Compartir

Bab 05

Autor: Olivia Yoyet
last update Fecha de publicación: 2026-03-31 12:10:23

05

Seorang pria berkemeja putih, merunduk sedikit untuk memberi hormat pada Zhou Yongrui dan Xue Quan. Marko menyalami kedua orang tersebut, lalu mengajak mereka ke ujung kiri, di mana seunit mobil sedan hitam telah menunggu. 

Setelah ketiganya memasuki kendaraan, sang sopir segera memacu kendaraan ke luar area terminal kedatangan luar negeri, di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. 

Sepanjang perjalanan itu, Marko menerangkan hasil penyelidikannya tentang sosok Dimas. Immanuel turut menambahkan informasi, sembari terus mengemudi. 

Setibanya di depan lobi hotel, Immanuel menghentikan mobil dan ketiga penumpangnya turun. Marko menyeret koper sang bos sembari melangkah memasuki lobi. Sementara Immanuel memindahkan mobil ke tempat parkir. 

Tidak berselang lama ketiga pria itu telah berada di salah satu President Suite hotel tersebut. Immanuel menyusul bersama seorang petugas hotel, yang hendak menyajikan pesanan para tamu. Seusai pegawai hotel itu keluar, Marko dan Immanuel kembali meneruskan laporan mereka.

"Ternyata dia bukan pengawal biasa," tutur Zhou Yongrui, sebelum menyeruput teh hangat.

"Betul, Tuan muda," sahut Marko.

"Apa kalian sudah tahu, di mana dia tinggal?" 

"Bagian itu, masih diselidiki, karena sulit mencari informasi tentang semua petinggi perusahaan itu." 

Zhou Yongrui mendengkus pelan. "Lalu, bagaimana dengan Yiran? Apa dia sudah diketahui lokasinya?" 

Marko melirik Immanuel. Kemudian dia kembali memandangi sang bos. "Maaf, Tuan muda. Bagian itu, kami juga belum tahu. Tapi, kemungkinan besar, Nona Yiran tinggal bersama Dimas," bebernya. 

"Kami sudah mengecek semua hotel di wilayah Jakarta Selatan, tapi tidak ada nama Nona Yiran yang tercantum di daftar tamu," ungkap Immanuel. "Sebab Dimas bekerja di bidang pengamanan, dia tidak mungkin membiarkan Nona tinggal sendirian dan jauh darinya. Pasti akan selalu dekat dengannya," sambungnya. 

Zhou Yongrui manggut-manggut. "Analisa kalian bagus," pujinya. "Sekarang, kita istirahat dulu. Nanti siang, kita ke kantor Dimas," tambahnya yang dibalas anggukan ketiga anak buahnya.

*** 

Kedatangan keempat pria berparas Chinese, mengejutkan banyak orang di kantor PB, yang berada di lantai 2 gedung PBK, di kawasan Pancoran. 

Resepsionis segera mengantarkan keempat tamu ke ruang kerja direktur utama, yang berada di ujung koridor kanan. Sekretaris direksi mengabari kunjungan para tamu pada Dimas, yang segera mempersilakan mereka memasuki ruangannya. 

Dimas berdiri dan spontan merapikan kemeja biru mudanya, sesaat setelah keempat tamu memasuki ruangan. Dia tertegun saat menyadari bila wajah pria terdepan itu dikenalinya. 

"Selamat datang, Tuan Zhou. Silakan duduk," cakap Dimas sembari menyalami pria berkemeja hitam. Bahasa Mandarin-nya yang fasih mengagetkan Zhou Yongrui. 

"Bagaimana kamu bisa mengenaliku?" tanya Zhou Yongrui sambil berjabatan tangan dengan pria bertubuh gagah di hadapannya. 

"Aku pernah melihat foto Anda, di pigura ruang tamu. Waktu aku mengantarkan Adik Anda ke sana," jelas Dimas. "Silakan duduk," ulangnya seraya mengarahkan tangan kanan ke set sofa abu-abu gelap. 

