LOGIN07
Matahari baru naik sepenggalah, tetapi kediaman Wirya telah dipenuhi banyak orang. Para pegawai WO M&E milik Mutiara (istri Arkhan Maheswara) dan juga Edelweiss,
bekerja cepat memasang tenda biru, yang menutupi jalan dan halaman depan.
Pekarangan depan rumah Bayazid, Marwa dan Zayd, juga tertutup tenda biru campur putih. Semua kursi dan meja di lantai bawah ketiga rumah tersebut, dipindahkan ke tiga mess ajudan di blok N, yang juga merupakan milik Wirya.
Partisi yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah rumah bos GUNZ tersebut, turut dilepas. Supaya area itu bisa lebih luas dan lapang. Ruangan itu juga dihias tim dekorasi, yang dipimpin langsung Edelweiss Indira Kusuma, istri Axelle Dante Adhitama, Kakak angkat Wirya.
"Yiran, kamu suka bunga apa?" tanya Edelweiss menggunakan bahasa Mandarin berlogat unik.
"Tulip, Kak," balas Zhou Yiran, yang tangan dan kakinya tengah dilulur Leni, istri Yoga, yang berprofesi sebagai MUA langganan tim PBK.
"Hmm, aku mesti tanya Lula. Semoga ada stok tulip di tokonya," ungkap Edelweiss.
"Bentar lagi dia datang, El," sela Leni.
"Good. Biar dia yang nerusin dekor kamar ini. Aku mau main sama Dedek bungsu," sahut Edelweiss.
"Zahran kayaknya nggak ikut."
"Yaahhh!"
"Kamu main sama anaknya Ari aja."
"Qaddam ada di sini?"
"Hu um. Diangkut Avreen, karena pengasuhnya lagi sakit."
"Kalian bicara apa? Aku tidak paham," keluh Zhou Yiran.
"Sorry, Yiran. Kami lupa, kamu belum bisa bahasa Indonesia," tutur Leni.
"Belajar, Yiran. Tapi jangan sama Dimas. Dia itu usil akut," seloroh Edelweiss.
"Hampir semua ajudan begitu. Hanya sedikit yang bisa jadi guru serius," sahut Leni.
"Betul." Edelweiss memandangi sang calon pengantin. "Kamu lebih baik belajar sama Zikria. Dia juga guru ngaji yang bagus," lanjutnya.
"Nga ji? Apa itu?" tanya Zhou Yiran.
"Membaca kitab suci kami. Namanya, Al Quran," papar Edelweiss. "Kutanyakan dulu ke Vanetta. Mungkin dia punya mushaf yang bisa kamu pelajari," sambungnya, sebelum keluar dari kamar tersebut.
Sementara itu di kediaman Dimas, suasananya juga sama hebohnya dengan rumah Wirya. Tenda panjang biru dipasang dari ujung kanan blok dan halaman depan rumah Syuja, sampai ke ujung halaman rumah Hisyam serta batas gerbang blok F.
Rumah Hisyam berderet dengan kediaman Jauhari, Yusuf, Aditya, Dimas, dan Syuja. Mereka sepakat untuk tidak membangun tembok pembatas di halaman masing-masing, supaya seluruh pekarangan 6 rumah itu bisa disatukan, dan digunakan untuk acara siraman serta pengajian.
Seberangnya, berderet rumah Qadry, Jeffrey, Fawwaz, Ibrahim, Nanang, dan Chairil. Sedangkan blok E dihuni Edwin, Gumelar, Harun, Beni, Hasbi, Lazuardi, Rangga, Ukky, Frank, Robi, dan Valdi.
Dimas membersihkan kamarnya, lalu berpindah ke kamar terdepan. Dia mengganti seprai dan sarung bantal serta guling. Lalu Dimas menyapu dan mengepel lantai hingga bersih.
Panggilan dari luar menjadikan Dimas segera ke depan. Dia tercenung menyaksikan Salsabila, istri Hasbi (direktur umum PB), dan Astri, istri Santos (direktur operasional PB), yang sedang mengeluarkan banyak belanjaan ke lantai ruang tengah.
