taring panjang terlihat jelas ketika mulut terbuka, racun menetes dari ujungnya.

Tiba-tiba, bunyi lonceng bergema di udara. Dentang pelan tetapi sangat jelas, seperti lonceng kuil kuno yang dipukul dengan sangat hati-hati.

Ular iblis bersayap yang sedang meluncur cepat tiba-tiba terhenti di udara. Tubuh mereka masih bergerak, tetap
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin seru
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Perbatasan Zona Kabut Bintang

    "Ini bukan kabut laut biasa," kata seorang awakkapal dengan nada yang setengah berbisik. "Ini sesuatu yang sama sekali berbeda.""Putar balik," kata Master Lan Qiyue dengan nada yang tidak meninggalkan ruang untuk diskusi."Tapi kita baru masuk beberapa li," kata muridnya dengan nada yang memohon. "Mungkin kalau kita teruskan sedikit lagi...""Kita teruskan tanpa kompas yang berfungsi dan tanpa bintang yang bisa dipercaya," potong Master Lan Qiyue. "Di laut seperti ini, kita bukan kultivator yang gagah berani. Kita hanya orang yang tidak tahu jalan pulang."Muridnya menelan argumennya."Kita berhenti di perbatasan zona," kata Master Lan Qiyue sambil tangannya sudah bergerak ke tuas kemudi. "Kita amati dulu."Mereka membangun pos pengamatan kecil di Pulau Karang Merah, sebuah pulau tak berpenghuni selebar seratus langkah yang terdiri dari batu karang dan beber

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Para Pemburu di Tepi Kabut

    Beberapa kepala di sekitar meja menoleh ke arah Zhao Wuchen dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya menyetujui."Makanya kita tidak masuk sekarang," kata Zhao Wuchen."Lalu apa yang kita lakukan?" tanya pemimpin regu pertama. "Menunggu sambil orang lain mengambil apa yang seharusnya kita ambil?""Kita bangun pos pengamatan di Pulau Karang Merah," jawab Zhao Wuchen sambil jarinya bergeser ke titik yang lebih kecil di dekat batas zona. "Dekat perbatasan. Kita lihat siapa saja yang bergerak dan ke arah mana.""Dengan menunggu," kata pemimpin regu ketiga, "kita memberi orang lain waktu untuk masuk lebih dulu.""Kita beri mereka waktu untuk mati lebih dulu," jawab Zhao Wuchen dengan nada yang sama tenangnya. "Beda tipis, tapi sangat berbeda artinya bagi kesehatan kita."Pemimpin regu kedua yang dari tadi diam mengetuk mejanya sekali. "Dan kalau Sekte Ombak Gelap sud

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Ketika Rumor Mulai Bergerak

    "Berapa kapal?" tanya seorang prajurit patroli yang kebetulan sedang makan di meja sebelah. Sumpit di tangannya berhenti di tengah jalan."Tiga," jawab perempuan itu dengan meyakinkan. "Aku mendengarnya dari kapten kapal yang melihat langsung.""Nama kaptennya siapa?" tanya prajurit itu dengan nada yang mulai berubah dari sekadar penasaran menjadi sesuatu yang lebih terlatih.Perempuan itu sebentar berhenti. "Aku tidak tanya namanya. Tapi ia memakai jubah gelap dan tangannya...""Kau tidak tahu namanya," potong prajurit itu sambil ia meletakkan sumpitnya dengan perlahan, "tapi kau sangat yakin ada tiga kapal yang hilang?""Tiga atau empat," kata perempuan itu sambil keningnya berkerut. "Semua orang di pelabuhan Hyeongseong mengatakan hal yang sama.""Semua orang," ulang prajurit itu. "Atau satu orang yang menceritakannya kepada semua orang, lalu semua orang m

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Rumor dari Hyeongseong

    Kapal dagang pertama yang meninggalkan Pulau Hyeongseong keesokan paginya berlayar ke arah barat menuju Pulau Akakumo, wilayah Yamatsukuni. Angin pagi membawa asin laut yang lebih tajam dari biasanya, seolah bahkan udara di sekitar pulau itu sudah menyerap ketegangan malam sebelumnya.Kaptennya adalah pria bertubuh gemuk dengan kulit yang sudah gelap karena bertahun-tahun terpapar angin laut. Tangannya memegang kemudi dengan gaya seseorang yang sudah terlalu sering menempuh rute yang sama, namun matanya menyimpan cahaya yang berbeda dari biasanya.Ia membawa lebih dari sekadar muatan kain dan garam.Ia membawa cerita.Ketika kapal itu berlabuh di dermaga Pulau Akakumo setelah setengah hari perjalanan, seorang buruh muda yang sedang mengikat tali berlutut di tepi dermaga menoleh ke atas. Wajah kapten itu sudah memberi tahu bahwa ada sesuatu sebelum mulutnya terbuka."Hyeongseong s

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Cahaya dari Kedalaman Laut Xinghai

    Kapal-kapal berhenti melaju karena tidak ada angin yang mendorong layar dan tidak ada gelombang yang membantu pergerakan. Semua orang di atas kapal berdiri diam tanpa mengerti apa yang baru saja terjadi.Kuroda Tetsuya menurunkan pedangnya yang sudah setengah terhunus.Ryu Seongmin menarik napas dan tidak mengeluarkannya.Han Jisoo, yang sudah mengangkat tombaknya untuk melempar ke arah kapal Seo Hyunwoo, membiarkan tangannya turun perlahan sampai ujung tombak itu menyentuh geladak kapalnya sendiri.Tidak ada yang berkata apapun selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.Di bawah permukaan laut yang hitam dan rata itu, dari kedalaman yang tidak bisa diukur dengan cara apapun yang diketahui manusia, sesuatu bergerak.Cahaya muncul dari kedalaman. Bukan cahaya biasa, bukan cahaya dari benda yang dikenal.Ia bergerak dalam pola yang m

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Pertarungan di Laut Xinghai

    Park Jaeun muncul dari sisi lain dermaga dan menyemburkan kabut racun laut berwarna kehijauan ke arah Baek Daejin yang mencoba merebut kapal yang belum sempat ia naiki. Baek Daejin menghirup setengah napas dari kabut itu, tangannya langsung menekan dadanya.Lututnya menyentuh dermaga, dan tidak bergerak lagi.Han Jisoo melompat dari ujung dermaga dengan tombaknya sudah terarah ke arah Fujimoto Kagero yang mencoba naik ke kapal yang berbeda. Tombak itu menembus bahu kiri Fujimoto dan mendorongnya kembali ke dermaga dengan suara benturan yang keras."Biarkan aku pergi," rengek Fujimoto dari lantai dermaga sambil tangannya mencoba mencabut tombak dari bahunya, wajahnya sudah pucat. "Aku tidak membaca isinya.""Aku tidak tahu apapun.""Semua orang yang masuk ke aula itu tahu sesuatu," kata Han Jisoo dengan sangat dingin sambil ia mencabut tombaknya kembali dengan satu tarikan. "Itu s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status