Share

Bab 07

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-05-01 10:49:47

07

Matahari baru naik sepenggalah, tetapi kediaman Wirya telah dipenuhi banyak orang. Para pegawai WO M&E milik Mutiara (istri Arkhan Maheswara) dan juga Edelweiss,

bekerja cepat memasang tenda biru, yang menutupi jalan dan halaman depan.

Pekarangan depan rumah Bayazid, Marwa dan Zayd, juga tertutup tenda biru campur putih. Semua kursi dan meja di lantai bawah ketiga rumah tersebut, dipindahkan ke tiga mess ajudan di blok N, yang juga merupakan milik Wirya. 

Partisi yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah rumah bos GUNZ tersebut, turut dilepas. Supaya area itu bisa lebih luas dan lapang. Ruangan itu juga dihias tim dekorasi, yang dipimpin langsung Edelweiss Indira Kusuma, istri Axelle Dante Adhitama, Kakak angkat Wirya. 

"Yiran, kamu suka bunga apa?" tanya Edelweiss menggunakan bahasa Mandarin berlogat unik. 

"Tulip, Kak," balas Zhou Yiran, yang tangan dan kakinya tengah dilulur Leni, istri Yoga, yang berprofesi sebagai MUA langganan tim PBK. 

"Hmm, aku mesti tanya Lula. Semoga ada stok tulip di tokonya," ungkap Edelweiss. 

"Bentar lagi dia datang, El," sela Leni. 

"Good. Biar dia yang nerusin dekor kamar ini. Aku mau main sama Dedek bungsu," sahut Edelweiss. 

"Zahran kayaknya nggak ikut." 

"Yaahhh!" 

"Kamu main sama anaknya Ari aja." 

"Qaddam ada di sini?" 

"Hu um. Diangkut Avreen, karena pengasuhnya lagi sakit." 

"Kalian bicara apa? Aku tidak paham," keluh Zhou Yiran. 

"Sorry, Yiran. Kami lupa, kamu belum bisa bahasa Indonesia," tutur Leni. 

"Belajar, Yiran. Tapi jangan sama Dimas. Dia itu usil akut," seloroh Edelweiss. 

"Hampir semua ajudan begitu. Hanya sedikit yang bisa jadi guru serius," sahut Leni.

"Betul." Edelweiss memandangi sang calon pengantin. "Kamu lebih baik belajar sama Zikria. Dia juga guru ngaji yang bagus," lanjutnya. 

"Nga ji? Apa itu?" tanya Zhou Yiran. 

"Membaca kitab suci kami. Namanya, Al Quran," papar Edelweiss. "Kutanyakan dulu ke Vanetta. Mungkin dia punya mushaf yang bisa kamu pelajari," sambungnya, sebelum keluar dari kamar tersebut. 

Sementara itu di kediaman Dimas, suasananya juga sama hebohnya dengan rumah Wirya. Tenda panjang biru dipasang dari ujung kanan blok dan halaman depan rumah Syuja, sampai ke ujung halaman rumah Hisyam serta batas gerbang blok F. 

Rumah Hisyam berderet dengan kediaman Jauhari, Yusuf, Aditya, Dimas, dan Syuja. Mereka sepakat untuk tidak membangun tembok pembatas di halaman masing-masing, supaya seluruh pekarangan 6 rumah itu bisa disatukan, dan digunakan untuk acara siraman serta pengajian. 

Seberangnya, berderet rumah Qadry, Jeffrey, Fawwaz, Ibrahim, Nanang, dan Chairil. Sedangkan blok E dihuni Edwin, Gumelar, Harun, Beni, Hasbi, Lazuardi, Rangga, Ukky, Frank, Robi, dan Valdi. 

Dimas membersihkan kamarnya, lalu berpindah ke kamar terdepan. Dia mengganti seprai dan sarung bantal serta guling. Lalu Dimas menyapu dan mengepel lantai hingga bersih. 

Panggilan dari luar menjadikan Dimas segera ke depan. Dia tercenung menyaksikan Salsabila, istri Hasbi (direktur umum PB), dan Astri, istri Santos (direktur operasional PB), yang sedang mengeluarkan banyak belanjaan ke lantai ruang tengah.

Depika Jennaira, Adik Dimas, menjinjing dua tas sarat belanjaan menuju dapur. Disusul Dea, istri Buchori (anggota tim lapis 5), dan Listiani, istri Sanjaya (anggota tim lapis 5, sekaligus ketua tim pengajar diklat PB), yang juga membawa banyak tas ke dapur. 

"Kalian belanja apa? Banyak banget," ungkap Dimas, sembari mencuci tangan di wastafel dekat toilet antara dua kamar tamu. 