Depika Jennaira, Adik Dimas, menjinjing dua tas sarat belanjaan menuju dapur. Disusul Dea, istri Buchori (anggota tim lapis 5), dan Listiani, istri Sanjaya (anggota tim lapis 5, sekaligus ketua tim pengajar diklat PB), yang juga membawa banyak tas ke dapur.
"Kalian belanja apa? Banyak banget," ungkap Dimas, sembari mencuci tangan di wastafel dekat toilet antara dua kamar tamu.
"Aneka kue, dan persiapan buat bikin es buah," jelas Depika. "Yang itu, daging, ayam, ikan, bumbu-bumbu, dan sayuran pesanan Ibu," sambungnya sembari menuangkan sirup hijau ke panci besar.
"Neng, es batunya, mana?" tanya Dea yang sedang membuka freezer.
"Lagi diangkut Bang Jahfal, Kak," sahut Depika.
"Jahfal jual es batu?" sela Dimas sembari berpindah ke dekat meja pantry.
"Abang, nih, pikun. Bang Hisyam, kan, sudah buat banyak es dari kemaren. Waktu dengar kabar Abang mau siraman," tukas Depika.
Dimas tertegun sejenak. "Aku masih berasa mimpi. Tau-tau ditodong nikah."
"Bang, punten. Aku mewakili tim istri, mau nanya," celetuk Astri. "Kami penasaran. Kenapa kakaknya Yiran meminang Abang?" tanyanya.
"Dia kesengsem sama aku," kelakar Dimas.
"Serius, atuhlah!" keluh Dea.
"Bang D sengaja bikin kita kepo dan emosi," celetuk Listiani.
"Buruan jawab, Bang. Kalau nggak, kami ngeroyok Abang," tutur Salsabila, sembari memasang tampang serius.
"Kamu sama resenya dengan Hasbi," cibir Dimas.
"Aku ketularan dia," kilah Salsabila. "Buruan, Bang. Pasukan ladies bentar lagi nyampe, dan Abang beneran dikeroyok," sambungnya.
"Hmm, sebenarnya ini rahasia. Tapi karena kalian maksa, aku terdesak buat cerita," ujar Dimas. "Dia itu lagi sakit. Jantungnya lemah, sama kayak mendiang ibunya," ungkapnya yang mengejutkan kelima perempuan tersebut.
"Yongrui takut, jika dia mati, nggak ada yang bisa melindungi Yiran," lontar Dimas. "Dia pikir, aku, bodyguard. Punya jabatan bagus. Bisa dia percaya buat menjaga adiknya," pungkasnya
"Apa keluarga mereka punya musuh?" tanya Depika.
"Bukan keluarga, tapi hanya mereka berdua," jelas Dimas.
"Maksudnya?"
"Ayah Yongrui dan Yiran, selingkuh sama sekretarisnya, sebelum Ibu mereka hamil Yiran. Pak Zhou Ming Hao, punya 2 anak lagi dari selingkuhannya itu, namanya Sheng Eleanor. Lalu, kedua anaknya, Zhou Dingbang dan Zhou Serena. Dingbang 2 tahun lebih tua dari Yiran, sedangkan Serena seumuran dengan Yiran."
"Setelah ibunya Yiran wafat waktu dia umur 10 tahun, ayahnya menikahi Eleanor. Yongrui dimasukkan ke sekolah asrama, sedangkan Yiran tersiksa batin. Dia dimusuhi kedua saudara seayah, dan cuma Bibi Jia Ping serta suaminya yang melindungi."
"Setelah beres kuliah, Yongrui balik ke Guangzhou. Dia saat itu sudah 21 tahun, dan bisa mengambil harta warisan dari ibunya, Wei Anran, yang sebetulnya juga anak orang kaya. Dari uang itu, Yongrui membangun perusahaan sendiri. Dia beli rumah bagus, dan maksa mengeluarkan Yiran dari rumah Ayah mereka."
"Aku sudah menyelidiki. ZY Company punya Yongrui, memang bukan perusahaan besar, tapi kondisinya stabil. Sedangkan perusahaan keluarga Zhou yang dipegang ayahnya, kondisinya kacau balau, karena pengelolaannya nggak baik."
Dimas mengamati kelima perempuan tersebut. "Aku mau minta tolong sama kalian. Bantu Yiran supaya betah di sini. Selain Yongrui dan kedua pengasuhnya, Yiran sudah nggak punya keluarga lagi."
