LOGIN03
Zhou Yiran memerhatikan sekeliling ruang tamu luas bernuansa abu-abu muda, di kediaman atasan Dimas. Dia menyukai tempat itu yang terasa nyaman, sekaligus hangat.
Celotehan Zayd Yaqzan Adhitama, putra ketiga Wirya, yang tengah berbincang dengan mamanya, menyebabkan Zhou Yiran tersenyum. Gadis berjaket putih itu terkekeh, kala Zayd mengajaknya bercakap-cakap dengan bahasa Mandarin yang terpatah-patah.
Perhatian Zhou Yiran teralihkan pada kedua orang yang tengah memasuki rumah, sambil membawa helm. Zhou Yiran mengamati saat seorang laki-laki muda menyalami Liu Yuwen Vanetta Zeline dengan takzim. Demikian pula yang dilakukan seorang bocah perempuan pada sang mama.
"Yiran, perkenalkan, ini anak-anakku," tukas Vanetta. "Yang pertama, Bayazid. Kedua, Marwa," lanjutnya.
"Salam kenal," sapa kedua bersaudara itu menggunakan bahasa Mandarin.
"Salam kenal, Adik-adik," jawab Zhou Yiran. "Berapa usia kalian?" tanyanya.
"Aku, 14 tahun. Marwa, 10 tahun," jelas Bayazid. "Usia Bibi, berapa?" desaknya.
"Abang, tidak sopan menanyakan usia pada wanita," sela Vanetta.
"Tidak apa-apa, Ci," timpal Zhou Yiran. "Usiaku, 27 tahun," lanjutnya.
"Berarti hanya berbeda 7 tahun dari Mama," cetus Bayazid yang dibalas anggukan Vanetta.
"Mandarin-mu bagus sekali," puji Zhou Yiran.
"Terima kasih."
"Kamu belajar dari mana?"
"Keluarga kami semuanya bisa. Bahkan, sebagian besar dari mereka juga menguasai Hakka, Tiociu, dan Khek."
Zhou Yiran membulatkan mata. "Benarkah?"
"Ya."
"Leluhur keluarga suamiku berasal dari Taiwan," ungkap Vanetta.
Zhou Yiran manggut-manggut. "Ternyata begitu."
"Marwa, antarkan Bibi ke kamar tamu," pinta Vanetta.
"Ya, Ma," tutur Marwa "Lewat sini, Bi," lontarnya sembari mengarahkan tangan ke kanan.
Sementara itu di ruang kerja di lantai dua, Dimas tengah menerangkan kronologi tentang kejadian di Shenzen, kemarin pagi. Dia juga menuturkan pendapatnya, mengenai status Zhou Yiran.
"Aku sudah minta ke Jun Hui, untuk mengumpulkan informasi tentang dia, Bang," cakap Dimas.
"Intuisimu, bilang apa?" tanya Wirya.
"Masih belum ada bayangan," jawab Dimas. "Menurut Abang, gimana?" desaknya.
"Feelingku mengatakan, kehidupannya rumit."
"Hmm, ya."
"Jangan desak dia buat cerita, Dim. Ngerinya dia kesal, lalu kabur entah ke mana. Tambah repot kita."
"Hu um."
"Berapa lama dia akan tinggal di sini?'
"Belum tahu. Nanti kutanyakan ke dia."
"Kamu yang ngurus izin ke Pak RT."
"Waduh! Abang aja, deh. Aku takut dicecar Bang Haikal."
"Kamu yang bawa dia ke sini, jadi harus tanggung jawab."
"Iya, Bang. Besok, deh. Aku mau tidur dulu. Ngambang otakku."
"Minta antar sama Zid."
"Aku mau nginap di sini."
"Hotelku penuh."
"Nyempil di kamar Zayd."
"Kamu punya rumah sendiri. Tidur di sana."
"Males bersih-bersih kamar, Bang. Sebulan ditinggal, pasti kotor."
Wirya mendengkus. "Ya, udah. Tidur di sini aja. Buka sofanya. Bantal dan selimut, ambil di lemari."
***
Mentari pagi yang menyorot dari jendela yang gordennya tidak tertutup sempurna, menerpa kelopak mata Zhou Yiran. Dia mengerjap-ngerjapkan mata sesaat, sebelum memindai sekitar.
