Mag-log in05
Seorang pria berkemeja putih, merunduk sedikit untuk memberi hormat pada Zhou Yongrui dan Xue Quan. Marko menyalami kedua orang tersebut, lalu mengajak mereka ke ujung kiri, di mana seunit mobil sedan hitam telah menunggu.
Setelah ketiganya memasuki kendaraan, sang sopir segera memacu kendaraan ke luar area terminal kedatangan luar negeri, di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.
Sepanjang perjalanan itu, Marko menerangkan hasil penyelidikannya tentang sosok Dimas. Immanuel turut menambahkan informasi, sembari terus mengemudi.
Setibanya di depan lobi hotel, Immanuel menghentikan mobil dan ketiga penumpangnya turun. Marko menyeret koper sang bos sembari melangkah memasuki lobi. Sementara Immanuel memindahkan mobil ke tempat parkir.
Tidak berselang lama ketiga pria itu telah berada di salah satu President Suite hotel tersebut. Immanuel menyusul bersama seorang petugas hotel, yang hendak menyajikan pesanan para tamu. Seusai pegawai hotel itu keluar, Marko dan Immanuel kembali meneruskan laporan mereka.
"Ternyata dia bukan pengawal biasa," tutur Zhou Yongrui, sebelum menyeruput teh hangat.
"Betul, Tuan muda," sahut Marko.
"Apa kalian sudah tahu, di mana dia tinggal?"
"Bagian itu, masih diselidiki, karena sulit mencari informasi tentang semua petinggi perusahaan itu."
Zhou Yongrui mendengkus pelan. "Lalu, bagaimana dengan Yiran? Apa dia sudah diketahui lokasinya?"
Marko melirik Immanuel. Kemudian dia kembali memandangi sang bos. "Maaf, Tuan muda. Bagian itu, kami juga belum tahu. Tapi, kemungkinan besar, Nona Yiran tinggal bersama Dimas," bebernya.
"Kami sudah mengecek semua hotel di wilayah Jakarta Selatan, tapi tidak ada nama Nona Yiran yang tercantum di daftar tamu," ungkap Immanuel. "Sebab Dimas bekerja di bidang pengamanan, dia tidak mungkin membiarkan Nona tinggal sendirian dan jauh darinya. Pasti akan selalu dekat dengannya," sambungnya.
Zhou Yongrui manggut-manggut. "Analisa kalian bagus," pujinya. "Sekarang, kita istirahat dulu. Nanti siang, kita ke kantor Dimas," tambahnya yang dibalas anggukan ketiga anak buahnya.
***
Kedatangan keempat pria berparas Chinese, mengejutkan banyak orang di kantor PB, yang berada di lantai 2 gedung PBK, di kawasan Pancoran.
Resepsionis segera mengantarkan keempat tamu ke ruang kerja direktur utama, yang berada di ujung koridor kanan. Sekretaris direksi mengabari kunjungan para tamu pada Dimas, yang segera mempersilakan mereka memasuki ruangannya.
Dimas berdiri dan spontan merapikan kemeja biru mudanya, sesaat setelah keempat tamu memasuki ruangan. Dia tertegun saat menyadari bila wajah pria terdepan itu dikenalinya.
"Selamat datang, Tuan Zhou. Silakan duduk," cakap Dimas sembari menyalami pria berkemeja hitam. Bahasa Mandarin-nya yang fasih mengagetkan Zhou Yongrui.
"Bagaimana kamu bisa mengenaliku?" tanya Zhou Yongrui sambil berjabatan tangan dengan pria bertubuh gagah di hadapannya.
"Aku pernah melihat foto Anda, di pigura ruang tamu. Waktu aku mengantarkan Adik Anda ke sana," jelas Dimas. "Silakan duduk," ulangnya seraya mengarahkan tangan kanan ke set sofa abu-abu gelap.
Dimas memberi kode pada Marni Trisnawati, sekretaris direksi, yang segera berbalik dan keluar ruangan, guna menyiapkan suguhan untuk semua orang di ruangan tersebut.
Dimas menempati sofa tunggal. Dia mengamati keempat pria di depan, yang balas menatapnya dengan saksama. Dimas menyusun kalimat dalam benak, sebelum berdeham.
"Kalian datang untuk mencari Yiran, betul?" tanya Dimas tanpa berbasa-basi.
"Ya. Di mana adikku?" Zhou Yongrui balik bertanya.