"Aku mohon dengan sangat, bantu dia agar bisa beradaptasi di sini. Aku juga berencana memberinya modal untuk memulai bisnis perhiasan, dan kalian mesti bantu jadi bagian marketingnya," pungkas Dimas.
"Siap, Bang," ungkap Astri.
"Aku nggak nyangka, hidupnya di sana ternyata sangat menderita," beber Dea.
"Kami pasti bantu Yiran, Bang," cetus Listiani.
"Berapa nopenya, Bang? Mau kuinvited ke grup para istri," timpal Salsabila.
"Hapenya di kamar. Bentar, kuambil dulu," balas Dimas.
"Abang nggak hafal nope calon istri?" desak Salsabila.
"Aku nyerah disuruh ngafal angka, Sa. Aku cuma hafal ukuran bra-nya aja," goda Dimas, sebelum dia menjerit, karena dicubiti rekannya tersebut.
30Zianka melengos, seusai melihat video resepsi ngunduh mantu Dimas dan Zhou Yiran pada akhir pekan kemarin, yang diunggah Lazuardi di grup proyek yang mereka tangani bersama. Zianka beralih menggulirkan jemari untuk mengetikkan pesan, yang dikirimkannya pada Yusril dan mamanya. Pengumuman dari petugas bandara membuat Zianka segera memasukkan ponsel ke baugette bag hitam. Perempuan bersetelan salem itu berdiri dan menarik kopernya, lalu melenggang untuk bergabung dengan para penumpang lainnya. Reni Irhana, asisten Zianka, menyusul bosnya sembari menyeret koper kecil. Reni mendengarkan ucapan Zianka, lalu dia mengangguk patuh. Keduanya melangkah melintasi koridor panjang, hingga memasuki lorong yang menghubungkan gerbang bandara dengan pintu pesawat.Sekian menit berlalu, kedua perempuan tersebut telah duduk berdampingan di deretan kursi sisi kiri. Zianka menengadah ketika dipanggil seseorang. "Maaf, kursi saya di dekat jendela," tutur pria berkemeja marun, sambil menunjuk tempat ya
29Zhou Yiran menyalami keluarga besar Bajradaka, yang berkumpul di kediaman Darmawan guna menyambutnya, sang menantu pertama. Kendatipun bahasa Indonesianya belum lancar, tetapi Zhou Yiran sudah memahami kalimat panjang yang diucapkan lawan bicara. Namun, ketika berbincang dengan kedua orang tua Darmawan, Zhou Yiran terlihat bingung, karena tidak memahami bahasa Jawa yang digunakan kedua sesepuh tersebut."Eyang, Cici Yiran orang China. Dia nggak paham bahasa Jawa," ujar Depika, yang mendampingi Kakak iparnya di sofa dua dudukan. Walaupun usianya lebih tua setahun, tetapi Depika tetap menyematkan panggilan Cici untuk menghormati Zhou Yiran. "Oalah. Maaf, Eyang lupa," sahut Handayani. "Tidak apa-apa, Eyang," tutur Zhou Yiran. "Nduk, kamu aslinya dari kota mana?" tanya Jasman Bajradaka. "Guangzhou," terang Zhou Yiran. Jasman mengangguk paham. "Eyang belum pernah ke sana, tapi Eyang pernah nyampe ke Hong Kong. Dulu sekali. Waktu ikut teman Eyang kerja." "Eyang kerja apa di Hong K
28"Pagi, Sayang," sapa Dimas, sembari memandangi istrinya yang baru bangun. "Mau sarapan, atau mandi dulu?" tanyanya. "Ehm, aku mau mandi," balas Zhou Yiran dengan suara serak."Oke. Nanti kubawakan sarapannya ke sini." Dimas tertegun ketika Zhou Yiran tampak kepayahan untuk bangkit. Dia mengulurkan kedua tangan guna membantu perempuan tersebut hingga bisa duduk dan berdiri."Aduh! Nggak bisa jalan," rengek Zhou Yiran. Dimas akhirnya menggendong sang istri dan jalan ke toilet. Dia menurunkan kaki Zhou Yiran ke lantai dan memegangi perempuan tersebut, supaya bisa berpindah duduk ke kloset. "Keluar, Bang," ucap Zhou Yiran. "Aku juga mau mandi," kilah Dimas, sebelum melepaskan kaus dan melemparkan benda itu ke luar pintu. Zhou Yiran meringis. "Aku mau pup." "Ehm, habis itu, panggil aku. Kita mandi bareng." Zhou Yiran tidak menyahut dan hanya mengangguk. Dia menunggu Dimas keluar sambil menutup pintu. Lalu Zhou Yiran mulai bersemedi dengan serius."Ran, kokomu nelepon. Boleh aku a