Dimas memberi kode pada Marni Trisnawati, sekretaris direksi, yang segera berbalik dan keluar ruangan, guna menyiapkan suguhan untuk semua orang di ruangan tersebut. 

Dimas menempati sofa tunggal. Dia mengamati keempat pria di depan, yang balas menatapnya dengan saksama. Dimas menyusun kalimat dalam benak, sebelum berdeham. 

"Kalian datang untuk mencari Yiran, betul?" tanya Dimas tanpa berbasa-basi. 

"Ya. Di mana adikku?" Zhou Yongrui balik bertanya. 

"Dia berada di tempat yang aman," cakap Dimas. 

"Di rumahmu?" 

"Bukan, Tuan. Dia kutitipkan di rumah atasanku." 

"Siapa orangnya? Dan kenapa Yiran dititipkan ke sana?" 

"Namanya, Wirya Arudji Adhitama, alias Bun. Kerabat klan Cheung dan Zheung di Taiwan," tutur Dimas. "Yiran kutempatkan di sana, karena banyak ajudan yang bisa menjaga keselamatannya," lanjutnya. 

"Tadi kamu bilang, bosmu, kerabat klan Cheung. Berarti dia saudaranya Chyou Jaden?" 

"Benar, Tuan. Koko Chyou adalah Kakak ipar Bang Wirya."

Zhou Yongrui mengangguk paham. "Aku mau bertemu Yiran." 

"Nanti kuantarkan. Sekarang, kita bicarakan hal lain yang juga penting." 

"Apa maksudmu?" 

Dimas tidak langsung menyahut, karena mendengar bunyi pintu diketuk. Marni memasuki ruangan sambil membawa nampan. Dia menyajikan minuman buat kelima pria tersebut. Lalu berbalik dan hendak beranjak menjauh, ketika dipanggil atasannya. 

"Mar, Bang W ada di kantor GUNZ?" tanya Dimas. 

"Aku cek dulu, Bang," jawab Marni. 

"Nanti tolong sampaikan, aku mau bawa para tamu buat ketemu dia." 

"Siap." 

Setelah Marni pergi, Dimas mempersilakan keempat tamunya untuk menikmati teh hangat. Dimas tetap diam, sambil menunggu informasi dari Marni. 

Akan tetapi, niat Dimas untuk menemui Wirya akhirnya dibatalkan, karena pria itu justru langsung datang ke ruangannya bersama Zulfi. Keduanya menyalami semua tamu, kemudian duduk di sofa panjang di sebelah kanan Dimas. 

"Tuan Zhou, apa Anda sudah tahu, siapa yang menculik Yiran?" tanya Wirya tanpa kalimat pembuka terlebih dahulu. 

Zhou Yongrui tertegun. Dia menimbang-nimbang dalam hati, sebelum memutuskan untuk menerangkan rahasia yang sudah sejak lama disimpannya, dan juga adiknya. 

"Dulu, sekitar 2 tahun lalu, Yiran juga pernah diculik orang. Setelah 3 hari, akhirnya kami menemukannya di wilayah Macau, dalam kondisi pingsan dan terluka," ujar Zhou Yongrui. 

"Polisi yang menangani kasus itu, berhasil menemukan dua pelaku. Tapi saat mau ditangkap, mereka bunuh diri menggunakan pistol. Sedangkan 3 pelaku lainnya, tidak diketahui identitasnya, sampai sekarang." 

"Peristiwa kedua, yang terjadi tempo hari, tidak dilaporkan ke polisi, karena Yiran memutuskan untuk pergi. Dia mengirimkan pesan padaku, supaya menunggunya pulang, baru kami akan bahas soal itu. Setelah itu ponselnya tidak aktif dan tidak bisa dihubungi."

"Sebenarnya aku juga tidak diam saja. Aku sudah menyewa detektif swasta untuk mencari tahu pelakunya, sekaligus menyelidiki tentangmu, Dimas," ungkap Zhao Yongrui dengan jujur.