"Dia berada di tempat yang aman," cakap Dimas.
"Di rumahmu?"
"Bukan, Tuan. Dia kutitipkan di rumah atasanku."
"Siapa orangnya? Dan kenapa Yiran dititipkan ke sana?"
"Namanya, Wirya Arudji Adhitama, alias Bun. Kerabat klan Cheung dan Zheung di Taiwan," tutur Dimas. "Yiran kutempatkan di sana, karena banyak ajudan yang bisa menjaga keselamatannya," lanjutnya.
"Tadi kamu bilang, bosmu, kerabat klan Cheung. Berarti dia saudaranya Chyou Jaden?"
"Benar, Tuan. Koko Chyou adalah Kakak ipar Bang Wirya."
Zhou Yongrui mengangguk paham. "Aku mau bertemu Yiran."
"Nanti kuantarkan. Sekarang, kita bicarakan hal lain yang juga penting."
"Apa maksudmu?"
Dimas tidak langsung menyahut, karena mendengar bunyi pintu diketuk. Marni memasuki ruangan sambil membawa nampan. Dia menyajikan minuman buat kelima pria tersebut. Lalu berbalik dan hendak beranjak menjauh, ketika dipanggil atasannya.
"Mar, Bang W ada di kantor GUNZ?" tanya Dimas.
"Aku cek dulu, Bang," jawab Marni.
"Nanti tolong sampaikan, aku mau bawa para tamu buat ketemu dia."
"Siap."
Setelah Marni pergi, Dimas mempersilakan keempat tamunya untuk menikmati teh hangat. Dimas tetap diam, sambil menunggu informasi dari Marni.
Akan tetapi, niat Dimas untuk menemui Wirya akhirnya dibatalkan, karena pria itu justru langsung datang ke ruangannya bersama Zulfi. Keduanya menyalami semua tamu, kemudian duduk di sofa panjang di sebelah kanan Dimas.
"Tuan Zhou, apa Anda sudah tahu, siapa yang menculik Yiran?" tanya Wirya tanpa kalimat pembuka terlebih dahulu.
Zhou Yongrui tertegun. Dia menimbang-nimbang dalam hati, sebelum memutuskan untuk menerangkan rahasia yang sudah sejak lama disimpannya, dan juga adiknya.
"Dulu, sekitar 2 tahun lalu, Yiran juga pernah diculik orang. Setelah 3 hari, akhirnya kami menemukannya di wilayah Macau, dalam kondisi pingsan dan terluka," ujar Zhou Yongrui.
"Polisi yang menangani kasus itu, berhasil menemukan dua pelaku. Tapi saat mau ditangkap, mereka bunuh diri menggunakan pistol. Sedangkan 3 pelaku lainnya, tidak diketahui identitasnya, sampai sekarang."
"Peristiwa kedua, yang terjadi tempo hari, tidak dilaporkan ke polisi, karena Yiran memutuskan untuk pergi. Dia mengirimkan pesan padaku, supaya menunggunya pulang, baru kami akan bahas soal itu. Setelah itu ponselnya tidak aktif dan tidak bisa dihubungi."
"Sebenarnya aku juga tidak diam saja. Aku sudah menyewa detektif swasta untuk mencari tahu pelakunya, sekaligus menyelidiki tentangmu, Dimas," ungkap Zhao Yongrui dengan jujur.
"Aku memutuskan untuk ke sini guna memastikan kondisi Yiran. Aku juga ingin bicara serius denganmu, yang berhubungan dengan keselamatan Yiran di sini, dan selanjutnya," pungkas Zhou Yongrui.
"Ehm, maksudnya, bagaimana, Tuan?" tanya Dimas.
"Aku memintamu untuk menikahi adikku," terang Zhou Yongrui, yang mengagetkan sang dirut PB.
"Menikah?"
"Ya." Zhou Yongrui memajukan badannya. "Aku dan Yiran memiliki banyak musuh. Terutama dari Ibu tiri dan kedua anaknya. Papa tidak membela kami, dan justru selalu melindungi mereka," sambungnya.
"Aku yakin, dua penculikan yang dialami Yiran, telah didalangi Ibu tiri kami dan dua bajingan itu!" desis Zhou Yongrui. "Sebab, di salah satu CCTV di tempat parkir saat penculikan pertama, ada asistennya Dingbang. Setelahnya, pria itu menghilang dan ditemukan mati, seminggu berikutnya," akunya.