Zhou Yiran akhirnya ingat, bila dirinya tengah berada di Jakarta. Perempuan berambut panjang itu sama sekali tidak mengira, bila dia akan keluar dari negaranya, hanya demi menyembunyikan diri.
Zhou Yiran memaksakan diri untuk bangkit duduk. Dia menyambar gelas dari meja samping kiri dan meneguk minumannya. Gadis bermata tidak terlalu sipit itu meletakkan gelas ke meja, lalu berdiri dan jalan ke toilet di ujung kanan ruangan.
Puluhan menit berlalu. Zhou Yiran telah berada di ruang makan. Dia menikmati hidangan yang baru kali itu dimakannya, sambil memandangi halaman belakang, di mana Dimas dan belasan orang lainnya berada.
"Cici, ini apa namanya?" tanya Zhou Yiran, sambil menunjuk piringnya.
"Nasi uduk," jawab Vanetta.
"Khas Indonesia?"
"Betul."
"Aku suka. Rasanya enak."
"Habiskan, Yiran. Setelah itu, kamu ikut aku."
"Ke mana?"
"Shopping. Aku harus menambah stok makanan, karena rumah ini jadi tempat singgah dan berkumpulnya para ajudan junior."
"Hmm, aku ada lihat, beberapa orang yang turun dari tangga samping."
"Ya. Itu tangga khusus ke mess mereka, yang menghubungkan garasi dan teras samping kanan. Sengaja dipisahkan dari area sini, supaya tidak terganggu."
"Berapa banyak bodyguard yang tinggal di sini?"
"Jumlahnya tidak tentu. Tergantung waktu off mereka, karena ada juga yang tinggal dengan bos masing-masing. Mereka menginap di sini saat libur saja."
"Kamar di atas, ada berapa?"
"Cuma 4, tapi ukurannya besar dan sudah ada toiletnya. Setiap kamar bisa diisi 8 orang. Kadang juga dihuni 10 orang."
"Pasti sangat ramai."
"Begitulah, tapi aku senang, karena punya banyak teman. Apalagi suamiku hampir setiap minggu dinas luar kota, ataupun ke luar negeri."
Zhou Yiran mengangguk paham. Dia menunjuk ketiga bangunan di belakang. "Yang itu, apa rumah kalian juga?"
"Bukan. Itu punya Bayazid, Marwa, dan Zayd. Sengaja disatukan halamannya, supaya lebih luas."
"Siapa yang tinggal di sana?"
"Para asisten dan keponakan kami."
"Honghui dan Duyi?"
"Betul. Ada beberapa orang lagi keponakan suamiku yang kerja sebagai pengawal. Mereka bergantian menemaniku, jika harus syuting di negara kita."
Gelakak dari luar mengejutkan kedua perempuan tersebut. Vanetta memggeleng pelan, sedangkan Zhou Yiran masih terus memandangi para pria, yang tengah berlatih bela diri di halaman.
Seusai bersantap, Zhou Yiran berdiri dan jalan ke teras. Dia penasaran, karena semua pria itu berulang kali terbahak. Zhou Yiran berhenti melangkah dan berdiri di dekat tiang besar. Dia duduk di undakan tangga, sambil menonton latihan itu.
Zhou Yiran terkesiap, ketika Dimas melakukan parkour, dengan bertumpu ke punggung rekan-rekannya. Disusul Zikria, dan beberapa pria lainnya, yang baru dilihat perempuan tersebut.
Sentuhan di lengan kanannya menyebabkan Zhou Yiran menoleh. Dia spontan tersenyum, lalu memegangi tangan Shahzain Cyrill Barayev, putra keempat Wirya yang berusia hampir 3 tahun.
"Mau?" tanya Shahzain sambil menunjukkan roti di tangan kanannya.
Zhou Yiran tertegun, karena dia tidak memahami bahasa Indonesia. "Maaf, aku tidak tahu maksudmu," ucapnya dalam bahasa Mandarin.
"Dia menawarkan roti," jelas Jhiang Jane, asisten pribadi Vanetta, yang merupakan Ibu asuh Shahzain.
"Oh, terima kasih." Zhou Yiran memajukan badan dan menggigit roti itu sedikit. "Enak," tuturnya seusai mengunyah.