"Aku memutuskan untuk ke sini guna memastikan kondisi Yiran. Aku juga ingin bicara serius denganmu, yang berhubungan dengan keselamatan Yiran di sini, dan selanjutnya," pungkas Zhou Yongrui. 

"Ehm, maksudnya, bagaimana, Tuan?" tanya Dimas. 

"Aku memintamu untuk menikahi adikku," terang Zhou Yongrui, yang mengagetkan sang dirut PB. 

"Menikah?" 

"Ya." Zhou Yongrui memajukan badannya. "Aku dan Yiran memiliki banyak musuh. Terutama dari Ibu tiri dan kedua anaknya. Papa tidak membela kami, dan justru selalu melindungi mereka," sambungnya. 

"Aku yakin, dua penculikan yang dialami Yiran, telah didalangi Ibu tiri kami dan dua bajingan itu!" desis Zhou Yongrui. "Sebab, di salah satu CCTV di tempat parkir saat penculikan pertama, ada asistennya Dingbang. Setelahnya, pria itu menghilang dan ditemukan mati, seminggu berikutnya," akunya. 

"Jadi, besar kemungkinan penculikan kedua juga dirancang Dingbang, anak Ibu tiri itu. Dia dan Serena, adiknya, sejak dulu sering menindas Yiran. Sedangkan aku tidak bisa melindungi Yiran, karena saat itu aku dimasukkan ke sekolah asrama." 

"Sekarang pun, aku tetap gagal melindungi Yiran, padahal sudah ada 2 bodyguard yang mengawalnya ke mana-mana. Kecuali saat penculikan itu, karena kedua orang itu tiba-tiba menghilang, dan sampai sekarang belum ditemukan." 

Zhou Yongrui mengamati ketiga pria di kursi seberang. Lalu dia melanjutkan perkataan. "Kalian bekerja di dunia pengamanan. Jelas lebih paham cara melindungi orang, daripada aku." 

"Aku meminta Dimas menikahi Yiran, supaya statusnya di sini legal. Aku ingin ada yang selalu menjaganya, hal yang tidak bisa kulakukan, tapi bisa kamu laksanakan, Dimas," ungkap Zhou Yongrui sembari menatap pria yang dimaksud itu lekat-lekat. 

"Bagaimana? Apakah kamu setuju?" tanya Zhou Yongrui, yang menyebabkan Dimas termangu. 

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 155

    155*Grup Proyek China *Yanuar : Selamat buat Xiuhuan dan Liangyi. Maaf, aku nggak bisa datang. Tiba-tiba tumbuh bisul di bokongku. Ngenyut banget.Samajdani : Astagfirullah! Baskara : Yanuar, jorok! Alvaro : Elu masih hobi masuk got, sih, @Sipitih. Jadinya bisulan mulu. Adyanata : Bang Yan masuk got mana? @Padre. Alvaro : Got di dekat rumah Emak Elis. Minggu lalu dia nginap di sono. Heru : Yanuar main apaan di got? Wirya : Nangkap ikan koi. Ghaziya : Ebuset! Mahal itu. Bryan : W sombong. Mentang-mentang peternak ikan lele. Zulfi : Ikan gendang gendis. Ekyavan : Ikan cupang. Benigno : Siapa yang dicupang sama W? Yoga : Aku refleks mandangin leher Vanetta. Danapati : Ada nggak? @Bang Yoga. Yoga : Belum kelihatan. Aku mesti deketin dia dulu. Drew : Gusti! Bang Yoga beneran nyamperin Mamados. Dhruvi : Aku deg-degan. Denzel : Aku gemetaran.Diraya Danadyaksha : Aku keringatan.Dante : Yoga, kacau. Yuwen disuruh buka bolero, lalu diputarin badannya buat nyari cupangan W.