"Jadi, besar kemungkinan penculikan kedua juga dirancang Dingbang, anak Ibu tiri itu. Dia dan Serena, adiknya, sejak dulu sering menindas Yiran. Sedangkan aku tidak bisa melindungi Yiran, karena saat itu aku dimasukkan ke sekolah asrama."
"Sekarang pun, aku tetap gagal melindungi Yiran, padahal sudah ada 2 bodyguard yang mengawalnya ke mana-mana. Kecuali saat penculikan itu, karena kedua orang itu tiba-tiba menghilang, dan sampai sekarang belum ditemukan."
Zhou Yongrui mengamati ketiga pria di kursi seberang. Lalu dia melanjutkan perkataan. "Kalian bekerja di dunia pengamanan. Jelas lebih paham cara melindungi orang, daripada aku."
"Aku meminta Dimas menikahi Yiran, supaya statusnya di sini legal. Aku ingin ada yang selalu menjaganya, hal yang tidak bisa kulakukan, tapi bisa kamu laksanakan, Dimas," ungkap Zhou Yongrui sembari menatap pria yang dimaksud itu lekat-lekat.
"Bagaimana? Apakah kamu setuju?" tanya Zhou Yongrui, yang menyebabkan Dimas termangu.
92Musik tradisional Sunda terdengar dari pengeras suara. Kedua penari berpose sembari mengatur napas. Edelweiss bergerak terlebih dahulu, dan Cheung Jianzhen Rui mengimbangi dengan luwes. Kala gerakan keduanya makin cepat, penonton kompak berteriak menyemangati. Kelompok penari muncul dari belakang panggung. Mereka langsung berpencar menempati posisi masing-masing sembari terus menari. Edelweiss mengubah gerakannya menjadi silat dan Cheung Jianzhen Rui segera berpindah ke dekat Zikria. Zulfi maju guna menemani saudara iparnya menari, dan memeragakan jurus silat yang sama dengan Edelweiss. Keduanya berloncatan ke sana kemari, sebelum berhenti di dekat tepi panggung dan berpose penutup. "Lagi! Lagi! Lagi!" pekik penonton."Tidak, aku sudah capek," tolak Edelweiss di sela-sela mengatur napasnya yang ngos-ngosan. "Istirahat, El. Biar kami yang teruskan," sahut Zulfi sembari menekan mikrofon yang terpasang di telinganya. "Abah hebat. Masih bisa nari lincah," puji Cheung Jianzhen Rui
91Upacara pernikahan berlangsung penuh khidmat di vihara terbesar di Kota Taipei. Kedua pengantin melaksanakan serangkaian adat tradisional Tiongkok secara runut, dan dalam suasana khidmat.Saat penghormatan untuk kedua orang tua, Luo Kayli, sang pengantin wanita, terisak-isak. Dia sempat berhenti menghormat, karena teringat mendiang ayahnya yang telah wafat 2 tahun silam. Paman tertua Luo Kayli yang menggantikan posisi adiknya, maju dan mendekap keponakannya yang masih menangis. Cheung Jianzhen Rui membujuk istrinya untuk berhenti menangis. Dia mengusap sisa air mata di wajah Luo Kayli dengan saputangan, kemudian dia dan Luo Franklin mengarahkan Luo Kayli, untuk meneruskan ritual hingga tuntas. Puluhan menit terlewati. Rombongan kedua keluarga itu telah berpindah ke Hotel CJC terbaru. Mereka berganti pakaian terlebih dahulu di kamar masing-masing, kemudian bergegas ke ballroom, karena resepsi akan segera dimulai.Zhou Yiran yang berada di ruangan khusus pengisi acara, membantu men
90Zhou Yiran memandangi Kota Taipei dari langit. Dia senang bisa kembali ke tempat itu. Terutama, karena kunjungannya kali itu untuk merayakan pernikahan anggota keluarga 4 klan.Kendatipun baru mengenal mereka, tetapi Zhou Yiran sangat menghormati klan Cheung dan Zheung serta Vong. Zhou Yiran turut bahagia dengan pernikahan Cheung Jianzhen Rui yang akan digelar esok malam, karena dia menganggap pria itu sebagai kakaknya. Sesampainya di bandara Taipei dan pesawat berlogo GUNZ telah berhenti sepenuhnya, Zhou Yiran membantu mengeluarkan banyak barang dari bagasi kabin. Barang-barang itu diangkat semua ajudan muda yang bergegas keluar dari pesawat.Zhou Yiran memasang gendongan dengan dibantu Dimas, lalu dia menggendong anak kedua Zhao Yìchen yang tengah terlelap. Dimas membantu membawakan tas perlengkapan bayi, kemudian dia memegangi tangan kiri Nayara Nova Zaina, dan mengajak gadis kecil itu turun.Elma menyusul sambil menggendong bayinya. Sedangkan Zhao Yichen keluar dari pesawat se