"Aneka kue, dan persiapan buat bikin es buah," jelas Depika. "Yang itu, daging, ayam, ikan, bumbu-bumbu, dan sayuran pesanan Ibu," sambungnya sembari menuangkan sirup hijau ke panci besar.

"Neng, es batunya, mana?" tanya Dea yang sedang membuka freezer. 

"Lagi diangkut Bang Jahfal, Kak," sahut Depika. 

"Jahfal jual es batu?" sela Dimas sembari berpindah ke dekat meja pantry.

"Abang, nih, pikun. Bang Hisyam, kan, sudah buat banyak es dari kemaren. Waktu dengar kabar Abang mau siraman," tukas Depika. 

Dimas tertegun sejenak. "Aku masih berasa mimpi. Tau-tau ditodong nikah." 

"Bang, punten. Aku mewakili tim istri, mau nanya," celetuk Astri. "Kami penasaran. Kenapa kakaknya Yiran meminang Abang?" tanyanya. 

"Dia kesengsem sama aku," kelakar Dimas. 

"Serius, atuhlah!" keluh Dea. 

"Bang D sengaja bikin kita kepo dan emosi," celetuk Listiani.

"Buruan jawab, Bang. Kalau nggak, kami ngeroyok Abang," tutur Salsabila, sembari memasang tampang serius. 

"Kamu sama resenya dengan Hasbi," cibir Dimas. 

"Aku ketularan dia," kilah Salsabila. "Buruan, Bang. Pasukan ladies bentar lagi nyampe, dan Abang beneran dikeroyok," sambungnya. 

"Hmm, sebenarnya ini rahasia. Tapi karena kalian maksa, aku terdesak buat cerita," ujar Dimas. "Dia itu lagi sakit. Jantungnya lemah, sama kayak mendiang ibunya," ungkapnya yang mengejutkan kelima perempuan tersebut. 

"Yongrui takut, jika dia mati, nggak ada yang bisa melindungi Yiran," lontar Dimas. "Dia pikir, aku, bodyguard. Punya jabatan bagus. Bisa dia percaya buat menjaga adiknya," pungkasnya  

"Apa keluarga mereka punya musuh?" tanya Depika. 

"Bukan keluarga, tapi hanya mereka berdua," jelas Dimas.

"Maksudnya?" 

"Ayah Yongrui dan Yiran, selingkuh sama sekretarisnya, sebelum Ibu mereka hamil Yiran. Pak Zhou Ming Hao, punya 2 anak lagi dari selingkuhannya itu, namanya Sheng Eleanor. Lalu, kedua anaknya, Zhou Dingbang dan Zhou Serena. Dingbang 2 tahun lebih tua dari Yiran, sedangkan Serena seumuran dengan Yiran." 

"Setelah ibunya Yiran wafat waktu dia umur 10 tahun, ayahnya menikahi Eleanor. Yongrui dimasukkan ke sekolah asrama, sedangkan Yiran tersiksa batin. Dia dimusuhi kedua saudara seayah, dan cuma Bibi Jia Ping serta suaminya yang melindungi." 

"Setelah beres kuliah, Yongrui balik ke Guangzhou. Dia saat itu sudah 21 tahun, dan bisa mengambil harta warisan dari ibunya, Wei Anran, yang sebetulnya juga anak orang kaya. Dari uang itu, Yongrui membangun perusahaan sendiri. Dia beli rumah bagus, dan maksa mengeluarkan Yiran dari rumah Ayah mereka." 

"Aku sudah menyelidiki. ZY Company punya Yongrui, memang bukan perusahaan besar, tapi kondisinya stabil. Sedangkan perusahaan keluarga Zhou yang dipegang ayahnya, kondisinya kacau balau, karena pengelolaannya nggak baik." 

Dimas mengamati kelima perempuan tersebut. "Aku mau minta tolong sama kalian. Bantu Yiran supaya betah di sini. Selain Yongrui dan kedua pengasuhnya, Yiran sudah nggak punya keluarga lagi." 

"Aku mohon dengan sangat, bantu dia agar bisa beradaptasi di sini. Aku juga berencana memberinya modal untuk memulai bisnis perhiasan, dan kalian mesti bantu jadi bagian marketingnya," pungkas Dimas. 

"Siap, Bang," ungkap Astri. 

"Aku nggak nyangka, hidupnya di sana ternyata sangat menderita," beber Dea. 

"Kami pasti bantu Yiran, Bang," cetus Listiani. 

"Berapa nopenya, Bang? Mau kuinvited ke grup para istri," timpal Salsabila. 

"Hapenya di kamar. Bentar, kuambil dulu," balas Dimas. 

"Abang nggak hafal nope calon istri?" desak Salsabila. 