"Lagi?" desak Shahzain.
"Ehm, tidak usah. Buatmu saja."
Shahzain beranjak menjauh dan berhenti di dekat Wirya. Dia memeluk kaki kiri sang ayah, yang langsung mengangkat dan menggendongnya.
"Cici, aku penasaran," ujar Zhou Yiran. "Aku pernah dengar, kalau Cici Yuwen menikah di usia muda, dan menyembunyikan hal itu belasan tahun. Apa itu benar?" tanya Zhou Yiran.
"Menurutmu, bagaimana?" Jane balik bertanya.
"Aku bingung."
Jane mengulum senyuman. "Itu hanya gosip."
"Lalu, bagaimana anaknya bisa ada 4 orang?"
"Jawabannya sederhana. Cici Yuwen menikah dengan duda beranak 3."
"Hmm, begitu rupanya." Zhou Yiran manggut-manggut. "Lalu, istri pertama Koko Wirya, di mana sekarang?" desaknya.
"Beliau sudah meninggal. Waktu Zayd berumur 1 tahun," pungkas Jane yang mengejutkan Zhou Yiran.
92Musik tradisional Sunda terdengar dari pengeras suara. Kedua penari berpose sembari mengatur napas. Edelweiss bergerak terlebih dahulu, dan Cheung Jianzhen Rui mengimbangi dengan luwes. Kala gerakan keduanya makin cepat, penonton kompak berteriak menyemangati. Kelompok penari muncul dari belakang panggung. Mereka langsung berpencar menempati posisi masing-masing sembari terus menari. Edelweiss mengubah gerakannya menjadi silat dan Cheung Jianzhen Rui segera berpindah ke dekat Zikria. Zulfi maju guna menemani saudara iparnya menari, dan memeragakan jurus silat yang sama dengan Edelweiss. Keduanya berloncatan ke sana kemari, sebelum berhenti di dekat tepi panggung dan berpose penutup. "Lagi! Lagi! Lagi!" pekik penonton."Tidak, aku sudah capek," tolak Edelweiss di sela-sela mengatur napasnya yang ngos-ngosan. "Istirahat, El. Biar kami yang teruskan," sahut Zulfi sembari menekan mikrofon yang terpasang di telinganya. "Abah hebat. Masih bisa nari lincah," puji Cheung Jianzhen Rui
91Upacara pernikahan berlangsung penuh khidmat di vihara terbesar di Kota Taipei. Kedua pengantin melaksanakan serangkaian adat tradisional Tiongkok secara runut, dan dalam suasana khidmat.Saat penghormatan untuk kedua orang tua, Luo Kayli, sang pengantin wanita, terisak-isak. Dia sempat berhenti menghormat, karena teringat mendiang ayahnya yang telah wafat 2 tahun silam. Paman tertua Luo Kayli yang menggantikan posisi adiknya, maju dan mendekap keponakannya yang masih menangis. Cheung Jianzhen Rui membujuk istrinya untuk berhenti menangis. Dia mengusap sisa air mata di wajah Luo Kayli dengan saputangan, kemudian dia dan Luo Franklin mengarahkan Luo Kayli, untuk meneruskan ritual hingga tuntas. Puluhan menit terlewati. Rombongan kedua keluarga itu telah berpindah ke Hotel CJC terbaru. Mereka berganti pakaian terlebih dahulu di kamar masing-masing, kemudian bergegas ke ballroom, karena resepsi akan segera dimulai.Zhou Yiran yang berada di ruangan khusus pengisi acara, membantu men
90Zhou Yiran memandangi Kota Taipei dari langit. Dia senang bisa kembali ke tempat itu. Terutama, karena kunjungannya kali itu untuk merayakan pernikahan anggota keluarga 4 klan.Kendatipun baru mengenal mereka, tetapi Zhou Yiran sangat menghormati klan Cheung dan Zheung serta Vong. Zhou Yiran turut bahagia dengan pernikahan Cheung Jianzhen Rui yang akan digelar esok malam, karena dia menganggap pria itu sebagai kakaknya. Sesampainya di bandara Taipei dan pesawat berlogo GUNZ telah berhenti sepenuhnya, Zhou Yiran membantu mengeluarkan banyak barang dari bagasi kabin. Barang-barang itu diangkat semua ajudan muda yang bergegas keluar dari pesawat.Zhou Yiran memasang gendongan dengan dibantu Dimas, lalu dia menggendong anak kedua Zhao Yìchen yang tengah terlelap. Dimas membantu membawakan tas perlengkapan bayi, kemudian dia memegangi tangan kiri Nayara Nova Zaina, dan mengajak gadis kecil itu turun.Elma menyusul sambil menggendong bayinya. Sedangkan Zhao Yichen keluar dari pesawat se