89Hari berganti. Rombongan Indonesia telah kembali ke tanah air pada Jumat sore. Mereka beristirahat selama dua hari untuk me-recharge tenaga, guna menghadapi pekan berikutnya. Dimas dan semua petinggi PB serta PBK, tidak bisa cuti di hari Senin. Mereka harus mengebut semua pekerjaan, karena Jumat malam selanjutnya mereka hendak berangkat ke Taiwan. Zhou Yiran dan Mahesa serta semua tim penari, berlatih koreografi setiap hari di lantai 3 kediaman Wirya. Dimulai dari seusai Asar hingga malam, mereka memfokuskan tenaga dan pikiran untuk menyukseskan pertunjukan, di pesta pernikahan Cheung Jianzhen Rui dan Luo Kayli. Selain tim penari, Vanetta juga turut berlatih akrobat bersama Zalman. Mantan ajudan Wirya yang bertubuh tinggi besar itu, dipilih Deswin untuk berpasangan dengan Vanetta, disebabkan koreografinya yang sulit dan membutuhkan orang bertenaga kuat."Bang, tukar posisi. Bahuku sakit," pinta Zalman, sambil menunjuk tempat yang dimaksud."Tukar posisi, gimana? Waktunya udah me
88"Dua tahun kemudian, kami ikut menyerang proyek pimpinan HKB di Melbourne. Fraser bernasib buruk, karena lawannya waktu itu adalah Bang Idris, tim lapis 1, yang merupakan mantan ketua pengawal Pramudya angkatan pertama, dan tentu saja dia lebih mahir dalam bertarung tangan kosong serta menggunakan senjata," tukas Fraser."Aku tidak lihat bagaimana awalnya. Yang kulihat itu Fraser sudah terkapar di sana dengan perut robek terkena pedang. Dada kanannya tertusuk belati, dan darahnya menyembur. Aku panik dan langsung menggendong Fraser. Lalu, Dedi mengarahkanku ke tempat medis tim PBK." "Aku sempat ragu-ragu, karena itu tempat musuh. Tapi tidak ada pilihan lain dan aku segera membawa Fraser ke sana. Dia ditangani Dokter Benigno, Mathilda, dan 2 perawat asli. Pak Bryan membantu juga. Padahal waktu itu kakinya tengah bengkak akibat dislokasi." "Dokter Benigno bekerja cepat untuk menghentikan pendarahan. Lalu, Kakanda Hansel masuk dan membantu mengoperasi Fraser. Perang dihentikan, dan
87Malam terakhir diklat, diadakan sesi sharing. Semua anggota kelompok peserta dipecah ke grup lain yang berisikan 8 orang. Terdiri dari 5 peserta dan 3 mentor. Seluruh pelatih dan pengajar mengambil undian di mangkuk kaca, guna mengetahui mereka menempati grup mana. Hal serupa juga dilakukan Aruna, Zhou Yiran, Jade, dan semua bodyguard lady yang ada di sana. Para perempuan itu akan bergabung di grup khusus wanita juga, dan bebas hendak membahas apa pun. Zhou Yiran mendapat nomor regu 3. Dia mendatangi seorang perempuan berseragam peserta yang tengah memegangi papan putih bulat kecil, bertuliskan angka 3. Zhou Yiran berkenalan dengan kelima peserta itu. Dia duduk bersila di antara mereka, sambil menunggu mentor lainnya datang. Zhou Yiran mengulaskan senyuman ketika melihat Deswin dan Frey tengah menyambangi, lalu keduanya bersalaman dengan keenam perempuan tersebut. "Sudah kenalan dengan Nona muda Zhou?" tanya Frey."Yes," jawab kelima peserta."Okay, kita mulai sesi sharingnya,"