"Aku nyerah disuruh ngafal angka, Sa. Aku cuma hafal ukuran bra-nya aja," goda Dimas, sebelum dia menjerit, karena dicubiti rekannya tersebut. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 119

    119 Hari bertukar dengan cepat. Perut Zhou Yiran mulai sering keram dan itu membuatnya panik. Namun, setelah berkonsultasi dengan Benigno dan Falea, akhirnya Zhou Yiran bisa kembali tenang.Sore itu, Zhou Yiran telah berada di rumah Risty dan Anto, guna menghadiri acara berbuka puasa bersama. Sebab jadwalnya bentrok dengan acara serupa di kediaman Jauzan Rengku Magani, akhirnya Dimas dan Zhou Yiran berpencar, supaya tidak menyinggung pemilik hajat.Selain Zhou Yiran, Jane dan banyak istri lainnya juga memilih mengikuti acara di rumah Anto. Selain karena mereka lebih dekat dengan Risty, rumah itu juga lebih luas dari kediaman Jauzan. Rumah Anto berada di blok D dan berbatasan tembok belakang dengan kediaman Arya. Kedua pria itu sama-sama membeli dua unit, hingga bangunannya lebih luas dibandingkan rumah-rumah lainnya di blok itu.Zhou Yiran mendengarkan petuah Ustaz Ahmad yang tengah memberikan tausiah. Hati Zhou Yiran tersentuh saat sang ustaz menerangkan tentang keistimewaan bagi p

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 118

    118Zhou Yiran mengusap rambut lebat Tirza Gazala, yang tengah terlelap dalam pelukannya. Zhou Yiran takjub dengan perkembangan bayi berusia 5 bulan lebih itu, yang badannya makin montok dan padat. Paras Tirza yang mengadopsi wajah kedua orang tuanya secara berimbang, membuat tampilannya cantik. Ditambah rambut hitam lebat yang diwarisinya dari Syuja, serta kulit putih bersih turunan dari Jane, menjadikan gadis kecil itu mirip boneka. "Mama, aku mau Dedek kayak Tirza," rengek Zayd, yang menyebabkan Vanetta tertegun. "Mama belum selesai kerja, Kang. Paling cepat, akhir tahun ini Mama baru bisa hamil," jelas Vanetta dengan lugas. Dia dan Wirya sudah sepakat, untuk menerangkan jawaban dari berbagai pertanyaan kiddos, yang kebanyakan ajaib dan di luar perkiraan. "Nanti, adiknya dari A-ma," sela Avreen. Zayd memandangi sang tante. "Anak Tante, cowok atau cewek?" tanyanya. "Belum tahu, Kang. Bulan depan baru bisa kelihatan jenis kelaminnya," sahut Zhou Yiran. "Aku mau cewek." "Ehm,

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 117

    117Hari berganti. Dimas dan Zhou Yiran serta Bajradaka bersaudara, telah kembali ke Jakarta. Mereka melanjutkan aktivitas masing-masing, dan akan berjumpa kembali menjelang senja. Zhou Yiran terperangah, seusai membaca pesan di grup GPCI, yang berisikan jadwal acara berbuka puasa yang telah penuh, hingga H-5 menuju hari raya.Zhou Yiran meringis ketika membaca jadwal yang hampir sama, yang dikirimkan Dimas. Zhou Yiran membalas pesan itu dengan tambahan centang hijau di banyak nama, sedangkan sisanya dikosongkan. Tidak berselang lama, Dimas menelepon dan Zhou Yiran menerangkan daftar buka puasa bersama dari GPCI, yang beberapa namanya bentrok dengan jadwal para bos atasan Dimas. "Aku nggak bisa nggak datang, Ran. Mereka semuanya komisaris Tambahan PDP," ungkap Dimas dari seberang telepon. "Kita berpencar, Bang. Supaya bisa didatangi semua," jawab Zhou Yiran. "Istri yang lain pun sama. Mereka juga menghadiri acara yang berbeda dengan suaminya," lanjutnya. "Hmm, ya. Kamu benar. Tap

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 116

    116Minggu berganti menjadi bulan. Tibalah waktu yang ditunggu umat muslim di seluruh dunia. Yakni bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan.Zhou Yiran sangat antusias untuk menunaikan ibadah puasa pertamanya. Walaupun tidak bisa berpuasa penuh akibat rasa mual yang masih dirasakannya, tetapi Zhou Yiran bertekad untuk melaksanakan puasa, semampunya.Hari terakhir sebelum puasa, Zhou Yiran ikut kelompok Bajradaka bersaudara yang hendak mengunjungi orang tua mereka di Bekasi. Selain mereka, Jauhari, Yusuf, dan banyak ajudan lain yang juga orang tuanya bermukim di Bekasi, turut dalam konvoi banyak kendaraan menuju kota itu. Setibanya di sana, Zhou Yiran dan Depika bergegas membantu Dinanti, yang tengah sibuk memasak banyak hidangan, guna acara sahur pertama esok subuh. Sementara Dimas, Darian, dan Ardiawan, membantu Darmawan membersihkan seisi rumah. Dimas yang mengangkut vacum cleaner besar dari rumahnya, fokus membersihkan area ruang tamu, ruang tengah dan ruang makan. Matahari