89Hari berganti. Rombongan Indonesia telah kembali ke tanah air pada Jumat sore. Mereka beristirahat selama dua hari untuk me-recharge tenaga, guna menghadapi pekan berikutnya. Dimas dan semua petinggi PB serta PBK, tidak bisa cuti di hari Senin. Mereka harus mengebut semua pekerjaan, karena Jumat malam selanjutnya mereka hendak berangkat ke Taiwan. Zhou Yiran dan Mahesa serta semua tim penari, berlatih koreografi setiap hari di lantai 3 kediaman Wirya. Dimulai dari seusai Asar hingga malam, mereka memfokuskan tenaga dan pikiran untuk menyukseskan pertunjukan, di pesta pernikahan Cheung Jianzhen Rui dan Luo Kayli. Selain tim penari, Vanetta juga turut berlatih akrobat bersama Zalman. Mantan ajudan Wirya yang bertubuh tinggi besar itu, dipilih Deswin untuk berpasangan dengan Vanetta, disebabkan koreografinya yang sulit dan membutuhkan orang bertenaga kuat."Bang, tukar posisi. Bahuku sakit," pinta Zalman, sambil menunjuk tempat yang dimaksud."Tukar posisi, gimana? Waktunya udah me
88"Dua tahun kemudian, kami ikut menyerang proyek pimpinan HKB di Melbourne. Fraser bernasib buruk, karena lawannya waktu itu adalah Bang Idris, tim lapis 1, yang merupakan mantan ketua pengawal Pramudya angkatan pertama, dan tentu saja dia lebih mahir dalam bertarung tangan kosong serta menggunakan senjata," tukas Fraser."Aku tidak lihat bagaimana awalnya. Yang kulihat itu Fraser sudah terkapar di sana dengan perut robek terkena pedang. Dada kanannya tertusuk belati, dan darahnya menyembur. Aku panik dan langsung menggendong Fraser. Lalu, Dedi mengarahkanku ke tempat medis tim PBK." "Aku sempat ragu-ragu, karena itu tempat musuh. Tapi tidak ada pilihan lain dan aku segera membawa Fraser ke sana. Dia ditangani Dokter Benigno, Mathilda, dan 2 perawat asli. Pak Bryan membantu juga. Padahal waktu itu kakinya tengah bengkak akibat dislokasi." "Dokter Benigno bekerja cepat untuk menghentikan pendarahan. Lalu, Kakanda Hansel masuk dan membantu mengoperasi Fraser. Perang dihentikan, dan
87Malam terakhir diklat, diadakan sesi sharing. Semua anggota kelompok peserta dipecah ke grup lain yang berisikan 8 orang. Terdiri dari 5 peserta dan 3 mentor. Seluruh pelatih dan pengajar mengambil undian di mangkuk kaca, guna mengetahui mereka menempati grup mana. Hal serupa juga dilakukan Aruna, Zhou Yiran, Jade, dan semua bodyguard lady yang ada di sana. Para perempuan itu akan bergabung di grup khusus wanita juga, dan bebas hendak membahas apa pun. Zhou Yiran mendapat nomor regu 3. Dia mendatangi seorang perempuan berseragam peserta yang tengah memegangi papan putih bulat kecil, bertuliskan angka 3. Zhou Yiran berkenalan dengan kelima peserta itu. Dia duduk bersila di antara mereka, sambil menunggu mentor lainnya datang. Zhou Yiran mengulaskan senyuman ketika melihat Deswin dan Frey tengah menyambangi, lalu keduanya bersalaman dengan keenam perempuan tersebut. "Sudah kenalan dengan Nona muda Zhou?" tanya Frey."Yes," jawab kelima peserta."Okay, kita mulai sesi sharingnya,"