27Waktu sudah mendekati tengah malam. Namun, Dimas masih terjaga. Dia kesulitan untuk tidur, karena menyadari ada perempuan di sebelah kanannya.Kemarin malam, Dimas benar-benar lelah dan langsung terlelap setelah merebahkan diri ke kasur. Dia dan Zhou Yiran sama-sama tidur nyenyak, hingga tidak ada yang terbangun untuk salat Subuh. Akan tetapi, malam kedua itu berbeda. Aroma harum dari tubuh Zhou Yiran menyebabkan Dimas gelisah. Dia tidak berani berbalik, karena khawatir akan memaksakan kehendak pada Zhou Yiran. Dimas memahami bila perempuan di sebelahnya pasti masih canggung padanya. Meskipun sejak kemarin Dimas sudah berusaha mengakrabkan diri, sekaligus membiasakan Zhou Yiran akan kehadirannya. Pria berkaus biru itu membuka mata ketika Zhou Yiran bangkit dan jalan ke toilet. Dimas teringat cerita Wirya, yang akan memanjakan istrinya bila hendak bertamu. Zhou Yiran keluar dari toilet. Dia berhenti di dekat kasur, karena baru menyadari bila Dimas telah menghilang. Zhou Yiran rag
26Sepasang manusia jalan menyusuri pantai sambil berpegangan tangan. Mereka membiarkan air laut menyapu kaki, yang sandalnya telah dilepas sejak tadi. Tiba di ujung kanan, Dimas memasang tripod di pasir. Lalu mengaktifkan kamera resolusi tinggi miliknya. Dimas mengatur timer, kemudian mendekati Zhou Yiran dan mengajak perempuan itu berpose. Belasan gaya mereka lakukan sembari memasang senyuman lebar. Dimas nyaris terjatuh sebelum ditarik Zhou Yiran agar bisa berdiri tegak. Dimas kembali ke dekat kamera guna mengulang memasang timer. Kemudian dia menyambangi sang istri dan menggendong Zhou Yiran yang spontan memekik. Dimas berputar dua kali dengan diiringi tawa istrinya. Lalu Dimas menurunkan Zhou Yiran dan memeluk perempuan tersebut sesaat, sebelum mengurai dekapan dan menciumi dahi Zhou Yiran. Baik Dimas maupun Zhou Yiran tidak menyadari, bila tingkah mereka direkam Luthfiandi dan Zulfan. Kedua ajudan junior itu kompak berseru, ketika Dimas mencuri kecupan di bibir istrinya, yang
25Yacht kecil melaju kencang di lautan. Deburan ombak diterjang, meskipun itu menyebabkan tubuh seluruh penumpangnya terguncang.Zhou Yiran meringkuk di sofa panjang di kabin bawah. Dia mengalami mabuk laut dan sudah muntah dua kali. Zhou Yiran telah mengonsumsi obat pereda mabuk laut, tetapi sepertinya obat itu tidak berpengaruh ke tubuhnya. Dimas memasuki kabin guna mengecek kondisi Zhou Yiran. Dia mengingat-ingat untuk tidak mengajak sang istri ke tempat wisata yang melewati laut, karena perempuan itu ternyata tidak bisa menikmati perjalanan tersebut.Zhou Yiran bangkit dan jalan cepat ke toilet. Dia kembali mengeluarkan isi perut yang hanya tinggal air. Zhou Yiran menyirami kloset dengan tangan gemetaran. Dia kaget ketika selang shower diambil alih Dimas, yang ternyata turut memasuki bilik basah. Zhou Yiran berpindah ke depan wastafel. Dia mencuci wajah dan leher, lalu berkumur-kumur. Zhou Yiran kaget kala Dimas membantunya mengeringkan wajah dengan handuk kecil. Kemudian pria i