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 115

    115Ketukan pintu kamar pada dini hari itu, mengejutkan Zhou Yiran. Dia menajamkan pendengaran, sebelum bangkit berdiri dan jalan terhuyung-huyung ke lawang. Zhou Yiran membuka kunci, lalu menarik gagang untuk melihat orang di luar."Abang, kenapa pulang? Katanya mau nginap?" tanya Zhou Yiran. Akan tetapi, Dimas tidak menyahut, melainkan menarik tangan kanan istrinya untuk keluar dari kamar, dan menuju ruang tengah kediaman Wirya, di mana Zhou Yiran menginap. Langkah keduanya berhenti di dekat kursi, dan Dimas mengajak istrinya duduk. Luthfiandi mengulurkan kotak makanan beraroma harum, yang menerbitkan rasa lapar di perut Zhou Yiran. "Martabak telur. Aku memang kepengen ini," cakap Zhou Yiran sembari mengambil potongan tepi kanan. "Abang beli banyak banget. Buat siapa?" tanyanya sebelum menyuapkan makanan ke mulut. "Bukan aku yang beli, tapi Bang Ari. Buat seisi rumah ini," jelas Dimas di sela-sela mengunyah. "Dia ada meeting besok, jam 10, jadinya nggak nginap. Aku ikut pulang a

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 114

    114*Grup GUNZ Indonesia, China, dan Australia* Cheung Chyou Jaden : Selamat, @Dimas. Bryan : Alhamdulilah. Ponakanku bertambah. Varten : Congratulations, @Dimas dan Yiran. Zheung To Mu : Aku kalah lagi dari Dimas. Baskara : Salah sendiri, @To Mu. Sudah bulukan baru nikah. Orlando : Selamat, @Dimas. Semoga Yiran dan calon bayi selalu sehat. Chou Hao-ran : @Dimas. Kalau anakmu perempuan, kita besanan.Heru : Hao-ran, motong jalur! Russel : Aku mau besanan, tapi istri aja belum punya. Han Lionell : Anakku semuanya cowok. Nunggu bayi perempuan lahir, kok, lama, ya?Hadrian : Anakmu sudah 3, @Lionell. Cukup segitu. Nicholas : Anak Lionell sudah 3? Aku baru 1.Xie Benton : Koko Lionell rajin nyetor sperma. 5 tahun nikah, anaknya sudah 3.Tio : Aku salah planning. Kalau nggak, anakku mungkin ada 4.Tarendra : Aku sudah punya 2. Mau nambah lagi, tapi istriku nggak mau. Cheung Jianzhen Rui : Aku masih berjuang. Ethan Janitra : Aku masih belum laku. Keven : Ethan kelibas para ajud

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 04

    04Zhou Yiran memerhatikan pasangan suami istri di kursi seberang, yang tengah berbincang dengan Dimas. Meskipun tidak memahami bahasa Indonesia, tetapi Zhou Yiran yakin jika mereka tengah membicarakan dirinya. Zhou Yiran menggigit bibir bawah kala Haikal Jabbar mengamatinya. Aura berkuasa yang ke

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 03

    03Zhou Yiran memerhatikan sekeliling ruang tamu luas bernuansa abu-abu muda, di kediaman atasan Dimas. Dia menyukai tempat itu yang terasa nyaman, sekaligus hangat. Celotehan Zayd Yaqzan Adhitama, putra ketiga Wirya, yang tengah berbincang dengan mamanya, menyebabkan Zhou Yiran tersenyum. Gadis b

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 02 - Kabur

    02Dimas memaksa otaknya berpikir cepat, sebelum mengambil tindakan nekat. Dia memundurkan mobil, lalu melaju dan menabrak belakang mobil van. Zhou Yiran menjerit saat benturan keras itu terjadi. Dia kaget saat Dimas menekan kepalanya agar merunduk. Belum sempat Zhou Yiran bertanya, terdengar buny

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 01 - Jalan!

    01Seorang perempuan bergaun hijau muda, keluar dari lift di satu bangunan puluhan lantai. Dia lari secepat mungkin keluar lobi, dan menuruni tangga teras dengan tergesa-gesa. Zhou Yiran memerhatikan sekeliling. Dia berputar ke kanan dan merentangkan tangan, untuk menghadang seunit mobil SUV biru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status