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 154

    154Seunit mobil SUV putih melesat di jalan antar kota. Sang sopir memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, sembari berbincang dengan istri dan anaknya.Dimas mengurangi laju kendaraan setelah tiba di Kota Shenzen. Dia mengarahkan mobil ke timur, lalu memasuki area depan seunit gedung tinggi, sembari membalas penghormatan sekuriti PB, dengan anggukan. Dimas menghentikan mobil beberapa meter sebelum lobi utama. Namun, dia tidak mematikan mesin. Melainkan memasang rem tangan, lalu memiringkan badannya ke kiri."Ingat tempat ini?" tanya Dimas."Ya, ini gedung tempat aku disekap," jawab Zhou Yiran sembari memindai sekitar."Di sini juga tempat kita pertama kali ketemu."Zhou Yiran mengulum senyuman. "Ternyata Abang masih ingat." "Mana bisa aku lupa? Itu kenangan paling membekas dalam hidupku." Zhou Yiran mengangguk. "Apa area dalamnya masih sama? Kalau di luar, sudah berbeda. Dulu, tidak banyak pohon kecil. Sekarang, sudah rimbun." "Terakhir aku masuk ke sini sama Zikria, 6 bulan lal

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 153

    153Zhou Yiran mengamati perseteruan ketiga saudaranya, karena berebutan hendak menggendong Yhara. Zhou Yiran menggeleng pelan, kala Ren Liangyi dan Lian Mei-Yin juga turut berebut, sembari saling mendorong bahu. Perkelahian itu berakhir setelah kelima orang tersebut dimarahi Jia Ping, yang langsung mengambil Yhara dari gendongan Zhou Yongrui. Jia Ping jalan keluar unit mansion sembari mengajak Yhara berbincang satu arah. Zhou Yiran mengajak ketiga perempuan tersebut berpindah ke kamarnya. Perempuan berbaju hijau itu membuka koper merah, lalu mengeluarkan belasan plastik bening, berisikan gaun dan setelan tunik. Zhou Yiran meringis kala ketiga gadis itu kembali berebutan pakaian. Namun, akhirnya dia tertawa, karena Ren Liangyi berhasil mendapatkan baju paling banyak. "Kalian ini, kayak anak kecil," seloroh Zhou Yiran. "Ini bagus semua. Aku suka," sahut Zhou Serena. "Yang ini, sepertinya belum ada di butik," tutur Lian Mei-Yin sambil mengangkat dua gaun di tangannya."Ya. Itu mem

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 152

    152Zhou Yiran menerangkan detail belasan desain terbarunya pada Malya, Lula, dan Ghazwa. Zhou Yiran dan Malya telah menggaet Lula dan putrinya tersebut, untuk menjadi rekanan mereka. Meningkatnya pelanggan toko di Jakarta dan Bandung, menyebabkan Zhou Yiran dan Malya kerepotan mengerjakan semua pesanan. dengan cepat. Sebab Zhou Yiran harus membagi waktunya untuk merawat Yhara. Sedangkan Malya mulai kesulitan untuk fokus bekerja, karena usia kandungannya yang sudah memasuki trimester ketiga. Setelah berdiskusi dengan Vanetta dan Jane, akhirnya Zhou Yiran dan Malya sepakat untuk menambah rekanan. Pilihan mereka jatuh pada Lula dan Ghazwa, yang memang cukup mumpuni dalam hal melukis. Lula bahkan telah mengikuti kursus pembuatan perhiasan, karena tadinya dia hendak membuka usaha sejenis, tetapi khusus untuk hiasan pengantin, sesuai dengan usahanya yang mengelola wedding organizer untuk kelas menengah ke bawah. Ghazwa yang memang masih muda dan amatir, bertekad untuk mengerjakan tugas

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 151

    151 Sepasang insan tengah saling memagut, sembari meraba tubuh pasangan dengan pelan. Badan keduanya bergerak bersama mengikuti ritme, dan diiringi erangan dengan suara tertahan. Zhou Yiran mencengkeram rambut Dimas sambil melenguh. Dia memejamkan mata sembari menikmati gempuran suaminya, yang sangat bersemangat.Bulir keringat yang membawahi tubuh tidak dihiraukan. Keduanya terus memacu diri untuk memberi dan menerima kenikmatan duniawi. Hingga mereka mencapai puncak pendakian dengan semburan dahsyat dari dalam tubuh pasangan tersebut. Belasan menit terlewati. Zhou Yiran berbaring miring ke kanan sambil memeluk suaminya. Dia menempelkan wajah di lengan Dimas, yang tengah berbalas pesan dengan Yin Sueh-yn. "Sayang, aku berangkatnya minggu depan," cakap Dimas, sambil meletakkan ponselnya ke meja samping kanan. "Ikut," pinta Zhou Yiran. "Hmm, ya, tapi kamu nunggu di rumah Yongrui. Jangan ikut ke tempat diklat." "Kenapa?" "Areanya kurang luas. Tempat buat panitia terbatas. Ini aja

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 150

    150Waktu terus bertukar. Bulan demi bulan terlewati, hingga penghujung tahun pun tiba, dengan diiringi rinai hujan dan angin yang cukup kencang, yang turun hampir setiap hari.Zhou Yiran dan Dimas telah pindah ke rumah mereka. Namun, jika hendak bekerja, maka Yhara akan dititipkan ke rumah Wirya, supaya bisa diawasi ketat banyak orang di sana. Kecuali pada saat-saat tertentu, bayi montok itu akan dibawa orang tuanya bekerja.Pagi menjelang siang itu, Yhara ikut A-ma-nya ke gedung 9 lantai di kawasan Kemang. Gedung milik Vong Company itu baru selesai direnovasi, dengan 4 lantai tambahan terbaru di atas lantai 5.Zhou Yiran meringis ketika anaknya diambil alih Wirya, yang kemudian mengajak Yhara mendatangi kumpulan para bos. Zhou Yiran berpindah ke dekat meja prasmanan dan berbincang dengan Jane, yang menjadi penanggung jawab stand makanan. Acara peresmian beberapa kantor baru buatan ketiga robot, akan dimulai sebentar lagi. Mereka tengah menunggu kehadiran keluarga Pramudya dan Balti

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 03

    03Zhou Yiran memerhatikan sekeliling ruang tamu luas bernuansa abu-abu muda, di kediaman atasan Dimas. Dia menyukai tempat itu yang terasa nyaman, sekaligus hangat. Celotehan Zayd Yaqzan Adhitama, putra ketiga Wirya, yang tengah berbincang dengan mamanya, menyebabkan Zhou Yiran tersenyum. Gadis b

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 07

    07Matahari baru naik sepenggalah, tetapi kediaman Wirya telah dipenuhi banyak orang. Para pegawai WO M&E milik Mutiara (istri Arkhan Maheswara) dan juga Edelweiss,bekerja cepat memasang tenda biru, yang menutupi jalan dan halaman depan.Pekarangan depan rumah Bayazid, Marwa dan Zayd, juga tertutu

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 06

    06Raut wajah Zhou Yiran yang semula semringah, seketika berubah pias, sesaat setelah mendengar ucapan kakaknya, yang telah meminta Dimas untuk menikahinya. Tatapan Zhou Yiran beralih pada pria berkulit kecokelatan yang balas menatapnya dengan santai. Zhou Yiran mengarahkan dagu ke kanan, yang dib

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 04

    04Zhou Yiran memerhatikan pasangan suami istri di kursi seberang, yang tengah berbincang dengan Dimas. Meskipun tidak memahami bahasa Indonesia, tetapi Zhou Yiran yakin jika mereka tengah membicarakan dirinya. Zhou Yiran menggigit bibir bawah kala Haikal Jabbar mengamatinya. Aura berkuasa yang ke

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status